*"Hami Najolo.. dan Relevansi Teknologi AI saat ini."*
Dalam sebuah acara *Bona Taon Marga* di Jakarta, salah seorang penasihat menyampaikan wejangannya. Kira-kira begini pesannya:
*"Hami najolo... jolo manggadong baru mangan indahan... Jolo tu balian asa sikkola, mulak sikkola langsung karejo..."* (Kami dahulu... makan ubi dulu baru bisa makan nasi... Ke ladang dulu baru berangkat sekolah, pulang sekolah langsung bekerja... dst).
Kebetulan, banyak anak muda yang hadir saat itu. Sayangnya, mereka justru tertawa dan mengejek perkataan sang penasihat tersebut. Di belakang, mereka menimpali dengan kalimat-kalimat cibiran, *"Ah, itu lagi nasihatnya. Itu kan zaman dulu, mengapa mau miskin? Ayah kami kan kaya,"* dan lain sebagainya. Pada intinya, nasihat luhur tersebut malah menjadi bahan tertawaan dan ejekan.
Entah mengapa—padahal saya bukan pengurus, mungkin karena saya anggota baru—saya didaulat untuk memberikan pesan dan kesan dalam pertemuan tersebut. *"Cocok,"* pikirku.
Setelah sedikit basa-basi, saya mulai menyinggung tentang *"Hami najolo"*. Baru saja saya mulai berucap, sudah terasa ada riak-riak ejekan kedua yang akan muncul dari para pemuda.
Namun, saya langsung menegaskan kalimat ini:
*"Jika kami yang dulu, dengan fasilitas seadanya dan kurang gizi, sanggup bersaing di Jakarta, maka seharusnya dengan fasilitas yang jauh lebih baik saat ini, kalian harus bisa bersaing di sini, di Jakarta, bahkan di luar negeri!"*
Saya sampaikan bahwa kami tidak pernah mengharapkan mereka hidup di masa kami yang serba kekurangan, kelaparan, dan tidak memiliki relasi. Jika itu yang terjadi, berarti kami sebagai orang tua telah gagal. Yang kami inginkan adalah, dengan segala fasilitas yang kalian punya saat ini, generasi kalian harusnya bisa jauh lebih hebat dari kami.
Para pemuda itu pun hening mendengarkan. Selesai saya memberikan sambutan, sang penasihat mendekati saya. Beliau mengucapkan terima kasih karena saya berhasil menangkap dan menyampaikan apa yang sebenarnya menjadi maksud dari cerita masa lalunya—cerita yang selama ini sering diejek oleh anak-anak muda. Beliau merasa tercerahkan karena substansi pesannya akhirnya tepat sasaran.
*Relevansi dengan Dunia Pendidikan Saat Ini*
Berkaca dari peristiwa di atas, saya melihat ada kaitannya dengan kondisi pendidikan kita. Dulu, saat belum ada AI, Google, dan internet, kita harus pergi ke perpustakaan dan meminjam buku fisik untuk bisa menyelesaikan tugas dan skripsi.
Sekarang, dengan kehadiran AI, internet, dan berbagai kemudahan teknologi lainnya, seharusnya standar tugas mahasiswa tidak lagi sekadar menyusun jurnal, laporan, atau skripsi. Rasanya standar tersebut terlalu rendah jika hanya itu yang dikerjakan di era modern ini.
Dengan segala kemudahan yang ada, tugas mahasiswa seharusnya sudah beranjak pada penciptaan inovasi, temuan-temuan baru, dan memaksimalkan potensi lingkungan sekitar. Misalnya: mengolah biji durian sisa dari Ucok Durian atau Sibolang Durian menjadi produk makanan olahan bernilai tinggi, atau memanfaatkan sisa-sisa sayuran di pasar menjadi pupuk organik dengan merek buatan mahasiswa sendiri.
Substansinya adalah: **Mahasiswa saat ini harus mampu bersaing secara global.**
Oleh karena itu, para dosen juga sebaiknya tidak lagi hanya asyik meributkan dan mengecek apakah sebuah jurnal dibuat menggunakan bantuan AI atau tidak. Menurut saya, fokus membatasi teknologi seperti itu sudah kurang tepat untuk menjawab tantangan zaman.
*Mohon maaf jika ada tulisan yang menyinggung.*