Santapan Harian
Kepemimpinan yang Melayani
2 Korintus 1:12-2:4
Pernahkah Anda bertemu dengan seorang atasan yang memaksakan keinginannya? Pemimpin seperti ini dapat kita temui di tempat kerja, organisasi, dan bahkan gereja. Sering kali citra pemimpin yang tegas disalahartikan sebagai kekakuan dan kekerasan. Namun, teladan Paulus sangatlah berbeda.
Paulus menunjukkan gaya kepemimpinan yang berbeda dengan mengomunikasikan perubahan rencananya secara terbuka. Ia menegaskan bahwa perubahan mendadak bukan berarti ia bertindak seenaknya menurut keinginannya sendiri (1:15-17). Ajarannya selama ini dapat dipercaya karena ia memberitakan Kristus dan Kristus selalu dapat dipercaya (1:18-20). Ia menekankan bahwa Allah sendiri yang membuatnya teguh bersama mereka di dalam Kristus (1:21-22).
Kebalikan dari kebanyakan pemimpin, Paulus justru tidak mau menjadi pemimpin yang bersikap keras (1:23). Ia memandang jemaat sebagai teman sekerja yang teguh dalam iman, bukan pengikut yang harus diperintah. Ia tidak memaksakan apa yang harus dipercayai oleh jemaat (1:24). Sebaliknya, ia memberi ruang bagi mereka untuk bertumbuh dalam sukacita (2:1-4).
Hari ini kita mendapat teladan kepemimpinan yang baik, yang dikenal dengan istilah servant leadership (kepemimpinan yang melayani). Paulus menempatkan dirinya sejajar dengan jemaat yang dipimpinnya. Ia memimpin dengan kasih, bukan tangan besi. Kepemimpinan yang berlandaskan kasih mampu memulihkan jemaat, bukan memperdalam luka dan masalah yang ada. Kepemimpinan yang terbuka membuat Paulus berani menunjukkan kerentanan dirinya sehingga jemaat melihat sisi kemanusiaan Paulus yang tulus.
Teladan ini mengajak kita semua untuk menjadi pemimpin yang mampu menghadirkan kasih Kristus di tengah kepemimpinan. Kebalikan dari pemimpin keras yang memaksa dan mendikte pengikutnya, kita adalah pemimpin penuh kasih yang melayani bersama sesama jemaat Allah dan memberitakan Kristus. Di mana pun Tuhan mempercayakan kita untuk memimpin, jadilah saksi akan kasih yang luar biasa. [TDS]
