H.O.R.A.S

Selamat Datang buat anda yang mengunjungi blog ini, Segala informasi dalam blog ini merupakan bantuan dari buku-buku, majalah, dan lain-lain
Semoga blog ini bermanfaat bagi anda ^^.


Kamis, 21 Mei 2026

Catatan dari Faith

 *Blind Spot Terbesar Gereja Modern: Dunia Kerja*


(_Catatan dari Faith & Work Conference 2026_)


Realitas dunia kerja Indonesia hari ini sangat kompleks dan menantang. Mari kita jujur.


Seorang profesional di Jakarta bekerja 10–12 jam sehari sambil menghadapi target yang terus naik, ancaman AI yang perlahan menggantikan sebagian pekerjaannya, dan budaya kerja yang menuntutnya selalu "online", bahkan di akhir pekan. 


Seorang manajer manufaktur di Cikarang harus bergulat dengan efisiensi, biaya logistik, dampak perang dagang, relokasi pabrik, tuntutan ESG, dan ketidakpastian rantai pasok. 


Seorang ASN dan pegawai BUMN ingin bekerja bersih tetapi terjebak dalam birokrasi lambat, tekanan politik, budaya patronase, bahkan potensi kriminalisasi akibat keputusan bisnis.


Seorang pebisnis dipaksa memilih antara pertumbuhan cepat atau bisnis yang sehat secara jangka panjang. UMKM menghadapi tekanan bahan baku, akses pembiayaan, dan persaingan dengan platform marketplace. Petani menghadapi perubahan iklim dan rantai distribusi yang panjang. 


Dan jutaan pekerja informal–pedagang, pengemudi ojol, pekerja harian, hingga pekerja lepas digital –hidup dalam ketidakpastian pendapatan. 


Ini bukan persoalan kecil.


World Economic Forum dalam _Future of Jobs Report 2025_ memperingatkan bahwa jutaan pekerjaan akan terdampak otomatisasi dalam dekade ini. Sementara data Badan Pusat Statistik (2025) menunjukkan sebagian besar pekerja informal Indonesia masih hidup dengan perlindungan minim, rentan guncangan ekonomi, dan akses pengembangan yang terbatas.


Belum lagi banyak pekerja korporasi harus berhadapan dengan budaya kerja tanpa jeda (_hustle culture_), kelelahan kronis (_burnout_), kehilangan makna kerja (_quiet quitting_), fraud korporasi, PHK teknologi, dan pertanyaan etis baru: apakah AI akan memberdayakan manusia—atau justru menggantikannya?


Singkatnya, tempat kerja modern telah menjadi ruang pergumulan ekonomi, moral, psikologis, dan spiritual yang sangat kompleks.


Ironisnya, justru di titik inilah gereja sering kali paling sunyi. 


Hari Minggu gereja selalu penuh. Kotbah banyak menyinggung keluarga, pelayanan, dan berkat. Lalu datanglah hari Senin—dan banyak jemaat kembali ke sistem kerja yang "brutal" tanpa navigasi spiritual yang memadai.


Inilah isu utama yang dibedah dalam *Faith & Work (F&W) Conference 2026* bertema _Disciples at Work: Following Jesus in the Marketplace_ di Jakarta Sabtu 16 Mei 2026 lalu. 


Konferensi ini membuka satu fakta yang tidak nyaman: gereja memiliki _blind spot_ besar terhadap dunia kerja.


*Warisan Lama Bernama Sacred-Secular Divide*


Kara Martin—Co-Chair Theology of Work Project dan penulis _Workship_—mengkritik warisan lama gereja: pekerjaan gereja dianggap suci, sementara profesi lain dianggap sekuler.


Pendeta dianggap melayani Tuhan. Misionaris dianggap panggilan tertinggi.


Sementara dokter, akuntan, guru, petani, pengusaha, pekerja pabrik, hingga pengemudi ojol sering dipandang sekadar mencari nafkah.


Kara membalik perspektif itu.

Bahwa seorang guru sedang membentuk masa depan. Dokter menghadirkan pemulihan. Pengacara memperjuangkan keadilan. HR menjaga martabat manusia.


Pesannya sederhana tetapi radikal: _*work can be worship.*_.


