“Kita harus menjadi orang Kristen global dengan visi global karena Tuhan kita adalah Tuhan global.”
― John RW Stott
![]() |
| Keluarga Dari Bapak |
*“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”*
📖 *Kolose 3:23*
Bu Lilis, seorang petugas kebersihan di sebuah rumah sakit daerah, sudah bekerja lebih dari lima belas tahun. Pekerjaannya sering dipandang rendah. Banyak orang melewatinya tanpa menyapa, bahkan ada yang mengeluh jika lantai masih basah atau tempat sampah belum sempat dibersihkan. Di akhir tahun ini, Bu Lilis sempat berpikir untuk berhenti. Tubuhnya lelah, penghasilannya pas-pasan, dan ia merasa hidupnya tidak pernah benar-benar “maju”.
Suatu pagi, ia membersihkan ruang rawat inap seorang pasien lansia yang sudah lama terbaring. Saat Bu Lilis hendak keluar, pasien itu memanggilnya pelan dan berkata,
“Bu, terima kasih ya. Setiap kali Ibu membersihkan ruangan ini, saya merasa dihargai. Cara Ibu bekerja bikin saya merasa tidak sendirian.”
Kalimat itu membuat Bu Lilis terdiam. Di ruang ganti, ia menangis. Ia menyadari bahwa selama ini Tuhan melihat setiap sapuan pel dan setiap ketulusan hatinya — meski tidak banyak orang yang memperhatikan.
Kolose 3:23 mengingatkan kita bahwa nilai hidup kita tidak ditentukan oleh jenis pekerjaan, melainkan oleh hati yang kita berikan kepada Tuhan di dalam pekerjaan itu. Sering kali kita sulit bersyukur karena membandingkan hidup kita dengan orang lain. Kita merasa peran kita kecil, hasil kita biasa, dan jerih lelah kita kurang dihargai. Namun firman Tuhan menegaskan: apa pun yang kita lakukan, jika dilakukan untuk Tuhan, tidak ada yang sia-sia.
Bu Lilis tidak melakukan pekerjaannya demi pujian manusia. Ia melakukannya dengan ketulusan, dan di sanalah Tuhan memakai hidupnya untuk menghadirkan kasih dan penghiburan bagi orang lain. Syukur lahir ketika kita menyadari bahwa Tuhan bekerja bukan hanya melalui mimbar, jabatan, atau panggung besar, tetapi melalui kesetiaan sehari-hari yang sederhana.
Menjelang akhir tahun, mungkin kita bertanya,
👉 “Apa yang sudah benar-benar berarti dari hidupku tahun ini?”
Renungan hari ini mengajak kita melihat kembali:
• setiap tugas yang kita lakukan dengan setia,
• setiap kebaikan kecil yang kita lakukan tanpa disorot,
• setiap tanggung jawab yang kita jalani meski lelah, semuanya bernilai kekal di mata Tuhan.
Bersyukur berarti mengakui bahwa Tuhan hadir dan bekerja melalui hidup kita, bahkan saat kita merasa “biasa saja”. Syukur menolong kita berhenti meremehkan diri sendiri dan mulai melihat hidup dari sudut pandang Tuhan.
✝️ *Tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil jika dilakukan dengan hati yang besar bagi Tuhan.*
✅ *BERSYUKUR DALAM KESETIAAN SEHARI-HARI*
![]() |
| Semangat Sore |
*Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.*
📖 *Efesus 5:20*
Pak Johan, seorang pengusaha kecil di kota Bogor, menutup tahun ini dengan perasaan campur aduk. Usaha percetakan yang ia rintis belasan tahun harus tutup karena sepi pesanan. Mesin-mesin dijual, karyawan dilepas dengan berat hati. Suatu sore, ia duduk sendirian di ruang usahanya yang hampir kosong. Ia berkata dalam hati “Tuhan, aku gagal. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk disyukuri.”
Beberapa hari kemudian, Pak Johan dihubungi salah satu mantan karyawannya. Dengan suara terharu, karyawan itu berkata,
“Pak, terima kasih. Waktu usaha Bapak masih berjalan, Bapak bukan hanya memberi pekerjaan, tapi juga mengajari kami jujur dan berdoa. Saya diterima kerja di tempat baru, dan semua yang Bapak ajarkan sangat menolong saya.”
Telepon itu membuat Pak Johan terdiam lama. Ia menyadari sesuatu yang selama ini luput ia lihat: usahanya memang berhenti, tetapi dampaknya tidak berhenti.
Efesus 5:20 tidak berkata, “Bersyukurlah untuk segala hal,” melainkan “bersyukurlah dalam segala hal.” Ada perbedaan besar di sana. Tuhan tidak meminta kita bersyukur atas penderitaan seolah-olah penderitaan itu baik. Tetapi Tuhan mengundang kita untuk menemukan alasan bersyukur di tengah keadaan yang tidak ideal.
Pak Johan tidak bersyukur karena usahanya tutup. Ia bersyukur karena Tuhan memakai hidupnya untuk memberkati orang lain melalui proses itu. Sering kali kita mengukur hidup dari apa yang kita miliki atau capai. Padahal Tuhan menilai hidup dari siapa yang kita sentuh dan bagaimana karakter Kristus dinyatakan melalui kita.
