H.O.R.A.S

Selamat Datang buat anda yang mengunjungi blog ini, Segala informasi dalam blog ini merupakan bantuan dari buku-buku, majalah, dan lain-lain
Semoga blog ini bermanfaat bagi anda ^^.


Kamis, 07 Mei 2020

Semangat

Pesan dan Kesan selama Pandemik Covid2019

Sekarang jangan memperbanyak keluar rumah, cukup kantor - rumah, rumah - kantor, kalau pun mau keluar, jika ada yang urgent saja, terus terapkan pola makan sehat, kurangi ngemil perbanyak makan buah, trus sempatkan olahraga biar keringat keluar, jika dirasa gerah, mandilah+keramas.



Mari tetap jaga kesehatan

Tuhan memberkati
🙏😇

Roma 1

BINASA DI LUAR KEBENARAN

Roma 1:17
Roma 1:17 (TB)  Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."

Paulus mengatakan Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya. Karena di dalam Injil dinyatakan kebenaran Allah, yang didasari oleh iman dan menuju kepada iman.
Hanya kebenaran Allah yang dapat menyelamatkan orang yang beriman kepadaNya.

Di dalam kehidupan kita sebagai manusia yang lemah, kita sungguh bergantung penuh kepada Allah. Tiada seorang manusia pun yang bisa hidup di luar kendali Allah. Allah adalah satu-satunya kebenaran yang mutlak yang dapat menjadi penyelamat orang percaya. Kehidupan yang berada di luar pimpinan Allah semuanya akan membawa kesia-siaan dan pada akhirnya berujung pada jurang kehancuran kekal.

Tetapi banyak manusia belum menyadari hal ini. Seolah dapat berbuat apapun tanpa menyertakan Allah. Melakukan segala sesuatu tanpa memikirkan Allah berkenan akan hal ini atau tidak. Padahal segala sesuatu yang dilakukan manusia selalu harus dibandingkan atas dasar standar kebenaran Allah, sebagai pemilik kehidupan di muka bumi ini.

Tugas kita anak-anakNya, mengingatkan sesama kita supaya hidupnya bisa kembali kepada Allah dan distandarkan kepada kebenaran Allah demi keselamatan jiwanya kelak.

Segala hal yang kita kerjakan     hendaknya berlatar belakang supaya pada akhirnya Injil Keselamatan Allah itu bisa diwartakan dan menjadi kehidupan nyata bagi sekitar kita juga.

Mari kita berbelas kasihan pada setiap kehidupan sesama kita yang jelas kita lihat berada di luar Allah. Sebagaimana Allah selalu berbelas kasihan memandang dunia ini. Dan selalu berdoa bertanya pada Allah apa yang bisa kita lakukan untuk memimpin mereka kembali kepada Allah. Supaya pada akhirnya mereka juga bisa menikmati keselamatan seperti yang telah kita miliki sebagai anak-anak Allah.

Allah menginginkan kita menjadi pribadi yang tidak egois, seperti Allah yang selalu mengasihi umat milikNya ini. Selalu peka akan kondisi sekitar kita kapan saat yang tepat untuk menyatakan kebenaran dan dengan penuh keberanian beriman untuk melakukan bagian kita itu.

Di masa-masa penuh ketidakpastian saat ini adalah saat yang tepat menyatakan kebenaran itu. Menyatakan Allah berdaulat penuh di dalam kehidupan manusia. Tiada kepastian hidup yang berada di luar Allah. Setiap manusia akan binasa kecuali menyerahkan diriNya untuk diselamatkan melalui penebusan darah Yesus.

Karena Yesus adalah Allah yang telah terlebih dahulu merasakan penderitaan kita manusia kepunyaanNya. Bahkan telah menyerahkan diriNya sampai mati demi membayar segala hutang dosa kita. Namun telah bangkit mengalahkan maut hukuman dosa kita itu. Tinggal kita sekarang, maukah menyerahkan diri untuk hidup beriman penuh kepadaNya sebagai Tuhan dan Juru Selamat hidup kita? Karena sesungguhnya tiada pilihan lain demi keselamatan hidup kita selain menyerahkan diri hidup di dalamNya.

Bagaimana pun kondisi ketidakpastian hidup yang terjadi di dunia ini, tidak akan menjadi masalah lagi bagi orang-orang yang telah hidup di dalam kebenaran Allah. Kekuatan Allah yang kekal akan meyelamatkan setiap orang yang percaya kepadaNya. Itu PASTI.

