H.O.R.A.S

Selamat Datang buat anda yang mengunjungi blog ini, Segala informasi dalam blog ini merupakan bantuan dari buku-buku, majalah, dan lain-lain
Semoga blog ini bermanfaat bagi anda ^^.


Selasa, 15 November 2011

SALAH SATU METODE TATA LINGKUNGAN


PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI
PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Sungai termasuk salah satu wilayah keairan. Dari sudut pandang ekologi, secara umum wilayah sungai juga dapat dimasukkan ke dalam bagian wilayah keairan, baik wilayah keairan diam (tidak mengalir) dan wilayah keairan dinamis (mengalir). Banyak sekali permasalahan banjir di Indonesia yang perlu dikaji secara mendalam. Ada lima faktor penting penyebab banjir di Indonesia yaitu : faktor hujan, faktor hancurnya retensi Daerah Aliran Sungai (DAS), faktor kesalahan perencanaan pembangunan alur sungai, faktor pendangkalan sungai dan faktor kesalahan tata wilayah dan pembangunan sarana-prasarana.
1. Faktor Hujan
            Hujan bukanlah penyebab utama banjir dan tidak selamanya hujan lebat akan menimbulkan  banjir. Hujan sejak jutaan tahun yang lalu berinteraksi dengan faktor ekologi, geologi dan vulkanik mengukir permukaan bumi menghasilkan lembah, ngarai, danau, cekungan serta sungai dan bantarannya. Penanggulangan banjir dari faktor hujan ini sangat sulit dan bahkan mustahil karena hujan adalah faktor ekstern yang digerakkan oleh iklim makro/global. Usaha yang masih bisa dilakukan adalah menjauhkan pemukiman, industri dan pusat pertumbuhan lainnya dari daerah banjir yang sudah secara historis dipetakan oleh hujan.

2. Faktor DAS
            Daerah Aliran Sungai adalah wilayah tangkapan air hujan yang akan mengalir ke sungai yang bersangkutan. Perubahan tata guna lahan, misalnya dari hutan dijadikan perumahan, perkebunan atau lapangan golf akan menyebabkan retensi DAS ini berkurang secara drastis. Retensi DAS dimaksudkan sebagai kemampuan DAS untuk menahan air di bagian hulu. Retensi DAS dapat ditingkatkan dengan cara : program penghijauan yang menyeluruh baik di perkotaan, pedesaan atau kawasan lain, mengaktifkan reservoir-reservoir alamiah, pembuatan resapan-resapan air hujan alamiahdan pengurangan atau menghindari sejauh mungkin pembuatan lapisan keras permukaan tanah yang dapat berakibat sulitnya air hujan meresap ke tanah.

3. Faktor kesalahan pembangunan alur sungai
            Di bagian hilir akan menanggung volume aliran air yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Jika tampang sungai di tempat ini tidak mencukupi maka akan terjadi peluapan ke bagian bantaran. Jika bantaran sungai tidak cukup, bahkan mungkin telah penuh dengan rumah-rumah penduduk, maka akan terjadi penggelembungan atau pelebaran aliran. Oleh karena itu, banjir juga harus dibagi secara integral sepanjang sungai menjadi banjir kecil-kecil guna menghindari banjir besar yang distruktif di suatu tempat tertentu. Implikasinya dalam penanggulangan banjir, justru sungai alamiah yang bermeander, bervegetasi lebat dan memiliki retensi alur tinggi ini, perlu dijaga kelestariannya karena dengan itu retensi terhadap banjirnya sangat tinggi.

4. Faktor Pendangkalan
            Pendangkalan sungai berarti terjadinya pengecilan tampang sungai hingga sungai tidak mampu mengalirkan air yang melewatinya dan akhirnya meluap (banjir). Pendangkalan sungai dapat diakibatkan oleh proses pengendapan (sedimentasi) terus menerus (terutama di bagian hilir sungai). Proses sedimentasi di bagian hilir ini dapat disebabkan karena erosi yang intensif di bagian hulu. Pendangkalan sungai juga dapat diakibatkan oleh akumulasi endapan sampah yang dibuang masyarakat ke sungai. Berbagai penelitian di Indonesia mencatat bahwa setiap sungai yang melintasi kawasan pemukiman disamping kualitasnya sangat buruk juga kandungan sampahnya tinggi. Oleh karena itu, sangat perlu diadakan sosialisasi peraturan pelarangan dan sangsi pembuangan sampah di sungai bahkan jika perlu dibentuk polisi sungai yang bertugas menjaga lingkungan sungai secara professional.

5. Faktor Tata Wilayah dan Pembangunan Sarana-Prasarana
            Kesalahan fatal yang sering dijumpai dalam perencanaan tata wilayah adalah penetapan kawasan pemukiman atau pusat perkembangan justru di daerah-daerah rawan banjir. Oleh karena itu, diperlukan semakin banyak orang yang ahli atau tahu mengenai banjir baik yang berskala mikro maupun makro yang bisa merencanakan pembangunan tanpa menimbulkan banjir di kawasan yang bersangkutan dan kawasan lainnya.
            Kelima faktor diatas secara integral perlu mendapatkan perhatian guna menghindari dan menanggulangi banjir secara integral.

Tujuan
Dalam melakukan tindakan rekayasa terhadap sebuah sungai agar kita dapat mengambil manfaat darinya, kita harus mengetahui sifat-sifat alaminya dan menyesuaikan tindakan-tindakan kita secara bersahabat kepada sifat-sifat itu agar kesetimbangan alam tidak akan terganggu.

