H.O.R.A.S

Selamat Datang buat anda yang mengunjungi blog ini, Segala informasi dalam blog ini merupakan bantuan dari buku-buku, majalah, dan lain-lain
Semoga blog ini bermanfaat bagi anda ^^.


Rabu, 22 April 2026

Tempat Perlindungan dan Kekuatan



📖 _“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.” (Mazmur 46:2)_






2 Raja Raja 7 : 1

 Slmt pg buat kita semua..


2 Raja-raja 7:1 (TB) Lalu berkatalah Elisa: "Dengarlah firman TUHAN. Beginilah firman TUHAN: Besok kira-kira waktu ini sesukat tepung yang terbaik akan berharga sesyikal dan dua sukat jelai akan berharga sesyikal di pintu gerbang Samaria."

🙏🙏🙏









Bibit Gratis Cabe Kak Titin


Hati yang Tetap Bersyukur

 *“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”*

📖 *1 Tesalonika 5:18*


Kisah hidup Horatio Spafford adalah salah satu gambaran terdalam tentang iman dan ucapan syukur di tengah kehilangan.


Spafford adalah seorang pengacara sukses. Namun dalam waktu yang tidak lama, hidupnya dilanda berbagai tragedi. Usahanya hancur karena kebakaran besar, dan tidak lama kemudian, keempat anak perempuannya meninggal dalam kecelakaan kapal di tengah laut.


Bayangkan kehilangan sebesar itu—sebuah pukulan yang bisa menghancurkan siapa pun.


Saat menyusul istrinya yang selamat, kapal yang ditumpanginya melewati lokasi di mana anak-anaknya meninggal. Di tempat itulah, Spafford menulis lagu yang sangat terkenal, It Is Well with My Soul.


Liriknya bukan berisi kemarahan, tetapi iman:

“Apapun keadaanku, Engkau ajarku berkata: tetaplah baik jiwaku.”


Itu bukan kata-kata kosong—itu lahir dari hati yang memilih percaya di tengah penderitaan.


Spafford tidak menyangkal rasa sakitnya, tetapi ia memilih untuk tetap bersyukur dan percaya kepada Tuhan. Inilah kuasa kebangkitan itu—memberi damai yang melampaui keadaan.


Setelah Paskah, kita diingatkan bahwa ucapan syukur bukan karena keadaan selalu baik, tetapi karena Tuhan selalu baik.


✝️ *UCAPAN SYUKUR ADALAH TANDA IMAN DI TENGAH SEGALA KEADAAN*


✅ *HATI YANG TETAP BERSYUKUR*






Kitab Ezra, 22 April 2026

 EZRA


Penulis kitab ini tidak di ketahui. Banyak yang beranggapan Ezra yang menulis sebagian besar.


Kitab Ezra ini menceritakan bagaimana Tuhan setia dengan janji-janji-Nya dan membawa tawanan-tawanan Yahudi kembali ke tempat mereka.


Cyrus(Koresh), Raja Persia, mengizinkan orang-orang yang tertangkap kembali ke negaranya. Beberapa orang Yahudi dari Babilonia kembali ke Yudea. Mereka membangun kembali Bait suci Allah. Beberapa waktu kemudian, Ezra kembali ke Babilonia untuk mengajarkan hukum-hukum Tuhan.


Apa yang kita pelajari pada kitab ini adalah bahwa Tuhan setia dengan janji-janji-Nya.


Tokoh-tokoh penting dalam kitab ini adalah Raja Koresh(Cyrus) dan Ezra.


Kapan peristiwa-peristiwa ini terjadi? Orang-orang Yahudi pertama yang kembali tahun 538 BC. Ezra kembali tahun 458 BC.


Kisah yang tertulis dalam kitab ini terjadi di kerajaan kecil di Yudea dan di kota Yerusalem.






Renungan Do Ut Des

 Santapan Harian

Do Ut Des 

Hakim-hakim 8:4-21 


Menurut situs Bibliopedia, "Do ut des" adalah frasa Latin yang secara harfiah artinya, "Aku memberi agar kamu memberi". Ini adalah prinsip barter dalam hubungan sosial ekonomi. Maka, dapat dianggap wajar apabila seseorang mengharapkan imbalan dari kebaikan yang ia berikan kepada orang lain.


Bacaan kali ini menceritakan kelanjutan kisah perjuangan Gideon dalam mengalahkan bangsa Midian. Gideon bersama pasukannya mengejar dua raja Midian yang melarikan diri, yaitu Zebah dan Salmunah.


Dalam pengejaran itu, mereka mengalami kelelahan (4). Gideon meminta bantuan makanan kepada orang Sukot, tetapi para pemuka Sukot menolak dengan alasan bahwa Gideon belum berhasil menangkap kedua raja itu (5-6). Setelah itu, Gideon juga menerima penolakan yang sama dari orang Pnuel (8).


Apa tanggapan Gideon? Gideon berkata bahwa ia akan mencabik tubuh para pemuka Sukot dan merobohkan menara orang Pnuel (7, 9). Gideon benar-benar melakukan niatnya itu, bahkan membunuh orang-orang di Pnuel (15-17).


Kita dapat menilai peristiwa ini dari berbagai sisi. Mungkin kita mengkritik ketidakpedulian orang Sukot dan Pnuel atau mencela kekejaman Gideon. Namun, kita juga dapat menilai bahwa Gideon dan masyarakat umumnya saat itu hidup dalam sistem sosial yang membalas kejahatan dengan kejahatan, dan membalas kebaikan dengan kebaikan.


Ini adalah prinsip "Mata ganti mata, gigi ganti gigi" (lih. Kel 21:24; Im 24:20; Ul 19:21). Prinsip ini bertujuan untuk menegakkan keadilan, tetapi orang sering menggunakannya untuk menuntut balasan atau mengharapkan imbalan.


Oleh karena itu, Yesus mengajarkan prinsip yang sebaliknya: janganlah melawan jika orang lain berbuat jahat kepada kita (lih. Mat 5:38-42). Jadi, kita tidak perlu bertanya: Apakah penolakan harus dibalas dengan penolakan juga? Keburukan apa pun yang dilakukan orang terhadap kita, Yesus mengajar kita untuk proaktif membalasnya dengan melakukan kebaikan, dan tidak memikirkan balasan apa yang akan diberikan orang kepada kita (Mat 7:12). [LRS]