Jika teologi ini gagal dipahami, gereja akan terus menghasilkan jemaat yang rohani di hari Minggu tetapi (mungkin) kehilangan arah di hari Senin.


*Banyak Orang Kristen Masih Bekerja Sekadar Bertahan*


Engeline Tjia Soesilo—praktisi dan konsultan marketing—menunjukkan fakta riset yang menampar: sekitar 83% profesional Kristen Indonesia belum melihat pekerjaan sebagai panggilan.


Sebagian bekerja hanya untuk bertahan hidup. Sebagian kompromi demi rasa aman.

Sebagian hanya menjadi “orang baik” tetapi tidak berani membawa perubahan. Padahal dunia kerja hari ini membutuhkan lebih dari sekadar moralitas pasif.


Engeline menegaskan lebih lanjut bahwa profesional Kristen membutuhkan panduan etika praktis, dan teologi yang relevan—bukan teori abstrak tambahan.


*Dari Gerakan Pinggiran Menjadi Arus Utama Global*


Jika Kara berbicara tentang fondasi teologis, Joseph Vijayam — _Catalyst for Workplace Ministry Lausanne Movement_ & CEO Olive Technology— menunjukkan bahwa F&W kini telah bergerak jauh melampaui diskusi-diskusi kecil.


Lausanne Movement sejak 1974 telah mendorong gagasan _*whole gospel, whole church, whole world*_. Tetapi kini medan misi sedang berubah secara signifikan. 


Dulu misi identik dengan perpindahan geografis. Hari ini medan misi baru muncul di tempat yang lebih dekat: kantor, startup, pasar modal, laboratorium AI, pabrik, supply chain global, institusi publik, ruang kebijakan, dan sebagainya.


Joseph menyebutnya dengan sangat jelas: *_every believer, every workplace, every sector._*


Sutrisna Harjanto—Ketua STTB dan Board Member Proyek Teologi Kerja— menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya sedang memasuki momentum penting. Gereja mulai belajar. Seminari mulai berubah. Komunitas profesional mulai bertumbuh. Kolaborasi mulai dibangun.


Dalam konteks ini, maka konferensi ini bukan sekadar event tahunan. Ini adalah pembangunan ekosistem.


*Indonesia Tidak Kekurangan Program—Tetapi Ekosistem*


Namun Johan Setiawan— Dosen Pemuridan dan Misi STTB —mengingatkan masalah utamanya: kita terlalu banyak program, tetapi terlalu sedikit ekosistem.


Masih ada tiga kesenjangan besar. Kesenangan teologi ketika kerja masih dipandang sekadar nafkah. Kesenjangan pemuridan, ketika gereja kurang membekali realitas kerja. Kesenjangan misi, ketika tempat kerja belum dilihat sebagai ladang pelayanan


Karena itu ia mendorong _whole life discipleship_—integrasi teologi, pemuridan, dan misi dalam kehidupan profesional sehari-hari.


*Gereja Tidak Bisa Memberi Jawaban Generik*


Kita bukan kekurangan orang Kristen yang rajin beribadah. Yang kurang adalah sistem pendukung (_supporting system_) yang relevan dengan kompleksitas dunia kerja modern.


Beberapa gagasan yang kita butuhkan:


_Pertama, teologi kerja yang praktis (practical theology):_ Teologi yang mampu menjawab secara praktis isu AI, ESG, korupsi, PHK, burnout, etika kepemimpinan, entrepreneurship, dan sebagainya.


_Kedua, mentor marketplace._: Bukan hanya pengkhotbah, tetapi pemimpin bisnis, entrepreneur, dokter, birokrat, engineer, pemimpin HR yang bisa mendampingi profesional muda.


_Ketiga, kurikulum sejak dini._: F&W diusulkan masuk ke keluarga, sekolah Kristen, kampus, dan pelayanan mahasiswa.


_Keempat, komunitas yang aman (safe community)._: Para profesional membutuhkan ruang aman untuk bicara jujur tentang kegagalan, kompromi, pergumulan, godaan, dan tekanan kerja.


_Kelima, konten digital yang scalable._ Konten F&W harus masuk ke Instagram, TikTok, podcast, mentoring platform, dan micro learning. Ini bagian penting dalam perluasan ideasi konsep F&W tersebut.


