PEMBUATAN KONTUR
Ilmu
ukur tanah merupakan ilmu terapan yang mempelajari dan menganalisis bentuk
topografi permukaan bumi beserta obyek-obyek di atasnya untuk keperluan
pekerjaan-pekerjaan konstruksi. Ilmu Ukur Tanah menjadi dasar bagi beberapa
mata kuliah lainnya seperti rekayasa jalan raya, irigasi, drainase dan
sebagainya.
Kebutuhan atas peta, baik
untuk pembangunan, perjalanan, kesenangan maupun aksesori sudah making
meningkat seiring dengan perkembangan kemajuan teknologi serta keinginan
manuasia untuk menjelajah dan melakukan perjalanan dalam mencari informasi
maupun menambah kekayaan informasi diluar habitat yang ditempati. Salah satu
komponen ini adalah gambaran dari bumi baik seutuhnya maupun sebagian yang di
letakkan dalam format analog maupun digital. Kita ketahui banyak macam peta
yang ada seperti peta rupa bumi, peta tematik peta citra dan lain sebagainya
yang pada intinya menyajikan informasi
perihal lokasi, penjelasan dan asosiasi atas lokasi tersebut yang meliputi hal-hal
sebagai berikut: Gambaran perihal liputan
lahan maupun fungsi dari liputan
lalannya yang berupa liputan tumbuhan (hutan, belukar, padang rumput
dsb.), liputan unsur air (laut, danau, rawa, sungai dsb.), liputan mengenai
semua yang berhubungan dengan segala sesuatu buatan manusia (kota, bangunan,
jalan dsb.) serta tambahan informasi yang diperlukan untuk memperjelas
penyajian peta tersebut yang berupa keterangan nama, simbol-simbol, garis
ketinggian serta hal-hal yang dianggap perlu untuk di tampilkan diatas peta
yang dibuat (Mastra, 2006)
Informasi ketinggian ataupun
kelas lereng lahan saat ini hanya dibuat berdasarkan garis kontur yang terdapat
pada peta rupabumi produksi Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional
(BAKOSURTANAL). Sebagaimana diketahui
bahwa garis kontur yang terdapat pada
peta rupabumi produksi BAKOSURTANAL tersebut merupakan hasil interpolasi dari
titik-titik ketinggian hasil pengukuran lapangan. Keterbatasan dalam
penjelajahan lapangan untuk pengukuran titik ketinggian tersebut menyebabkan
hasil pengukurannya juga hanya terbatas pada wilayah yang mudah untuk dijangkau
saja, sedangkan wilayah yang sulit
dijangkau akan diekstrapolasi. Hal ini
menyebabkan tingkat ketelitiannya juga akan terbatas. Di tempat yang mudah
dijangkau ketelitiannya akan cukup baik sementara daerah yang sulit dijangkau
ketelitiannya akan rendah. Bahan
yang digunakan dalam kegiatan pembuatan
kontur ini antara lain CD-ROM, disket, alat tulis. Peralatan yang
digunakan adalah seperangkat PC dengan
software ER_Mapper 6.4, ArcView 3.2, ArcInfo, peralatan survei, internet dan
lain-lain. (Manalu, dkk, 2005).
Penelitian ini mencakup
pengolahan data pengukuran GPS yang menerapkan beberapa GPS, diarahkan untuk
koreksi data, serta melakukan interpretasi data. penyempurnaan metode navigasi
dan survai, baik untuk memudahkan penelitian maka digunakan dalam skala
regional maupun global. Oleh karena software “Ms. Excel 2000” untuk pengolahan
data itu sistem GPS mempunyai banyak keistimewaan dan “Surfer 6 for Windows”
untuk pembuatan dibanding dengan alat-alat navigasi dan survai peta topografi
lahan. yang bersifat konvensional (Massinai, 2005).
Peta topografi adalah peta
yang memiliki informasi tentang ketinggian permukaantanah pada suatu tempat
terhadap permukaan laut, yang digambarkan dengan garis-garis kontur. Informasi
topografi yang terdapat pada peta topografi dapat digunakan untuk membuat model
tigadimensi dari permukaan tanah pada peta tersebut. Dengan model tiga dimensi
maka objek pada peta dilihat lebih hidup seperti pada keadaan sesungguhnya di alam,
sehingga untuk menganalisa suatu peta topografi dapat lebih mudah dilakukan.
