Santapan Harian
Walau Takut, Tetap Taat
1 Raja-raja 18:1-15
Firman Tuhan tidak hanya hadir ketika keadaan terasa nyaman. Dalam pasal ini, suara Tuhan justru terdengar di tengah kekeringan berkepanjangan, situasi politik yang tegang, dan ancaman kematian.
Kondisi krisis menjadi latar tempat Allah menyatakan kehendak-Nya dan memanggil umat-Nya untuk taat. Dalam situasi seperti itulah Tuhan berbicara kepada Elia dan mempertemukannya dengan Obaja, seorang pejabat istana yang takut akan Tuhan (3). Obaja hidup di lingkungan pemerintahan yang kejam yang memusuhi para nabi. Ketika Elia meminta Obaja mempertemukannya dengan Raja Ahab, kegelisahan langsung memenuhi hati Obaja. Ia menyadari kemarahan Ahab terhadap Elia dan perburuan yang sedang dilakukan terhadap nabi-nabi Tuhan (10). Permintaan itu menempatkan Obaja pada persimpangan berbahaya antara ketaatan dan keselamatan diri.
Ketakutan Obaja berakar pada pengalaman nyata. Ia pernah menyembunyikan dan menyelamatkan seratus nabi TUHAN dari pembantaian Izebel (13). Tindakan iman tersebut menjadi risiko besar bila diketahui Ahab.
Saat Elia menyampaikan firman TUHAN, Obaja mengungkapkan kecemasannya dengan menyatakan kemungkinan terburuk jika ia menaati perintah itu. Ketakutan itu membuatnya mencoba memahami kehendak TUHAN melalui logika dan perhitungan manusia.
Bukankah sikap itu sering juga kita lakukan? Ketika Tuhan berbicara, pikiran kita segera dipenuhi bayangan kegagalan. Kita menilai perintah-Nya berdasarkan pengalaman pahit, luka lama, dan rasa khawatir akan dampaknya. Tanpa sadar, ketaatan ditunda dengan alasan yang tampak rasional. Kita merasa mampu memprediksi masa depan, padahal semua itu belum tentu terjadi.
Firman Tuhan diberikan tidak untuk diperdebatkan, melainkan dilakukan. Saat Tuhan berbicara kepada kita, respons terbaik adalah percaya kepada-Nya lalu melangkah. Tidak menunggu keadaan ideal dahulu. Tuhan tidak menuntut kita memahami seluruh jalan, hanya berjalan bersama-Nya. [SLM]

