KEGIGIHAN
Matius 21:1-27 , 24 Maret 2025
Saat menjelang sore, ketika sedang menyelesaikan seruputan terakhir minuman ala frappucino moca disebuah gerai mi, seorang anak muda dengan wajah lelah menghampiri saya dan berkata bahwa ia tidak sedang meminta-minta atau mencoba menjual barang, tetapi memperkenalkan diri sebagai pemuda yang sedang belajar wirausaha dan telah membuat suatu produk. Sambil menelan es kopi yang sempat terhenti di mulut, saya bertanya-tanya dalam hati, mungkinkah ini opening gambit (langkah pembukaan) terkini para startup ketika memasarkan produknya ?
Lewat perkataannya, anak muda tersebut sebenarnya sudah mencitrakan dirinya sebagai orang yang sering gagal, sehingga kurang bersemangat dan tidak lagi memiliki keyakinan diri. Amsal 23:7 secara jelas menekankan adanya hubungan yang erat antara pikiran dan persepsi diri dengan identitas seseorang.
Sebaliknya, “orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya (Amsal 18:14)”. Ketika menghadapi kemalangan atau kegagalan dalam upaya mencapai tujuan, rasa putus asa membuat seseorang menyerah (Quitter), seperti gagasan Stoltz yang mengibaratkan manusia menghadapi tantangan seperti mendaki gunung. Sementara itu, beberapa orang lebih memilih untuk memanjakan diri mereka di zona nyaman, berlama-lama dan menikmati secangkir kopi, sementara tujuan masih jauh (camper). Namun, seorang pendaki (climber) tidak akan pernah menyerah dan terus mendaki hingga mencapai puncak serta menyelesaikan misinya. Oleh karena itu, mari kita tetap fokus dan gigih berusaha mencapai sasaran, mempersiapkan jalan raya bagi Tuhan.
Pada musim semi “Berjalan dalam rekonsiliasi” ini, warga Kerajaan pasti sedang berjuang lebih keras karena harus mempertahankan hubungan yang telah dipulihkan agar tetap baik. Hal ini mirip dengan gagasan bahwa merenovasi dan memperbaiki rumah lama akan memerlukan lebih banyak energi daripada membangun rumah baru. Dalam upaya menjaga hubungan yang telah dipulihkan, kewaspadaan terutama terhadap perkataan harus senantiasa diterapkan, karena ini merupakan bagian tersulit. Diperlukan kegigihan untuk terus membangun komunikasi yang bermakna. Kegagalan dan kesalahpahaman dalam komunikasi laksana percikan api yang bisa merusak jembatan rekonsiliasi yang telah dibangun.
Tips komunikasi yang baik dan bermakna sudah pernah dibagikan dalam renungan ini, antara lain belajar menjadi pendengar, mengapa ? Karena saat ini setiap orang terlihat super sibuk menjadi pembicara. Mempertahankan rekonsiliasi memang memerlukan daya tahan dan kegigihan, karena aturan emasnya ibarat kunci yang memiliki tiga gerigi : kerendahan hati, pengampunan, dan komitmen untuk berdamai. (YL)
Questions :
1. Bagaimana cara kita tetap bersemangat mempertahankan rekonsiliasi yang telah terbangun ?
2. Bagian apakah yang tersulit dalam proses mempertahankan hubungan baik ?
Values :
Komunikasi merupakan kunci mempertahankan rekonsiliasi.
“Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia (Amsal 23:7)”
Mempertahankan hubungan baik tetap memerlukan kegigihan dalam kerendahan hati, pengampunan dan komitmen.
![]() |
Raket sebelum ada gloria kecik ! ^^ |