Santapan Harian
Tanda Hidup oleh Roh
Galatia 6:11-18
Memasuki Minggu ke-19 sesudah Pentakosta, kalender gerejawi mengajak kita untuk merenungkan pertumbuhan iman kita dalam Masa Biasa. Setelah Roh Kudus dicurahkan, pertanyaannya sekarang bukan lagi tentang seberapa hebat pengalaman rohani kita di masa lalu, melainkan apakah hidup kita hari ini menampakkan realitas ciptaan baru.
Pada masa sekarang ini, kita masih bisa terjebak dengan cara pikir yang menilai kerohanian dari simbol-simbol lahiriah seperti seberapa fasih kita berdoa, atau seberapa tinggi jabatan pelayanan kita. Hal ini mirip dengan cara pikir lawan-lawan Paulus di Galatia.
Mereka ingin memegahkan diri dengan memaksa orang lain untuk bersunat (13). Bagi mereka, agama adalah soal tanda fisik dan kepatuhan terhadap aturan untuk dipamerkan kepada manusia, bukan transformasi hati oleh Roh Kudus.
Rasul Paulus menulis bagian penutup dari suratnya ini dengan tulisan tangan yang besar untuk menegaskan pesan krusial bahwa di dalam Kristus, segala atribut lahiriah itu tidak ada artinya. Satu-satunya yang benar-benar berarti adalah menjadi ciptaan baru (14-15).
Masa sesudah Pentakosta adalah masa di mana Roh Kudus bekerja menjadikan kita ciptaan baru. Ini bukan sekadar perbaikan moral atau polesan citra belaka, melainkan perubahan total orientasi hidup. Jika dahulu kita hidup mencari pengakuan dunia, kini kita hidup berdasarkan salib Kristus, yakni damai sejahtera dan rahmat yang kita terima sejak kita ditebus menjadi milik Yesus (16-17). Salib itulah yang mematikan ego kita dan menghidupkan iman kita dalam Kristus.
Dalam minggu-minggu ini, marilah kita berhenti sejenak dari kesibukan pencitraan rohani yang sering kali menjadi kebiasaan kita. Ada baiknya kita tidak membiarkan ibadah kita menjadi rutinitas tanpa kuasa. Biarlah tanda yang kita bawa bukan sekadar simbol agama di KTP, kalung salib di leher, atau kutipan ayat Alkitab di akun media sosial, melainkan karakter yang diubahkan dan dipimpin oleh Roh Kudus sebagai suatu ciptaan baru yang nyata. [TDS]
