H.O.R.A.S

Selamat Datang buat anda yang mengunjungi blog ini, Segala informasi dalam blog ini merupakan bantuan dari buku-buku, majalah, dan lain-lain
Semoga blog ini bermanfaat bagi anda ^^.


Rabu, 22 Juni 2022

MILIKI KRISTUS, MILIKI SUKACITA

 

MILIKI KRISTUS, MILIKI SUKACITA

Yohanes 17:13-16 (Tgl 22 Juni 2022, Rabu)

Agustinus pernah menulis, “Apa artinya sukacita Kristus ada di dalam Saudara, jika Dia tidak selalu menyediakan sukacita bagi Saudara ?. Dan apa artinya sukacita yang dikatakan akan penuh, jika kita harus meremehkan persekutuan Saudara dengan Kristus ?”

Dia adalah sumber sukacita yang sempurna. Hal itu dimulai ketika Dia memanggil Saudara. Tuhan pernah datang ke dunia dan berkata kepada orang percaya,”… Supaya penuhlah sukacitaKu di dalam diri mereka.

Kerinduan Yesus di ayat 13 mengandung arti antara lain : Supaya memiliki hidup yang kekal karena mengenal Yesus. Juga supaya didalam hidup orang percaya Tuhan dipermuliakan. Supaya sukacita Tuhan menjadi milik orang percaya. Perlu disadari bahwa didalam sukacita itu ada rahasia kekuatan anak-anak Tuhan. Di dalam sukacita itu kita mudah mengenali kebaikan, kebesaran, dan kemurahan Tuhan.

Di dalam sukacita itu kita lebih mudah menghargai dan menghormati Tuhan dan sesame. Sukacita adalah bagian dari buah-buah roh. Sukacita itu dijanjikan kepada orang saleh. Tersedia dan diberikan kepada orang-orang saleh. Rasa sukacita itu akan senantiasa dialami oleh setiap orang benar maupun orang percaya. Disebut orang percaya karena orang tersebut hidup di dalam Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus.

Hidup yang dipilih dan diselamatkan oleh Tuhan. Biasanya seseorang bisa mengalami sukacita karena menjabat kedudukan yang bergengsi, mendapat rejeki, atau karena keinginan hatinya terpenuhi. Namun dalam perenungan hari ini lebih ditekankan untuk memiliki rasa sukacita karena hidup dalam percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Meskipun situasi tidak nyaman dan terancam, sukacita itu harus tetap kita miliki.

Memang tidak mudah bahkan sangat sulit, tetapi kalau kita sudah memiliki Kristus dan membiarkannya menguasai hati dan hidup kita maka dengan sendirinya sukacita itu akan memancar di wajah kita. Itulah yang membedakan kita dengan orang-orang dunia. Kalau mereka bersukacita karena hal hal yang indah-indah dan nyaman secara lahiriah, tetapi kita bersukacita karena memiliki Kristus dalam hidup kita dan hidup kita dipakaiNya untuk menjadi berkat buat orang lain sehingga namaNya dipermuliakan. Bersukacitalah ! (N)

 

 

“Bersukacitalah senantiasa.” (1 Tesalonika 5:16)

 

Di dalam sukacita ada rahasia kemenangan anak-anak Tuhan



Tema Natal Perkantas Tanjungpinang 2021 "Persaudaraan"


Novel By Julie Garwood From Fitri Manurung

 BUKU NOVEL (1)

Penulis : Julie Garwood

 

             Ini tentang buku yang sedang aku baca, dan aku berharap agar dapat menyelesaikannya, sambil membaca, yups.. mari kita latih dalam memperkaya vocabulary atau kosa kata, buat resensi atau resume atau kata kata mutiara yang bisa kita ingat.

Apakah kamu pernah juga membaca buku ini ? bagaimana menurut kamu isinya ? pasti bagus dan bermakna kan ? atau kamu belum selesai membacanya ? tidak apa apa, yang penting kamu tetap semangat membacanya .

 

What lies behind us and what lies before us are tiny matters compared to what lies within us” – Ralph Waldo Emerson

Apa yang ada di belakang kita dan apa yang ada di depan kita adalah masalah kecil dibandingkan dengan apa yang ada di dalam diri kita

 

 

May your unbounded enthusiasm bring you great joy in your accomplishments;

Semoga antusiasme Anda yang tak terbatas memberi Anda kegembiraan besar dalam pencapaian Anda

 

May your tenacious spirit lead you to fight the good fight;

Semoga semangat ulet Anda memimpin Anda untuk bertarung dengan baik

 

May your heart always bring you love in return.

Semoga hatimu selalu memberimu cinta sebagai balasannya

            

CHAPTER  1

1. It was hotter than hell inside the confessional

Itu lebih panas dari neraka di dalam kamar pengakuan

 

A thick black curtain, dusty with age and neglect, covered the narrow opening from the ceiling of the box to the scarred hardwood floor, blocking out both the daylight and the air.

Tirai hitam tebal, berdebu karena usia dan kelalaian, menutupi celah sempit dari langit-langit kotak ke lantai kayu keras bekas luka, menghalangi sinar matahari dan udara.

 

2. It was like being inside a coffin someone had absentmindedly left propped up against the wall, and father Thomas Madden thanked God he wasn’t claustrophobic

Rasanya seperti berada di dalam peti mati yang ditinggalkan seseorang dengan linglung disandarkan ke dinding, dan ayah Thomas Madden bersyukur kepada Tuhan bahwa dia tidak sesak.

 

He was rapidly becoming miserable though

Dia dengan cepat menjadi sengsara

 

The air was heavy and ripe with mildew, making his breathing as labored as when he was back at Penn State running that last yard to the goalposts with the football tucked neatly in his arm.

Udara terasa berat dan penuh dengan jamur, membuat napasnya sesak seperti saat dia kembali ke Penn State berlari di halaman terakhir menuju tiang gawang dengan bola terselip rapi di lengannya.

 

He had not minded the pain in his lungs then, and he certainly did not mind it now

Dia tidak mempermasalahkan rasa sakit di paru-parunya saat itu, dan dia tentu saja tidak mempermasalahkannya sekarang

 

It was all simply part of the job

Itu semua hanyalah bagian dari pekerjaan

 

3. The old priests would tell him to offer his discomfort up to God for the poor souls in purgatory.

Para pendeta tua akan memberitahunya untuk mempersembahkan ketidaknyamanannya kepada Tuhan bagi jiwa-jiwa malang di api penyucian

 

Tom did not see any harm in doing that, even though he wondered how his own misery was going to relieve anyone else’s

Tom tidak melihat ada salahnya melakukan itu, meskipun dia bertanya-tanya bagaimana penderitaannya sendiri akan meringankan penderitaan orang lain

 

4. He shifted position on the hard oak chair, fidgeting like a choirboy at Sunday practice.

Dia menggeser posisi di kursi kayu ek yang keras, gelisah seperti anak paduan suara di latihan hari Minggu

 

He could feel the sweat dripping down the sides of his face and neck into his cassock.

Dia bisa merasakan keringat menetes di sisi wajah dan lehernya ke jubahnya

 

The long black robe was soaked through with perspiration, and he sincerely doubted he smelled at all like the hint of Irish Spring soap he’d used in the shower this morning.

Jubah hitam panjangnya basah oleh keringat, dan dia benar-benar meragukan baunya seperti sabun Musim Semi Irlandia yang dia gunakan di kamar mandi pagi ini.

 

5. The temperature outside hovered between ninety-four and ninety-five in the shade of the rectory porch where the thermostat was nailed to the whiteeashed stone wall.

Suhu di luar berkisar antara sembilan puluh empat dan sembilan puluh lima di bawah naungan teras pastoran tempat termostat dipaku ke dinding batu bercat putih.

 

The humidity made the heat so oppressive, those unfortunate souls who were forced to leave their air conditioned homes and venture outside did so with a slow shuffle and a quick temper.

Kelembaban membuat panas begitu menyesakkan, jiwa-jiwa malang yang terpaksa meninggalkan rumah ber-AC mereka dan pergi keluar melakukannya dengan gerakan lambat dan cepat marah.
 
To Be Continued 


Natal Perkantas Tanjung Pinang 2021


The Emotionally Healthy Woman 1

 

Resensi Buku kehidupan

The Emotionally Healthy Woman

Penulis : Geri Scazzero dan Peter Scazzero

 

             Ini tentang buku yang sedang aku baca, dan aku berhara agar dapat menyelesaikannya, sambil membaca, yups.. mari kita buat resensi atau resume atau kata kata mutiara yang bisa kita ingat.

