H.O.R.A.S

Selamat Datang buat anda yang mengunjungi blog ini, Segala informasi dalam blog ini merupakan bantuan dari buku-buku, majalah, dan lain-lain
Semoga blog ini bermanfaat bagi anda ^^.


Kamis, 11 Juni 2026

Prakiraan Cuaca Tanggal 11 Juni Prov Kepulauan Riau


*Selamat pagi dan selamat beraktivitas*


*Dengan hormat, berikut kami sampaikan prakiraan cuaca Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan tanggal 11 Juni 2026 yang berlaku mulai pukul 07.00 WIB.*


Diprakirakan adanya daerah pertemuan angin (konvergensi) di sekitar wilayah Pulau Bintan dapat menyebabkan penumpukan massa udara dan berkontribusi terhadap potensi pertumbuhan awan-awan konvektif di sekitar wilayah Pulau Bintan. Secara umum, kondisi cuaca hari ini di wilayah Kota Tanjungpinang dan Kab. Bintan diprakirakan berpotensi hujan berintensitas ringan hingga sedang pada pagi dan siang hari yang bersifat lokal/tidak merata.


๐Ÿ”– *Peringatan Dini:*

- Waspada potensi hujan dengan intensitas ringan-sedang sesekali lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang pada pagi dan siang hari yg bersifat lokal.

- Waspada potensi banjir pesisir (ROB) di wilayah Pesisir Tanjungpinang dan sekitarnya pada tanggal 11 - 23 Juni 2026.


_Masyarakat diimbau untuk memantau informasi cuaca terkini melalui aplikasi InfoBMKG, media sosial resmi BMKG Tanjungpinang, atau laman https://www.cuaca.bmkg.go.id._


☔ *Prakirawan Stasiun Meteorologi Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang*

๐Ÿ“ž 0811 7786 091

๐Ÿงพ https://www.bmkg.go.id/cuaca/prakiraan-cuaca/21.72

 (Kota Tanjungpinang)

๐Ÿงพ https://www.bmkg.go.id/cuaca/prakiraan-cuaca/21.01

 (Kab. Bintan)

๐Ÿงพ https://stamet-tanjungpinang.bmkg.go.id/hotspot/ (Informasi Titik Panas Kota Tanjungpinang dan Kab. Bintan)


















Prakiraan Cuaca Tanggal 11 Juni 2026 Prov Kepulauan Riau


Teknologi AI Saat Ini

 *"Hami Najolo.. dan Relevansi Teknologi AI saat ini."*


Dalam sebuah acara *Bona Taon Marga* di Jakarta, salah seorang penasihat menyampaikan wejangannya. Kira-kira begini pesannya:


*"Hami najolo... jolo manggadong baru mangan indahan... Jolo tu balian asa sikkola, mulak sikkola langsung karejo..."* (Kami dahulu... makan ubi dulu baru bisa makan nasi... Ke ladang dulu baru berangkat sekolah, pulang sekolah langsung bekerja... dst).


Kebetulan, banyak anak muda yang hadir saat itu. Sayangnya, mereka justru tertawa dan mengejek perkataan sang penasihat tersebut. Di belakang, mereka menimpali dengan kalimat-kalimat cibiran, *"Ah, itu lagi nasihatnya. Itu kan zaman dulu, mengapa mau miskin? Ayah kami kan kaya,"* dan lain sebagainya. Pada intinya, nasihat luhur tersebut malah menjadi bahan tertawaan dan ejekan.


Entah mengapa—padahal saya bukan pengurus, mungkin karena saya anggota baru—saya didaulat untuk memberikan pesan dan kesan dalam pertemuan tersebut. *"Cocok,"* pikirku.


Setelah sedikit basa-basi, saya mulai menyinggung tentang *"Hami najolo"*. Baru saja saya mulai berucap, sudah terasa ada riak-riak ejekan kedua yang akan muncul dari para pemuda.


Namun, saya langsung menegaskan kalimat ini:


*"Jika kami yang dulu, dengan fasilitas seadanya dan kurang gizi, sanggup bersaing di Jakarta, maka seharusnya dengan fasilitas yang jauh lebih baik saat ini, kalian harus bisa bersaing di sini, di Jakarta, bahkan di luar negeri!"*


Saya sampaikan bahwa kami tidak pernah mengharapkan mereka hidup di masa kami yang serba kekurangan, kelaparan, dan tidak memiliki relasi. Jika itu yang terjadi, berarti kami sebagai orang tua telah gagal. Yang kami inginkan adalah, dengan segala fasilitas yang kalian punya saat ini, generasi kalian harusnya bisa jauh lebih hebat dari kami.


