Santapan Harian
Ibadah yang Direkayasa
1 Raja-raja 12:25-33
Ketakutan kadang mendorong manusia mencari jalan pintas. Demi rasa aman, seseorang bisa mengorbankan prinsip iman yang mendasar.
Yerobeam telah melakukan restrukturisasi fisik dengan memperkuat Sikhem dan Pnuel (25). Sekarang ia melakukan restrukturisasi religi dengan merombak konsep peribadatan warisan Musa dan Harun. Alasannya adalah untuk melenyapkan simpati sepuluh suku Israel kepada dinasti Daud (26-27). Yerobeam meniru pola ibadah kepada TUHAN, tetapi mengubah isinya. Dua patung anak lembu jantan emas menjadi dosa yang dua kali lipat lebih besar dibandingkan dosa pada zaman Musa (28-30; Kel 32).
Perikop ini memperlihatkan bahwa penyimpangan ibadah acap kali berakar pada ketakutan. Yerobeam tidak menghapus ibadah kepada TUHAN, tetapi ia merekayasa ibadah untuk mendukung kepentingan politiknya. Dengan begitu, dosa Yerobeam bukan sekadar penyembahan berhala, melainkan manipulasi rohani bermotif nafsu kekuasaan.
Ibadah baru Yerobeam merepresentasikan kemudahan beribadah yang mengorbankan kebenaran. Perubahan lokasi ibadah, struktur imamat, dan hari raya tampak religius, tetapi ia tidak lagi tunduk kepada firman TUHAN.
Banyak gereja pada abad ini menghadapi bahaya serupa. Kebaktian yang diadakan mungkin tetap ramai, teratur, dan terasa bermakna, tetapi barangkali telah kehilangan kebenaran. Ketika kemudahan dan kenyamanan menjadi tujuan utama ibadah, firman Tuhan menjadi sekadar pelengkap acara, bukan lagi pusat yang mentransformasi hati. Gereja harus berhati-hati agar tidak mengompromikan kebenaran!
Allah tidak menolak kreativitas dalam beribadah, tetapi Ia menolak ibadah yang dibangun di atas ketakutan dan kepentingan diri. Ibadah sejati lahir dari kebenaran dan ketaatan, bukan dari kecemasan akan kehilangan kendali.
Mintalah pengampunan kepada-Nya bila ibadah kita lebih didorong oleh rasa aman ketimbang ketaatan. Fokus doa kita adalah supaya kita beribadah dengan benar, bukan dengan cara yang kita anggap mudah. [PHM]
