BAHAYA "IZEBEL" DI SEKITARMU: IA MEMBANGUN RANTAI KEJAHATAN.
Kejahatan yang paling berbahaya bukanlah ketika satu orang berbuat jahat.
Kejahatan yang paling berbahaya adalah ketika satu orang berhasil menyeret banyak orang untuk ikut berbuat jahat.
Itulah yang dilakukan Izebel.
Ia tidak puas berbuat dosa seorang diri.
Ia mempengaruhi orang lain.
Ia memanfaatkan kelemahan mereka.
Ia menggerakkan mereka untuk melakukan apa yang ia inginkan.
Lalu terbentuklah sebuah rantai kejahatan.
Yang lebih mengerikan, banyak orang di dalam rantai itu tidak pernah sadar bahwa mereka sedang diperalat.
Alkitab memberikan penilaian yang sangat mengejutkan tentang Raja Ahab :
"Sesungguhnya tidak pernah ada orang seperti Ahab yang memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN,
--- karena ia telah dibujuk oleh Izebel, isterinya."
(1 Raja-raja 21:25)
Renungkan ayat ini.
Ahab bukan orang biasa.
Ia seorang raja.
Panglima perang.
Pemegang otoritas tertinggi di Israel.
Namun Alkitab mencatat bahwa ia memperbudak dirinya kepada kejahatan karena terus mengikuti bujukan Izebel.
Kisah ini mengajarkan satu pelajaran penting.
Seseorang tidak harus kehilangan jabatannya untuk kehilangan kendali atas hidupnya.
Karakter Izebel bukan sekadar tokoh sejarah yang hidup ribuan tahun lalu.
Ia adalah gambaran tentang seseorang yang memiliki hasrat kuat untuk memaksakan kehendaknya, bahkan jika itu berarti menyeret orang lain melakukan apa yang bertentangan dengan kehendak Allah.
Mereka tidak hanya berdosa.
Mereka membangun rantai kejahatan.
Bagaimana Karakter Izebel Membangun Rantai Kejahatan?
Kisah perampasan kebun anggur Nabot (1 Raja-raja 21) memperlihatkan pola kerjanya dengan sangat jelas :
1. Mereka Memanfaatkan Kelemahan Orang Lain
Ketika Ahab kecewa karena Nabot menolak menjual kebun anggurnya, ia merajuk, mogok makan, dan berbaring menghadap tembok.
Izebel tidak menolong Ahab menguasai dirinya.
Ia justru memanfaatkan kelemahannya.
"Bukankah engkau sekarang yang memegang pemerintahan atas Israel? Bangunlah, makanlah..." (ay. 7)
Karakter seperti ini pandai menemukan celah dalam diri seseorang.
Mereka membaca ambisi, rasa kecewa, rasa tidak aman, kesombongan, atau luka hati.
Lalu mereka memakai semua itu untuk mengarahkan orang tersebut kepada kehendak mereka.
Sedikit demi sedikit, korbannya mulai membenarkan apa yang dahulu ia tahu salah.
Mulai memusuhi orang yang sebelumnya tidak pernah ia musuhi.
Mulai melakukan hal-hal yang dahulu tidak pernah ingin ia lakukan.
2. Mereka Menggerakkan Orang Lain Melakukan Kejahatan
Inilah bagian yang paling mengerikan.
Izebel tidak membunuh Nabot.
Para tua-tua kota yang melakukannya.
Izebel tidak menjadi saksi dusta.
Orang lain yang melakukannya.
Izebel tidak merajam Nabot.
Rakyatlah yang melempari Nabot dengan batu sampai mati.
Lalu siapa pelaku kejahatan itu?
Jawabannya: semuanya.
Dalam 1 Raja-raja 21:9-10, taktik jahat dan licik seorang Izebel untuk mempengaruhi banyak orang terlibat dalam pembunuhan berencana terhadap Nabot, sangat meyakinkan dan begitu kuat menggerakkan banyak orang,
kenapa?
