H.O.R.A.S

Selamat Datang buat anda yang mengunjungi blog ini, Segala informasi dalam blog ini merupakan bantuan dari buku-buku, majalah, dan lain-lain
Semoga blog ini bermanfaat bagi anda ^^.


Rabu, 27 Juli 2011

Dosen-Dosenku..^^


DOSEN SEMESTER 6 DI USU JURUSAN KEHUTANAN

          Ni adalah dosen-dosen yang mengajar selama semester 6 kami di USU (Universitas Sumatera Utara). banyak hal yang boleh kami pelajari dan menikmati waktu . hm..pokoknya tetaplah manajemen waktu...
Agroindustri
-         Agus Purwoko, S. Hut, M. Si
-         Prof. Dr. Ir. Zulkifli Lubis, MApp

Pengelolaan Jasa Lingkungan
-         Pindi Patana, S. Hut, M. Sc
-         Oding Affandi, S. Hut, MP
-         Siti Latifah, S. Hut, M. Si, Phd
-         Ir. Marifatin Zahrah, M. Si

Agroforestry
-         Oding Affandi, S. Hur, MP
-         Dr. Ir. Tri Martial, MS
-         Dr. Ir. Yunasfi, M. Si

Optimasi Pengelolaan Hasil Hutan
-         Tito Sucipto, S.Hur, M. Si
-         Evalina Herawati, S.Hut, M.Si
-         Irawati Azhar, S.Hut, M. Si

Penggunaan & Proteksi Bangunan Berkayu
-         Ridwanti Batubara, S. Hut, MP
-         Arif Nuryawan, S. Hut, M. Si
-         Luthfi Hakim, S. Hut, M. Si
-         Evalina Herawati, S. Hut, M. ಸಿ
тетап семангат теман-teman
Pengelolaan Ekosistem Hutan Dan Daerah Aliran Sungai
-         Rahmawaty, S. Hur, M. Si, Phd
-         Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, MP

Teknologi Serat & Komposit
-         Arif Nuryawan, S. Hut, M. Si
-         Luthfi Hakim, S. Hut, M. Si
-         Irawati Azhar, S.Hut, M. Si
-         Tito Sucipto, S.Hur, M. Si

Ekologi & Manajemen Hutan Mangrove
-         Dr. Ir. Yunasfi, MS
-         Mohammad Basyuni, S. Hut, M. Si, Phd

Terima kasih telah mengajar kami sehingga kami menjadi generasi yang berhasil..^^

OPINI...


EFEKTIVITAS PEMUPUKAN DALAM USAHA TANI
Oleh: U.Supriyadi,SP.
             Teknik pemupukan sangat berperan dalam upaya efisiensi dan efektifitas penggunaan pupuk kegiatan usaha tani sebaiknya didahului oleh kegiatan-kegiatan analisis,khususnya pada calon media tumbuh tanaman.Kegiatan analisis tanah layak dibebankan dalam biaya produksi suatu usaha tani dan seyogianya kegiatan tersebut dilaksanakan secara kontininyu,terlebih untuk usaha tani berskala besar yang komersial.Data-data yng diperoleh dari hasil analisis yang representative akan sangat berguna dalam membuat rencana pemupukan yang efektif.
            Banyak masalah dalam pertumbuhan tanaman(plant growth), terutama pertumbuhan tanaman pada lahan-lahan yang secara intensif menggunakan pupuk anorganik yang dimaksudkan sebagai upaya rekayasa kesuburan tanah.Sangat dimungkinkan permasalahan pertumbuhan timbul justru disebabkan oleh penggunaan pupuk yang tidk tepat karena sifat dan keadaan tanahnya(soil) tidak diketahui secara pasti sebelumnya.Nilai dari suatu analisis fisika maupun kimia tanah yang tepat akan menjadi lebih bermanfaat dalam perencanaan penggunaan dosis maupun dalam penilaian ekonomisnya.
            Pada prakteknya masih banyak dijumpai penggunaan pupuk yang kurang atau bahkan menjadi tidak efektif bagi pertumbuhan tanaman sekalipun dalam perkembangan untuk mencapai potensi yang diinginkan(produksi dan kualitas) masih sangat menguntungkan. Tanaman sama sekali tidak merespon pemupukan yang tidak efektif dan sesuai kebutuhan.
Semangat..^^
            Pemupukan efektif yang dimaksud diantaranya harus memenuhi criteria persyaratan kuantitatif(dosis yang diperlukan) dan kulitatif yang telaf ditentukan. Persyaratan kulitatif terdiri dari empat factor yaitu:
  1. Adanya relevansi anatara unsur hara yang diberikan dalam pemupukan terhadap kandungan nutrisi yang ada,
  2. Waktu atau musim tanam serta teknis penaburan atau peletakan pupuk yang tepat,
  3. Pemupukan yang dilaksanakan secara efektif terhadap unsure haranya dapat diserap tanaman dengan lebih optimal,
  4. Unsur hara yang diserap digunakan untuk meningkatkan jumlah dan produksinya. Faktor keempat ini sangat berkaitan dengan fisiologi tanaman yang bersangkutan.
Penggunaan pupuk sesuai dosis hamper jarang dilakukan petani dengan kepemilikan lahannya yang sempit karena yang dipandang oleh mereka bukan hanya segi pencapaian hasil saja tapi juga perbandingan antara pengeluaran(cost) dan pemasukan (profit) yang diukur dari nilai ekonominya.
Jika pemupukan dilakukan dengan memenuhi persyaratan kuantitatif dan kualitatifnya seperti yang telah disebut sebelumnya, maka hasil yang diharapkan dari kegiatan pemupukan tersebut kemungkinan besar akan tercapai dan memberikan hasil yang memuaskan.Betul???