             Buku ini terdiri dari 8 bab  dan ada 205 Halaman. Buku ini sangat bagus dan baik untuk kita baca lo teman-teman. Ada 8 perkara yang harus anda hentikan untuk mengubah hidup anda.

Apakah kamu pernah juga membaca buku ini ? bagaimana menurut kamu isinya ? pasti bagus dan bermakna kan ? atau kamu belum selesai membacanya ? tidak apa apa, yang penting kamu tetap semangat membacanya .

            

BAB 1

Berhenti Mencemaskan Apa yang Orang Lain Pikirkan ?

             Dalam bab ini, paragraf awal sudah menceritakan langsung perdebatan antara sang suami dan istri. Inilah perasaan istri pendeta :

Saya tidak peduli lagi. Saya sudah sampai di titik dasar. Karena suami mencurahkan hidupnya begitu banyak bagi gereja, saya sebagai istri merasa seperti orangtua tunggal yang membesarkan empat anak perempuan sendirian.

             Sementara istri adalah seorang Kristen yang berkomitmen selama bertahun-tahun, namun identitas utama istri pendeta didefenisikan bukan saja oleh kasih Tuhan bagi istri, melainkan oleh apa yang orang lain pikirkan tentang seorang istri pendeta. Hal ini secara negatif berdampak pada setiap bidang kehidupan si istri . mulai dari pernikahan, pola mengasuh anak, persahabatan, kepemimpinan, bahkan harapan dan impian istri.

             Sekarang istri sudah kehilangan rasa takut tentang apa yang mungkin dipikirkan atau dikatakan orang lain. Istri tidak akan rugi apapun. Istri sudah memberi diri begitu besar sampai-sampai istri tidak lagi mengenali dirinya sendiri. Hilang sudah sang istri yang dikenal sebagai perempuan kreatif, ramah, menyenangkan, dan tegas. Sekarang sang istri adalah seorang ibu yang cemberut, depresi, letih dan marah.

             Saat ini gereja sebagai tempat pelayanan mereka sedang bertumbuh dan berbagai perkara ajaib sedang terjadi dalam kehidupan banyak orang, tapi ini terwujud dengan harga yang terlalu mahal, harga yang tak ingin lagi sang istri bayar. Ada sesuatu yang sangat salah dengan memenangkan seluruh dunia bagi Kristus dengan harga kehilangan jiwa seorang istri, jiwanya sendiri.

             Sang istri mengeluhkan kepada sang suami kesengsaraan yang dialami istri. Sang istri mulai menyalahkan sang suami atas penderitaannya. Untuk membuat segala sesuatunya lebih buruk, sang istri merasa malu dan bersalah tentang semua ini. Ada pernyataan bahwa seseorang yang tidak takut kehilangan apa-apa akan menjadi orang yang paling kuat di muka bumi . sekarang kondisi ini dialami oleh si istri.

             Saat melihat ke belakang, sang istri sangat sedih dan malu karena perlu waktu begitu lama sampai akhirnya si istri mengambil tindakan. Kecemasan tentang apa yang orang lain pikirkan telah melumpuhkan sang istri selama bertahun-tahun.

 

Mengharapkan Orang Lain Untuk Berkata Bahwa “Saya baik-baik saja”

             Tanpa sadar , sang suami dan istri bersikap emosional seperti pasangan kembar siam. Keduanya saling terikat, tapi dengan cara yang tidak sehat. Saya ingin suami memikirkan apa yang dipikirkan istri dan merasakan apa yang dirasakan istri; sebaliknya sang suami ingin memikirkan apa yang dia pikirkan dan merasakan apa yang dia rasakan. Suami berpikir bahwa saya harus merasakan kesukaran dan semangat yang dirasakannya demi menanam  gereja di New York City. Saya pikir dia seharusnya merasakan tekanan saya atas kesukaran yang terjadi dalam hidup kami, jam-jam panjang, tidak cukup uang, tidak ada waktu jeda, dan orang orang sulit.