--- karena dia memakai manipulasi rohani:
1. mengajak mengadakan ibadah puasa,
2. seolah-olah menghargai Tuhan, dengan membuat tuduhan bahwa Nabot telah mengutuk nama Tuhan dan Raja.
Izebel adalah otak dan sutradara yang menggerakkan semuanya untuk membunuh Nabot.
Izebel membangun sebuah sistem di mana banyak orang akhirnya mengambil bagian dalam satu kejahatan.
Begitulah karakter ini bekerja.
Mereka tidak harus mengotori tangan sendiri.
Mereka cukup mempengaruhi, menghasut, mengarahkan, atau memanipulasi orang lain sampai mereka rela melakukan apa yang diinginkannya.
Ironisnya, orang-orang yang diperalat sering merasa bahwa mereka sedang mengambil keputusan sendiri.
Mereka merasa telah melakukan sesuatu yang benar yang memang harus dilakukan.
Padahal mereka sedang menjadi mata rantai dalam sebuah kejahatan.
3. Mereka Tidak Pernah Berhenti pada Satu Korban
Setelah Nabot mati, Izebel berkata kepada Ahab,
"Bangunlah, ambillah kebun anggur Nabot... sebab Nabot sudah tidak hidup lagi; ia sudah mati." (ay. 15)
Tidak ada penyesalan.
Tidak ada belas kasihan.
Yang penting keinginannya tercapai.
Karakter seperti ini tidak berhenti pada satu korban.
Hari ini mereka menyeret satu orang.
Besok mereka menyeret yang lain.
Sedikit demi sedikit, rantai kejahatan itu semakin panjang.
Mengapa Daya Rusaknya Sangat Fatal?
Itulah sebabnya Tuhan Yesus menegur jemaat di Tiatira karena mereka menoleransi Izebel (Wahyu 2:20).
Karakter seperti ini tidak hanya merusak dirinya sendiri.
Ia merusak semua orang yang berada dalam lingkaran pengaruhnya.
1. Mereka Menumpulkan Hati Nurani
Ahab mengetahui hukum Taurat.
Ia tahu tanah pusaka tidak boleh dijual.
Namun setelah terus dipengaruhi Izebel, ia tidak lagi peduli bagaimana kebun itu diperoleh.
Begitulah pengaruh karakter Izebel.
Mereka tidak langsung membuat seseorang melakukan dosa besar.
Mereka terlebih dahulu menumpulkan hati nuraninya.
2. Mereka Membuat Orang Lain Rela Berbuat Jahat
Perhatikan siapa saja yang terlibat dalam kematian Nabot :
Ada Ahab.
Ada para tua-tua kota.
Ada saksi-saksi dusta.
Ada rakyat yang merajam Nabot.
Begitu banyak orang terlibat.
Padahal kejahatan itu bermula dari ambisi satu orang.
Inilah daya rusak karakter Izebel.
Ia tidak hanya melahirkan satu pelaku kejahatan.
Ia melahirkan banyak pelaku kejahatan.
3. Mereka Menciptakan Budaya Kejahatan
Ketika semakin banyak orang ikut melakukan dosa, dosa itu mulai terlihat biasa.
Orang tidak lagi bertanya,
"Apakah ini benar di hadapan Tuhan?"
Mereka hanya bertanya,
"Bukankah semua orang juga melakukannya?"
Pada saat itulah kejahatan berubah menjadi budaya.
Bagaimana Menghadapinya?
1. Jangan Menoleransinya
Tuhan Yesus menegur jemaat Tiatira bukan karena mereka melakukan semua dosa Izebel, tetapi karena mereka menoleransinya.
Apa yang ditoleransi hari ini akan semakin berani besok.
Karena itu, beranilah berkata "tidak" terhadap setiap ajakan yang bertentangan dengan firman Tuhan.
2. Bereskan Celah dalam Hatimu
Izebel berhasil memengaruhi Ahab karena menemukan celah dalam dirinya.
Kecewa.
Ambisi.
Keserakahan.
Ketidakdewasaan.
