*“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”*
๐ *Kejadian 50:20 TB*
Yusuf dijual seharga 20 syikal perak oleh saudara kandungnya sendiri. Usia 17 tahun, dikhianati darah daging. Dibuang ke sumur. Dijual sebagai budak. Di Mesir, ia difitnah, dipenjara 13 tahun tanpa pengadilan. Total 20 tahun penderitaan.
Jika ada orang yang berhak pahit hati, itu adalah Yusuf. Namun di akhir hidupnya, ia tidak berkata: “Lihat, aku korban.” Ia berkata: “Allah mereka-rekakannya untuk kebaikan.”
Kata “mereka-rekakan” = khashab = merajut, menenun, mendesain. Saudara Yusuf menenun kejahatan. Allah menenun karya seni. Luka yang sama, tetapi di tangan Tuhan menjadi lukisan.
Paradigma yang diperbaharui: Luka bukan titik akhir cerita. Luka adalah kanvas. Di tangan manusia, luka menjadi trauma. Di tangan Tuhan, luka menjadi kesaksian.
Kesaksian tahun 2018 dari Jakarta ini menguatkan banyak orang. Bayu, usia 6 tahun, dibuang orang tuanya di Panti Asuhan Dorkas Jakarta Timur. Alasannya: “Anak haram. Kami malu.” Surat yang ditinggal hanya satu kalimat: “Jangan cari kami.”
18 tahun Bayu hidup dengan label “anak buangan”. Setiap malam ulang tahun, ia bertanya: “Tuhan, mengapa aku tidak diinginkan?” Di panti, ia sering dipukul kakak asuh. Luka di punggung, luka di hati lebih dalam.
Titik balik terjadi saat ia berusia 20 tahun. Seorang pengacara Kristen visitasi ke panti dan berkata: “Bayu, namamu artinya ‘angin’. Angin tidak kelihatan, tetapi mengubah arah kapal. Tuhan akan pakai lukamu.” Malam itu Bayu membaca Kejadian 50:20 dan menangis: “Orang tuaku mereka-rekakan kejahatan. Tetapi Tuhan, Engkau mereka-rekakan kebaikan?”
Bayu memutuskan kuliah hukum sambil bekerja menjaga warung internet. 4 tahun tidak pulang kampung, tidur di lantai kos, makan sekali sehari. Lulus dengan predikat cum laude. Ia menolak tawaran firma hukum besar. Ia berkata: “Saya mau membela anak-anak yang dibuang seperti saya.”
Tahun 2023, Pengacara Bayu Christanto, S.H. mendirikan LBH Kasih Anak. Dalam 2 tahun, ia memenangkan 47 kasus hak asuh dan adopsi anak terlantar. Ia menuntut negara untuk mereformasi sistem panti asuhan. Ia sendiri mengadopsi 2 anak buangan.
Suatu hari, ibu kandungnya datang ke kantornya. Menangis, meminta maaf, meminta uang. Seluruh staf menahan napas. Bayu berdiri, memeluk ibunya, dan berkata: “Mama, terima kasih sudah membuang saya. Jika Mama tidak membuang saya ke panti, saya tidak akan bertemu Yesus. Jika saya tidak bertemu Yesus, 47 anak ini tidak punya pembela. Luka saya sudah dipigura Tuhan.”
Hari ini, di ruang tamu LBH Kasih Anak, tergantung satu lukisan besar: Gambar sumur, budak, penjara, dan istana. Di bawahnya tertulis Kejadian 50:20. Melalui kesaksian ini kita diingatkan: “Dunia mungkin melihat seseorang sebagai pribadi yang terbuang. Tuhan melihatnya sebagai alat Kerajaan-Nya. Luka tidak dibuang. Luka dipigura. Mujizat masih ada.”
✝️ *NARASI DUNIA MENYATAKAN:* “Kita adalah korban.”
FIRMAN TUHAN MENEGASKAN: “Kita adalah kanvas karya-Nya.”
✅ *LANGKAH PRAKTIS HARI INI:* Ambillah satu luka terdalam dalam hidup ini. Tuliskan di kertas: “Manusia mereka-rekakan ini untuk kejahatan.” Lalu di bawahnya tuliskan: “Tuhan, biarlah Engkau mereka-rekakan ini untuk kebaikan. Piguralah luka ini.” Simpan kertas tersebut di dalam Alkitab. Bacalah setiap kali luka itu mengingatkan pada masa lalu.
๐ข *YUSUF – DARI SUMUR PEMBUANGAN MENUJU ISTANA PEMULIHAN*