ISI
           
            Sungai merupakan refleksi dari daerah yang dilaluinya. Factor-faktor seperti kualitas air (unsur kimia dan temperatur), habitat yang ada (flora dan fauna), kondisi hidraulik sungai (debit, muka air, frekuensi aliran, dan lain-lain) dan morfologi sungai dapat dipakai sebagai indikator untuk menganalisis kondisi daerah aliran sungai tersebut.  Permasalahan
  1. Pemukiman penduduk di sepanjang bantaran sungai
  2. Sepanjang bantaran sungai dipenuhi oleh bangunan runah penduduk sampai meluas ke badan sungai. Sehingga tidak ada space yang tersisa yang dapat dimanfaatkan sebagai lahan konservasi bantaran sungai
  3. rumah penduduk terbangun dalam ukuran kecil-kecil dengan jenis bangunan tidak permanen dan tidak aman dari banjir
  4. kualitas lingkungan yang buruk terutama kualitas ruang dalam berupa kelembapan udara yang tinggi, kurangnya pencahayaan alami, kadar gizi jauh dari menu seimbang atau empat sehat lima sempurna, kurangnya pertukaran udara atau ventilasi alami dan kadar zat karbon (CO2) yang tinggi karena keberadaan dapur berada dalam satu ruangan hunian yang sempit. Apalagi kalau ditambah adanya perokok di ruangan yang sempit dimaksud
  5. pada lokasi dekat sungai tidak terdapat dedaunan yang menghasilkan oksigen (O2) yang dibutuhkan untuk proses asimillasi
  6. penyakit yang sering muncul pada pemukiman adalah mual, perut kembung, sakit kepala, maag, meriang, batuk, telinga rasa budek kebanyakan makan obat (TBC), sakit tenggorokan, pilek, sakit telinga (kebisingan) dan diare.
  7. rata-rata yang tinggal di sekitar sungai memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, pemulung barang bekas, pembantu rumag tangga, dan pengemis
  8. Adanya peluang untuk semakin cepat membuang sampah, sebenarnya mereka tahu bahwa itu (sampah) akan membuat paret atau sungai tersebut macet (tersumbat) tetapi mereka selalu berpikir bahwa itu masih sedikit
Tapi kalau kita bayangkan kalau semua orang yang tinggal dekat sungai mengatakan kalau itu masih sedikit maka tidak bias kita bayangkan maka rata2 orang yang tinggal disungai bakalan membuang sampahnya (karma beranggapan hanya dia saja yang buang sampah di situ padahal tidak lo..)
  1. meskipun bantaran sungai bukan diperuntukkan sebagai lahan pemukiman penduduk, namun bukan berarti penduduk harus digusur secara tidak manusiawi. Penduduk yang tinggal pada bantaran sungai adalah warga Negara yang dilindungi Undang-Undang keberadaannya.

  1. Pengelolaan Banjir dan Kekeringan
Pengelolaan bencana banjir terpadu dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang mempromosikan koordinasi pengembangan dan pengelolaan banjir dan pengelolaan aspek lainnya yang terkait langsung maupun tidak langsung dalam rangka tujuan untuk mengoptimalkan resultan kepentingan ekonomi dan kesejahteraan sosial khususnya  dan kenyamanan dan keamanan terhadap kejadian bencana banjir dalam sikap yang cocok atau tepat tanpa mengganggu kestabilan dari ekosistem-ekosistem penting. Dalam pengelolaan banjir harus memperhatikan domain pengairan, kehutanan dan tata ruang provinsi dan kabupaten dalam pengelolaan tanah dan air, peran serta masyarakat.
Umumnya untuk mengurangi banjir atau genangan yang terjadi dilakukan perbaikan penampang sungai. Perbaikan sungai yang dilakukan umumnya dengan melebarkan sungai atau memperdalam (pengerukan) sungai. Pelebaran sungai tergantung dari tata guna lahan di sekitarnya. Apabila sudah dipadati penduduk maka persoalan menonjol yang terjadi adalah pembebasan tanah. Semakin padat penduduk dan semakin strategis lokasinya, biaya pembebasan akan semakin mahal.

  1. Siklus Hidrologi
Daur hidrologi diberi batasan sebagai suksesi tahapan-tahapan yang dilalui air dari atmosfer ke bumi dan kembali lagi ke atmosfer, evaporasi dari tanah atau laut maupun air pedalaman, kondensasi untuk membentuk awan, presipitasi, akumulasi di dalam tanah maupun dalam tubuh air, dan evaporasi kembali. Daur ini berguna untuk memberikan konsep pengantar mengenai bagaimana air bersirkulasi secara umum dan proses-proses yang terlibat dalam sirkulasi ini.
Presipitasi dalam segala bentuk (salju, hujan, batu es, hujan dan lain-lain), jatuh ke atas vegetasi, batuan gundul, permukaan tanah, permukaan air dan saluran-saluran sungai (presipitasi saluran). Air yang jatuh pada vegetasi mungkin diintersepsi (yang kemudian berevaporasi atau mencapai permukaan tanah dengan menetes saja maupun sebagai aliran batang) selama suatu waktu atau secara langsung jatuh pada tanah (through fall = air tembus) khususnya pada kasus hujan dengan intensitas yang tinggi dan lama. Sebagian presipitasi berevaporasi selama perjalanannya dari atmosfer dan sebagian pada permukaan tanah. Sebagian dari presipitasi yang membasahi permukaan tanah berinfiltrasi ke dalam tanah dan bergerak menurun sebagai perkolasi ke dalam cekungan air tanah yang jenuh di bawah muka air tanah. Air ini secara perlahan berpindah melalui akifer ke saluran-saluran sungai. Beberapa air yang berinfilttasi  bergerak menuju dasar sungai tanpa mencapai muka air tanah sebagai aliran bawah permukaan. Air yang berinfiltrasi juga memberikan kehidupan pada vegetasi sebagai lengas tanah. Beberapa dari lengas ini diambil oleh vegetasi dan transpirasi berlangsung dari stomata daun.
Setelah bagian presipitasi yang pertama yang membasahi permukaan tanah dan berinfiltrasi, suatu selaput air yang tipis dibentuk pada permukaan tanah disebut dengan detensi permukaan (lapis air). Selanjutnya, detensi permukaan menjadi lebih dalam dan aliran air mulai dalam bentuk laminar. Dengan bertambahnya kecepatan aliran, aliran air menjadi turbulen (deras). Air yang mengalir ini disebut limpasan permukaan. Selama perjalanannya menuju dasar sungai, bagian dari limpasan permukaan disinpan pada depresi permukaan dan disebut cadangan depresi. Akhirnya, limpasan permukaan mencapai saluran sungai dan menambah debit sungai.
Air pada sungai mungkin berevaporasi secara langsung ke atmosfer atau mengalir kembali ke dalam laut dan selanjutnya berevaporasi. Kemudian, air ini nampak kembali pada permukaan bumi sebagai presipitasi.

