*Blind Spot Terbesar Gereja Modern: Dunia Kerja*
(_Catatan dari Faith & Work Conference 2026_)
Realitas dunia kerja Indonesia hari ini sangat kompleks dan menantang. Mari kita jujur.
Seorang profesional di Jakarta bekerja 10–12 jam sehari sambil menghadapi target yang terus naik, ancaman AI yang perlahan menggantikan sebagian pekerjaannya, dan budaya kerja yang menuntutnya selalu "online", bahkan di akhir pekan.
Seorang manajer manufaktur di Cikarang harus bergulat dengan efisiensi, biaya logistik, dampak perang dagang, relokasi pabrik, tuntutan ESG, dan ketidakpastian rantai pasok.
Seorang ASN dan pegawai BUMN ingin bekerja bersih tetapi terjebak dalam birokrasi lambat, tekanan politik, budaya patronase, bahkan potensi kriminalisasi akibat keputusan bisnis.
Seorang pebisnis dipaksa memilih antara pertumbuhan cepat atau bisnis yang sehat secara jangka panjang. UMKM menghadapi tekanan bahan baku, akses pembiayaan, dan persaingan dengan platform marketplace. Petani menghadapi perubahan iklim dan rantai distribusi yang panjang.
Dan jutaan pekerja informal–pedagang, pengemudi ojol, pekerja harian, hingga pekerja lepas digital –hidup dalam ketidakpastian pendapatan.
Ini bukan persoalan kecil.
World Economic Forum dalam _Future of Jobs Report 2025_ memperingatkan bahwa jutaan pekerjaan akan terdampak otomatisasi dalam dekade ini. Sementara data Badan Pusat Statistik (2025) menunjukkan sebagian besar pekerja informal Indonesia masih hidup dengan perlindungan minim, rentan guncangan ekonomi, dan akses pengembangan yang terbatas.
Belum lagi banyak pekerja korporasi harus berhadapan dengan budaya kerja tanpa jeda (_hustle culture_), kelelahan kronis (_burnout_), kehilangan makna kerja (_quiet quitting_), fraud korporasi, PHK teknologi, dan pertanyaan etis baru: apakah AI akan memberdayakan manusia—atau justru menggantikannya?
Singkatnya, tempat kerja modern telah menjadi ruang pergumulan ekonomi, moral, psikologis, dan spiritual yang sangat kompleks.
Ironisnya, justru di titik inilah gereja sering kali paling sunyi.
Hari Minggu gereja selalu penuh. Kotbah banyak menyinggung keluarga, pelayanan, dan berkat. Lalu datanglah hari Senin—dan banyak jemaat kembali ke sistem kerja yang "brutal" tanpa navigasi spiritual yang memadai.
Inilah isu utama yang dibedah dalam *Faith & Work (F&W) Conference 2026* bertema _Disciples at Work: Following Jesus in the Marketplace_ di Jakarta Sabtu 16 Mei 2026 lalu.
Konferensi ini membuka satu fakta yang tidak nyaman: gereja memiliki _blind spot_ besar terhadap dunia kerja.
*Warisan Lama Bernama Sacred-Secular Divide*
Kara Martin—Co-Chair Theology of Work Project dan penulis _Workship_—mengkritik warisan lama gereja: pekerjaan gereja dianggap suci, sementara profesi lain dianggap sekuler.
Pendeta dianggap melayani Tuhan. Misionaris dianggap panggilan tertinggi.
Sementara dokter, akuntan, guru, petani, pengusaha, pekerja pabrik, hingga pengemudi ojol sering dipandang sekadar mencari nafkah.
Kara membalik perspektif itu.
Bahwa seorang guru sedang membentuk masa depan. Dokter menghadirkan pemulihan. Pengacara memperjuangkan keadilan. HR menjaga martabat manusia.
Pesannya sederhana tetapi radikal: _*work can be worship.*_.
Jika teologi ini gagal dipahami, gereja akan terus menghasilkan jemaat yang rohani di hari Minggu tetapi (mungkin) kehilangan arah di hari Senin.
*Banyak Orang Kristen Masih Bekerja Sekadar Bertahan*
Engeline Tjia Soesilo—praktisi dan konsultan marketing—menunjukkan fakta riset yang menampar: sekitar 83% profesional Kristen Indonesia belum melihat pekerjaan sebagai panggilan.
Sebagian bekerja hanya untuk bertahan hidup. Sebagian kompromi demi rasa aman.
Sebagian hanya menjadi “orang baik” tetapi tidak berani membawa perubahan. Padahal dunia kerja hari ini membutuhkan lebih dari sekadar moralitas pasif.
