KETIKA PEMIMPIN/PENDETA LEBIH DITAATI DARIPADA TUHAN
Ada satu fenomena kerusakan yang sedang terjadi di gereja/komunitas Kristen, dimana pemimpin/pendeta diperlakukan seperti Tuhan bahkan lebih.
Pemimpin/pendeta dihormati secara berlebihan.
Perkataannya dianggap mutlak.
Keputusannya tidak boleh dipertanyakan.
Bahkan ketika sikap dan tindakannya jelas melukai kebenaran, banyak orang/jemaat tetap membela dengan penuh loyalitas.
Ironisnya, sebagian orang lebih takut dianggap “melawan pemimpin/pendeta” daripada melawan Tuhan sendiri.
Ketika ada orang/jemaat diperlakukan tidak adil, ditekan, dimanipulasi, dipermalukan, atau disingkirkan karena berbeda pendapat, banyak yang sebenarnya tahu itu salah… tetapi memilih diam.
Bukan karena tidak mengerti.
Tetapi karena takut kehilangan kenyamanan, posisi, kedekatan, dan penerimaan di lingkungan gereja/lembaga.
Di situlah hati nurani mulai dikorbankan demi loyalitas kepada manusia.
Yang lebih menyedihkan, keadaan seperti ini sering dipelihara oleh orang-orang senior di sekitar pemimpin.
Mereka terus memback-up pemimpin/ pendeta dalam segala keadaan.
- Semua tindakan dibenarkan.
- Semua kritik dianggap ancaman.
- Bahkan ketika jemaat kritis dibungkam atau dihukum, itu tetap dianggap sebagai bentuk “menjaga wibawa pemimpin”, "menjaga citra gereja/lembaga", “melindungi hamba Tuhan.”
"menjaga kesatuan"
Padahal tanpa sadar, mereka sedang membangun budaya yang "Anti-Kebenaran" atau budaya yang "Menantang Tuhan".
Pemimpin yang terus dipuji tanpa pernah dikoreksi akhirnya kehilangan kepekaan untuk mengoreksi diri.
Ia menjadi besar kepala dan yakin bahwa dirinya selalu benar, karena lingkungannya hanya pandai membela, tetapi tidak berani berkata jujur, dan bahkan ia menjadi semakin arogan.
Disinilah Spiritual Abuse (Kekerasan/Pelecehan Rohani) sering diaminkan dan dinormalisasi.
Namun ironinya, mereka tetap merasa diri paling rohani, ignorant, dan percaya diri terus, sementara jemaat yang masih memiliki keberanian untuk berpikir kritis justru dicap:
-tidak tunduk,
-pahit,
-pemberontak,
-pembawa masalah.
Padahal koreksi atas hal-hal yang tidak benar, tidak adil, tidak jujur haruslah dihargai karena itulah yang sesuai Firman Tuhan.
Situasi seperti ini menjadi ladang yang subur bagi orang-orang manipulatif, orang-orang yang haus panggung dan validasi.
Mereka berlomba menjadi “orang dekat pemimpin/pendeta.”
Bangga berada di ring 1.
Merasa lebih rohani karena dekat dengan pusat kekuasaan.
Lalu kedekatan itu dipakai untuk mencari pengaruh, membangun kelompok, memainkan opini, bahkan menyerang orang-orang yang dianggap mengganggu rencana dan kenyamanan mereka.
Dan biasanya, orang-orang kritis menjadi target utama.
Mengapa?
Karena orang yang masih berpikir kritis dan memakai hati nurani tidak mudah dimanipulasi dan dikendalikan.
Maka mulailah karakter diserang.
Nama baik dirusak.
Suara dibungkam.
Tujuannya sederhana:
membuat orang/jemaat takut berpikir, takut bertanya, dan akhirnya hanya belajar mengangguk.
Kalau benar bahwa gereja/lembaga itu sedang melayani Kristus, maka ketaatan kepada Kristus di atas segalanya.
Loyalitas tertinggi hanya kepada Kristus dan Firman-Nya,
Bukan kepada manusia manapun.
“Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia.”
— Kisah Para Rasul 5:29
Coba anda cek, apakah di gereja/komunitas/persekutuan kalian sekarang, ada fenomena itu? Dimana ketaatan kepada pemimpin/pendeta lebih tinggi daripada ketaatan kepada Tuhan dan Firman-Nya?
Pesan untuk semua yang merasa saat ini adalah pemimpin rohani,
Jika anda benar dipimpin oleh Kristus dan Firman-Nya, maka:
Tugas utama anda adalah mengarahkan orang-orang di bawah kepemimpinan anda, untuk mentaati Tuhan lebih daripada siapapun termasuk anda, dan mentaati Firman-Nya lebih daripada perkataan anda.
Pesan untuk semua yang mengaku sebagai pengikut Kristus:
Pastikan ketaatan anda yang tertinggi adalah kepada Kristus dan Firman-Nya, bukan kepada manusia manapun.
Siap sedialah menanggung segala resiko atas pilihan anda untuk lebih taat kepada Kristus lebih daripada pemimpin/pendeta sekalipun.
By: Sondang N. Saragih