  1. Sistem Drainase
Air hujan yang jatuh di suatu daerah perlu dialirkan atau dibuang agar tidak terjadi genangan atau banjir. Caranya yaitu dengan pembuatan saluran yang dapat menampung air hujan yang mengalir di permukaan tanah tersebut. Sistem saluran diatas selanjutnya dialirkan ke sistem yang lebih besar. Sistem yang paling kecil juga dihubungkan dengan saluran rumah tangga, sistem bangunan infrastruktur lainnya, sehingga apabila cukup banyak limbah cair yang berada dalam saluran tersebut perlu diolah (treatment). Seluruh proses ini disebut dengan sistem drainase.
Urutan aliran drainase adalah sebagai berikut :
-          Hujan turun ke kawasan perumahan (pemukiman), kawasan kantor, kawasan industri dan kawasan pabrik dan tempat atau lokasi lainnya. Lalu air hujan masuk ke sistem saluran drainase kuarter kawasan.
-          Dari sistem drainase kuarter air mengalir ke saluran drainase tersier atau ada yang terkumpul dulu di polder baru ke drainase tersier.
-          Air kotor bisa dikumpulkan di polder lebih dahulu dan lalu dibersihkan (treatment) di treatment waste water terutama untuk kawasan yang membuang limbah cair (misal pabrik) kemudian dialirkan ke kolam air bersih dan akhirnya kelebihan air baru didrainase ke saluran pembuang.
-          Dari sistem saluran drainase tersier aliran dialirkan ke saluran drainase sekunder.
-          Semua aliran dari saluran drainase sekunder dialirkan ke saluran drainase primer dan akhirnya dialirkan ke sungai. Bila sudah di treatment air yang masuk ke sungai sudah (relatif) bersih.

  1. Konsep Eko-Drainase
UU No.7 tahun 2004 menyebutkan untuk menghadapi ketidakseimbangan antara ketersediaan air yang cenderung menurun dan kebutuhan air yang semakin meningkat, sumber daya air wajib dikelola dengan memperhatikan fungsi sosial, lingkungan hidup dan ekonomi secara selaras.
UU No.26 tahun 2007 menyebutkan bahwa penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional dengan :
-          Terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan
-          Terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia
-          Terwujudnya perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang.






DAFTAR PUSTAKA
Salmah, S. 2010. Penataan Bantaran Sungai Ditinjau dari Aspek Lingkungan. Trans Info Media. Jakarta.

Maryono, A. 2005. Eko-Hidraulik Pembangunan Sungai. Universitas Gadjah Mada Press. Yogyakarta.

Maryono, A. 2005. Menangani Banjir, Kekeringan, dan Lingkungan. Universitas Gadjah Mada Press. Yogyakarta.

Seuhan, E. 1990. Dasar-Dasar Hidrologi. Universitas Gadjah Mada Press. Yogyakarta.

Kodoatie, R. 1996. Hidrogeologi. Penerbit ANDI. Yogyakarta.

Kusumayudha, S. 2005. Hidrologi Karst dan Geometri Fraktal di Gunung Sewu. Adicita Karya Nusa. Yogyakarta.

Leopold, L. 1974. Water A Primer. Library Of Congress cataloging in Publication Data. San Fransisco.

Kodoatie, R dan Roestan, S. 2010. Tata Ruang Air. Penerbit ANDI. Yogyakarta

Sosrodarsono, S dan Takeda, K. 1993. Hidrologi Untuk Pengairan. PT Pradnya Paramita. Jakarta.

Sriharto. 1993. Analisis Hidrologi. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Kemiringan Lahan


KLASIFIKASI KEMIRINGAN LAPANGAN

ABSTRACT
In general, the map is presented in two-dimensional point of view, where there are contour lines seen from above the earth's surface. Serving contour map provides a description of the height of the real earth's surface. Purpose of determining the map processing class field slope, the forest area, percentage of slope fields, and functions, the formula ΔH = (a / b. Xi) + (I xi) and Y = (ΔH / M) x 1 / X x 100%. Production forest (HP) <125, Production Forest Protection (HPL) from 125 to 175, Protection Forest (HL) ≥ 175, that the production of maps of forest areas in green and yellow area of 1037 Ha, Forest Production and Protection blue pink area of 1242 , 175 Ha, and obtained Protected Forest area of 9 ha and forest types that dominate this region of East Kalimantan is the Production Forest Protection (HPL).

Keywords: map, contour, slope.