Dalam perkembangan GIS, banyak aplikasi yang dapat ditangani antara lain adalah
bidang sumber daya alam untuk perencanaan tata guna tanah [1]. Peta topografi merupakan peta yang memuat
informasi umum tentang keadaan permukaan tanah beserta informasi ketinggiannya
menggunakan garis kontur, yaitu garis pembatas bidang yang merupakan tempat
kedudukan titik-titik dengan ketinggian sama terhadap bidang referensi
(pedoman/acuan) tertentu. (Rostianingsih dan Gunadi, 2004).
![]() |
Gambar 1. Kontur Gunung |
Penelitian
tinggi GPS teliti yang dilaksanakan di BAKOSURTANAL tahun 2005 ini diharapkan
adalah sebagai langkah awal aplikasi strategi pemanfaatan tinggi GPS tanpa
”pelibatan” data geoid teliti. Penelitian ini menitikberatkan pada perbandingan
antara selisih/beda tinggi elipsoid (∆h) terhadap nilai tinggi yang dianggap
”benar” yaitu beda tinggi ortometrik (∆H) yang diperoleh dari pengukuran sipat
datar. Semakin kecil penyimpangan atau deviasi ∆h terhadap ∆H pada titik/pilar
TTG (Tanda Tinggi Geodesi) yang diamati oleh kedua metode pengukuran sipat
datar dan GPS maka bisa dikatakan bahwa penentuan tinggi secara teliti dengan
GPS semakin baik. (Lestariya dan Ramdani, 2006).
Sesuai dengan tujuan
pembangunannya, teknologi satelit navigasi GPS telah menjadi satu teknologi
yang relatif mudah dan murah untuk mewujudkan posisi geografis dan waktu.
Walaupun, tentu ada suatu keterbatasan antara biaya yang diinvestasikan dengan
ketelitian (presisi, precision, internal accuracy) dan
ketepatan (akurasi, accuracy, reliability)
yang akan diperoleh (Seeber 1993, p. 324-326). Faktor-faktor yang mempengaruhi
kualitas hasil survai GPS terutama adalah
jenis peralatan dan metoda pengukuran serta metoda pengolahan data yang digunakan. GPS
mulai dari yang paling teliti (dan paling mahal) untuk keperluan ilmiah sampai yang paling seadanya
(dan paling murah) untuk keperluan hiburan. Dalam rangka pembangunan informasi
spasial, GPS dapat berperan mulai dari realisasi referensi koordinat dengan
survai yang sangat teliti sampai pada kegiatan pematokan yang merupakan
aplikasi hasil analisis informasi spasial (Setyadji, 2006).
Pengukuran darat (terrestris) baik dengan pita meteran,
total statiun maupun GPS dipandang tetap lebih akurat dibanding pengkuran
kartometris ataupun foto udara dan inderaja.
Yang menjadi masalah pada pengukuran terestris adalah pengukuran yang
tidak sekaligus sistematis pada areal yang luas, sehingga ketaktelitian pada
suatu lahan berakibat langsung ketaktelitian pada areal sekelilingnya. Hal ini bisa disebabkan oleh akurasi
pengukuran itu sendiri, atau oleh proses perhitungan sesudahnya yang men-cakup
reduksi dan transformasi ke sistem koordinat referensi atau proyeksi yang
di-gunakan. bergelombang. Sasaran utama yang diinginkan dari metode ini adalah
DEM untuk menghasilkan garis kontur.
Jadi yang terutama dibutuhkan adalah DEM untuk menghasilkan garis
kontur. Selanjutnya posisi sungai bisa
didekati lebih dahulu dengan melihat garis konturnya. Masalahnya untuk membuat titik-titik input
DEM yang rapat pada volume foto yang sangat besar, pekerjaan ini tidak
ekonomis. Sebagai alternatif jalan
keluar, DEM didekati dulu dengan titik-titik Triangulasi Udara (AT) yang mau
tidak mau memang harus diukur dan dihitung untuk bisa mengerjakan keseluruhan
proyek. Yang penting di sini, harus ada
uji coba secara sampling sejauh mana diferensi antara DEM dari titik-titik AT
dan DEM dari pengukuran stereo pada daerah yang terbatas. Bila toleransi ini masih dibolehkan pada
skala 1:50.000 maka berarti DEM dari AT ini sudah mencukupi dan pekerjaan ini
akan jauh lebih efisien. (Amhar, dkk,
2001).