OPINI


MEMANDANG HUTAN SEBAGAI PRODUSEN JASA LINGKUNGAN
Oleh : Emma Roslina Dewi, S. Si
Benih Tanaman Sebagai Jasa Lingkungan
            Terlepas dari segala produk hutan yang sifatnya material, sebenarnya terdapat manfaat hutan lainnya yang jauh lebih bernilai, terutama untuk diwariskan pada generasi-generasi kita berikutnya, yaitu produk hutan berupa jasa lingkungan. Jasa lingkungan adalah produk sumber daya alam hayati dan ekosistemnya (SDAHE) yang berupa manfaat langsung (tangible) dan manfaat tidak langsung (intangible), yang meliputi antara lain jasa wisata alam / rekreasi, jasa perlindungan tata air / hidrologi, kesuburan tanah, pengendalian erosi dan banjir, keindahan, keunikan, penyerapan, dan penyimpanan karbon (Carbon offset).
            Letak geografis, luas, dan karakteristik biofisik hutan Indonesia yang sangat beragam merupakan keunggulan komparatif tersendiri dalam hal potensi jasa lingkungan, sehingga apabila jasa lingkungan ini dikelola secara baik akan memberikan nilai ekonomi kuantitatif maupun manfaat atau kepuasan kepada konsumen pengguna jasa lingkungan.
            Terkait dengan salah satu produk jasa lingkungan berupa perlindungan tata air; sangat tepat kiranya jika ada pepatah yang mengatakan bahwa air adalah sumber kehidupan, maka hutan adalah penjaga kehidupan. Bukan tanpa alasan pernyataan ini dimunculkan, mengingat fungsi dan peran hutan yang sangat penting dalam menyimpan dan mengatur sang sumber kehidupan di bumi. Menurut situs sebuah internet, lima belas Daerah Aliran Sungai (DAS) terbesar di Indonesia merupakan sumber air bagi lebih dari enam belas juta orang. Hutan di DAS ini membantu melindungi pasokan air dengan menstabilkan tanah di lereng-lereng bukit dan mengatur laju dan kecepatan air sungai. Namun sangat disesalkan, DAS tersebut telah kehilangan 20% tutupan hutannya antara tahun 1985 dan 1997.
            Beberapa peluang lain yang dapat dikembangkan terkait dengan produk hutan berupa jasa lingkungan adalah carbon offset dan jasa ekowisata. Menurut FAO, jumlah total vegetasi hutan di Indonesia menghasilkan lebih dari 14 milyar ton biomassa, jauh lebih tinggi daripada Negara-negara lain di Asia dan setara dengan sekitar 20 % biomassa di seluruh hutan tropis di Afrika. Jumlah biomassa ini secara kasar menyimpan sekitar 3,5 milyar ton karbon.
            Dalam www.livescience.com dikemukakan bahwa dalam suatu abad terakhir ini intensitas medan magnet matahari kian berlipat ganda dan menyebabkan kondisi mendung kian berkurang. Hal ini menjadi salah satu ‘kontributor’ bagi terjadinya pemanasan bumi. Namun hutan, dengan pohon-pohon lebat dan daun-daun rindangnya , mampu memayungi dan diharapkan pula dapat menjaga atau mengurangi temperature panas bumi.
            Di bidang ekowisatapun, peluang hutan sebagai penyedia jasa lingkungan rekreasi juga cukup menarik. Potensi berupa fenomena keindahan, keunikan alam, keanekaragaman hayati, dan budaya merupakan daya tarik tersendiri yang mampu menyedot kunjungan wisata, baik wisata pendidikan, maupun wisata rekreasi.
            Menurut studi, yang dikembangkan oleh Fakultas Kehutanan IPB, dapat disimpulkan bahwa secara teori nilai ekonomi keanekaragaman hayati dan simpanan karbon saat ini jauh melebihi pendapatan yang diperoleh dari produksi kayu bulat. Namun ada tanggapan bahwa hasil studi ini tidak cukup kokoh untuk diartikan secara harafiah, tetapi merupakan sebuah sinyal yang bermanfaat bahwa berbagai pendekatan konvensional yang digunakan untuk menilai hutan, yaitu berdasarkan harga kayu, terlalu sempit dan mengabaikan kepentingan masyarakat local yang hidupnya mengendalkan hutan.
            Semoga mata dan hatoi kita semakin terbuka untuk memahami dan menghargai hutan dengan lebih arif; bukan hanya sebagai produsen produk yang berbentuk material namun lebih dari itu, hutan berperan sebagai produsen jasa lingkungan yang ternyata tidak kalah berharga. Disadari atau tidak, hutan telah menjadi salah satu prajurit penjaga kehidupan di planet bumi ini. Jadi, mari sayangi dan pelihara hutan kita !!!