ABSTRAK
Pada umumnya peta disajikan dalam sudut pandang dua dimensi, dimana terdapat garis kontur dilihat dari atas permukaan bumi. Penyajian peta kontur memberikan gambaran mengenai ketinggian dari permukaan bumi yang sebenarnya. Tujuan yakni menentukan kelas kemiringan lapangan, luas areal hutan , persentase kemiringan lapangan, dan fungsi kawasan lapangan, dengan rumus ΔH=(a/b . xi) + (I x i) dan Y=(ΔH/M) x 1/X x 100%. Hutan Produksi (HP)  <125, Hutan Produksi Lindung (HPL) 125 – 175, Hutan Lindung (HL) ≥175, bahwa pada peta areal hutan produksi warna hijau dan kuning seluas 1037 Ha, Hutan Produksi Lindung warna biru dan merah muda seluas 1.242, 175 Ha, dan Hutan Lindung seluas 9 Ha dan jenis hutan yang mendominasi wilayah Kalimantan Timur ini adalah Hutan Produksi Lindung (HPL).

Kata kunci: peta, kontur, kelerengan. 

PENDAHULUAN

Untuk pemetaan diperlukan adanya kerangka dasar. Kerangka dasar   adalah sejumlah titik yang diketahui koordinatnya dalam sistem tertentu  yang mempunyai fungsi sebagai pengikat dan pengontrol ukuran baru.     Mengingat fungsinya, titik - titik kerangka dasar harus ditempatkan   menyebar merata di seluruh daerah yang akan dipetakan dengan  kerapatan tertentu. Mengingat pula pengukuran untuk pemetaan   memerlukan waktu yang cukup lama, maka titik - titik kerangka dasar  harus ditanam cukup kuat dan terbuat dari bahan yang tahan lama.  Dalam pengukuran untuk pembuatan peta ada dua jenis kerangka   dasar yaitu kerangka dasar horizontal (X,Y) dan kerangka dasar  vertikal (Z). Pada praktiknya titik - titik kerangka dasar baik horizontal   maupun vertikal dijadikan satu titik (Muhamadi, 2004).
Kontur adalah garis hubung antara titik - titik yang mempunyai     ketinggian yang sama. Garis yang dimaksud disini adalah garis khayal yang dibuat untuk menghubungkan titik - titik yang mempunyai  ketinggian yang sama. Walaupun garis tersebut mengubungkan antara  dua titik, namum bentuk dan polanya tidak merupakan garis   patah - patah. Garis - garis tersebut dihaluskan (smoothing) untuk membuat kontur menjadi “luwes” atau tidak kaku. Hal ini diperbolehkan pada proses kartografi (Yuwono, 2004).
Dalam melakukan pengukuran suatu daerah ialah menentukan unsur - unsur, titik - titik atau bangunan yang ada didaerah itu dalam jumlah yang cukup sehingga didaerah itu dengan sisinya dapat  dibuat suatu skala yang telah ditentukan terlebih dahulu. Peta berfungsi dalam menempatkan sesuatu atau fenomena – fenomena  geografis kedalam batas pandangan kita. Dimana peta tersebut dapat dikatakan sebagai gambaran unsur - unsur atau suaturepresentasi dari ketampakan abstrak yang dipilih dari permukaan bumi   Hasil ini sangat berkaitan dengan permukaan bumi atau benda - benda angkasa (Harjadi, dkk, 2007).
Pada umumnya peta adalah sarana guna memperoleh gambaran data ilmiah yang terdapat di atas permukaan bumi dengan cara menggambarkan berbagai tanda - tanda dan keterangan - keterangan, sehinga mudah dibaca dan dimengerti. Jika peta adalah hasil pengukuran dan   penyelidikan yang dilaksanakan baik langsung maupun tidak langsung mengenai hal - hal yang bersangkutan dengan permukaan bumi dan didasarkan pada landasan ilmiah. Peta dapat memberikan  gambaran mengenai kondisi atmosfir, mengenai kondisi permukaan tanah, mengenai keadaan lautan, mengenai bahan yang membentuk lapisan tanah dan       lain – lain (Rahmad, 2002).
Adapun peta - peta yang memberikan gambaran mengnai hal – hal   tersebut di atas, berturut - turut disebut peta meteorologi, peta permukaan tanah, peta hidrografi, peta geologi dan lain - lain yang kesemuanya adalah peta dalam arti yang luas. Garis kontur adalah garis yang menghubungkan  titik yang mempunyai ketinggian yang sama. Beda kontur dalam    penggambaran tergantung dari skala yang telah ditentukan. Dari  bilangan skala tersebut selanjutnya dapat digamabar atau dibuat peta. Penggambaran garis kontur kontur hanya boleh dilakukan dengan   melakukan interpolasi antara dua buah titik detail saja. Pemulihan nilai     ketinggian garis kontur untuk penggambaran diambil bertahap untuk disesuaikan dengan kelipatan beda kontur sesuai interval kontur, karena interval kontur merupakan jarak antara dua kontur yang berbeda  (Martono, dkk, 2006).
Garis kontur adalah sebuah garis yang digambarkan pada denah yang menghubungkan semua titik yang ketinggiannya sama, di atas atau di bawah datum tertentu. Konsep garis kontur tersebut dapat dengan mudah dipahami  jika kita membayangkan sejumlah kolam. Dengan mempelajari cara    pembuatan kontur kita dapat mengetahui keadaaan wilayah hutan yang  ingin digambarkan atau dipetakan pada ketinggian yang sama sehingga dapat mengetahui tinggi rendahnya suatu wilayah (Sarsito, 2001).
Kontur dapat digambarkan sebagai proyeksi garis perpotongan bidang mendatar dengan permukaan tanah dalam ukuran dan bentuk  yang lebih kecil. Pada pembuatan peta kontur ini , juga diperlukan   interval kontur yaitu jarak tegak antara dua kontur yang berdekatan dan berbanding terbalik dengan skala. Makin besar skala,maka   semakin kecil interval kontur. Untuk penggambaran di peta harus  dikonversi sesuai dengan skala petanya, dan memperhatikan titik detail sebagai titik ekstremnya (Siti, dkk, 2007).
Menurut Sujatmoko (2002) di dalam pembuatan kontur, terdapat beberapa sifat – sifat garis kontur , yaitu:
Ø  Jarak horizontal 2 buah garis kontur akan semakin rapat dengan kontur interval.
Ø  Pada  tanah dengan lereng seragam maka garis kontur akan semakin sejajar dan berjarak satu sama lain.
Ø  Garis – garis kontur tidak akan berpotongan satu sama lain kecuali dalam keadaan khusus.
Ø   Pada permukaan datar atau rata garis kontr akan merupakan suatu garis lurus, berjarak sama dan sejajar satu sama lain.
Ø  Suatu garis kontur tidak akan terletak pada dua buah garis kontur yang lebih tinggi atau lebih rendah evaluasinya.
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui cara menentukan kelas kemiringan lapangan pada peta, untuk menentukan luas areal hutan berdasarkan fungsi kawasan hutan, untuk menentukan persentase kemiringan lapangan, dan untuk menentukan fungsi kawasan lapangan. 


