H.O.R.A.S

Selamat Datang buat anda yang mengunjungi blog ini, Segala informasi dalam blog ini merupakan bantuan dari buku-buku, majalah, dan lain-lain
Semoga blog ini bermanfaat bagi anda ^^.


Senin, 20 Januari 2014

Prinsip Hidrologi Hutan



Hidrologi Hutan

Hidrologi hutan merupakan suatu ilmu fenomena yang berkaitan dengan air yang dipengaruhi oleh penutupan hutan. Sesuai dengan batasan subyek yang ada yaitu hidrologi hutan maka bahasan selanjutnya merupakan hidrologi terapan dengan lingkup operasionalnya adalah daerah aliran sungai terutama yang bervegetasi hutan atau yang dapat berfungsi sebagai vegetasi hutan serta daerah yang dipengaruhi oleh kawasan tersebut.

Presipitasi
Hujan (presipitasi) merupakan masukan utama dari daur hidrologi dalam DAS. Dampak kegiatan pembangunan terhadap proses hidrologi sangat dipengaruhi intensitas, lama berlangsungnya, dan lokasi hujan. Karena itu perencana dan pengelola DAS harus memperhitungkan pola presipitasi dan sebaran geografinya.

Intersepsi
Hujan yang jatuh di atas tegakan pohon sebagian akan melekat pada tajuk daun maupun batang, bagian ini disebut tampungan/simpanan intersepsi yang akhirnya segera menguap. Besar kecilnya intersepsi dipengaruhi oleh sifat hujan (terutama intensitas hujan dan lama hujan), kecepatan angin, jenis pohon (kerapatan tajuk dan bentuk tajuk). Simpanan intersepsi pada hutan pinus di Italia utara sekitar 30% dari hujan (Allewijn, 1990). Intersepsi tidak hanya terjadi pada tajuk daun bagian atas saja, intersepsi juga terjadi pada seresah di bawah pohon. Intersepsi akan mengurangi hujan yang menjadi run off.

Throughfall, Crown drip, Steamflow
Hujan yang jatuh di atas hutan ada sebagian yang dapat jatuh langsung di lantai hutan melalui sela-sela tajuk, bagian hujan ini disebut throughfall. Simpanan intersepsi ada batasnya, kelebihannya akan segera tetes sebagai crown drip. Steamflow adalah aliran air hujan yang lewat batang, besar kecilnya stemflow dipengaruhi oleh struktur batang dan kekasaran kulit batang pohon.

Infiltrasi dan Perkolasi
Proses berlangsungnya air masuk ke permukaan tanah kita kenal dengan infiltrasi, sedang perkolasi adalah proses bergeraknya air melalui profil tanah karena tenaga gravitasi. Laju infiltrasi dipengaruhi tekstur dan struktur, kelengasan tanah, kadar materi tersuspensi dalam air juga waktu.

Kelengasan Tanah
Kelengasan tanah menyatakan jumlah air yang tersimpan di antara pori-pori tanah. Kelengasan tanah sangat dinamis, hal ini disebabkan oleh penguapan melalui permukaan tanah, transpirasi, dan perkolasi. Pada saat kelengasan tanah dalam keadaan kondisi tinggi, infiltrasi air hujan lebih kecil daripada saat kelengasan tanah rendah. Kemampuan tanah menyimpan air tergantung dari porositas tanah

Simpanan Permukaan dan Run off
Simpanan Permukaan (Surface Storage)
Simpanan permukaan ini terjadi pada depresi-depresi pada permukaan tanah, pada perakaran pepohonan atau di belakang pohon-pohon yang tumbang. Simpanan permukaan menghambat atau menunda bagian hujan ini mencapai limpasan permukaan dan memberi kesempatan bagi air untuk melakukan infiltrasi dan evaporasi.

Runoff Runoff
Adalah bagian curahan hujan (curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan kehilangan air lainnya) yang mengalir dalam air sungai karena gaya gravitasi; airnya berasal dari permukaan maupun dari subpermukaan (sub surface). Runoff dapat dinyatakan sebagai tebal runoff, debit aliran (river discharge) dan volume runoff.

