Santapan Harian
Bukan Hasil Retorika
1 Korintus 1:18-2:5
Kesediaan kita untuk mendengarkan seorang pembicara sering dipengaruhi oleh seberapa besar kemampuan orang itu berkata-kata, tidak terkecuali pemimpin rohani. Makin bagus retorikanya, makin besar kepercayaan kita. Benarkah demikian?
Paulus dengan sangat tegas mengatakan, orang percaya tak akan pernah menggunakan hikmatnya untuk mencari bukti atau pembenaran manusia. Bagi mereka, Injil adalah hikmat Allah yang berbeda dengan hikmat manusia (1:18-20).
Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang dapat mengenal Allah dengan hikmatnya sendiri (1:20). Sepintar apa pun manusia mencari bukti dan pembenaran, ia tidak akan pernah bisa mengenal Allah dengan benar tanpa Kristus (1:22). Kristus adalah sumber hikmat orang percaya. Di dalam Dia ada kekuatan dan hikmat Allah (1:23-24).
Paulus ingin menyadarkan jemaat di Korintus bahwa iman mereka haruslah bergantung pada Yesus Kristus, bukan pada perkataan siapa pun, termasuk dia sendiri sekalipun, yang terdengar penuh hikmat (2:1-5).
Siapa pun yang hendak menggunakan hikmat perkataan manusia untuk percaya kepada Allah akan gagal. Justru semua itu hanya akan menjauhkan kita dari Allah. Salah satu buktinya sudah dialami jemaat di Korintus. Mereka terpecah karena mereka mengandalkan hikmat perkataan manusia yang memuaskan pemikiran mereka.
Hal ini tidak berbeda dengan gereja masa kini. Tidak sedikit orang Kristen yang mencari gereja yang bisa memuaskan pikiran mereka. Namun, jangan sampai iman kita bergantung pada hikmat manusia yang sekadar memuaskan rasa penasaran dan superioritas. Ingat! Hikmat Allah bukan untuk memuaskan logika manusia, melainkan untuk menyelamatkan manusia.
Carilah hikmat Allah, bukan hikmat manusia! Ingat, iman yang dianugerahkan kepada kita bukan hasil kehebatan retorika manusia, melainkan karunia Allah di dalam Yesus Kristus. Ialah yang akan terus menolong dan memimpin kita dalam pertumbuhan iman. Karena hikmat-Nyalah kita mengalami perubahan hidup serupa dengan Kristus. [MAR]