BAHAN DAN METODE
               Alat dan bahan yang digunakan yaitu peta kontur  dengan skala 1:10.000, buku data, penggaris, alat tulis, pena warna   (hitam, biru, merah), dot grid, kalkulator dan pensil warna.
Dengan prosedur yakni ditentukan titik pasti dapat berupa percabangan, sungai, gunung, dan jembatan, ditentukan koordinat P (0,0) pada titik pasti kemudian ditarik garis dan membentuk petak dengan ukuran 3 x 3, kemudian ditarik 2 garis diagonal pada masing - masing petak, diberi penomoran dan koordinat pada masing - masing petak sesuai dengan arah utara mata angin (dari sudut kiri ke kanan mengikuti arah jalur ular), ditentukan titik  diagonal pada setiap petak, ditarik garis tegak lurus terhadap garis  kontur dari titik diagonal ke garis kontur paling jauh dengan rumus   ΔH=(a/b . xi) + (I x i), ditentukan beda tinggi tempat garis kontur dengan  syarat garis konturnya terbanyak, terapat, dan terjauh, diukur jarak  antar garis kontur dalam satuan cm, dihitung kemiringan lapangannya  dengan cara Y=(ΔH/M) x 1/X x 100%, ditentukan kelas kemiringan lapangan dan warna kelerengan, dimasukkan ke buku data dalam bentuk  tabel, diwarnai  masing – masing petak pada peta, dihitung luas masing – masing kelas kemiringan berdasarkan warna, kemudian dimasukkan ke dalam tabel.

Dengan menggunakan peta, terdapat beberapa data yang dikerjakan melalui milimeter tranparansi yang disebut juga dengan grid. Dot grid ini digunakan untuk menghitung luas petak yang tidak penuh. Dalam selembar peta sering terlihat dibubuhi semacam jaringan kotak - kotak atau grid sistem. Tujuan dot grid  ini untuk memudahkan  penunjukan lembar peta dan untuk memudahkan dalam peletakan suatu titik. Melalui peta kontur yang kita analisis, kita juga mencari luas tiap - tiap petak yang kita buat. Agar dapat menentukan luas wilayah tersebut kita harus terlebih dahulu melihat skala yang dipakai pada peta tersebut. 
Dari hasil percobaan yang dilakukan, diperoleh data bahwa peta tersebut memiliki berbagai macam warna dan bentuk relief atau kemiringan yang berbeda. Dot grid digunakan untuk menghitung luas petak yang tidak penuh. Sesuai dengan skala pada peta yakni 1:10.000, maka didapatkan dalam penghitungan kotak penuh penanda luas wilayah dikali dengan 9 Ha, dan kotak tidak penuh dikali dengan 0,01 Ha. Dalam pengerjaannya, dibutuhkan ketelitian dalam mengukur petak 3 cm x 3 cm serta penentuan komponen X dengan sudut 90° dari diagonal yang telah dibuat dalam kotak, penentuan garis X bisa berbeda tergantung jenis kerapatan kontur masing – masing areal petak kontur yang telah dibuat. 
Dengan mempelajari cara pembuatan kontur kita dapat mengetahui keadaan wilayah hutan yang ingin digambarkan atau dipetakan pada ketinggian yang sama sehingga dapat mengetahui tinggi rendahnya suatu wilayah. Kerapatan kontur menunjukkan bahwa semakin curam suatu tempat dan sebaliknya semakin tinggi suatu tempat maka gambar kontur semakin jarang. Ketinggian yang samalah yang dihubungkan sehingga titik – titik tadi digabung dan membentuk garis yang berseni dan memaparkan tentang perbedaan tinggi dan besar kelerengan pada suatu areal. Jenis kelerengan Datar, warna (Hijau) dengan luas 140,875 Ha, kelerengan Landai, warna  (Kuning) dengan luas 896,125 Ha, jenis lereng Sedang, warna (Biru) dengan luas 1.072,8 Ha, jenis lereng Curam, warna (Merah muda) dengan luas 168,375 Ha, jenis lereng Sangat Curam, warna (Merah) dengan luas 9 Ha. Hasil perhitungan dari peta didapat total luas sebesar 2.288,175 Ha (99,99%). 
Pada  tanah dengan lereng seragam maka garis kontur akan semakin sejajar dan berjarak satu sama lain. Pada permukaan datar atau rata, garis kontur akan merupakan suatu garis lurus, berjarak sama dan sejajar satu sama lain. Suatu garis kontur tidak akan terletak pada dua buah garis kontur yang lebih tinggi atau lebih rendah evaluasinya. Kemiringan lahan yang terdapat pada data membuktikan bahwa peta dengan petak ukuran 3 cm X 3 cm berjumlah 303 petak, didominasi oleh jenis lereng berwarna biru (Sedang) dan kuning (Landai), yakni berjumlah 1.072,8 Ha atau sebesar 46,88 % dan 896,125 Ha atau sebesar 39,16% .
Didapat pula melalui ketentuan atau kriteria TPTI, Hutan Produksi (HP)  <125, Hutan Produksi Lindung (HPL) 125 – 175, Hutan Lindung (HL)  ≥175, bahwa pada peta areal hutan produksi warna hijau dan kuning seluas 1037 Ha, Hutan Produksi Lindung warna biru dan merah muda seluas 1.242, 175 Ha, dan Hutan Lindung didapat dalam peta dengan skala 1:10.000 seluas 9 Ha. Semakin besar kemiringan dari suatu daerah dalam peta tersebut maka semakin curam sifatnya. Dari data didapat bahwa jenis hutan yang mendominasi wilayah Kalimantan Timur ini adalah Hutan Produksi Lindung (HPL) yakni dengan jenis lereng Landai dan Sedang atau dalam peta ditunjukkan dengan warna Kuning dan Biru, masing – masing sebesar 1037 Ha dan 168,375 Ha, atau total 1.242, 175 Ha.


