Santapan Harian
Menagih Janji
Yosua 14:6-15
Kata orang, janji adalah utang. Utang harus dibayar, maka janji juga harus ditepati. Hal ini memberi peringatan bahwa seseorang tidak bisa asal saja berjanji. Dia harus yakin bahwa dia bisa menepati janji itu. Sebaliknya, orang yang kepadanya janji diberikan memiliki hak untuk mengingatkan dan menagih janji yang sudah diterimanya.
Kaleb dan Yosua adalah dua di antara dua belas orang pengintai yang diutus Musa menyelidiki tanah Kanaan. Sepuluh pengintai membawa laporan yang membuat umat merasa takut, sementara Kaleb dan Yosua menyampaikan kebenaran dengan jujur (7-8). Karena kejujurannya, Kaleb menerima janji dari Musa bahwa tanah yang diinjaknya akan menjadi miliknya. Setelah Musa digantikan Yosua dan setiap suku mendapat bagian mereka di Kanaan, Kaleb menagih janji itu. Yosua, yang menghormati janji Musa, memberikan Hebron kepada Kaleb (13).
Bagi sebagian orang, menagih janji mungkin dianggap terlalu berlebihan, atau bahkan ketidaksabaran. Namun, pada dasarnya, menagih janji sama dengan meminta hak. Tentu boleh-boleh saja seseorang meminta sesuatu yang menjadi haknya. Di sisi lain, ketika menagih janji, sebenarnya kita sedang menghindarkan orang yang berjanji dari melakukan kebohongan. Kalau seseorang sudah berjanji, lalu tidak menepati, bukankah itu artinya berbohong?
Masalahnya, sebagian orang mungkin merasa tidak nyaman menagih janji. Bisa jadi, dia takut dianggap tidak percaya kepada orang yang berjanji atau tidak sabaran. Bisa pula memang benar-benar takut karena yang berjanji itu orang yang berkuasa.
Cara Kaleb menagih janji bisa dijadikan teladan. Kata-kata yang kita gunakan mesti tepat. Hal ini bisa dilakukan dengan memaparkan fakta, seperti Kaleb mengingatkan Yosua akan peristiwa yang menyebabkan Musa bersumpah. Selain itu, kita perlu memperhatikan juga waktu yang tepat, seperti Kaleb yang menagih haknya setelah semua suku mendapatkan tanah melalui undian. Jika kita perlu menagih janji, kiranya kita bisa melakukannya dengan benar. [KRS]