![]() |
Gambar 2. Bagian Garis-Garis Kontur |
Dengan
memahami bentuk-bentuk tampilan garis kontur pada peta, maka dapat diketahui
bentuk ketinggian permukaan tanah, yang selanjutnya dengan bantuan pengetahuan
lainnya bisa diinterpretasikan pula informasi tentang bumi lainnya.
Adapun tujuan perlakuan yang
berjudul “Pembuatan Kontur” ini adalah agar mahasiswa dapat memahami cara
pembuatan peta kontur.
METODA
Bahan dan Alat
Bahan
Adapun bahan yang digunakan
adalah :
1. Kebun binatang sebagai objek yang akan
diukur batas dan ditentukan konturnya.
2. Kertas millimeter A1 sebagai
kertas untuk menggambar peta kontur kebun binatang.
3. Data pembuatan kontur sebagai bahan
petunjuk menggambar kontur.
4.
Buku data sebagai wadah menulis data kontur.
Alat
Adapun alat yang digunakan adalah :
1. Pulpen sebagai alat untuk menuliskan data.
2. Penggaris 50 cm dan 30 cm untuk digunakan
sebagai alat pelurus.
3. Busur untuk menentukan sudut vertikal.
4. Kalkulator sebagai alat penghitung data.
5. Clinometer sebagai alat untuk menentukan
sudut azimuth
Prosedur Perlakuan
Adapun prosedur adalah sebagai
berikut :
- Dicatat data pembuatan kontur dalam kertas data.
- Dihitung interval, jumlah titik dan jarak antar titik kontur dengan data yang telah tersedia.
- Dilakukan penggambaran dalam kertas grafik A2, dengan arah utara sebagai acuan.
- Ditentukan posisi alat I dalam penggambaran pada kertas grafik A2.
- Ditarik garis dari titik sesuai dengan derajat yang telah diketahui kearah titik P sesuai dengan tinggi yang telah ditentukan pada data yang telah tersedia.
- Ditarik garis dari titik satu kea rah titik a, b, dan c sesuai dengan derajat dan ketinggiannya.
- Ditarik garis dari titik I ke II sesuai dengan derajat dan ketinggiannya, kemudian ditarik lagi dari titik II ke titid d, e, f sesuai derajat dan ketinggiannya pula.
- Kemudian titik-titik yang memiliki ketinggian yang sama dihubungkan, sementara titik-titik yang tidak mempunyai ketinggian yang sama ditarik ke arah luar.
Tabel
I. Data Pembuatan Kontur
Tempat alat
|
Titik Batas
|
Sudut Azimuth
|
Sudut Vertikal (α)
|
Jarak (m)
|
Beda Tinggi (m)
|
Tinggi (m dpl)
|
Ket.Alat
|
|
M (0)
|
Detail (0)
|
|||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
![]() |
Gambar 3. Pengukuran dan Penentuan Garis Kontur |
Interval Kontur
Interval kontur
adalah jarak tegak antara dua garis kontur yang berdekatan.
Jadi juga merupakan jarak antara dua bidang mendatar yang berdekatan. Pada
suatu peta topografi interval kontur dibuat sama, berbanding terbalik dengan
skala peta. Semakin besar skala peta, jadi semakin banyak informasi yang
tersajikan, interval kontur semakin kecil. Indeks kontur adalah garis kontur
yang penyajiannya ditonjolkan setiap kelipatan interval kontur tertentu; mis.
Setiap 10 m atau yang lainnya.