KESIMPULAN 
Kelas lereng Sedang (diberi warna biru) merupakan tipe kelas yang paling mendominasi (kebanyakan tipe kelas lereng pada peta adalah tipe sedang), yaitu sebesar 260,54 Ha atau 36,99 %. Jenis kelerengan Datar, warna (Hijau) dengan luas 140,875 Ha, kelerengan Landai, warna  (Kuning) dengan luas 896,125 Ha, jenis lereng Sedang, warna (Biru) dengan luas 1.072,8 Ha, jenis lereng Curam, warna (Merah muda) dengan luas 168,375 Ha, jenis lereng Sangat Curam, warna (Merah) dengan luas 9 Ha. Hasil perhitungan dari peta didapat total luas sebesar 2.288,175 Ha (99,99%). Dari data didapat bahwa jenis hutan yang mendominasi wilayah Kalimantan Timur ini adalah Hutan Produksi Lindung (HPL) yakni dengan jenis lereng Landai dan Sedang atau dalam peta ditunjukkan dengan warna Kuning dan Biru, masing – masing sebesar 1037 Ha dan 168,375 Ha, atau total 1.242, 175 Ha. Diharapkan dalam pengerjaan peta dan tahap pengukuran serta perhitungan lebih teliti agar tidak terjadi kesalahan pewarnaan dan penentuan jenis lereng serta cakupan jenis dari fungsi kawasan hutan.


DAFTAR PUSTAKA
Harjadi, Prakosa, D, dan Wuryanta. 2007. Analisis  Karakteristik  Kondisi  Fisik Lahan DAS dengan PJ dan SIG di DAS Benain - Noelmina. 2007. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 7 No.2 thn 2007. Solo.
Martono, D, Surlan, dan Sukmana. Aplikasi Data Penginderaan Jauh untuk Mendukung  Perencanaan Tata Ruang di Indonesia. 2006. Jurnal Inovasi. Vol.7/XVIII/Juni 2006. Jakarta.
Muhamadi, M. 2004. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh November. Jurnal Teknik Geodesi FTSP – ITS. Vol. XI No. 3 thn 2004. Surabaya. 
Rahmad. 2002. Inventarisasi Sumber Daya Lahan Kabupaten Pelalawan dengan Menggunakan Citra Satelit. Jurnal Teknik Kimia. UNRI : Riau.    
Sarsito, D. 2001. Studi Deformasi secara Geometrik: Pengukuran, Pengolahan Data dan Analisis. Jurnal Surveying dan Geodesi. Vol. XI, no.1, tahun 2001. Bandung.
Siti, Saido, A, dan  Dhianarto. 2007. Kajian Genangan Banjir Saluran Drainase dengan Bantuan  Sistem Informasi Geografi (Studi Kasus: Kali Jenes, Surakarta). Jurusan Teknik Sipil FT UNS. Surakarta.
 
Sujatmoko, B. 2002. Kalibrasi Model Matematis 2D Horizontal Feswms dalam Kasus Perubahan Pola Aliran Akibat adanya Krib di Belokan. Jurnal Teknik Sipil. Vol. 3, no. 1, tahun 2002. Riau.     
     
Yuwono. 2004. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh November. Jurnal Teknik Geodesi FTSP – ITS. Vol. XIV No. 3 thn 2004. Surabaya. 
Lapangan kehutanan

