H.O.R.A.S

Selamat Datang buat anda yang mengunjungi blog ini, Segala informasi dalam blog ini merupakan bantuan dari buku-buku, majalah, dan lain-lain
Semoga blog ini bermanfaat bagi anda ^^.


Minggu, 06 Januari 2013

Mengenai Bersaksi ^^


Roh Kudus Memampukan Kita Bersaksi
Minggu, 23 Mei 2010 Oleh Masino Sinaga
Renungan Minggu, 23 Mei 2010


Sebenarnya hari Pentakosta memiliki tiga arti. Arti pertama: hari Pentakosta sebagai hari Raya Panen, yang mengingatkan bahwa Allah telah memberikan berkat yang berlimpah kepada umat-Nya. Sebagai bukti pemeliharaan Allah kepada umat-Nya, di hari itulah umat bersyukur kepada Allah. Arti kedua: hari Pentakosta adalah hari turunnya Taurat, hari yang memperingati bahwa Taurat diberikan Allah kepada umatNya. Arti ketiga: seperti yang kita ketahui, bahwa hari Pentakosta, hari, adalah hari pencurahan atau turunnya Roh Kudus. Sesuai dengan nubuat dalam kitab nabi Yoel 2:28-32.
Semua arti tersebut menyatakan satu prinsip teologis yang sama, yaitu pencurahan berkat-berkat Allah atau pemberian berkat-berkat Allah yang rohaniah dan jasmaniah dalam kehidupan umatNya. Hal ini mengingatkan kita bahwa Allah adalah ALLAH PEMBERI. Kita melihat Pemberian Allah kepada umatNya adalah Pemberian yang terbaik, terpenting, tanpa pemberian tersebut umat tidak mungkin dapat hidup dengan baik.
Jika hari raya pentakosta dimengerti sebagai hari yang memperingati pemberian Allah berupa hasil panen, pemberian itu adalah pemberian yang terpenting … sebab tanpa hasil panen tidak mungkin umat dapat hidup. Jika hari raya pentakosta dimengerti sebagai hari turunnya Taurat… mengingatkan kita bahwa manusia hidup bukan dari Roti saja tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah. Tuhan memberikan yang terpenting bagi kehidupan umat. Demikian juga dengan turunnya Roh Kudus merupakan hal yang terpenting bagi kehidupan Umat Tuhan, sebab tanpa Roh Kudus tidak mungkin umat Allah dapat menjalani kehidupan dengan baik, benar dan sesuai dengan Firman Tuhan.
Oleh sebab itu hari Pentakosta juga mengingatkan kita akan peran Roh Kudus dalam diri orang percaya yaitu: mempersatukan semua orang percaya, membaharui semua orang percaya dan memampukan orang percaya untuk bersaksi bagi Kristus, Kiranya Tuhan menolong kita sekalian. 


Aku dan DOA


Kasih kepada Allah Perintah  yang Utama
Ulangan 6:1-15
Benyaris A Pardosi
Sekilas tentang aku dan doa
Ketika saya merenungkan perjalanan doa saya selama saya menjadi orang Kristen, saya menemukan beberapa hal tentang doa. Berbicara tentang doa adalah berbicara tentang relasi, berbicara tentang relasi adalah berbicara tentang status, berbicara tentang status tidak lepas dari identitas diri. Berdoa berarti berkomunikasi dengan Allah. Komunikasi berarti tidak hanya satu arah melainkan terjadi antara dua oknum atau lebih dalam hal ini hubungan antara manusia dengan Allah dan antara Allah dengan manusia. Memiliki identitas sebagai anak-anak Allah adalah suatu sukacita yang sangat luar biasa bagi setiap orang, karena jika kita menjadi anak, berarti kita menjadi ahli waris. Namun sebagai anak, kita memiliki tanggung jawab terhadap Bapa, dan pastinya antara anak dengan bapa akan ada komunikasi. Doa bukanlah sesuatu kata yang asing lagi bagi manusia, terkhusus orang Kristen, apalagi orang-orang yang telah menerima Kristus dalam hidup-Nya dan ambil bagian dalam pelayanan, yang walaupun dalam pelaksanaannya harus jujur secara pribadi saya akui SULIT. Doa bukanlah sebatas meminta dan menerima apa yang kita perlukan dari Tuhan, doa adalah hubungan yang menghasilkan pengenalan dan kasih kepada Allah. Bagi saya doa adalah sebuah perjuangan untuk tetap taat melakukannya.