Limpasan Permukaan
Limpasan permukaan (Surface Runoff) adalah bagian curah hujan setelah dikurangi dengan infiltrasi dan kehilangan air lainnya. Limpasan permukaan ini berasal dari overlandflow yang segera masuk ke dalam alur sungai. Aliran ini merupakan komponen aliran banjir yang utama.

Aliran Bawah Permukaan (Subsurface Runoff)
Aliran bawah permukaan merupakan bagian dari presipitasi yang mengalami infiltrasi dalam tanah yang kemudian mengalir di bawah permukaan tanah dan menuju alur sungai sebagai rembesan maupun mata air.

Proses Runoff
1. Periode Tidak Hujan (Kemarau)
   a. Input dari hujan = nol
b. Air tanah mengalir masuk alur sebagai aliran dasar, maka freatik turun terus
c. Evapotranspirasi menambah defisiensi lengas tanah
d. Hidrograf aliran berupa kurva deplesi.

2. Periode Hujan Awal
    a. Awal musim hujan, mulai ada hujan
b. Sebagian hujan menjadi intersepsi
c. Sebagian menjadi simpanan depresi
d. Surface Runoff hampir tidak ada, air hujan digunakan untuk membasahi tanah (Lengas tanah meningkat).
e. Hidrograf aliran agak bergeser ke atas karena ada sebagian hujan yang jatuh langsung di alur sungai
f. Muka freatik masih turun terus karena aliran dasar masih berlangsung dan air infiltrasi belum mencapai muka freatik.

3.Priode Hujan
a. Intersepsi mencapai kapasitas 
    maksimum, stemflow dan througfall terjadi
b. Simpanan depresi maksimum
c. Surface runoff mulai terjadi, sehingga aliran sungai naik.
d. Soil Moisture Deficiency berkurang
e. Air Infiltrasi dan perkolasi belum mencapai muka freatik (air tanah belum naik).

4. Saat Hujan Berhenti
  1. Di permukaan tanah masih ada air dan mengalir
b. Infiltrasi terus berlangsung
c. Stream runoff berasal dari channel storage
d. Channel storage berkurang dan habis
e. Stream runoff dari groundwater

5. Saat tak ada Hujan
a. Lengas tanah pada kapasitas lapang
b. Input air tak ada, lengas tanah berkurang
c. Air perlokasi mencapai muka freatik air tanah mendapat recharge
d. Kurva deplesi terus berlangsung, stream runoff menyusut.
e. Air tanah naik

6. Hubungan aliran sungai dan air tanah
Pada lembah sungai yang cukup dalam sehingga muka freatik terpotong maka banyak mata air dan rembesan disepanjang alur sungai, untuk daerah yang air tanahnya dalam, keadaan ini tidak terjadi.
Memperhatikan kontinuitas aliran dan kedudukan muka freatik ada. 3 macam tipe aliran yaitu :
a) Efemeral,
b) Intermitten dan
c) Perenial.

