Hidup Memang Jarang Berjalan Lurus
(Di ruang tunggu bandara, menjelang penerbangan dini hari menuju Changsha, sebuah kalimat sederhana mengajak saya berhenti sejenak untuk merenungkan perjalanan hidup)
"Life is rarely a straight line. Wherever it takes you, we can help."
Kalimat itu sederhana, tetapi begitu dalam.
"Hidup memang jarang berjalan lurus."
Beberapa hari yang lalu saya berangkat dari Jakarta menuju Medan untuk menemui Mama. Melihat kondisi beliau yang semakin menurun membuat hati ini begitu berat.
Meninggalkan beliau bukanlah keputusan yang mudah. Namun perjalanan harus tetap berlanjut. Begitulah hidup. Tidak selalu memberi kita kesempatan untuk berhenti pada kesedihan, tetapi selalu mengajak kita melangkah dalam pengharapan.
Dari Medan saya menuju Kuala Lumpur, dan dini hari ini kembali terbang menuju Changsha, China. Beberapa hari ke depan saya akan berada di sana, kemudian melanjutkan perjalanan ke Chengdu, sebuah kota yang selama ini hanya saya dengar keindahannya, tetapi belum pernah saya kunjungi.
Di tengah sunyinya penerbangan dini hari, saya menyadari bahwa hidup memang bukan perjalanan dengan garis yang lurus. Ada sukacita dan air mata. Ada perjumpaan dan perpisahan. Ada harapan dan pergumulan. Ada saat-saat ketika kita harus tetap melangkah, meskipun hati terasa berat.
Di tengah perjalanan ini, saya juga diingatkan bahwa hari ini Tuhan kembali menambahkan usia yang tidak layak saya terima selain karena kasih karunia-Nya.
Semakin bertambah umur, semakin saya menyadari bahwa hidup bukanlah tentang seberapa jauh kita melangkah atau seberapa banyak yang telah kita capai. Yang jauh lebih penting adalah apakah setiap langkah membawa kita semakin dekat kepada Tuhan, semakin mengasihi sesama, dan semakin setia menjalani setiap tanggung jawab yang telah Dia percayakan.
Saya juga belajar bahwa tidak semua pertanyaan dalam hidup memiliki jawaban yang segera. Tidak semua doa dijawab seperti yang kita harapkan. Tidak semua jalan terasa mudah. Namun justru di sanalah Tuhan mengajar kita untuk tetap percaya, tetap berharap, dan tetap melangkah.
Di hari ulang tahun ini, saya hanya ingin mengucap syukur. Bersyukur atas setiap musim kehidupan yang Tuhan izinkan. Bersyukur untuk keluarga yang saya kasihi, sahabat-sahabat yang terus mendoakan, rekan-rekan yang berjalan bersama, dan setiap kesempatan yang masih Tuhan berikan untuk bekerja, belajar, melayani, serta terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Doa saya sederhana. Kiranya Tuhan terus membentuk hati ini agar semakin rendah hati, memberi hikmat dalam setiap keputusan, kekuatan dalam setiap tanggung jawab, serta kesetiaan untuk tetap berjalan bersama-Nya, apa pun jalan yang harus dilalui.
Karena pada akhirnya saya percaya, hidup memang jarang berjalan sesuai dengan rencana kita. Namun saya juga percaya, tidak ada satu langkah pun yang berada di luar pemeliharaan Tuhan.
Seperti firman-Nya:
"Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya."
— Amsal 16:9
Terima kasih, Tuhan, untuk setiap langkah yang telah Engkau pimpin.
Dan untuk setiap langkah yang masih akan kutempuh, kiranya aku tetap setia mengikuti kehendak-Mu.
Memasuki lembaran usia yang baru, aku hanya ingin tetap berjalan setia, selangkah demi selangkah, mengikuti tuntunan-Mu, sampai pada akhirnya hidupku benar-benar memuliakan nama-Mu.
Soli Deo Gloria.
Hasudungan Limbong
KLIA 1, 11.07.2026