Karakter seperti ini akan selalu mencari celah yang sama dalam hidup kita.
Karena itu, biarkan Tuhan membereskan hati kita terlebih dahulu.
3. Milikilah Keberanian Seperti Elia
Ketika semua orang diam, Elia berdiri menyampaikan kebenaran Tuhan.
Rantai kejahatan tidak akan pernah putus jika semua orang memilih diam.
Dibutuhkan seseorang yang berani berkata benar, sekalipun harus berdiri sendirian.
Jadi.....
Hari ini, periksalah kembali orang-orang yang besar pengaruhnya dalam hidupmu.
Apakah mereka membawamu semakin mengasihi Tuhan dan menaati Firman-Nya?
Ataukah mereka perlahan BAHAYA "IZEBEL" DI SEKITARMU: IA MEMBANGUN RANTAI KEJAHATAN.
Kejahatan yang paling berbahaya bukanlah ketika satu orang berbuat jahat.
Kejahatan yang paling berbahaya adalah ketika satu orang berhasil menyeret banyak orang untuk ikut berbuat jahat.
Itulah yang dilakukan Izebel.
Ia tidak puas berbuat dosa seorang diri.
Ia mempengaruhi orang lain.
Ia memanfaatkan kelemahan mereka.
Ia menggerakkan mereka untuk melakukan apa yang ia inginkan.
Lalu terbentuklah sebuah rantai kejahatan.
Yang lebih mengerikan, banyak orang di dalam rantai itu tidak pernah sadar bahwa mereka sedang diperalat.
Alkitab memberikan penilaian yang sangat mengejutkan tentang Raja Ahab :
"Sesungguhnya tidak pernah ada orang seperti Ahab yang memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN,
--- karena ia telah dibujuk oleh Izebel, isterinya."
(1 Raja-raja 21:25)
Renungkan ayat ini.
Ahab bukan orang biasa.
Ia seorang raja.
Panglima perang.
Pemegang otoritas tertinggi di Israel.
Namun Alkitab mencatat bahwa ia memperbudak dirinya kepada kejahatan karena terus mengikuti bujukan Izebel.
Kisah ini mengajarkan satu pelajaran penting.
Seseorang tidak harus kehilangan jabatannya untuk kehilangan kendali atas hidupnya.
Karakter Izebel bukan sekadar tokoh sejarah yang hidup ribuan tahun lalu.
Ia adalah gambaran tentang seseorang yang memiliki hasrat kuat untuk memaksakan kehendaknya, bahkan jika itu berarti menyeret orang lain melakukan apa yang bertentangan dengan kehendak Allah.
Mereka tidak hanya berdosa.
Mereka membangun rantai kejahatan.
Bagaimana Karakter Izebel Membangun Rantai Kejahatan?
Kisah perampasan kebun anggur Nabot (1 Raja-raja 21) memperlihatkan pola kerjanya dengan sangat jelas :
1. Mereka Memanfaatkan Kelemahan Orang Lain
Ketika Ahab kecewa karena Nabot menolak menjual kebun anggurnya, ia merajuk, mogok makan, dan berbaring menghadap tembok.
Izebel tidak menolong Ahab menguasai dirinya.
Ia justru memanfaatkan kelemahannya.
"Bukankah engkau sekarang yang memegang pemerintahan atas Israel? Bangunlah, makanlah..." (ay. 7)
Karakter seperti ini pandai menemukan celah dalam diri seseorang.
Mereka membaca ambisi, rasa kecewa, rasa tidak aman, kesombongan, atau luka hati.
Lalu mereka memakai semua itu untuk mengarahkan orang tersebut kepada kehendak mereka.
Sedikit demi sedikit, korbannya mulai MEMBENARKAN apa yang dahulu ia tahu salah.
Mulai memusuhi orang yang sebelumnya tidak pernah ia musuhi.
Mulai melakukan hal-hal yang dahulu tidak pernah ingin ia lakukan.
2. Mereka MENGGERAKKAN Orang Lain Melakukan Kejahatan
Inilah bagian yang paling mengerikan.