#erbs
#renungandarikakakkelas
Semoga bermanfaat

Renungan dari Santapan Harian

Berbagi renungan dari bahan Santapan Harian (Scripture Union Indonesia) Bil. 15: 32-36

Lalu segenap umat menggiring dia ke luar tempat perkemahan, kemudian dia dilontari dengan batu, sehingga ia mati, seperti yang difirmankan TUHAN kepada Musa (36)

Dalam bgn FT ini diceritakan, bhw.:

1. Ada org didapati org lain sedang bekerja utk mencari kayu api pada hari Sabat.

2. Lalu org itu dibawa org yg mendapatinya kpd Musa & Harun.

3. Utk menunggu apa kata FT terhadap orang yg bekerja pd hari Sabat, mk dia dimasukkan dlm tahanan.

4. FT memastikan org itu harus dihukum mati dan  segenap umat hrs melemparinya sd mati di luar perkemahan.

5. Segenap umat menggiring org itu ke luar perkemahan & melemparinya dgn batu sd mati sesuai FT.

Apa yg kita pelajari dr FT ini?

1. Bhw bekerja pd hari Sabat itu adalah kejahatan besar bagi org Israel. Karena dgn sengaja melawan aturan FT yg berlaku. Pelanggaran yg disengaja = menganggap hukum Tuhan itu tdk benar & itu sebabnya dilawannya.

Jd artinya dia menganggap Tuhan & Firman-Nya tdk benar & hrs dilawan. Dia merasa dirinya lbh benar dr Tuhan, krn itu dia mengalami penerapan hukum itu bagi dirinya.

Itu berlaku jg sd sekarang, bhw FT itu benar, krn Tuhan & Firman-Nya tdk mungkin sala, jd jgnlah kita lawan.

Sebab FT memang tdk mungkin salah & apalagi kita yg lebih benar dr FT.

Kalau kita melawan FT, mk bagi kita akan berlaku sesuai FT itu.

2. Sama spt orang Israel di atas, kita juga hrs saling menjaga & melindungi, agar kita semua sama2 menjalani hidup kita sesuai dgn FT.

3. Sama seperti Musa di atas, para pemimpin gereja masa kini jg harus membuat aturan & melakukan aturan sesuai dgn FT yg tertulis di dalam Alkitab.

4. Sama spt kpd Musa & bangsa Israel di atas, Tuhan juga berbicara utk menyampaikan kehendak-Nya kpd kita pd saat ini, yaitu melalui Alkitab yg sdh diterbitkan oleh LAI bagi kita.

Karena itu, kita semua, khususnya para pemimpin gereja harus mendengar FT setiap hari melalui membaca Alkitab & kemudian melakukannya dlm kehidupan sesehari.

5. Sama seperti bangsa Israel di atas, umat Tuhan masa kini juga harus mendengar & melakukan FT yg tertulis di dalam Alkitab, sebagaimana yg dikehendaki Tuhan bagi umat yg sdh diselamatkan-Nya melalui anugrah-Nya.

Selamat pagi, selamat berkegiatan dlm kondisi social & physical distancing. GBus. (PB).

Tindakan atau Usaha

Kalau tetangga Anda positif Covid-19, perlukah khawatir??

Tidak...

1.Virus tidak bisa  gentayangan dari rumah tetangga ke rumah Anda. Ingat, jarak 1,5  meter saja sudah cukup untuk menjauhkan Anda dari virus.

2.Virus tidak bisa terbang di udara. Ia berada di udara kalau ada orang terinfeksi yang bersin. Itu pun tidak lama. Partikel-partikel air (lendir) yang mengandung virus tadi akan turun, mengendap di permukaan benda-benda mati, tidak akan menyebar ke rumah Anda.

3.Virus juga tidak bisa berjalan.

Apa yang harus Anda lakukan?

Jangan masuk ke rumah tetangga Covid (+) tanpa perlindungan memadai (masker). Selama Anda tidak masuk, Anda tidak akan tertular.
Kalau terpaksa masuk untuk memberi bantuan, pakailah masker, ditambah perlindungan lain yang bisa Anda dapatkan. Kemudian segeralah ganti baju, mandi dengan sabun (keramas pakai sampo), cuci baju Anda tadi dengan sabun. Sabun akan membunuh virus yang menempel di tubuh Anda.

Tidak ada alasan untuk takut pada tetangga yang tertular Covid19. Berbuatlah sebisa Anda untuk membantu mereka.