_Keenam, kerangka etis (ethical framework) per industri_. Dilema dan pergumulan banker berbeda dengan guru, berbeda dengan pebisnis, berbeda dengan ASN, berbeda dengan pekerja manufaktur.


_Ketujuh, consumer insight tentang dunia kerja Indonesia._ Poin ini diangkat oleh Handy Irawan—pendiri Frontier Group— yang menekankan pentingnya memahami realitas pekerja Indonesia secara konkret—dari guru, pekerja informal, keluarga, hingga generasi muda.


F&W tidak boleh hanya menjadi diskusi elit urban korporasi. Ia harus relevan bagi guru PAUD, pekerja lapangan, UMKM, hingga keluarga yang membentuk panggilan anak sejak dini.


Konferensi mungkin telah selesai. Tetapi pertanyaan besarnya masih tertinggal: jika gereja gagal memahami dunia kerja modern— apakah gereja sedang kehilangan medan misi terbesar abad ke-21?


— *Sigit Budi Darmawan*, 18 Mei 2026






Yakobus 5 : 13

 Slmt pg buat kita semua..


Yakobus 5:13 (TB) Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi!

๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™










Maka Bangkitlah

 *“Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka...”*  

๐Ÿ“– *Kisah Para Rasul 2:14*


50 hari sebelumnya, Petrus lari. Dia menyangkal Yesus 3 kali di depan seorang hamba perempuan. Dia takut mati. Dia takut ditangkap. Dia sembunyi.


50 hari sesudahnya, di tempat yang sama, di depan orang yang sama yang salibkan Yesus, Petrus berdiri. Suara nyaring. Tidak gemetar. Tidak gugup. Dia tunjuk muka ribuan orang: “Kamu telah menyalibkan Dia!”


Apa yang berubah? Petrus ikut kelas khotbah? Bukan. Petrus baca 10 buku leadership? Bukan. Petrus dipenuhi Roh Kudus.


Roh Kudus tidak kasih Petrus suara baru. Dia kasih Petrus keberanian baru. Dia tidak ubah kepribadian Petrus. Dia penuhi kepribadian itu dengan kuasa.


Tahun 1950-an di China, saat revolusi komunis memburu orang Kristen, ada seorang gadis desa umur 17 tahun. Polisi datang ke gereja rumah, menyeret pendeta keluar. Semua jemaat diam, takut.


Gadis itu berdiri. Namanya tidak dicatat sejarah. Tapi dia buka mulut: “Kalian boleh tangkap tubuh kami, tapi tidak bisa tangkap Yesus di hati kami.”


Dia dipenjara 20 tahun. Di penjara dia pimpin ratusan orang kepada Kristus. Penjaga penjara masuk Kristen karena lihat dia berdoa tiap malam untuk orang yang menyiksanya.


Saat keluar penjara, dia bilang: “Saya bukan berani. Saya cuma penuh.” 


*Pentakosta bukan tentang jadi hebat. Pentakosta tentang jadi penuh.*


Dunia tidak takut sama orang Kristen yang pintar debat. Dunia gemetar sama orang Kristen yang penuh Roh Kudus. Karena orang yang penuh tidak bisa dibungkam, tidak bisa dibeli, tidak bisa ditakut-takuti.


Roh Kudus tidak akan pakai kamu kalau kamu masih sibuk menyelamatkan muka. Dia pakai kamu saat kamu rela kehilangan muka demi menyelamatkan jiwa.


✝️ *ROH KUDUS TIDAK MEMBUATMU JADI SUPERMAN. DIA MEMBUATMU JADI SAKSI*


✅ *MINTA KEPENUHAN, BUKAN KEBERANIAN. KEBERANIAN ADALAH HASILNYA*






Prakiraan Cuaca Tanggal 21 Mei Prov Kepulauan Riau


*Selamat pagi dan selamat beraktivitas*


*Dengan hormat, berikut kami sampaikan prakiraan cuaca Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan tanggal 21 Mei 2026 yang berlaku mulai pukul 07.00 WIB.*


Terpantau adanya pola belokan angin (shearline) yang mendukung penumpukan massa udara dan kelembapan udara yang masih relatif basah di sekitar wilayah Pulau Bintan yang meningkatkan potensi pertumbuhan awan-awan hujan. Secara umum, kondisi cuaca hari ini di wilayah Kota Tanjungpinang dan Kab. Bintan diprakirakan berawan dengan berpotensi hujan ringan - sedang pada pagi dan siang hari yang bersifat lokal.


