*“Kemudian Hagar menamakan TUHAN yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: ‘Engkaulah El-Roi.’ Sebab katanya: ‘Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?’”*
📖 *Kejadian 16:13 TB*
Hagar adalah budak dari Mesir. Ia tidak memiliki pilihan. Ia tidak memiliki suara. Ia diserahkan Abraham kepada Sara, lalu diberikan kepada Abraham untuk melahirkan anak. Ketika ia mengandung, Sara cemburu dan menindasnya. Hagar melarikan diri ke padang gurun, sendirian, hamil, tanpa masa depan.
Di titik paling hancur, di padang gurun Syur, Tuhan mendatanginya. Bukan Sara yang mencari. Bukan Abraham yang meminta maaf. Tuhan sendiri yang datang dan memanggil namanya: “Hagar, hamba Sarai, dari manakah datangmu dan ke manakah pergimu?” Kejadian 16:8.
Hagar memberi nama baru bagi Tuhan: El-Roi – Allah yang melihat aku. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Hagar merasa dilihat. Bukan sebagai budak. Bukan sebagai alat. Tetapi sebagai pribadi.
Paradigma yang diperbaharui: Dunia membuang orang yang tidak berguna. Tuhan justru mencari orang yang dibuang untuk menyatakan bahwa tidak ada satu pun yang luput dari pandangan-Nya. Di tempat pembuangan, mata Tuhan justru paling jelas melihat.
Kesaksian tahun 2015-2023 dari Arab Saudi dan Jawa Tengah ini menjadi kekuatan bagi banyak perempuan.
Siti, usia 23 tahun, asal Brebes. Menikah di usia 17 tahun, diceraikan saat hamil 4 bulan karena suami menikah lagi. Keluarga menolak: “Bawa aib. Jangan pulang.” Untuk bertahan hidup, ia menjadi TKW di Arab Saudi melalui agen ilegal.
Tiga tahun ia bekerja di rumah majikan yang kasar. Gaji sering dipotong. Paspor ditahan. Ia hamil anak kedua akibat pelecehan oleh anak majikan. Ketika ketahuan, ia dipukuli dan diusir ke jalan di tengah malam di Riyadh. Tanpa uang, tanpa dokumen, dengan bayi 2 tahun dan hamil 5 bulan.
Ia tidur di masjid selama seminggu. Setiap malam ia menangis: “Tuhan, apakah Engkau lihat aku?” Seorang pekerja migran Kristen asal Filipina memberinya Alkitab bahasa Indonesia. Ia membuka acak, dan jarinya menunjuk Kejadian 16:13: “El-Roi – Allah yang melihat aku.” Malam itu ia berseru: “Tuhan, jika Engkau melihat Hagar, lihat juga aku.”
Mujizat terjadi. Seorang ibu dari GSJA Riyadh menemukannya dan menampungnya. Gereja mengurus pemulangannya. Di pesawat, ia melahirkan anak kedua. Tiba di Indonesia hanya dengan pakaian di badan.
Tahun 2018, ia memulai dari nol. Menjual gorengan di depan SD. Setiap pagi sebelum berdagang, ia membaca Kejadian 16: “Tuhan melihat aku.” Anak pertamanya sering sakit. Tetangga berkata: “Sudah janda, anak dua, miskin. Hidupmu habis.”
Namun Tuhan melihat. Seorang hamba Tuhan memberinya modal 2 juta. Ia membuka warung kecil “Warung El-Roi”. Ia menyekolahkan anak-anak TKW lain yang ditelantarkan. Tahun 2023, ia mendirikan “Sekolah Harapan Hagar” di Brebes – PAUD gratis untuk 60 anak buruh migran dan single mom.
Di dinding sekolah itu tertulis: “Di sini setiap anak dilihat. Karena dulu ibunya dilihat oleh El-Roi.” Siti bersaksi: “Dunia membuang saya dua kali: suami dan majikan. Firman Tuhan berkata saya ditemukan oleh El-Roi. Pembuangan saya bukan akhir. Pembuangan saya adalah tempat perjumpaan. Mujizat masih ada.”
✝️ *NARASI DUNIA MENYATAKAN:* “Kita dibuang dan tidak terlihat.”
*FIRMAN TUHAN MENEGASKAN:* “Kita dilihat, dipanggil nama, dan dipulihkan oleh El-Roi.”
✅ *LANGKAH PRAKTIS HARI INI:* Pergilah ke tempat yang sepi. Sebutkan nama lengkap disertai satu luka pembuangan yang dialami. Lalu katakan dengan suara: “Tuhan, Engkau El-Roi. Engkau melihat aku di sini.” Tuliskan Kejadian 16:13 di kartu kecil. Letakkan di dompet sebagai pengingat bahwa tidak ada tempat yang terlalu jauh dari pandangan Tuhan.
🟢 *HAGAR – DARI PADANG GURUN PEMBUANGAN MENUJU SUMUR EL-ROI*
![]() |
| Amen Haleluya |




