Apa yang bisa dilakukan untuk membantu?

1. Sediakan makanan.
2. Jaga agar jangan ada orang masuk tanpa kepentingan dan tanpa pelindung.
3. Arahkan anggota keluarganya untuk melaksanakan tata cara isolasi pasien agar anggota keluarga lain tidak tertular.

Orang yang tertular virus tidak ingin dirinya tertular.
Mereka butuh cinta, perhatian, dan bantuan kita untuk sembuh.
Jangan musuhi dan kucilkan mereka.

Jika bermanfaat mohon disebarkan

#repost
#covid-19 bukan aib
#rubahstigmaburukcovid
#salamsehat
#janganlupabersyukur.

Edisi Tano Batak

TANO BATAK (3), GENERASI MARRAGAM-RAGAM

Oleh Nestor Rico Tambun

Suatu kali, A.E. Manihuruk, jenderal yang  cukup lama dipercaya Presiden Soeharto menjadi Kepala BAKN (Badan Administrasi Kepegawaian Negara), dalam satu rapat dengar pendapat di DPR, dikritik salah seorang anggota DPR menganut sukuisme, karena mengangkat orang Batak jadi pegawai negeri dari seluruh daerah.

Dengan santai, dengan logat Bataknya yang kental, Pak Manihuruk menjawab yang isinya kurang lebih begini:
Jadi pegawai negeri itu syaratnya banyak. Jadi guru, syaratnya ini, ini, ini. Jadi suster di rumah sakit, harus ada ini, ini, ini. BAKN memproses pengangkatan pegawai berdasarkan pengajuan dan syarat-syarat itu. Kalau kurang, disuruh lengkapi. Semua sama. Seluruh Indonesia begitu.

Jadi, bapak ibu anggota dewan yang terhormat, kami tidak bisa mengangkat pegawai yang berkasnya tidak diajukan dan syarat-syaratnya tidak lengkap. Jadi, kalau yang mengajukan berkas dan syaratnya lengkap dari Semarang, dari Palembang, dari Jayapura, dari Kupang, atau Samarinda itu orang Batak, ya saya nggak tahu. Coba bapak ibu anggota dewan yang terhormat periksa, kenapa orang yang minta diangkat jadi  guru dan pegawai pemerintah daerah dari Papua itu orang-orang Batak?

Anggota dewan itu terdiam. Seorang anggota dewan lain nyeletuk sambil tersenyum, “Pak Manihuruk dilawan….”

Kisah ini diceritakan seorang teman wartawan, orang Batak, yang meliput dengar pendapat itu.  Tapi itulah salah satu gambaran keistimewaan orang Batak. Pegawai negeri orang Batak itu ada dimana-mana. Itulah hasil orang-orang tua yang berjuang menyekolahkan anaknya itu.

Akhir tahun 60-an – awal 70-an, standar pendidikan putra-putri Tano Batak itu sudah SLTA: SMA, STM, SMEA, SPG, SPK. Di banyak daerah masih banyak orang tak lulus SD, bahkan buta huruf. Mereka-mereka ini pergi ke berbagai daerah di Indonesia, pergi sendiri atau ikut saudara, dan melamar jadi PNS dari sana. Pada masuk, karena sedikit saingan.

Orang Batak bukan etnis besar, tapi karena begitu tersebar, mereka terlihat sebagai suku yang "a truly special". Pergilah ke segala perguruan tinggi, pergilah ke segala kantor, dari di Sumatera, di Jawa, di Kalimantan, hingga pedalaman Papua. Di sana akan menemukan orang-orang bermarga. Jadi guru, jadi polisi, tentara, dokter, paramedis, pegawai pemda. Itu diluar yang kerja di perusahaan-perusahaan swasta, atau buka usaha.

Itu yang jalur sekolah. Seperti kita tahu, orang Batak juga "panombang" ulung. Di setiap daerah bukaan baru, pasti banyak orang Batak. Wilayah Riau kini sudah mirip tano Batak kedua. Dimana-mana kebun sawit orang Batak. Dari yang kecil hingga besar banget. Banyak yang jadi miliuner. Begitu pula di Jambi, dan daerah lain. Dari tempat panombangan inilah mereka menyekolahkan anak.

Nah, sekarang apa yang bisa diharapkan Tano Batak dari putra-putrinya yang tersebar di Nusantara ini? Bagaimana mereka ini memandang dan memperlakukan bonapasogit?