Antara Allah, Musa dan Umat-Nya
Salah satu bagian Firman Allah yang menekankan supaya umat-Nya setia menjaga relasi dengan Dia dalam setiap keadaan, pesan yang mengingatkan supaya manusia tidak melupakan Allah disampaikan dalam salah  satu kitab Taurat yaitu Ulangan 6 : 1 – 15. Kitab Ulangan merupakan salah satu kitab Taurat yang berisi amanat-amanat yang disampaikan Musa kepada orang Israel. Amanat-amanat ini merupakan amanat perpisahan karena ia telah diberitahu bahwa ia tidak dapat memasuki tanah Kanaan bersama mereka. Dalam kitab ini dicatat tiga bagian amanat yang disampaikan Musa kepada orang Israel:
1.      Prakata Ul 1:1-5
2.      Amanat pertama                        : Perbuatan Allah (Ul 1 : 6 – 4 : 40)
-          Ringkasan sejarah Firman Allah (Ul 1:6 – 3:29)
-          Kewajiban-kewajiban Israel terhadap Allah (Ul 4:1 – 40)
-          Penunjukan kota-kota perlindungan (Ul 4:41 – 43)
3.      Amanat kedua                : Hukum Allah (Ul 4 : 44 – 26 : 19)
 A. Syarat-syarat perjanjian (Ul 4:44 – 11:32)
-          Prakata (Ul 4:44-49)
-          Dasa Titah (Ul 5:1 - 21)
-          Pertemuan dengan Allah (Ul 5:22 – 33)
-          Perintah yang utama (Ul 6)
-          Tanah perjanjian dan masalah-masalahnya (Ul 7)
-          Pelajaran dari perbuatan-perbuatan Allah dan respon Israel (Ul 8:1 – 11:25)
-          Pilihan yang diperhadapkan kepada Israel (Ul 11:26 – 32)
B. Hukum (Ul 12 – 26)
-          Mengenai ibadat (Ul 12:1 – 16:17)
-          Mengenai jabatan (Ul 16:18 – 18:22)
-          Mengenai para penjahat (Ul 19)
-          Melakukan perang suci ((Ul 20)
-          Hukum-hukum lainnya (Ul 21 – 25)
-          Pengakuan liturgis ( (Ul 26:16 – 19)
-          Upacara yang akan dilaksanakan di Sikhem (Ul 27 – 28)
4.      Amanat ketiga                 : Perjanjian dengan Allah (Ul 29 – 30)
-          Tujuan penyataan Allah (Ul 29)
-          Dekatnya Firman Allah (Ul 30:1 – 14)
-          Pilihan yang diperhadapkan kepada Israel (Ul 30:15 – 20)
-          Kata penutup dan nyanyian Musa (Ul 31:1 – 32:47)
-          Kematian Musa (Ul 32:48 – 34:12)