Ketika kita hanya melihat apa yang hilang, hati kita dipenuhi kepahitan. Namun ketika kita mulai melihat apa yang Tuhan kerjakan melalui kehilangan itu, hati kita dipulihkan. Syukur membuka mata rohani kita untuk melihat bahwa Tuhan tidak pernah berhenti bekerja — meski jalan-Nya berbeda dari rencana kita.
Menjelang akhir tahun, mungkin ada hal-hal yang harus kita lepaskan: pekerjaan, mimpi, relasi, atau harapan tertentu. Renungan hari ini mengajak kita bertanya:
👉 Apa yang Tuhan kerjakan di dalam diriku melalui semua ini?
👉 Karakter apa yang Ia bangun?
👉 Kesaksian apa yang lahir, meski hasilnya tidak seperti yang aku inginkan?
Bersyukur dalam segala hal adalah tanda iman yang matang — iman yang percaya bahwa Tuhan tetap baik, bahkan ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan.
✝️ *Syukur tidak mengubah masa lalu, tetapi syukur mengubah cara kita memandang karya Tuhan di balik setiap proses.*
✅ *HARI 4: BERSYUKUR DALAM SEGALA HAL*
![]() |
| Selamat Natal dan Tahun Baru 2026 |
*Selamat pagi dan selamat beraktivitas*
*Dengan hormat, Berikut kami sampaikan prakiraan cuaca Kota Tanjungpinang dan Kab. Bintan tanggal 30 Desember 2025 yang berlaku mulai pukul 07.00 WIB.*
Terpantau terdapat pola belokan angin (Shearline) di sekitar wilayah Kepulauan Riau, termasuk wilayah Pulau Bintan yang menyebabkan perlambatan massa udara sehingga dapat mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif penghasil hujan di wilayah Pulau Bintan dan sekitarnya. Secara umum kondisi cuaca hari ini di wilayah Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan diprakirakan berpotensi terjadi hujan ringan pada pagi dan siang hari yang dapat disertai petir.
🔖 *Peringatan Dini:*
⚠️ Waspada potensi pembentukan awan Cumulonimbus (CB) yang dapat menyebabkan hujan dengan intensitas ringan yang dapat disertai petir dan angin kencang pada pagi dan siang hari.
☔ *Prakirawan Stasiun Meteorologi Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang*
📞 0811 7786 091
🧾 https://www.bmkg.go.id/cuaca/prakiraan-cuaca.bmkg?kab=Tanjung_Pinang&Prov=Kep_Riau&AreaID=501371
![]() |
| Prakiraan Cuaca Tanggal 30 Desember 2025 Prov Kepulauan Riau |
Santapan Harian
Bait Allah yang Baru
Yohanes 2:13-25
Bait Allah adalah tempat kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya. Melalui peristiwa yang tertulis dalam bacaan ini, Yesus sedang menunjukkan apa arti Bait Allah.
Peristiwa ini terjadi saat perayaan Paskah Yahudi sudah dekat. Pada perayaan ini, banyak orang dari berbagai bangsa datang ke Yerusalem untuk beribadah di Bait Allah. Namun, suasana di halaman Bait Allah telah berubah menjadi pasar yang sibuk dengan aktivitas perdagangan. Para pedagang menjual lembu, domba, dan merpati untuk keperluan kurban persembahan, sementara para penukar uang melayani kebutuhan para peziarah yang datang dari berbagai wilayah dengan mata uang yang berbeda. Yesus marah dan mengusir mereka, "Jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan!" (14-16). Tujuan utama Bait Allah sebagai tempat beribadah kepada Allah dan rumah doa bagi segala bangsa (bdk. Yes 56:7) telah digantikan dengan aktivitas perdagangan.
Yesus memberi makna baru yang radikal akan Bait Allah. Keterhubungan manusia dengan Allah tidak lagi dibatasi oleh tempat fisik atau ritual agama, melainkan di dalam diri-Nya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, tubuh-Nya menjadi Bait Allah yang baru (21). Di dalam kematian-Nya, Ia menghapus semua penghalang yang memisahkan manusia dari Allah, baik penghalang etnis, sosial, maupun budaya, sehingga semua orang dapat beribadah kepada Allah. Tak ada lagi dinding pemisah antara Allah dan manusia. Melalui kebangkitan-Nya, Yesus membuka jalan bagi semua orang untuk datang kepada Allah tanpa penghalang. Siapa pun yang percaya kepada-Nya dapat masuk ke dalam hadirat Allah.
Kita dapat beribadah kepada Allah karena Yesus mati di atas kayu salib dan bangkit pada hari ketiga. Seperti Yesus membuka jalan bagi semua bangsa, kita juga dipanggil untuk membuka gereja dan komunitas bagi siapa pun yang mencari kebenaran dan kasih Allah. Gereja dan komunitas Kristen harus menjadi saksi Kristus yang terbuka, tidak eksklusif agar semua orang mengalami karya penebusan Yesus. [JMH]
![]() |
| Tugu Pertobatan Di Mentawai |
![]() |
| Pajak dan STNK 5 Tahunan si Merah |