Engeline menegaskan lebih lanjut bahwa profesional Kristen membutuhkan panduan etika praktis, dan teologi yang relevan—bukan teori abstrak tambahan.
*Dari Gerakan Pinggiran Menjadi Arus Utama Global*
Jika Kara berbicara tentang fondasi teologis, Joseph Vijayam — _Catalyst for Workplace Ministry Lausanne Movement_ & CEO Olive Technology— menunjukkan bahwa F&W kini telah bergerak jauh melampaui diskusi-diskusi kecil.
Lausanne Movement sejak 1974 telah mendorong gagasan _*whole gospel, whole church, whole world*_. Tetapi kini medan misi sedang berubah secara signifikan.
Dulu misi identik dengan perpindahan geografis. Hari ini medan misi baru muncul di tempat yang lebih dekat: kantor, startup, pasar modal, laboratorium AI, pabrik, supply chain global, institusi publik, ruang kebijakan, dan sebagainya.
Joseph menyebutnya dengan sangat jelas: *_every believer, every workplace, every sector._*
Sutrisna Harjanto—Ketua STTB dan Board Member Proyek Teologi Kerja— menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya sedang memasuki momentum penting. Gereja mulai belajar. Seminari mulai berubah. Komunitas profesional mulai bertumbuh. Kolaborasi mulai dibangun.
Dalam konteks ini, maka konferensi ini bukan sekadar event tahunan. Ini adalah pembangunan ekosistem.
*Indonesia Tidak Kekurangan Program—Tetapi Ekosistem*
Namun Johan Setiawan— Dosen Pemuridan dan Misi STTB —mengingatkan masalah utamanya: kita terlalu banyak program, tetapi terlalu sedikit ekosistem.
Masih ada tiga kesenjangan besar. Kesenangan teologi ketika kerja masih dipandang sekadar nafkah. Kesenjangan pemuridan, ketika gereja kurang membekali realitas kerja. Kesenjangan misi, ketika tempat kerja belum dilihat sebagai ladang pelayanan
Karena itu ia mendorong _whole life discipleship_—integrasi teologi, pemuridan, dan misi dalam kehidupan profesional sehari-hari.
*Gereja Tidak Bisa Memberi Jawaban Generik*
Kita bukan kekurangan orang Kristen yang rajin beribadah. Yang kurang adalah sistem pendukung (_supporting system_) yang relevan dengan kompleksitas dunia kerja modern.
Beberapa gagasan yang kita butuhkan:
_Pertama, teologi kerja yang praktis (practical theology):_ Teologi yang mampu menjawab secara praktis isu AI, ESG, korupsi, PHK, burnout, etika kepemimpinan, entrepreneurship, dan sebagainya.
_Kedua, mentor marketplace._: Bukan hanya pengkhotbah, tetapi pemimpin bisnis, entrepreneur, dokter, birokrat, engineer, pemimpin HR yang bisa mendampingi profesional muda.
_Ketiga, kurikulum sejak dini._: F&W diusulkan masuk ke keluarga, sekolah Kristen, kampus, dan pelayanan mahasiswa.
_Keempat, komunitas yang aman (safe community)._: Para profesional membutuhkan ruang aman untuk bicara jujur tentang kegagalan, kompromi, pergumulan, godaan, dan tekanan kerja.
_Kelima, konten digital yang scalable._ Konten F&W harus masuk ke Instagram, TikTok, podcast, mentoring platform, dan micro learning. Ini bagian penting dalam perluasan ideasi konsep F&W tersebut.
_Keenam, kerangka etis (ethical framework) per industri_. Dilema dan pergumulan banker berbeda dengan guru, berbeda dengan pebisnis, berbeda dengan ASN, berbeda dengan pekerja manufaktur.
_Ketujuh, consumer insight tentang dunia kerja Indonesia._ Poin ini diangkat oleh Handy Irawan—pendiri Frontier Group— yang menekankan pentingnya memahami realitas pekerja Indonesia secara konkret—dari guru, pekerja informal, keluarga, hingga generasi muda.
F&W tidak boleh hanya menjadi diskusi elit urban korporasi. Ia harus relevan bagi guru PAUD, pekerja lapangan, UMKM, hingga keluarga yang membentuk panggilan anak sejak dini.
Konferensi mungkin telah selesai. Tetapi pertanyaan besarnya masih tertinggal: jika gereja gagal memahami dunia kerja modern— apakah gereja sedang kehilangan medan misi terbesar abad ke-21?
— *Sigit Budi Darmawan*, 18 Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar