Santapan Harian
Terbelenggu, namun Tak Kehilangan Kuasa
Yohanes 18:12-27
Orang yang terbelenggu adalah seseorang yang kehilangan kebebasan, tidak dapat mengekspresikan sepenuhnya hakikat mereka sebagai seorang manusia.
Narasi dimulai saat pasukan Romawi dan penjaga Bait Allah menangkap serta membelenggu Yesus. Ia kemudian dihadapkan kepada imam besar Hanas (13) dan menantunya, Kayafas (13, 24). Hanas menanyai Yesus tentang murid-murid dan ajaran-Nya (19), dan Yesus menjawabnya dengan terbuka tanpa menyembunyikan kebenaran (20-21).
Keberanian Tuhan Yesus dalam menjelaskan kebenaran secara lugas memicu reaksi seorang penjaga untuk menampar Dia, dengan dalih menjaga kehormatan imam besar (22). Maka Tuhan Yesus menegur tindakan gegabah penjaga yang tidak berdasarkan kebenaran (23). Yohanes juga menarasikan peristiwa penyangkalan Simon Petrus, di mana ia mencoba menyelamatkan diri dengan cara menolak dikaitkan dengan Tuhan Yesus (15-18, 25-27). Yohanes juga ada di sana ketika Petrus mengambil sikap untuk menyangkal keterkaitannya dengan Tuhan Yesus (15-16).
Narasi ini menguraikan sebuah ironi: mereka yang seolah tidak terbelenggu, justru kehilangan kebebasan mereka sebagai manusia; dan Tuhan Yesus yang mereka belenggu, ternyata tidak kehilangan kemerdekaan-Nya. Imam Besar Hanas dibelenggu oleh kekuasaannya sehingga ia tidak mendapati orang-orang yang bisa bersaksi melawan Tuhan Yesus. Penjaga yang menampar Tuhan Yesus dibelenggu oleh ketidaktahuannya tentang kebenaran sejati. Simon Petrus dibelenggu oleh ketakutannya sehingga ia tiga kali menyangkal Tuhan Yesus, sebagaimana yang sudah dinubuatkan oleh Tuhan Yesus tentang penyangkalannya itu (lih. Yoh 13:36-38).
Adakah hal-hal yang masih membelenggu kita untuk dapat berinteraksi dengan Tuhan secara bebas dan merdeka? Maukah kita mengakui dan mengimani bahwa Allah sungguh hidup dan berkuasa atas hidup kita supaya Ia membebaskan kita dari semua belenggu dalam hidup kita? [IBS]

