H.O.R.A.S

Selamat Datang buat anda yang mengunjungi blog ini, Segala informasi dalam blog ini merupakan bantuan dari buku-buku, majalah, dan lain-lain
Semoga blog ini bermanfaat bagi anda ^^.


Rabu, 18 Februari 2026

2 Korintus 5 : 17

 *“Karena itu, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”*

๐Ÿ“– *2 Korintus 5:17*


Seorang ibu pernah bercerita bahwa setiap Imlek keluarganya selalu membersihkan rumah secara menyeluruh—menyapu, membuang barang lama, dan menata ulang ruangan. Suatu kali anaknya bertanya,

“Kenapa setiap tahun harus dibersihkan lagi? Bukankah tahun lalu sudah bersih?”


Sang ibu menjawab dengan sederhana “Karena selama setahun pasti ada debu yang kembali menempel. Kalau tidak dibersihkan, rumah akan terlihat kusam tanpa kita sadari.”


Perkataan itu mengena di hati mereka. Mereka menyadari bahwa hidup juga seperti rumah—tanpa disadari, kekecewaan, iri hati, dan luka bisa menumpuk. Perayaan tahun baru akhirnya bukan hanya soal dekorasi dan makanan, tetapi menjadi momen membersihkan hati dan memperbarui relasi.


Dalam budaya Tionghoa, Imlek memiliki makna:

▪️awal yang baru,

▪️membersihkan yang lama,

▪️harapan akan berkat dan keberuntungan,

▪️serta mempererat hubungan keluarga.


Secara Kristen, makna ini selaras dengan kebenaran rohani bahwa pembaruan sejati berasal dari Tuhan.

Orang percaya memahami bahwa:

▪️berkat sejati bukan hanya materi, tetapi damai sejahtera,

▪️keberuntungan digantikan dengan kepercayaan pada pemeliharaan Tuhan,

▪️pembersihan rumah menjadi lambang pembersihan hati,

▪️kumpul keluarga menjadi momen menghidupi kasih dan pengampunan.


Imlek dapat dimaknai sebagai waktu refleksi rohani: apakah ada kepahitan yang perlu dilepaskan? apakah ada hubungan yang perlu dipulihkan? apakah ada kebiasaan yang perlu ditinggalkan?


Tahun yang baru tidak otomatis membuat hidup berubah. Perubahan terjadi ketika hati mau diperbarui. Tuhan rindu setiap anak-Nya memasuki musim baru dengan jiwa yang ringan, pikiran yang jernih, dan iman yang segar.


Perayaan menjadi indah bukan karena kemeriahan semata, tetapi karena kesadaran bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk hidup lebih dekat dengan Tuhan dan lebih mengasihi sesama.


✝️ *Pembaharuan sejati dimulai dari hati yang diserahkan kepada Tuhan.*


✅ *MEMASUKI AWAL BARU DENGAN HATI YANG DIPERBARUI*











Prakiraan Cuaca Tanggal 18 Februari Prov Kepulauan Riau


*Selamat pagi dan selamat beraktivitas*


*Dengan hormat, berikut kami sampaikan prakiraan cuaca Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan tanggal 18 Februari 2026 yang berlaku mulai pukul 07.00 WIB.*


Diprakirakan masih terdapat pola belokan angin (_shearline_) di wilayah Pulau Bintan dan sekitarnya. Kondisi ini didukung oleh kelembapan udara yang basah sehingga berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan-awan konvektif penghasil hujan di wilayah Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan. Secara umum, kondisi cuaca hari ini diprakirakan berawan dengan potensi hujan ringan hingga sedang pada pagi dan siang hari.


๐Ÿ”– *Peringatan Dini:*

- Waspadai potensi pertumbuhan awan _Cumulonimbus_ (Cb) yang dapat menyebabkan hujan ringan hingga sedang disertai kilat/petir dan angin kencang yang berskala lokal pada siang hari.

- Waspada potensi ketinggian gelombang yang dapat mencapai hingga 2.5 meter (kategori sedang) di sekitar wilayah Perairan Bintan dan Tambelan.


_Masyarakat diimbau untuk memantau informasi cuaca terkini melalui aplikasi InfoBMKG, media sosial resmi BMKG Tanjungpinang, atau laman https://www.cuaca.bmkg.go.id._


☔ *Prakirawan Stasiun Meteorologi Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang*

๐Ÿ“ž 0811 7786 091

๐Ÿงพ https://www.bmkg.go.id/cuaca/prakiraan-cuaca/21.72

 (Kota Tanjungpinang)

๐Ÿงพ https://www.bmkg.go.id/cuaca/prakiraan-cuaca/21.01

 (Kab. Bintan)

๐Ÿงพ https://stamet-tanjungpinang.bmkg.go.id/hotspot/ (Informasi Titik Panas Kota Tanjungpinang dan Kab. Bintan)

















Prakiraan Cuaca Tanggal 18 Februari 2026 Prov Kepulauan Riau


Renungan Anugerah yang Manusiawi

 Santapan Harian

Anugerah yang Manusiawi 

Yosua 9 


Banyak keputusan yang kita ambil di dalam hidup ini tanpa kita bertanya kepada Tuhan. Atau, bahkan kadang kita bertanya, tetapi kita bingung jawaban seperti apakah yang diberikan Tuhan untuk kita. Akhirnya, sangat sering kita sendiri menafsirkan pikiran atau perasaan tertentu sebagai jawaban dari Tuhan untuk kita, dan memutuskan berdasarkan tafsir kita atas hal itu.


Di dalam teks ini, kita dapat bersimpati kepada Yosua yang teperdaya oleh orang Gibeon. Ketika raja-raja orang Het, Amori, Kanaan, Feris, Hewi dan Yebus bersepakat melawan Israel, orang Gibeon justru menggunakan akal mereka (1-5). Orang Gibeon datang kepada Yosua dengan mengaku bahwa mereka datang dari jauh (6-13). Orang Israel mengambil bekal mereka tanpa meminta keputusan dari TUHAN (14). Lalu, Yosua mengikat perjanjian dengan mereka (15). Kejadian ini menunjukkan bahwa kita diberi ruang untuk membuat keputusan untuk hidup bersama orang lain seturut firman Tuhan.


Hal yang menarik dalam teks ini adalah kita tidak melihat Tuhan marah kepada orang Israel, walaupun mereka membuat perjanjian dengan menggunakan nama TUHAN. Sungguh, Allah penuh anugerah. Bahkan dalam perikop selanjutnya, Allah juga mengizinkan Israel berperang melawan bangsa-bangsa yang bersekutu menyerang Gibeon.


Hal lain yang luar biasa adalah umat Israel tetap setia akan perjanjian yang dibuat dengan orang Gibeon itu karena perjanjian itu dibuat di hadapan TUHAN yang mereka sembah. Mereka takut akan Allah dan mengingat akan Allah yang melindungi, memelihara, dan setia. Oleh karena Allah selalu menepati janji, mereka pun menepati perjanjian itu.


Setiap keputusan yang kita buat dalam hidup adalah bagian dari perjalanan pertumbuhan iman. Meskipun tidak selalu sempurna, kita dapat terus melangkah selaras dengan kebenaran Allah. Kita bersyukur karena Allah yang penuh anugerah menerima kita dengan kasih-Nya, memahami ketulusan hati yang berusaha melakukan yang terbaik meskipun kadang masih keliru. Mari kita belajar, bertumbuh, dan setia pada janji yang telah kita ucapkan. [JHN]