Para pemuda itu pun hening mendengarkan. Selesai saya memberikan sambutan, sang penasihat mendekati saya. Beliau mengucapkan terima kasih karena saya berhasil menangkap dan menyampaikan apa yang sebenarnya menjadi maksud dari cerita masa lalunya—cerita yang selama ini sering diejek oleh anak-anak muda. Beliau merasa tercerahkan karena substansi pesannya akhirnya tepat sasaran.


*Relevansi dengan Dunia Pendidikan Saat Ini*


Berkaca dari peristiwa di atas, saya melihat ada kaitannya dengan kondisi pendidikan kita. Dulu, saat belum ada AI, Google, dan internet, kita harus pergi ke perpustakaan dan meminjam buku fisik untuk bisa menyelesaikan tugas dan skripsi.


Sekarang, dengan kehadiran AI, internet, dan berbagai kemudahan teknologi lainnya, seharusnya standar tugas mahasiswa tidak lagi sekadar menyusun jurnal, laporan, atau skripsi. Rasanya standar tersebut terlalu rendah jika hanya itu yang dikerjakan di era modern ini.


Dengan segala kemudahan yang ada, tugas mahasiswa seharusnya sudah beranjak pada penciptaan inovasi, temuan-temuan baru, dan memaksimalkan potensi lingkungan sekitar. Misalnya: mengolah biji durian sisa dari Ucok Durian atau Sibolang Durian menjadi produk makanan olahan bernilai tinggi, atau memanfaatkan sisa-sisa sayuran di pasar menjadi pupuk organik dengan merek buatan mahasiswa sendiri.


Substansinya adalah: **Mahasiswa saat ini harus mampu bersaing secara global.**


Oleh karena itu, para dosen juga sebaiknya tidak lagi hanya asyik meributkan dan mengecek apakah sebuah jurnal dibuat menggunakan bantuan AI atau tidak. Menurut saya, fokus membatasi teknologi seperti itu sudah kurang tepat untuk menjawab tantangan zaman.


*Mohon maaf jika ada tulisan yang menyinggung.*






Renungan Jangan Terbawa Arus

 Santapan Harian

Jangan Terbawa Arus 

1 Korintus 15:35-58 


Di tengah arus zaman yang penuh dengan asumsi dan opini, tak sedikit orang Kristen yang mulai goyah imannya. Mereka dikelilingi oleh pengajaran yang terdengar rohani, tetapi menyesatkan, termasuk anggapan bahwa kebangkitan orang mati itu tidak ada. Jemaat di Korintus pun menghadapi hal serupa.


Ada yang mempertanyakan: "Bagaimana orang mati dibangkitkan?" (35). Pertanyaan ini bukan muncul dari perasaan penasaran, melainkan dari keraguan yang mengakar karena pengaruh ajaran sesat dan cara berpikir dunia.


Paulus menjawab dengan penjelasan yang sederhana tetapi mendalam: seperti benih yang mati lalu tumbuh dan hidup menjadi tanaman dengan bentuk yang berbeda (37-38), demikian pula kita kelak akan dibangkitkan dalam kemuliaan tubuh surgawi (39-41). Yang akan binasa digantikan dengan yang tidak akan binasa, yang hina dengan yang mulia, yang lemah dengan yang kuat, dan yang alami dengan yang rohani (42-44). Inilah pengharapan orang percaya: kita tidak akan berakhir di kubur, melainkan akan mengalami kemenangan karena kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus (51-57).


Hanya saja, pengharapan ini tidak secara otomatis membuat kita menjadi kebal dari pengaruh dunia. Paulus dengan tegas berkata, "Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik" (lih. 1Kor 15:33). Kita harus berhati-hati dengan siapa kita membangun hidup kita. Tidak semua komunitas membangun iman dan tidak semua pembicaraan rohani berakar pada kebenaran.


Oleh karena itu, Paulus menasihati kita untuk berdiri teguh, tidak sampai goyah, dan selalu giat (58). Kita perlu menanamkan kebenaran firman dalam hati, menjauhkan diri dari ajaran yang menyesatkan, dan mencari komunitas yang memperkuat iman. Kebangkitan Kristus bukan hanya fakta sejarah, melainkan dasar pengharapan kita. Mari kita menjaga kekudusan, tekun melayani Tuhan, dan setia berpegang pada Injil sejati.


Percayalah, iman kita tidak sia-sia karena yang kita imani adalah Kristus yang hidup dan berkuasa untuk mengubahkan kita ke dalam kekekalan. [SLM]













Semangat Pagi Revisi