Diagram Profil pada Hutan


TEKNIK PEMBUATAN DIAGRAM PROFIL

   PENDAHULUAN

Latar Belakang
            Sebagian besar hutan alam di Indonesia termasuk dalam hutan tropika  basah. Banyak para ahli yang mendiskripsi hutan tropika basah sebagai  ekosistem spesifik, yang hanya dapat berdiri mantap dengan keterkaitan antara  komponen penyusunnya sebagai kesatuan yang utuh. Keterkaitan antara  komponen penyusun ini memungkinkan bentuk struktur hutan tertentu yang  dapat memberikan fungsi tertentu pula seperti stabilitas ekonomi, produktivitas  biologis yang tinggi, siklus hidrologis yang memadai dan lain-lain. Secara de  facto tipe hutan ini memiliki kesuburan tanah yang sangat rendah, tanah tersusun oleh partikel lempung yang bermuatan negatif rendah seperti kaolinite dan illite.  Kondisi tanah asam ini memungkinkan besi dan almunium menjadi aktif di  samping kadar silikanya memang cukup tinggi, sehingga melengkapi keunikan  hutan ini. Namun dengan pengembangan struktur yang mantap terbentuklah  salah satu fungsi yang menjadi andalan utamanya yaitu ”siklus hara tertutup” (closed nutrient cycling) dan keterkaitan komponen tersebut, sehingga mampu  mengatasi berbagai kendala/keunikan tipe hutan ini (Kuswanda dan Mukhtar, 2008).
Makhluk hidup adalah tumbuh-tumbuhan dan hewan. Manusia juga makhluk hidup. Walaupun tumbuh-tumbuhan dan hewan terdapat banyak perbedaan, namun pada prinsipnya terdapat persamaan antara keduanya, yaitu dari segi :
  1. Baik tubuh hewan maupun tumbuh-tumbuhan terdiri dari susunan-susunan sel
  2. Kedua-duanya memperlihatkan kegiatan-kegiatan hidup yang dapat dikatakan memiliki persamaan, seperti makan, bernafas, bergerak, perkembangbiakannya dan beberapa segi lainnya
  3. Kedua-duanya memiliki zat hidup, jelasnya yaitu protoplasma
Dengan adanya persamaan-persamaan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa antara tumbuh-tumbuhan dan hewan terdapat suatu hubungan kekeluargaan atau kekerabatan (Sutrian, 2004).
Menurut beberapa ahli, mangrove kebanyakan bersifat halophyt yaitu sifat tumbuhan yang bisa beradaptasi dengan air asin, karena di dalam cairan selnya mempunyai tekanan osmosa yang tinggi. Sehingga mangrove mampu mengadakan sekresi dan pengasingan garam-garam. Dalam hal ini mangrove dapat dibagi dalam dua kelas yang berbeda yaitu pertama “Salt secretors” merupakan kelompok mangrove yang mampu mengeluarkan garam melalui kelenjar daun yang khusus, dimana kelebihan garam dikeluarkan melalui sel-sel kelenjar. Jenis-jenis tersebut antara lain : Avicennia marina, Aegialitis annulata, Aegiceras corniculatum. Sedang kelas kedua disebut “Salt excludes” yaitu kelompok mangrove yang sangat sedikit mengekskresikan garam, kelebihan garam disimpan dalam daun yang sudah tua. Jenis-jenis tersebut antara lain Rhizophora dan Sonneratia (Soeroyo, 1992).
            Praktikum ini bertujuan untuk:
1.      Menggambarkan suatu arsitektur pohon.
2.      Mengidentifikasi individu dan jenis pohon masa lampau, pohon saat ini, dan pohon masa depan.


TINJAUAN PUSTAKA

            Struktur vegetasi tumbuhan, seperti tinggi, biomassa, serta heterogenitas vertikal dan horizontal, merupakan faktor penting yang mempengaruhi perpindahan aliran materi dan energi, serta keanekaragaman ekosistem. Kanopi/tajuk hutan merupakan faktor pembatas bagi kehidupan tumbuhan, karena dapat menghalangi penetrasi cahaya ke lantai hutan. Keberhasilan sebuah pohon untuk mencapai kanopi hutan tergantung karakter/penampakan anak pohon. Variasi ketersediaan cahaya dan perbedaan kemampuan antar spesies anak pohon dalam memanfaatkannya dapat mempengaruhi komposisi dan struktur vegetasi hutan. Perbedaan kemampuan antara spesies anakan pohon dalam menoleransi naungan mempengaruhi dinamika hutan. Pada kondisi cahaya rendah, perbedaan kecil dalam pertumbuhan pohon muda dapat menyebabkan perbedaan mortalitas yang besar, sehingga mempengaruhi kemelimpahan relatifnya (Pacala dkk., 1996).
            Pada hutan payau terdapat campuran air tawar dari sungai dan air laut: pohon-pohon yang tumbuh umumnya berdaun tebal dan mengkilat karena adaptasi evapotranspirasi. Tajuk pepohonan hanya satu dengan ketinggian umumnya rata-rata dapat mencapai 50 m. komposisi hutan bakau terdiri atas asosiasi beberapa jenis tanaman yang khas sejak mulai dari pantai, yakni berturut-turut Avicennia (api-api) seperti A.marina yang tumbuh pada tanah berliat agak keras dan A.alba pada tanah yang lembek serta Sonneratia (bakau). Disusul Bruguiera cylindrica (tancang) yang hidup pada tanah liat keras dan bila air pasang akan tergenang. Formasi selanjutnya oleh Rhizophora mucronata (bakau) dan Rhizophora apiculata (bakau) pada pantai agak basah dan berlumpur dalam. Formasi berikutnya terdiri dari B. parviflora (tancang) yang hidup pada bekas tebangan Rhizophora dan dilanjutkan pada formasi akhir B.gymnorhiza (Arief, 2001).
Kebanyakan mangrove ditemukan pada pantai yang terlindung, terjadi antara rata-rata permukaan laut terendah dan rata-rata tinggi air pasang penuh dalam garis pasang surut, muara dan di beberapa terumbu karang yang telah mati. Pantai mangrove jarang terdapat pada laut terbuka. Pantai mangrove berkembang dengan baik apabila aliran sungai membawa lumpur dan pasir ke dasar laut yang kemudian bercampur kembali dan terangkut oleh ombak, pasang dan aliran. Pantai mangrove yang ideal terjadi dimana banyak saluran-saluran sungai yang berliku-liku membentuk suatu jaringan kerja jalannya air tenang yang membatasi daerah pasang surut. Pada umumnya mangrove tumbuh di daerah tropis dan sub tropis (Soeroyo, 1992).
            Suatu daerah yang didominasi oleh hanya jenis-jenis tertentu saja, maka daerah tersebut dikatakan memiliki keanekaragaman jenis yang rendah. Keanekaragaman jenis terdiri dari 2 komponen; Jumlah jenis dalam komunitas yang sering disebut kekayaan jenis dan Kesamaan jenis. Kesamaan menunjukkan bagaimana kelimpahan species itu (yaitu jumlah individu, biomass, penutup tanah, dan sebagainya) tersebar antara banyak species itu (Arief, 2001).          
Dalam komunitas organisme hidup saling berhubungan atau berinteraksi secara fungsional. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas tidak statis. Komunitas mempunyai tendensi menuju stabilitas yang dinamik, dengan perkataan lain komunitas itu memperlihatkan adanya pengaturan diri atau homeostatis. Langkah awal studi komunitas adalah mengetahui jenis atau kelompok organisme penyusun komunitas. Kajian awal itu hanya menghasilkan daftar organisme penyusun komunitas. Susunan organisme penyusun komunitas saja belum cukup banyak memberikan gambaran keadaan komunitas. Studi selanjutnya tentang komunitas adalah mengenai struktur komunitas, yang mana dipelajari tentang konstribusi dari masing-masing jenis penyusun komunitas, nilai penting dari masing-masing jenis di komunitas, bagaiman jenis-jenis organisme itu hidup bersama dalam menyusun komunitas, dan lain-lainnya. Pengetahuan mengenai komposisi dan struktur komunitas akan memberikan pandangan tentang bagaimana komunitas sebagai suatu sistem kehidupan diorganisasikan. Studi lanjutannya adalah tentang fungsi komunitas, dan suksesi (Kartawinata,1984).
Dengan analisis vegetasi, kita dapat memperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan. Berdasarkan tujuan pendugaan kuantitatif komunitas vegetasi dikelompokkan kedalam 3 kategori yaitu (1) pendugaan komposisi vegetasi dalam suatu areal dengan batas-batas jenis dan membandingkan dengan areal lain atau areal yang sama namun waktu pengamatan berbeda; (2) menduga tentang keragaman jenis dalam suatu areal; dan (3) melakukan korelasi antara perbedaan vegetasi dengan faktor lingkungan tertentu atau beberapa faktor lingkungan

METODOLOGI

Bahan dan Alat
            Adapun bahan yang digunakan adalah komunitas hutan mangrove, berfungsi sebagai lokasi pengamatan.
            Adapun alat yang digunakan adalah:
1.      Kompas, berfungsi sebagai alat penunjuk arah.
2.      Meteran 20 m, berfungsi sebagai alat untuk menentukan luas areal pengamatan.
3.      Phiband, berfungsi sebagai alat untuk mengukur diameter pohon.
4.      Walking stick, berfungsi sebagai alat untuk menentukan tinggi pohon.
5.      Tali rafia, berfungsi sebagai alat untuk menentukan batasan areal pengamatan.
6.      Galah/pacak, berfungsi sebagai alat untuk mengambil sampel untuk identifikasi yang tidak dapat dijangkau dengan tangan.
7.      Golok atau parang, berfungsi sebagai alat untuk membersihkan jalur rintisan dari semak belukar.
8.      Kertas milimeter, berfungsi sebagai tempat menggambarkan diagram profil arsitektur pohon.
9.      Alat tulis, berfungsi sebagai alat untuk menuliskan data hasil pengamatan.

Prosedur Kerja
1.      Ditentukan secara pruposive sampling komunitas hutan berdasarkan keterwakilan ekosistem hutan mangrove yang akan dipelajari sebagai petak contoh pengamatan profil.
2.      Dibuat petak contoh berbentuk jalur dengan arah tegak lurus kontur (gradien perubahan tempat tumbuh) dengan ukuran lebar 10 m dan panjang 60 m, ukuran petak contoh dapat berubah tergantung pada kondisi hutan.
3.      Dianggap lebar jalur (10 m) sebagai sumbu Y dan panjang jalur (60 m) sebagai sumbu X.
4.      Diberi nomor semua tiang/pohon yang berdiameter > 5 cm yang ada di petak contoh tersebut.
5.      Dicatat nama jenis pohon dan ukur posisi masing-masing pohon terhadap titik koordinat X dan Y.
6.      Diukur diameter batang pohon setinggi dada, tinggi total, dan tinggi bebas cabang, serta gambar bentuk percabangan dan bentuk tajuk.
7.      Diukur proyeksi (penutupan) tajuk terhadap permukaan tanah dari sisi kanan, kiri, depan, dan belakang terhadap pohon.
8.      Digambar bentuk profil vertikal dan horizontal (penutupan tajuk) pada kertas milimeter dengan skala yang memadai.

DAFTAR PUSTAKA
Arief, A. 2001. Hutan dan Kehutanan. Penerbit Kanisius. Jakarta.

Kartawinata, K.1984.Pengantar Ekologi.Remaja Rosdakarya.Bandung.

Kuswanda, W. dan A.S. Mukhtar. 2008. Kondisi Vegetasi dan Strategi Perlindungan Zona Inti di Taman Nasional Batang Gadis.Sumatera Utara.

Michael, P. 1994 Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. 

Pacala, S.W., C.D. Canham, J. Saponara, J.A. Silander, R.K. Kobe, and E.Ribbens, 1996. Forest models defined by field measurements II. Estimation, error analysis, and dynamics. Ecology Monograph.

Soeroyo. 1992. Sifat, Fungsi, dan Peranan Hutan Mangrove. Penelitian Sumber Daya Hayati dan Lingkungan Laut. Mataram.

Sutrian, Y. 2004. Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan. Rineka Cipta. Jakarta.