Salam Rimba !

PERILAKU API


MENGENAL PERILAKU API PADA WAKTU KEJADIAN KEBAKARAN HUTAN
Oleh    : Suhendra Sandjaya
Berikut disajikan saat-saat kejadian kebakaran,perilaku api beserta tingkat bahaya yang dapat terjadi.
Gambar : Api dunia
  • Di pagi hari (antara pukul 06.00-10.00)cahaya matahari sudah bersinar.Pada saat itu cuaca masih relative dingin sementara angin bergerak perlahan.Pada periode waktu ini kejadian kebakaran masih mudah untuk  dikendalikan.
  • Pada pukul 10.00-14.00 cuaca samakin panas, matahari bersinar kian terik bahkan mencapik puncaknya dan angin bergerak semakin kencang.Bila terjadi kebakaran pada periode ini, maka akan mulai sulit untuk diatasi.
  • Pada pukkul 17.00-21.00 matahari mulai tenggelam, cuaca berangsur gelap,Dalam keadaan ini kebakaran sedikit dami sedikit mulai dapat diatasi. Yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan terjadinya api loncat mengingat arah angin sulit terdeteksi dan kondisi bahan bakar masih dalam keadaan kering.
  • Pada pukul 21.00-04.00 cuaca semakin dingin, demikian pula kondisi bahan bakar; pergerakan angina berangsur tenang. Dalam situasi ini kebakaran cukup mudah untuk dapat diatasi.
  • Pada pukul 04.00-06.00 langit di ufuk timur mulai terang. Hal itu pertanda tak berapa lama lagi sang surya akan kelihatan memunculkan diri; cuaca dingin dan angina sudah reda bahkan cenderung tidak bergerak.Pada periode waktu ini jika terjadi kebakaran maka proses pengendalian api paling mudah dilakukan.

Demikian sekelumit informasi tentang perilaku api di saat terjadi kebakaran sesuai dengan waktu kejadiannya.Petugas pemadam yang telah berpengalaman biasanya akan beristirahat atau hanya melokalisir meluasnya api di siang hari dan melakukan aktivitasnya pada malam hingga pagi hari pada kasus kebakaran hutan yang terjadi berhari-hari.
(Disarikan dari Kursus Pencegahan dan Penanggulan Kebakaran Hutan).