Santapan Harian
Iman di Tengah Pengkhianatan
2 Samuel 15:13-37
Pengkhianatan pada hakikatnya hanya dilakukan oleh orang yang dekat. Jika bukan orang dekat, bukan pengkhianatan, melainkan serangan. Pengkhianatan pasti menghilangkan kepercayaan kepada si pengkhianat.
Daud yang memilih untuk tidak mengkhianati Saul, ayah mertuanya, dikhianati oleh Absalom (13). Akhirnya, ia harus melarikan diri agar ia tidak dicelakai oleh anaknya (14).
Daud yang memilih tidak mengkhianati Saul-ayah mertuanya-malahan harus menderita dikhianati anak sendiri. Memang Daud tidak sepenuhnya bersih karena pernah mengkhianati kesetiaan Uria.
Namun, ada sedikit penghiburan bagi Daud di tengah pengkhianatan.
Daud melihat kesetiaan para pengikutnya yang tetap mau mengikutinya meski mereka harus meninggalkan kenyamanan (15-18). Walaupun demikian, ada rasa waswas dalam hati Daud.
Perasaan bersalah, kecewa, sedih, dan tidak berdaya benar-benar dirasakan secara nyata oleh Daud (30). Seorang pahlawan yang gagah perkasa harus menangis dan meratap di hadapan orang-orang yang dipimpinnya. Realitas ini juga menghancurkan hati banyak orang. Peperangan Daud kali ini sungguh berbeda, peperangan dengan anak yang sangat dicintainya. Kita akan melihat di bagian Alkitab selanjutnya, betapa hancur hati Daud ketika dia harus kehilangan Absalom.
Satu hal yang luar biasa, di dalam keadaan terpuruk itu, Daud tetap memercayakan kehidupannya kepada TUHAN. Ayat 26 menyebutkan bahwa seandainya TUHAN tidak lagi berkenan kepada dirinya, ia siap menerima apa yang baik di mata TUHAN untuk dirinya. Di sini kita melihat kerapuhan sekaligus kejujuran Daud, yang tidak melihat dirinya lebih baik daripada orang lain, dan sepenuhnya memercayakan hidupnya di tangan TUHAN.
Sadarlah, kita juga pernah mengkhianati Tuhan. Sekarang, maukah kita sadar akan dosa kita dan terus beriman kepada Tuhan? Maukah kita memercayakan hidup kita kepada kemurahan-Nya dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan? [JHN]
![]() |
| Happy Sunday |

















































