H.O.R.A.S

Selamat Datang buat anda yang mengunjungi blog ini, Segala informasi dalam blog ini merupakan bantuan dari buku-buku, majalah, dan lain-lain
Semoga blog ini bermanfaat bagi anda ^^.


Senin, 12 Oktober 2026

Renungan Kualitas Bait Allah

 Santapan Harian

Kualitas Bait Allah 

1 Raja-raja 5 


Sebuah gedung yang kokoh dan megah tidak dibangun dalam waktu singkat. Diperlukan perencanaan yang matang, pemilihan bahan yang berkualitas, dan pemasangan fondasi yang teliti. Terlebih lagi pembangunan Bait Suci.


Melihat kondisi kerajaan yang sudah kondusif, Salomo berencana untuk membangun Bait Suci. Hal ini sesuai dengan apa yang TUHAN janjikan saat Daud masih hidup (bdk. 2Sam 7:12-13; 1Taw 17:11-12).


Melalui utusannya yang dikirim kepada Hiram, Salomo menceritakan rencananya untuk membangun Bait Suci dan juga meminta bantuan untuk menebang kayu aras yang dibutuhkan (1-6). Setelah mendengar permintaan tersebut, Hiram-yang sebelumnya membantu Raja Daud membangun istana (lih. 2Sam 5:11)-bersedia membantu Salomo dengan sukacita (7-9). Ia tidak hanya akan memberikan kayu aras, tetapi juga kayu sanobar (10). Sebagai gantinya, Salomo membantu menyediakan makanan bagi seisi istana Hiram sesuai kerelaan Salomo (11).


Alkitab kembali mencatat bahwa relasi antara Salomo dan Hiram didasarkan pada hikmat yang berasal dari TUHAN (12). Inilah hikmat yang mendatangkan kedamaian untuk menggenapi janji-Nya.


Hal ini mengingatkan kita pada Kristus, Sang Hikmat. Kristus membawa pendamaian antara Allah dan umat-Nya. Di dalam Dia, kita dibangun menjadi Bait Allah yang kudus (Ef 2:21-22). Janji keselamatan Allah yang dipersiapkan telah digenapi dengan sempurna.


Kita adalah bait yang dibangun bukan dengan kayu, melainkan dengan darah yang mahal, yakni darah Kristus. Di dalam Kristus, kita disucikan untuk dapat hidup memuji dan memuliakan Allah.


Sebagai Bait Allah, kita hidup tidak lagi untuk menonjolkan diri kita sendiri, melainkan untuk merepresentasikan kehadiran Allah di dunia ini. Jika Allah begitu serius dalam membangun kita sebagai bait-Nya, maka sudah sepatutnya kita menjalani hidup kita dengan kekudusan, ketaatan, dan kesetiaan yang penuh kepada Allah. Marilah kita hidup sebagai Bait Allah yang mendatangkan kedamaian bagi sesama dan kemuliaan bagi Allah. [MAR]