             Kami juga saling terikat dalam merasa bertanggung jawab atas kesedihan, kemarahan dan kegelisahan masing-masing. Sebagai akibatnya, kami hidup dalam reaksi terhadap satu sama lain, saling meremehkan, mempersalahkan, mengingkari, dan mempertahankan diri terhadap emosi yang lain. Operasi bedah radikal sangat dibutuhkan untuk memisahkan dunia emosional kami. Sebagai individu, kami tidak cukup terpisah untuk menikmati koneksi dan kebersamaan sejati.

             Selama 9 tahun pernikahan sang suami dan istri, istri menyesuaikan diri dan mengakomodasi diri terhadap keinginan suami. Saya segera melepas keinginan untuk melanjutkan sekolah karena jadwalnya bertabrakan dengan jadwal suami yang sudah terlalu padat. Sang istri menghindari topik-topik panas yang diduga membangkitkan ketegangan dalam pernikahan kami. Saya tidak mampu mentoleransi ketidaknyamanan dan penderitaan dari kejengkelan, atau bahkan lebih buruk, kemarahannya terhadap istri. Apa yang harus saya lakukan ? tidakkah dia akan merasa kacau jika sang istri mulai menjadi dirinya sendiri ?

             Namun, saya segera menyadari bahwa persoalan ini bersumber lebih dalam dan lebih luas daripada hubungan saya dengan suami. Pola-pola tak sehat dari sikap mengorbankan diri dan mengakomodasi orang lain sangat menguasai setiap bidang kehidupan saya, dalam persahabatan, gereja, pola mengasuh anak, dan akar keluarga saya.

             Seperti kebanyakan orang, saya menikmati ketika orang berkata kepada saya, baik verbal maupun non verbal, bahwa saya baik-baik saja. Ini adalah hal yang baik. Saya senang didukung dan diterima oleh suami serta orang lain. Masalah muncul ketika pengesahan dari orang lain menjadi sesuatu yang wajib dimiliki seseorang. Sedihnya, saya membutuhkah hal ini. Saya harus memilikinya demi merasa nyaman dengan diri saya sendiri. Dengan kata lain, saya merasa nyaman dengan diri saya sepanjang saya merasa bahwa orang lain merasa nyaman dengan diri saya.

 

Kita yang “baik-baik” saja

             Mengandalkan pengakuan orang lain demi merasa bahwa diri berharga sangat bertentangan dengan kebenaran Alkitab. Tingkat “baik-baik” saja kita yakni kemampuan kita untuk patut dicintai orang lain, perasaan bahwa kita sudah cukup baik, pada puncaknya harus berasal bukan dari orang lain, tapi dari dua kenyataan fondasional.

             Kita diciptakan menurut gambar Tuhan. Diciptakan menurut gambar Tuhan artinya kita memiliki nilai berharga secara inheren. Kita adalah harta suci. Nilai kita sebagai manusia sungguh tak terbatas, terlepas dari apapun yang kita lakukan.

             Kita memiliki identitas baru didalam Kristus. Ketika kita memulai hubungan dengan Kristus, kita menemukan identitas baru di dalam Dia. Kini, kita bersandar pada catatan ketidakberdosaan Yesus dalam berhubungan dengan Tuhan. Kita patut dicintai, “baik-baik” saja dan cukup baik, karena Kristus. Tidak ada lagi perlu dibuktikan.

             Dengan cara yang sama, identitas istri di dalam Yesus tidak berjangkar sebagaimana yang saya bayangkan sebelumnya. Meskipun pernikahan dan gereja adalah sumber signifikan dari kepedihan si istri selama bertahun-tahun. Sang istri mulai mengakui bahwa rintangan terbesar sang istri dalam membuat perubahan yang sehat adalah rasa takut pada apa yang orang lain pikirkan tentang istri.

             Kebenaran yang mengejutkan ini menggoncang saya sampai kedasar hati. Seperti Petrus, saya hidup dalam ilusi. Saya percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Kristus. Saya menikmati kasih Tuhan hingga tingkat tertentu, tapi kasihNya tidak menembus cukup dalam sehingga mampu membebaskan saya dari rasa takut pada apa yang orang lain pikirkan.

(Bersambung...)


Kiranya kita semua tetap bersukacita dalam nama Tuhan Yesus . Amin