Terlepas dari soal apakah ketiga amanat itu aslinya disampaikan secara lisan atau tulisan sebagai dokumen perpisahan, namun secara keseluruhan kitab ini mengemukakan perjanjian Allah dengan orang Israel sebelum memasuki tanah Kanaan. Ringkasan dari Perjanjian Allah dengan Israel dalam kitab ini adalah sebagai berikut :
“Maka sekarang hai orang Israel, apakah yang dimintakan daripadamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkanNya, mengasihi Dia, berbadah kepada TUHAN, Allahmu dengan segenap hati dan dengan segenap jiwamu, berpegang pada ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu” (Ul 10 : 12 – 13).
Ketetapan Musa atas perintah Allah kepada bangsa Israel disampaikan ketika umat Israel hampir tiba tanah Kanaan, tanah yang kaya yang dijanjikan Allah kepada umat yang dikasihin-Nya. Mengingat bahwa Musa tidak akan ikut memasuki tanah tersebut bersama-sama dengan mereka, maka ia menyampaikan ketetapan kepada mereka. Sebab bangsa itu akan memasuki sebuah negeri yang baru. Bangsa itu akan mengakhiri perjalanan panjang 40 tahun yang dalam pikiran mereka tanpa sebuah kepastian. Selesai sudah penderitaan mereka selama dalam perjalanan di padang gurun 40 tahun dalam kekurangan dan keterbatasan. Mereka akan memasuki dan menetap di negeri yang dijanjikan Allah. Mereka akan hidup dalam kecukupan. Mereka akan terbebas dari belenggu perbudakan di tanah Mesir. Mereka akan menghuni, mengelola, memiliki hak milik mereka sendiri. Satu hal yang PASTI adalah Janji Allah akan kekayaan yang akan mereka peroleh.
Musa memberikan beberapa tanda kecukupan yang akan dialami oleh bangsa Israel di tanah Kanaan:
Ulangan 6:10-11
-          Kota-kota besar yang baik yang tidak kau dirikan
-          Rumah-rumah penuh berisi barang baik yang tidak kau isi
-          Sumur-sumur yang tidak kau gali
-          Kebun-kebun anggur dan zaitun yang tidak kau tanami
Ulangan 8:12-13
-          Makanan yang melimpah
-          Rumah yang baik
-          Pertambahan ternak
-          Pertambahan emas dan perak
-          Segala yang ada padamu bertambah  banyak
Dengan kata lain bangsa itu akan menjadi kaya, dan mapan. Lalu bagaimana perasaan Musa dengan keadaan ini..??
1.      Tentu ia merasa bersyukur, akhirnya bangsa itu tiba di tempat yang dijanjikan Tuhan supaya ia memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Akhirnya apa yang dijanjikan Allah akan tergenapi. Selama 40 tahun ia harus menghadapi keraguan bangsa itu akan janji Allah.
2.      Ia merasa khawatir, kekayaan, kemapanan, kedudukan bukan hanya memiliki dampak positif, tetapi juga negatip. Mengingat bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk, bangsa yang keras kepala. 12 maka hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan Tuhan, yang telah  mebawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan.
Dalam kekhawatiran itu, Musa memperingatkan mereka agar tetap setia kepada Allah. Agar mereka tetap beribadah kepada-Nya. Musa merasa takut kalau bangsa Israel akan melupakan penyertaan Tuhan, bahwa Allah-lah yang memberikan semuanya itu kepada mereka. Ulangan 8 : 17 , maka janganlah kau katakan dalam hatimu, kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini.

Bersiap Menuju Alumni
Pra alumni diibaratkan seperti orang Israel yang akan bersiap menuju tanah Kanaan, mereka aka keluar dari perjuangan di “padang gurun” selama lebih kurang lima tahun. Mereka akan menemukan suasana baru yang terbebas dari kejaran tugas-tugas laporan, praktikum, jurnal, penelitian dll. Mereka akan menemukan sebuah kehidupan yang mandiri, peluang untuk memiliki segala sesuatu semakin terbuka karena uang yang dimiliki tidak lagi dibatasi oleh orang tua, melainkan hasil usaha sendiri (semoga sukses).
            Alumni  dengan segala kesibukan masing-masing tidak lepas dari berbagai macam persoalan yang datang dan pergi dalam hidup mereka. Mulai dari tuntutan pekerjaan, keluarga, kesendirian, penantian pasangan hidup, istri/suami, anak-anak dan berbagai hal yang membuat mereka sering terhimpit oleh kesibukan fisik maupun pikiran. Banyak orang yang mengatakan bahwa dunia alumni adalah dunia yang sesungguhnya, dunia dimana  anak-anak Tuhan benar-benar diuji imannya, berbeda dengan dunia siswa atau mahasiswa yang cenderung masih berada dalam lingkungan komunitas pelayanan dan pengawasan orang tua. Ketika menjadi alumni maka hidup kita bukan lagi hanya tentang diri kita sendiri. Satu hal yang sangat sering menyita perhatian adalah karir. Tuntutan dari atasan, target yang harus dicapai, ketika terhempit antara menjaga kekudusan hidup (integritas)  dengan keadaan yang tidak memberi kita ruang gerak untuk menyatakan kebenaran, atau bahkan kita yang akhirnya tergoda untuk jatuh dalam kecurangan-kecurangan di dunia kerja. Satu hal yang sering terjadi adalah bahwa tidak sedikit alumni menjadi orang-orang selalu dikejar-kejar oleh rasa bersalah karena ketidakmampuannya menjaga kekudusan hidup. Bahkan kesibukan dalam pekerjaan seringkali membuat alumni melupakan ibadah kepada Tuhannya.
            Firman Tuhan kali ini mengingatkan kita akan pentingnya tetap setia menjaga hubungan pribadi dengan Allah. Melalui bangsa Israel, kita diingatkan bahwa Allahlah yang telah memberikan kepada mereka tanah yang kaya akan susu dan madunya, tanah yang menyediakan setiap kebutuhan hidup mereka. Demikian juga dengan kita masing-masing, terlepas dari posisi kita dalam pekerjaan penting bagi kita untuk menyadari bahwa Allahlah yang telah menganugerahkan semua itu kepada kita. Dan sudah pasti haruslah kita kembalikan untuk kemuliaan-Nya.
            Allah mempercayakan pekerjaan untuk kita dengan tujuan untuk kemuliaan-Nya. Seringkali alumni yang dulunya memohon pada Tuhan untuk pekerjaan, namun akhirnya justru pekerjaan itu menjadi penghalang bagi dia untuk bersekutu dengan Tuhan yang memberikannya. Allah telah mendengar teriakan bangsa Israel yang berseru minta tolong di tanah Mesir karena penderitaan mereka dalam perbudakan, sehingga Allah menolong mereka. Saya rasa bagian ini sangat relepan dengan dunia alumni. Ketika kita baru lulus dan mengharapkan pekerjaan, dengan sungguh-sungguh kita memohon kepada Tuhan untuk pekerjaan, berjanji dalam hati akan tetap setia melayani dan tetap menjaga hubungan dengan Dia.
Mari kita evaluasi diri masing-masing, bagaimana sikap kita sebagai alumni saati ini kepada Allah ? Masihkah hubungan dengan Dia masih menjadi prioritas utama dalam hari-hari kita,?. Hal yang sering terjadi dalam kesibukan pekerjaan alumni adalah dengan mengganti waktu untuk Tuhan (doa dan pelayanan) dengan memberi lebih banyak perpuluhan. Apapun dan seberapa banyakpun kita berikan untuk Tuhan, tidak akan dapat menggantikan hubungan kita dengan-Nya. Atau mungkin kita berdoa juga, namun pikiran kita sibuk memikirkan berbagai kesibukan pribadi, tidak ada kesempatan untuk fokus menikmati Tuhan. Terlihat dari kesibukan kita dalam pelayanan mungkin juga kondisi rohani kita terlihat baik-baik saja, namun sesungguhnya kita mengerjakannya dengan kehampaan, kekeringan batin tanpa sebuah pertumbuhan pengenalan akan Allah.
            Berdoa, memuji dan melayani Tuhan bukanlah tuntutan yang Allah kepada umat-Nya untuk menambah kemuliaan-Nya. Doa-doa atau pelayanan kita tidak akan menambah kemuliaan Allah, sebaliknya jika kitapun tidak berdoa atau tidak melayani-Nya, tentulah tidak akan mengurangi kemuliaan-Nya, karena sesungguhnya Allah sudah mulia dengan atau tanpa kita. Kita berdoa bukanlah untuk kepentingan Allah, justru untuk kebaikan diri kita sendiri. Yang terjadi adalah banyak orang yang berdoa namun sesungguhnya mereka tidak mengerti mengapa mereka harus berdoa. Dan tidak sedikit yang menjadikan doa sebagai beban yang sulit untuk dikerjakan.
Apa yang ditakutkan Musa ialah terkikisnya kasih bangsa Israel secara perlahan-lahan kepada Allah, atau bahkan mereka akan melupakan Allah sama sekali. Mereka akan merasa bahwa dengan kekuatan mereka sendirilah sehingga mereka sampai di tanah Kanaan. Mereka akan lupa diri karena melimpahnya harta yang ada pada mereka.
Allah menghendaki agar umat-Nya tetap setia beribadah kepada-Nya sama seperti ketika mereka berada di padang gurun, sama seperti ketika mereka berseru kepada Allah untuk setiap kebutuhan mereka di perjalanan menuju Kanaan (Kel 15). Memuji Allah ketika menyaksikan karya-Nya dalam penyeberangan laut Merah. Memuji Dia seperti saat mereka akan menghadapi peperangan dan ketika memenangi peperangan tersebut, Allah yang telah menghalau orang Kanaan, Orang Amori, orang Het, orang Fersis, orang Hewi dan orang Yebus (Kel 33 : 2). Allah menginginkan agar umat pilhan-Nya tetap setia beribadah kepada-Nya ketika mereka tiba di tanah yang diberikan kepada orang Israel, tanah yang akan menyediakan setiap kebutuhan mereka. Perhatikan kata-kata yang bertulis miring, ketika saya merenungkan, mungkin kita sering juga menghadapi hal yang sama, berada dalam padang gurung, dalam perjalanan, penyeberangan, menghadapi berbagai masalah. Barangkali kita sedang berada dalam sebuah pergumulan panjang yang seolah tidak ada jalan keluarnya seperti padang gurun yang tidak berujung dan tidak tau dimana awalnya. Diperhadapkan dengan perjuangan yang panjang, ketika harus membuat pilihan sulit dalan sebuah perjalanan, ketika menghadapi tantangan pekerjaan. Akhirnya kita jenuh, dan rasanya tidak ada lagi gunanya berdoa.
Mari   evaluasi diri kita masing-masing, apakah pekerjaan yang kita kerjakan saat ini perlahan-lahan telah menggantikan posisi Tuhan dalam prioritas kita?? Apakah Doa masih sesuatu yang penting untuk kita kerjakan dalam hari-hari kita?? Apakah Tuhan masih menjadi pribadi yang campur tangan dalam hidup kita.?? Sesungguhnya Dialah yang memberikan pekerjaan, berkat-berkat bahkan seluruh kehidupan kita. Masihkah semua itu kita pusatkan hanya untuk kemuliaan-Nya.?? Masihkah kita mengakui bahwa doa memiliki kuasa yang dapat memberkati kita??

Teladan Daud (1 Tawarikh 17 : 16-27)
Mari kita melihat doa seorang tokoh Israel yang sangat terkenal yaitu Daud (1 Tawarikh 17 : 16-27). Doa yang sungguh-sungguh berpusat kepada Allah, doa yang menunjukkan pengenalan yang mendalam akan kasih Allah kepadanya. Doa yang penuh iman bahwa Allah akan menepati janji-janji-Nya. Daud bersyukur atas apa yang diperbuat Allah dalam hidupnya, dan untuk umat Israel. Kemuliaan, kemakmuran, kejayaan yang dinikmatinya dalam pemerintahan saat itu disadari hanyalah karena kemurahan Allah, dan dikembalikan untuk kemuliaan Allah. Daud adalah raja yang diurapi Allah, raja yang mengalami perjalanan panjang sebelum akhirnya menjadi penguasa. Seorang yang merendahkan diri dihadapan Allah dalam dan menyerahkan sepenuhnya hidup dan kekuasaannya untuk kemuliaan Tuhan. Jika kita melihat pujian-pujian yang ditulisnya dalam kitab Mazmur, jelas kita melihat bagaiamana pengenalannya akan Allah dan dirinya sendiri. Daud adalah raja yang bergantung penuh kepada Allah, dan menyerahkan diri penuh pada kehendak Tuhan. Sekalipun dia telah menduduki kekuasaan sebagai raja, namun ia tidak lupa akan Allah yang memberikan semua itu, bagaimana dengan kita.??.

Doa bukanlah
-          Mengemis dengan keengganan kepada Tuhan
Banyak doa yang terlihat seperti orang yang mengemis dengan keengganan kepada Tuhan untuk bertindak. Mereka tahu Tuhan dapat bekerja, tapi ragu bahwa Dia akan bekerja karena mereka merasa diri tidak layak. Allah telah menjadikan kita sebagai anak-Nya (Yoh 1:12)
-          Memberi tahu Tuhan masalah kita
Banyak orang Kristen yang berdoa kepada Tuhan ketika ada dalam pergumulan. Berdoa hanya ketika ada masalah, doa terasa sangat khusuk disampaikan kepada Tuhan, namun ketika keadaan baik-baik saja, Tuhan tidak diingat.
-          Memperlihatkan kepada orang lain hubungan kita dengan Tuhan
Beberapa doa nampak seperti mereka berdoa untuk memperlihatkan kepada orang lain betapa dalamnya hubungan orang itu dengan Tuhan. Berdoa dengan sikap, nada suara, gaya bahasa yang seolah olah menunjukkan betapa dekatnya orang itu dengan Tuhan. Daud masuk ke dalam untuk berdoa kepada Tuhan (1Taw 17:16)

Doa adalah
-          Berbicara kepada Tuhan
Doa adalah bentuk paling sederhana dalam kehidupan Kekristenan. Berbicara kepada Tuhan. Dapat berupa pemercaya dengan iman seperti anak kecil membisikkan nama Bapa dari lubuk hati mereka.
-          Meminta atau Membuat Permintaan
Doa ialah meminta Tuhan untuk berkat yang diperlukan, atau mengekspresikan kerinduan kita. Meminta tidak sama dengan menuntut, kita meminta sebagai anak kepada Bapa.
-          Berdoa Syafaat
Doa berarti bersyafaat bagi orang lain. Daud tidak hanya berdoa bagi dirinya sendiri, tetapi juga untuk keturunannya dan seluruh bangsa Israel. (Mazmur 85)
-          Tindakan Penyembahan
Daud dalam doa-doanya menunjukkan pengormatan yang mendalam  kepada Allah. Memuliakan Allah dalam doa-doanya atas perbuatan-perbuatan Allah (Mazmur 95)
-          Bersekutu dengan Tuhan
Daud  adalah tokoh doa dari keturunan Israel yang patut diteladani. Daud berdoa kepada Tuhan bukan hanya meminta atau memohon berkat, tetapi senantiasa menjaga kedekatan dengan Allah. (Mazmur 63, 84)

-          Daftar yang Tidak Ada Putusnya
Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak pernah kehabisan variasi. Cara kita berdoa pun harus tak berhenti. Mazmur adalah buku yang mengagumkan tentang doa dan berbicara tentang doa seperti berseru kepada Tuhan, memanggil Tuhan, menantikan Tuhan, dan mengangkat tangan kepada Tuhan. Ada doa yang bersepakat, iman, kelepasan, peperangan, otoritas, dan banyak lagi. Setiap doa yang jujur berkenan di hadapanNya.
Allah menghendaki kita untuk setia berdoa kepada-Nya dalam segala keadaan kita, dalam susah, senang, kelelahan, putus asa, perjalanan, mau tidur, bangun pagi, berangkat kerja. Seperti harapan Allah kepada umat Israel, seperti Daud yang setia melakukannya. Tetaplah berdoa.

ayo senyum ^^

Keakraban Koordinasi 2012