*Tear Your Heart Apart*
[Koyakkanlah Hatimu]
*Yoel 2:13,* _"Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya"._
Adanya frasa _"robeklah hatimu"_ menyerukan transformasi internal yang mendalam, dan bukan sekadar ekspresi pertobatan eksternal. Bahasa Ibrani.dari kata untuk "robek" adalah _"qara,"_ yang berarti merobek atau membelah. Gambaran ini kuat adanya yang menunjukkan bahwa pertobatan sejati melibatkan perubahan yang mendalam dan sepenuh hati adanya. Dimana secara historis, merobek pakaian seseorang merupakan tanda dukacita atau kesusahan, namun Tuhan menginginkan penyesalan spiritual yang lebih mendalam yang memengaruhi hati, sebagai pusat keberadaan seseorang. Lalu adanya frasa dan bukan pakaianmu, hal ini menekankan ketidakcukupan ritual lahiriah tanpa perubahan batiniah yang sejati. Memang di Israel kuno, merobek pakaian seseorang merupakan tanda umum kesedihan atau pertobatan. Akan tetapi Tuhan melalui nabi Yoel mendesak orang-orang untuk melampaui tindakan-tindakan yang dangkal. Dimana budaya Ibrani kaya dengan tindakan-tindakan simbolis, namun panggilan ini adalah untuk keaslian dalam hubungan seseorang dengan Tuhan, yang menyoroti bahwa Tuhan menghargai ketulusan di atas ritual. Ada pernyataan untuk beralih/kembalilah kepada TUHAN, Allahmu. Dan kata _"kembali"_ berasal dari bahasa Ibrani _"shuv,"_ yang berarti berbalik atau bertobat. Hal ini sebagai panggilan untuk bertobat serta memulihkan hubungan perjanjian dengan Allah.
Frasa ini juga menggarisbawahi kesetiaan Allah yang bersifat perjanjian, yang selalu siap menerima umat-Nya untuk kembali. Realita secara historis, Israel sering kali menyimpang dari Allah, dimana panggilan ini merupakan pengingat akan belas kasihan-Nya yang kekal serta kesempatan untuk pembaruan. Dia juga sebagai yang murah hati dan penyayang, sebagai sifat-sifat Allah disorot. Bahasa Ibrani _"pemurah"_ adalah _"channun,"_ _"penyayang"_ adalah _"rachum,"_ yang menggambarkan karakter Allah sebagai pribadi yang menunjukkan kebaikan serta belas kasihan. Maka sifat-sifat ini merupakan dasar pemahaman tentang Allah dalam Perjanjian Lama, yang mencerminkan kesediaan-Nya untuk mengampuni serta memulihkan. Sehingga keyakinan akan sifat Allah ini dimaksudkan untuk mendorong pertobatan, dengan mengetahui bahwa Allah tidak semata kasar namun penuh dengan kasih dan baik hati. Kduxß1arena kasih-Nya, Dia lambat untuk marah, dalam terjemahan dari bahasa Ibrani _"erek apayim,"_ secara harfiah berarti _"panjang hidung,"_ suatu metafora untuk kesabaran. Karakteristik Allah ini merupakan tema yang berulang dalam Perjanjian Lama, yang menekankan kesabaran dan ketabahan-Nya. Maka hal ini meyakinkan umat bahwa Allah tidak cepat menghukum tetapi memberikan banyak kesempatan untuk bertobat. Jadi ada _"pengabdian yang penuh kasih,"_ dalam bahasa Ibraninya _"chesed,"_ sebagai istilah yang kaya yang mencakup kasih, kebaikan, dan kesetiaan perjanjian. _"Ched"_ Allah menjadi tema utama dalam Alkitab, yang menggambarkan kasih serta kesetiaan-Nya yang teguh kepada umat perjanjian-Nya. Adanya kelimpahan pengabdian yang penuh kasih ini merupakan sumber harapan dan dorongan bagi mereka yang kembali kepada-Nya. Maka terkesan Dia mengalah untuk tidak mengirimkan malapetaka.
Kata _"mengalah"_ dalam bahasa Ibraninya _"nacham,"_ yang dapat berarti menyesal, menghibur diri sendiri, atau mengubah pikiran seseorang. Hal ini tidak menyiratkan bahwa Allah tidak menentu, melainkan bahwa Ia tanggap terhadap pertobatan manusia.
Sesuai konteks historis Kitab Yoel melibatkan penghakiman yang akan datang, namun kepastian ini mengungkapkan kesediaan Allah untuk menahan penghakiman sebagai tanggapan dan keinginan-Nya untuk pemulihan daripada kehancuran. Pada sisi lainnya siapa yang siap menghadapi bencana ? Biasanya bencana datang secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan, sehingga tidak seorangpun bisa menunda atau membatalkannya. Bencana akan menimbulkan kehancuran dan kerugian besar. Masih hangat dalam pikiran kita apa yang terjadi beberapa hari lalu, yaitu adanya kebakaran hutan yang amat besar serta diserta angin besar di Los Angeles. Angin membawa api ke kota Los Angeles, per sekarang ada 2000an rumah terbakar, 100an ribu orang mengungsi. Hal ini sangat mengerikan, dahsyat, dan ini merupakan bencana dahsyat yang belum pernah terjadi di Los Angeles ! Bencana memang tidak memilih korbannya. Sebab itu, jikalau seseorang mendapatkan peringatan akan terjadinya bencana lalu terhindar darinya merupakan anugerah yang luar biasa. Kota Los Angeles sebagai daerah kebanggaan Amerika Serikat. Kota itu disebut kota ratu, dan sebagai pemukiman elite. Kebakaran ini mengingatkan peristiwa kota jahat Sodom dan Gomorra yang hancur oleh api. Los Angeles disebut juga daerah ateis dan sudah sering mencandai, menghujat Tuhan Allah. Kota ini terbakar atas seijin Tuhan. Yoel sendiri memberi gambaran dahsyatnya hari kedatangan Tuhan: gelap gulita dan kelam kabut, serbuan pasukan belalang, petaka yang dapat membuat pendengarnya bergidik. Yoel juga mendorong umat untuk meratap, berkabung, dan berpuasa. Sekali lagi dalam perikop yang kita baca, seruan pertobatan kembali dinyatakan dengan lebih tegas, yakni bahwa ratapan dukacita dilakukan bukan dengan sekadar mengoyakkan pakaian melainkan mengoyakkan hati. Tentu puasa, ratapan, dan segala macam bentuk penyesalan tidak berarti apa-apa tanpa adanya perubahan hati. Seruan pertobatan bukan sebagai ancaman, bukan pula kebencian untuk merenggut sukacita. Oleh sebab itu, malang jika kita menanggapi utusan Tuhan yang menyerukan pertobatan dengan penolakan apalagi kemarahan. Tetapi sebaliknya, kita patut bersyukur Allah mengirimkan utusan yang menjembatani terbukanya berkat dan perkenan-Nya. Maka jika kita masih berkesempatan untuk terhindar dari penghukuman dosa, sehingga seruan pertobatan hendaknya membuat kita mengingat konsekuensi fatal dari dosa untuk kemudian kita sikapi dengan hikmat: mereformasi diri, melakukan pertobatan dengan sungguh. Bukan sekadar memperbaiki kelakuan melainkan juga mengubah haluan yang berakar dari sikap hati yang benar. Dalam suatu quotes dinyatakan, _"Kerohanian yang hidup adalah upaya mencari, menemukan, dan hidup akrab dengan Allah"._
*SEMANGAT PAGI & TETAP SEMANGAT*