Santapan Harian
Kejahatan Menuai Kehancuran
Hakim-hakim 9:50-57
Sehebat atau sepandai apa pun seseorang, ia tetap tidak boleh merasa paling berkuasa dibandingkan orang lain karena ia bisa saja gagal pada suatu saat di masa depan. Kehebatan saat ini akan habis atau hilang pada waktunya. Karena itu, tidak ada yang perlu disombongkan dari manusia.
Pernyataan di atas berlaku untuk semua orang, dan juga pas untuk dikenakan pada Abimelekh yang punya sepak terjang yang kelam. Ia seorang raja yang jahat di mata TUHAN. Untuk menjadikan dirinya raja, ia tega membunuh banyak sekali orang, termasuk 70 saudaranya sendiri dan warga Kota Sikhem.
Berbagai kejahatan terus dilakukannya. Kota Tebes dikepung dan direbut; menara di mana warga kota melarikan diri diserang dan dibakar (50-52).
Melihat kekejian Abimelekh, TUHAN pun tidak tinggal diam, Ia memakai seorang perempuan yang melempar kepalanya dengan sebongkah batu kilangan (53). Di sanalah seluruh kehormatannya terkubur. Seorang penguasa yang keji dikalahkan dan dipermalukan oleh seorang perempuan.
Akhir dari semua ini adalah Abimelekh mati dibunuh oleh hambanya sendiri dan Israel pun dipulihkan (54-55). Keadilan TUHAN dinyatakan ke atas Abimelekh dan orang Sikhem. Mereka dihukum sesuai dengan kutuk Yotam (56-57).
Kisah ini memperlihatkan kepada kita bahwa apa pun kejahatan yang kita perbuat, ingatlah bahwa semuanya itu akan diperhitungkan oleh Allah. Sebab, tidak ada perbuatan jahat yang lolos selamanya. Mungkin satu atau dua kali kita akan lolos, tetapi kelak dosa dan kejahatan itu akan terbongkar dan menghancurkan hidup kita.
Inilah peringatan bagi kita untuk senantiasa menjaga hidup dengan baik dan taat kepada Tuhan sebagai wujud kasih dan iman kita kepada-Nya. Berdoalah dengan rendah hati dan mintalah kepada Roh Kudus untuk membantu kita dalam melawan dosa dan menjauhi kejahatan. Ingatlah, pengorbanan Kristus di kayu salib telah menebus kita dari segala dosa. Sebagai umat Kristen, peganglah dan pertahankanlah motivasi untuk hidup kudus di hadapan Tuhan. [ERE]