Dari data yang
diperoleh setelah dilakukan penggambaran maka dapat kita lihat bahwa
sifat-sifat kontur adalah sebagai berikut : Garis-garis kontur saling
melingkari satu sama lain dan tidak akan saling berpotongan, Pada daerah yang
curam garis kontur lebih rapat dan pada daerah yang landai lebih jarang, Pada
daerah yang sangat curam, garis-garis kontur membentuk satu garis, Garis kontur
pada curah yang sempit membentuk huruf V yang menghadap ke
bagian yang lebih rendah. Garis kontur pada punggung bukit yang tajam membentuk
huruf V yang menghadap ke bagian yang lebih tinggi, Garis
kontur pada suatu punggung bukit yang membentuk sudut 90° dengan kemiringan
maksimumnya, akan membentuk huruf U menghadap ke bagian yang lebih tinggi,
Garis kontur pada bukit atau cekungan membentuk garis-garis kontur yang
menutup-melingkar, Garis kontur harus menutup pada dirinya sendiri, Dua garis
kontur yang mempunyai ketinggian sama tidak dapat dihubungkan dan dilanjutkan
menjadi satu garis kontur.
Dalam penarikan
antara kontur yang satu dengan kontur yang lain didasarkan pada besarnya perbedaan
ketinggian antara ke dua buah kontur yang berdekatan dan perbedaan ketinggian
tersebut disebut dengan „interval kontur“ (contour interval). Untuk menentukan
besarnya interval kontur tersebut ada rumus umum yang digunakan yaitu :
Interval Kontur = 1/2000 x
penyebut skala (dalam meter).
semakin besar perbedaan angka ketinggian antara
dua buah titik ketinggian tersebut, maka semakin banyak dan rapat kontur yang
melalui kedua titik tersebut, yang berarti daerah tersebut lerengnya terjal,
sebaliknya semakin kecil perbedaan angka ketinggian antara dua buah titik
ketinggian tersebut, maka semakin sedikit dan jarang kontur yang ada, berarti
daerah tersebut lerengnya landai atau datar.
Unsur dasar
peta ; Untuk dapat menggali informasi sebanyak-banyaknya, pertama kali kita
harus cek informasi dasar di peta tersebut, seperti judul peta, tahun peta itu
dibuat, legenda peta dan sebagainya. Disamping itu juga bisa dianalisa
ketinggian suatu titik (berdasarkan pemahaman tentang kontur), sehingga bisa
diperkirakan cuaca, dan vegetasinya.
DAFTAR PUSTAKA
Amhar, F.,
Patmasari, T dan Anas, K. 2001. Aspek-aspek Pemetaan Batas Wilayah Sebuah Tinjauan
Komprehensif. http://
bakosurtanal.go.id/upl_ document/aspek_taswil.pdf . Vol. 8 No. 1, Agustus 2001 [25 November 2009]
Lestariya, A dan Ramdani. 2006.
Analisis Komparatif Penentuan Tinggi dengan GPS dan Sipat Datar. http://.bakosurtanal.go.id/.../Penentuan%20tinggi
%20dgn%20GPS%20dan%20sipat%20datar.pdf.Jurnal Ilmiah
Geomatika Vol. 12 No 1 Agustus 2006.
Balai Penelitian Geomatika. Jakarta. [24 November 2009]
Mastra, R.
2006. Beberapa Catatan Dalam Pembuatan Peta Tematik Dengan Bentuk Map dan
Street Guide untuk Referensi Navigasi. http://bakosurtanal.go.id/igte2nd/.../Full%20paper_IGTE_Riadika.pdf
. Universitas Pancasila
Press. Jakarta Selatan. [24 November 2009]
Massinai, A.
2005. Penerapan Navstar GPS Untuk Pemetaan Topografi.
http://oc.its.ac.id/ambilfile.php?idp=498. Institut Teknologi Sepuluh Nopember Press.
Surabaya. [24 November 2009]
Manalu, J., Kustiyo., Parsa, M., dan Surlan. Pembuatan Kontur dari Data DEM
SRTM untuk Inventarisasi Sumber Daya Alam.http://oc.its.ac.id /ambilfile.php?idp=498.Lembaga Penerbangan dan
Antariksa Nasional. Jakarta. [23 November 2009]
Rostianingsih, S dan Gunadi, K.
2004. Pemodelan Peta Topografi ke Objek Tiga Dimensi.http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/inf/article/.../15439.JURNAL INFORMATIKA Vol. 5, No. 1, Mei 2004: 14 – 21. Universitas
Kristen Petra Press. Jakarta. [23 November 2009]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar