Santapan Harian
Ketika Kejahatan Menjadi Sistem
1 Raja-raja 16:8-34
Tidak semua kejahatan bersifat kasar dan beringas. Ada kejahatan yang dilakukan secara halus, ditata dengan rapi, dan diwariskan sebagai kebiasaan. Dan itu menjadi sistem yang menormalkan kejahatan.
Setelah Baesa, takhta Israel diwarnai kudeta. Ela, yang memerintah selama dua tahun, dibunuh oleh Zimri, yang membunuh seluruh keluarga Baesa dan memerintah selama seminggu sebelum akhirnya bunuh diri (11-20). Omri, yang memerintah selama 12 tahun, merebut kekuasaan dan membangun Samaria sebagai ibu kota sebelum ia pun mati. Ahab, yang memerintah selama 22 tahun, melampaui kejahatan mereka semua dengan menyembah Ba'al dan Asyera (29-33). Kejahatan mencapai tingkat yang tak terbayangkan sebelumnya.
Kekacauan politik dalam sejarah Israel ini merupakan konsekuensi dari kebobrokan rohani mereka. Setiap raja mengungguli pendahulunya dalam hal kejahatan. Dosa tidak lagi bersifat pribadi atau sporadis, melainkan dilembagakan, dipromosikan, dan diproteksi oleh negara.
Pembangunan kembali tembok Yerikho pada masa yang bergejolak itu menandai kebobrokan rohani bangsa itu. Kutuk TUHAN dahulu melalui Yosua seakan tidak cukup menakutkan. Mereka tidak peduli. Ini bukti bahwa ketika dosa menjadi sistem, peringatan apa pun tidak dianggap serius.
Konteks yang dihadapi orang-orang Kristen sepanjang masa tidak jauh berbeda. Kita senantiasa bergumul dengan kekerasan, kenajisan, dan ketidakadilan yang melembaga. Peringatan Allah dalam Alkitab kerap tidak diindahkan manusia zaman ini.
Beberapa dari kita dipanggil untuk mengubah sistem. Itu panggilan yang mulia. Lebih dari itu, kita semua dipanggil untuk hidup secara benar dalam sistem yang bobrok. Berjanjilah bahwa Anda tidak akan menukar integritas rohani Anda demi "semangkuk kacang merah".
Dan berdoalah supaya Tuhan membuat kita berani melawan kejahatan, meski itu telah melembaga. Idealnya, hidup orang benar bagaikan ikan salmon yang menentang arus yang menormalkan pembangkangan. [PHM]