๐Ÿ”– *Peringatan Dini:*

- Waspada pertumbuhan awan Cumulonimbus penyebab terjadinya hujan intensitas ringan - sedang yang dapat disertai petir/kilat dan angin kencang pada siang hari yang bersifat lokal.

- Waspada potensi banjir pesisir (ROB) di wilayah pesisir Bintan pada tanggal 16 - 22 Mei 2026 dan Pesisir Tanjung Pinang pada tanggal 18 - 21 Mei 2026


_Masyarakat diimbau untuk memantau informasi cuaca terkini melalui aplikasi InfoBMKG, media sosial resmi BMKG Tanjungpinang, atau laman https://www.cuaca.bmkg.go.id._


☔ *Prakirawan Stasiun Meteorologi Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang*

๐Ÿ“ž 0811 7786 091

๐Ÿงพ https://www.bmkg.go.id/cuaca/prakiraan-cuaca/21.72

 (Kota Tanjungpinang)

๐Ÿงพ https://www.bmkg.go.id/cuaca/prakiraan-cuaca/21.01

 (Kab. Bintan)

๐Ÿงพ https://stamet-tanjungpinang.bmkg.go.id/hotspot/ (Informasi Titik Panas Kota Tanjungpinang dan Kab. Bintan)



















Prakiraan Cuaca Tanggal 21 Mei 2026 Prov Kepulauan Riau


Renungan Jadilah Dewasa

 Santapan Harian

Jadilah Dewasa! 

1 Korintus 3:1-9 


Kedewasaan seseorang tidak hanya diukur dari usianya. Kedewasaan yang sebenarnya ditunjukkan dari kematangan berpikir dan berperilaku. Begitu pula kedewasaan rohani orang percaya.


Jemaat di Korintus tidak menunjukkan adanya kedewasaan rohani (1-2). Hal ini dibuktikan dengan adanya iri hati dan perselisihan serta sikap yang saling membanggakan diri sebagai golongan yang lebih baik (3-4). Paulus mengingatkan bahwa ia dan pemimpin rohani lainnya adalah pelayan Tuhan dan kawan sekerja Allah (5-9). Allahlah pemimpin mereka. Itu artinya, tidak ada alasan bagi mereka untuk saling iri hati ataupun membanggakan diri.


Tak dapat dipungkiri bahwa terjadinya perselisihan adalah tanda ketidakdewasaan. Orang yang dewasa secara rohani tidak akan mudah iri hati atau bahkan menyombongkan diri. Semua sama di mata Tuhan dan semua adalah milik Tuhan. Siapa pun dapat Ia pakai untuk memberitakan Injil Kristus. Orang percaya sudah sepatutnya mengalami pertumbuhan rohani untuk menjadi dewasa dalam Kristus.


Orang yang bertumbuh secara rohani terlihat dari sikapnya. Kebalikan dari iri hati, mereka rendah hati, berempati, dan peduli kepada sesama. Selain itu, mereka tidak akan terjebak dalam perbedaan yang ada di tengah kehidupan berjemaat. Mereka tetap bersatu dengan kesadaran bahwa Allah yang memanggil mereka untuk tugas yang berbeda. Meski berbeda, tujuan mereka satu, yaitu keserupaan dengan Kristus. Fokus mereka terletak pada Allah, bukan diri mereka, atau siapa pun juga.


Permasalahan seperti ini kadang kembali terjadi di tengah kehidupan bergereja masa kini. Perpecahan terjadi karena keegoisan dan kesombongan yang mengidolakan pemimpin rohani tertentu hingga lupa bahwa Kristuslah kepala gereja.


Allah membangun gereja bukan untuk kita membuat golongan sendiri-sendiri, tetapi agar kita bertumbuh dewasa bersama dalam pengenalan akan Allah. Kita dipanggil dan diutus ke tengah dunia untuk membawa kesatuan dan kedamaian dalam Kristus, bukan perpecahan. Mari, jadilah dewasa! [MAR]