Kita harus realis. Orang-orang rantau yang merasakan hidup di kampung, dulu ikut bekerja keras dan hidup pahit bersama orangtua, umumnya masih ada rasa keterikatan dengan kampung, terutama kalau orangtua masih hidup. Sesekali mereka pulang untuk pesta, atau membawa anak-anaknya liburan.

Itu yang saya sebut di bagian awal tulisan ini. Kecintaan orang Batak pada kampungnya lebih personal, pada orangtua, pada keluarganya. Ya, mungkin kangen kampungnya, kangen lagu-lagu, makanan, dan sebagainya. Tapi  tidak mencintai total, karena sadar kehidupannya sudah ada di tempat lain. Dia dan anak-anaknya tak mungkin Kembali.

Berbeda, misalnya, dengan orang-orang dari banyak daerah di Gunung Kidul, Kulon Progo, atau Bantul, yang dulu termasuk miskin karena sering kekeringan, yang contoh kemiskinannya saya ceritakan di awal cerita ini.

Kemiskinan membuat orang-orang dari daerah ini juga pergi ke kota, jadi tukang bakso, tukang jamu, jadi pembantu, atau pekerjaan lain, bahkan jadi TKI di luar negeri. Sering malah orangtua yang merantau, bapak jadi tukang bakso, atau ibu jadi bakul jamu, tapi anak-anak tinggal/sekolah di kampung.

Tiap bulan mereka mengirim uang ke kampung. Kantor-kantor bank-bank di daerah itu pasti tahu besar jumlah besar uang yang mengalir tiap bulan dari kota dan dari luar negeri ke daerah itu. 

Di kota mereka hidup di kontrakan seadanya. Sukses bagi mereka adalah kalau bisa membangun atau memperbaiki rumah, atau membeli sawah di kampung. Kalau Lebaran, mereka ramai-ramai pulang. Pemerintah daerah menyambut mereka bak pahlawan. Daerah itu kini terlihat maju dan makmur, dari uang yang dicari di kota dan di luar negeri.

Batak tidak seperti itu. Kalau sukses di Bandung, ya bikin rumah di Bandung. Kalau perlu kawin dengan orang Bandung, nanti dikasih marga. Sukses di Pontianak, ya bikin rumah di Pontianak. Ya, kadang memperbaiki atau membangun rumah untuk orangtua di kampung. Tapi kalau orangtua sudah tiada, rumah itu sering jadi kosong.

Batak generasi anak-anak mereka lebih jauh lagi. Mungkin kenangan dan pemahaman mereka tentang orang Batak dan Tano Batak hanya sebatas ompungnya. Betapa tercengangnya kita melihat anak-anak muda Batak di kota-kota saat ini. Masih muda-muda, pintar-pintar. Banyak sekali, di segala bidang. Ya, karena umumnya keluarga Batak sangat mengejar pendidikan.

Suatu ketika, dalam pertemuan non-formal aktifis penyandang disabilitas, di sebuah café kopi, di Tebet, saya bertemu dengan seorang boru Sirait. Cantik, tidak kelihatan boru Batak. Umurnya baru 26 tahun, S2 dari Inggris, kerja di Bappenas, menangani bidang MDGs (pembangunan berkelanjutan) kalau tak salah, yang juga menyangkut disabilitas.

Saya tanya, boru Sirait dari mana? Dari Sirait Holbung. Saya kaget. Eh, kita satu kampung dong. Sirait Holbung itu nggak sampai satu kilometer dari Lumbanlobu. Itoan itu santai saja. Oya? Sudah lupa, karena hanya waktu kecil dulu pernah dibawa orangtuanya pulang ke sana.

Nah, kita harus realis menghadapi yang seperti ini. Kita sekarang sama-sama Batak. Tapi sebenarnya tidak sama lagi. Mungkin hanya kelihatan sama kalau ada pesta. Tapi dalam mindset kehidupan dan budaya, dalam memandang Tano Batak sebagai “bonapasogit”, mungkin sudah berbeda-beda.

Sebenarnya, yang diharap mempersatukan adalah budaya. Bahwa kita suku bangsa yang tua, dengan budaya yang sangat lengkap dan khas. Ada marga-marga, dengan huta-hutanya, ada rumus kehidupan Dalihan Na Tolu, ada rumah Batak, ada gondang, ada tortor, ada ulos, ada yang lain-lain.