Izebel tidak membunuh Nabot.
Para tua-tua kota yang melakukannya.
Izebel tidak menjadi saksi dusta.
Orang lain yang melakukannya.
Izebel tidak merajam Nabot.
Rakyatlah yang melempari Nabot dengan batu sampai mati.
Lalu siapa pelaku kejahatan itu?
Jawabannya: semuanya.
Dalam 1 Raja-raja 21:9-10, taktik jahat dan licik seorang Izebel untuk mempengaruhi banyak orang terlibat dalam pembunuhan berencana terhadap Nabot, sangat meyakinkan dan begitu kuat menggerakkan banyak orang,
kenapa?
--- karena dia memakai manipulasi rohani:
1. mengajak mengadakan ibadah puasa,(KEBAKTIAN KEBAKTIAN)
2. seolah-olah menghargai Tuhan, dengan membuat tuduhan bahwa Nabot telah mengutuk nama Tuhan dan Raja.
Izebel adalah OTAK dan SUTRADARA yang menggerakkan semuanya untuk membunuh Nabot.
Izebel membangun sebuah SISTEM di mana banyak orang akhirnya mengambil bagian dalam satu kejahatan.
Begitulah karakter ini bekerja.
Mereka TIDAK HARUS mengotori tangan sendiri.
Mereka cukup mempengaruhi, menghasut, mengarahkan, atau memanipulasi orang lain sampai mereka rela melakukan apa yang diinginkannya.
Ironisnya, orang-orang yang diperalat sering merasa bahwa mereka sedang mengambil keputusan sendiri.
Mereka merasa telah melakukan sesuatu yang benar yang memang harus dilakukan.
Padahal mereka sedang menjadi mata rantai dalam sebuah kejahatan.
3. Mereka Tidak Pernah Berhenti pada Satu Korban
Setelah Nabot mati, Izebel berkata kepada Ahab,
"Bangunlah, ambillah kebun anggur Nabot... sebab Nabot sudah tidak hidup lagi; ia sudah mati." (ay. 15)
Tidak ada penyesalan.
Tidak ada belas kasihan.
YANG PENTING keinginannya tercapai.
Karakter seperti ini tidak berhenti pada satu korban.
Hari ini mereka MENYERET satu orang.
Besok mereka menyeret yang lain.
Sedikit demi sedikit, rantai kejahatan itu semakin panjang.
Mengapa Daya Rusaknya Sangat Fatal?
Itulah sebabnya Tuhan Yesus menegur jemaat di Tiatira karena mereka menoleransi Izebel (Wahyu 2:20).
Karakter seperti ini tidak hanya merusak dirinya sendiri.
Ia merusak semua orang yang berada dalam lingkaran pengaruhnya.
1. Mereka Menumpulkan Hati Nurani
Ahab mengetahui hukum Taurat.
Ia tahu tanah pusaka tidak boleh dijual.
Namun setelah terus dipengaruhi Izebel, ia tidak lagi peduli bagaimana kebun itu diperoleh.
Begitulah pengaruh karakter Izebel.
Mereka tidak langsung membuat seseorang melakukan dosa besar.
Mereka terlebih dahulu menumpulkan hati nuraninya.
2. Mereka Membuat Orang Lain RELA Berbuat Jahat
Perhatikan siapa saja yang terlibat dalam kematian Nabot :
*Ada Ahab.
*Ada para tua-tua kota.(yang dihormati)
*Ada saksi-saksi dusta.
*Ada rakyat yang merajam Nabot.
Begitu banyak orang terlibat.
Padahal kejahatan itu bermula dari AMBISI satu orang.
Inilah daya rusak karakter Izebel.
Ia tidak hanya melahirkan satu pelaku kejahatan.
Ia melahirkan banyak pelaku kejahatan.
3. Mereka Menciptakan Budaya Kejahatan
Ketika semakin banyak orang ikut melakukan dosa, dosa itu mulai terlihat BIASA.
Orang TIDAK LAGI bertanya,
"Apakah ini benar di hadapan Tuhan?"
Mereka hanya bertanya,
"Bukankah semua orang itu (idolamu) juga melakukannya?"
Pada saat itulah kejahatan berubah menjadi BUDAYA.
Bagaimana Menghadapinya?
1. Jangan TOLERANSI
Tuhan Yesus menegur jemaat Tiatira bukan karena mereka melakukan semua dosa Izebel, tetapi karena mereka menoleransinya.
Apa yang ditoleransi hari ini akan semakin berani besok.
Karena itu, BERANILAH berkata "tidak" terhadap setiap ajakan yang bertentangan dengan firman Tuhan.
2. Bereskan Celah dalam Hatimu
Izebel berhasil memengaruhi Ahab karena menemukan celah dalam dirinya.
KECEWA
AMBISI
KESERAKAHAN
KETIDAK DEWASAAN.
Karakter seperti ini akan selalu mencari celah yang sama dalam hidup kita.
Karena itu, biarkan Tuhan membereskan hati kita terlebih dahulu.
3. Milikilah Keberanian Seperti Elia
Ketika semua orang diam, Elia berdiri menyampaikan kebenaran Tuhan.
Rantai kejahatan tidak akan pernah putus jika semua orang memilih diam.
DIBUTUHKAN seseorang yang berani berkata benar, sekalipun harus berdiri sendirian.
Jadi.....
Hari ini, PERIKSALAH kembali orang-orang yang besar pengaruhnya dalam hidupmu.
Apakah mereka membawamu semakin mengasihi Tuhan dan menaati Firman-Nya?
Ataukah mereka perlahan mengubah cara berpikirmu?
Membuatmu MEMBENARKAN apa yang dahulu kamu tahu salah?
Membuatmu MEMUSUHI orang yang sebelumnya tidak pernah kamu musuhi?
Membuatmu MELAKUKAN sesuatu yang dahulu tidak pernah ingin kamu lakukan?
WASPADALAH....
Karakter Izebel jarang menghancurkan seseorang dalam satu hari.
Ia bekerja perlahan.
Ia MEMPENGARUHI satu orang.
Lalu satu orang MEMPENGARUHI yang lain.
Demikian seterusnya hingga terbentuk sebuah rantai kejahatan.(KOSPIRASI)
Karakter Izebel tidak hanya dikenal dari kejahatan yang ia lakukan, tetapi dari banyaknya orang yang akhirnya ikut melakukan kejahatan karena PENGARUHnya.
Karena itu, jagalah hatimu. Jagalah lingkaran terdekatmu.
Adakah sosok yang terpikir di sekitarmu (keluarga, gereja, kantor, komunitas, masyarakat)
yang menunjukkan karakter Izebel? cara berpikirmu?
Membuatmu MEMBENARKAN apa yang dahulu kamu tahu salah?
Membuatmu MEMUSUHI orang yang sebelumnya tidak pernah kamu musuhi?
Membuatmu MELAKUKAN sesuatu yang dahulu tidak pernah ingin kamu lakukan?
Berhati-hatilah.
Karakter Izebel jarang menghancurkan seseorang dalam satu hari.
Ia bekerja PERLAHAN.
Ia MEMPENGARUHI satu orang.
Lalu satu orang MEMPENGARUHI yang lain.
Demikian seterusnya hingga terbentuk sebuah RANTAI KOSPIRASI kejahatan.
Karakter Izebel tidak hanya dikenal dari kejahatan yang ia lakukan, tetapi KEMAMPUAN utk mempengaruhi banyak orang ikut melakukan kejahatan (Persekongkolan)
Karena itu, jagalah hatimu. Jagalah lingkaran terdekatmu.
Sekarang, setelah membaca selesai tulisan ini, adakah sosok yang terpikir di sekitarmu (keluarga, gereja, kantor, komunitas, masyarakat)
yang menunjukkan karakter Izebel?
2 Korintus 6:17-18 (TB) Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.
Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa."
#SALAM MARANATHA 🔥🔥🔥