NERACA AIR
Neraca air merupakan alat untuk mendekati nilai-nilai hidrologis proses yang terjadi di lapangan. Secara garis besar neraca air merupakan penjelasan tentang hubungan antara aliran ke dalam (In flow) dan aliran ke luar (out flow) di suatu daerah untuk suatu periode tertentu dari proses sirkulasi air. Neraca air juga dapat didefinisikan sebagai selisih antara jumlah air yang diterima oleh tanaman dan kehilangan air dari tanaman beserta tanah melalui proses evapotranspirasi.
Keberadaan hutan hanya akan berpengaruh terhadap beberapa komponen dalam seluruh daur hidrologi tersebut. Meskipun demikian karena masing-masing komponen dalam daur hidrologi tersebut akan saling berkaitan maka keberadaan hutan akan memberikan pengaruh yang nyata dalam daur ini.
Pengaruh hutan dalam daur air ini akan mulai nampak semenjak hujan jatuh, yang sebagian akan terintersepsi baik di tajuk maupun di seresah, sebagian akan terbuang kembali ke angkasa melalui proses evapotranspirasi.
      Dalam lanjutan proses sebagai aliran permukaan daur air infiltrasi, perjalanan air tersebut juga dipengaruhi oleh adanya tahanan batang dan seresah hutan. Dengan demikian vegetasi hutan akan ikut merubah pola keseimbangan energi matahari sebagai penggerak utama proses daur hidrologi.
Beberapa sifat tanah yang merupakan komponen-komponen neraca air, misalnya :
     kapasitas menyimpan air (jumlah ruang pori), infiltrasi, kemantapan pori sangat dipengaruhi oleh macam penggunaan lahan atau jenis dan susunan tanaman yang tumbuh di tanah tersebut.
Jadi jenis-jenis pohon atau tanaman semusim yang ditanam pada suatu bidang tanah dapat mempengaruhi siklus dan kesetimbangan air pada sistem tersebut. Sebaliknya siklus dan kesetimbangan air dalam sistem ini pada gilirannya juga mempengaruhi kompetisi antara komponen tanaman yang ada.


Jumat, 17 Januari 2014

Karakteristik DAS Batang Gadis

KARAKTERISTIK DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) BATANG GADIS
DIPA 29 BALAI PENGELOLAAN DAS ASAHAN BARUMUN TAHUN 2010 PEMATANG SIANTAR, JUNI 2010

       Daerah aliran sungai (Catchment area, watershed) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.

    Pengetahuan mengenai kondisi komponen-komponen penyusun ekosistem DAS merupakan suatu hal yang mutlak harus didapatkan agar proses perencanaan atau pengambilan kebijakan dalam pengelolaan DAS menjadi lebih efisien, efektif dan tepat pada permasalahan yang dihadapi, sehingga karakteristik sumber daya alam dimaksud dapat diidentifikasikan dengan menganalisis keadaan morfometri, tanah, geologi dan masyarakat yang ada di dalamnya. Dengan diketahuinya karakteristik DAS, maka akan diperoleh suatu gambaran umum mengenai sifat, kondisi dan ciri-ciri dari DAS yang nantinya akan berguna bagi penyusunan dan pengelolaan DAS.

    DAS Batang Gadis terletak antara 98 0 55’32’’ BT-99 0 56’14,2’’ BT dan 0 0 27’27,1’’ LU-1 0 32’38,4’’ LU . ditinjau dari letak geografisnya, DAS Batang Gadis melintasi tiga wilayah administrasi yaitu Kabupaten Mandailing Natal, Tapanuli Selatan dan kota Padang Sidempuan dengan luas total ±481.242,32 Ha yang terbagi dalam 5 sub DAS dengan masing-masing luasan sebagaimana berikut :
1.     Sub DAS Batang Angkola          Luas ± 90.823,63Ha
2.    Sub DAS Batang                       Luas ± 94.080,76 Ha
3.    Sub DAS Batang                       Luas ± 165.724,45 Ha
4.    Sub DAS Batang                       Luas ± 50.113,12 Ha
5.    Sub DAS Sikorsik                     Luas ± 80.500,36 Ha

Jenis tanah untuk DAS Batang Gadis didominasi oleh tanah ultisol atau tanah podsolik yaitu meliputi kelompok besar (great groups) kanhapludults, hapludults, dan kandiudults. Dengan demikian wilayah DAS Batang Gadis didominasi oleh jenis tanah yang peka terhadap erosi.

Intensitas curah hujan di DAS Batang Gadis tergolong tinggi dengan kisaran curah hujan antara 1600 mm s/d 3500 mm / tahun dengan sebaran tipe iklim A,A1,C1,D1,dan E2


Sumber : DIPA 29 BALAI PENGELOLAAN DAS ASAHAN BARUMUN TAHUN 2010


INFORMASI KEHUTANAN

TAHUKAH ANDA ?