Tapi semua akar-akar budaya itu kini kan mulai punah, termasuk di bonapasogit.  Kini tak ada lagi yang bisa membangun rumah Batak. Sudah punah pande rumah dan panggorga. Kini kita manortor bukan dengan gondang. Sudah hampir habis pande gonsi.  Kini kita manortor bukan dengan ulos Batak asli. Partonun ulos Batak asli tinggal beberapa gelintir.

Kini kita telah menjadi Batak yang marragam-ragam. Masih Batak. Masih ber-Dalihan Na Tolu. Tapi mungkin nilai-nilai Habatahon yang dianut orang Batak sekarang tidak sama lagi. Sudah dipengaruhi pandangan hidup lain, dipengaruhi sekte-sekte agama, dipengaruhi gaya kehidupan politik, dan macam-macam.

Tidak mengingkari ada juga orang Batak yang berbuat dengan niat ikut membangun daerah dan menolong orang di daerahnya. Tapi umumnya untuk kejayaan pribadi. Best practise perbuatan anak rantau untuk Tano Batak, mungkin Yayasan (SMA) Soposurung, yang merekrut anak-anak muda pintar, mendidik, sehingga semua masuk perguruan tinggi negeri terkemuka.

Lulusan SMA Soposurung kini ada dimana-mana, dan keren-keren. Tapi, apakah mereka ingin kembali dan mengabdi ke Tano Batak? Ya, saya kira mengutamakan karirnya. Agak pahit, tapi itu nyata. Tano Batak miskin karena membiayai anak-anak. Daerah lain, mengirim dan membawa yang ia dapat pulang ke daerah. Orang Minang juga banyak  begitu.   

Kita tahu, masyarakat pasti berubah. Kemana arah perubahan itu, tergantung masyarakat itu sendiri. Itu sudah rumus Ilmu Sosiologi.

Kayaknya, orang Batak, harus merumuskan ulang budayanya. Tano Batak harus memformat ulang kehidupan budaya yang baik. Jangan terlalu mengharapkan para Batak rantau, yang mungkin kebanyakan hanya sok heppot dan gittal. Pikiran dan cara pandangnya sudah beda. Cintanya sudah di lain negeri...

Renungan pagi

ALLAH BERDAULAT PENUH

Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.
Roma 1:18

Allah telah dengan jelas menyatakan keberadaan diriNya di hadapan umat manusia kepunyaanNya, dari segala pikiran dan karya Allah yang kelihatan jelas sejak dunia diciptakan. Sesungguhnya tak satupun manusia yang dapat menyangkal keberadaan Allah Pencipta dan yang berdaulat atas segala ciptaanNya. Kita sudah mengetahui kedahsyatan Allah Pencipta dan Penguasa dunia ini namun bukannya memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepadaNya.

Keberdosaan kita manusia selalu membawa kita kepada kebodohan dan kesia-siaan hidup. Kita sering menggantikan kemuliaan Allah yang kekal dengan hal- hal yang bersifat sementara untuk kemudian kita jadikan bertahta dalam diri kita, menguasai kehidupan kita.

Namun Allah tentu saja tidak akan terus menerus membiarkan umatNya terjerumus demi menyelamatkan kehidupan kita. Murka Allah akan selalu nyata atas segala kefasikan dan kelaliman kita, dimana kita hidup bergeser dari standar kebenaranNya. Inilah janji dan pernyataan Allah yang dikemukakan Paulus.

Segala dosa yang kita lakukan pastilah berlatar belakang kita sedang tidak memberikan tempat tertinggi bagi kemuliaan Allah bertahta di hati kita, kita sedang menggantikan posisi tertinggi Allah dengan yang lainnya.
Marilah kita hidup di dalam takut akan Allah karena keberadaan Allah itu sungguh benar nyata adanya. Walaupun pengampunan dosa selalu Dia sediakan, tetapi tiada satu dosa dalam hidup kita yang dibiarkanNya berlalu tanpa melalui kemurkaanNya. Akan selalu ada akibat/hukuman dari setiap dosa yang kita lakukan.

Selalu pertimbangkan setiap hal yang kita pikirkan, katakan, lakukan apakah tetap memuliakan Allah dalam hidup kita, atau hanya memuliakan hal-hal fana di dunia ini atau bahkan hanya memuliakan diri kita. Waspadalah! Allah adalah allah yang cemburu dan tidak pernah mau diduakan dalam hidup kita sebagai Allah Penguasa tunggal, Perencana dan Penentu segala sesuatunya. Dia berdaulat penuh.

# erbs070520
#just share
Amin🙏