1.     Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan hutan yang luas dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa yang tinggi di dunia, setelah Brazil dan Zaire

2.    Hutan di Indonesia berdasarkan fungsi pokoknya dibagi menjadi hutan produksi, hutan lindung dan hutan konservasi

3.    Pada tahun 2005 luas hutan Indonesia tersisa 93,92 juta Ha dan 3,74 juta Ha terdapat di Provinsi Sumatera Utara

4.    Laju kerusakan hutan di Indonesia mencapai 2,8 juta Ha setiap tahun, akibat penebangan liar, perambahan dan pembukaan hutan, terutama untuk lahan perkebunan dan pertanian

5.    Kerusakan hutan dapat meningkatkan bencana alam seperti kekeringan dan banjir, bertambahnya suhu bumi dan punahnya beragam jenis tumbuhan dan satwa

6.    Jenis satwa yang berada di ambang kepunahan di Sumatera Utara diantaranya harimau Sumatera, orangutan, gajah, dan burung beo nias

7.    Danau Toba memiliki fungsi sebagai daerah tujuan wisata, kawasan perlindungan tumbuhan dan satwa, daerah tangkapan air, terutama bagi pertanian dan kebutuhan masyarakat sehari-hari

8.    Secara geografis terletak pada 2010’00’’-03000’00’’ LU dan 98024’00’’-99020’00’’BT dan termasuk pada wilayah tujuh kabupaten

9.    Luas Kawasan Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba sekitar 379.846,4 Ha, meliputi luas danau 116.002,3 Ha dan daratan 263.844,2 Ha

10. Kawasan hutan DTA Danau Toba sekitar 192.399,24 Ha. Statusnya sebagai hutan lindung untuk mengatur tata air, mencegah banjir dan erosi, memelihara kesuburan tanah, dan melindungi tumbuhan dan satwa sekitar 159.335,7 Ha

11.  Kekritisan hutan lindung mencapai 131.560,6 Ha (50% dari luas daratan DTA toba)

12. Pengelolaan lahan pertanian secara lestari dan penanaman pohon harus dilakukan untuk mengurangi kekritisan hutan di Danau Toba

Penyiraman dalam pembibitan tanaman

DishutBun Samosir

Mari Menanam setiap biji tanaman




MARI MENGURANGI KERUSAKAN HUTAN DENGAN MENANAM POHON, SUDAH BERAPA POHON ANDA TANAM HARI INI ?? 

Rabu, 08 Januari 2014

Terima Kasih Yesus




P E N G U M U M A N
NOMOR : PG.7/Peg-1/2013
 TINDAK LANJUT PENETAPAN KELULUSAN AKHIR
PENGADAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL
KEMENTERIAN KEHUTANAN FORMASI TAHUN 2013

Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK. 6904/Menhut-II/Peg/2013 tanggal 24 Desember 2013 tentang Penetapan Kelulusan Akhir Pengadaan CPNS Kementerian Kehutanan Formasi Tahun 2013 telah ditetapkan pelamar yang lulus dan berhak untuk diangkat menjadi CPNS Kementerian Kehutanan Formasi Tahun 2013

Selengkapnya dapat dilihat pada lampiran berikut :

1. Tindak Lanjut Penetapan Kelullusan Akhir Pengadaan CPNS Kementerian Kehutanan Formasi Tahun 2013
2. Pengumuman Kelulusan Akhir Pengadaan CPNS Kementerian Kehutanan Formasi 2013
3. SK Menteri Kehutanan
4. Lampiran SK Pengumuman
5. Lampiran 1.Surat Pernyataan
6. Lampiran 2.Jadwal dan Lokasi Pemberkasan
7. Pejabat Pengesahan Ijazah
8. SK BKN DRH
9. SK BKN Surat Pernyataan

untuk keterangan lebih lanjut silahkan dilihat www.dephut.go.id

GBU all