H.O.R.A.S

Selamat Datang buat anda yang mengunjungi blog ini, Segala informasi dalam blog ini merupakan bantuan dari buku-buku, majalah, dan lain-lain
Semoga blog ini bermanfaat bagi anda ^^.


Kamis, 17 November 2011

Pemanenan Hasil Hutan 2


PERENCANAAN PETAK TEBANG

ABSTRACT

Activities - timber harvesting activities led to the openness of land. the openness of the land due to these activities, among others, influenced by the harvesting system. Harvesting intensity, felling plot planning to use influence to the disclosure and disruption of land located on the ground.
          Destination map workmanship which determining planning logging on forest plots. Plot was felled in the image on the results show that the patch cut made economically.
Terms of TPN location (plot logging) that is both flat, free bajir, close to roads and communities safe from interference. And cutting the number of spaces that can be made of 6 TPN.   
Key words: harvesting, patch cutting, flat.



ABSTRAK
Kegiatan – kegiatan pemanenan kayu menyebabkan keterbukaan lahan. besarnya keterbukaan lahan akibat kegiatan ini antara lain di pengaruhi oleh sistem pemanenan. Intensitas pemanenan, perencanaan petak tebang digunakan berpengaruh terhadap besarnya keterbukaan lahan dan gangguan yang berada pada tanah.
Tujuan pengerjaan peta yakni menentukan perencanaan petak tebang pada hutan. Petak tebang pada gambar di hasil menunjukan bahwa petak tebang yang dibuat ekonomis. Syarat lokasi TPn (petak tebang) yang baik adalah datar, bebas bajir, dekat dengan jalan dan aman dari gangguan masyarakat. Dan jumlah petak tebang yang dapat dibuat sejumlah 6 TPn.
Kata kunci: pemanenan, petak tebang, datar.




PENDAHULUAN

Dalam melakukan pengukuran suatu daerah ialah menentukan              unsur - unsur, titik - titik atau bangunan yang ada didaerah itu dalam jumlah yang cukup sehingga didaerah itu dengan sisinya dapat dibuat suatu skala yang telah ditentukan terlebih dahulu. Peta berfungsi dalam menempatkan sesuatu atau fenomena – fenomena geografis kedalam batas pandangan kita. Dimana peta tersebut dapat dikatakan sebagai gambaran unsur - unsur atau suatu representasi dari ketampakan abstrak yang dipilih dari permukaan bumi. Hasil ini sangat berkaitan dengan permukaan bumi atau benda - benda angkasa   (Harjadi, dkk, 2007).
Pada umumnya peta adalah sarana guna memperoleh gambaran data ilmiah yang terdapat di atas permukaan bumi dengan cara menggambarkan berbagai tanda - tanda dan keterangan - keterangan, sehinga mudah  dibaca dan dimengerti. Jika peta adalah hasil pengukuran dan   penyelidikan yang dilaksanakan baik langsung maupun tidak langsung  mengenai hal - hal yang bersangkutan dengan permukaan bumi dan didasarkan pada landasan ilmiah. Peta dapat memberikan  gambaran mengenai kondisi atmosfir, mengenai kondisi permukaan tanah, mengenai keadaan lautan, mengenai bahan yang membentuk lapisan tanah dan       lain – lain (Rahmad, 2002).
Adapun peta - peta yang memberikan gambaran mengnai hal – hal      tersebut di atas, berturut - turut disebut peta meteorologi, peta permukaan tanah, peta hidrografi, peta geologi dan lain - lain yang kesemuanya adalah peta   dalam arti yang luas. Garis kontur adalah garis yang menghubungkan                titik yang mempunyai ketinggian yang sama. Beda kontur dalam   penggambaran tergantung dari skala yang telah ditentukan. Dari bilangan skala tersebut selanjutnya dapat digamabar atau dibuat peta. Penggambaran garis kontur kontur hanya boleh dilakukan dengan   melakukan interpolasi antara dua buah titik detail saja. Pemulihan nilai     ketinggian garis kontur untuk penggambaran diambil bertahap untuk  disesuaikan dengan kelipatan beda kontur sesuai interval kontur,   karena interval kontur merupakan jarak antara dua kontur yang berbeda  (Martono, dkk, 2006).
Adapun isi dari perencanaan kayu secara umum adalah deskripsi tentang faktor input yang tersedia meliputi kondisi hutan (potensi hutan, topografi, geologi dan tanah, iklim dan areal-areal yang spesifik perlu dilindungi) serta peralatan yang meliputi jenis dan jumlah yang tersedia, tingkat kehandalan alat dan jumlah serta tingkat keahlian tenaga kerja yang dimiliki, catatan tentang standar biaya, peraturan terkait, rancangan volume produksi, pemilihan metode alternatif, rancangan petak tebang dan urutan pengerjaannya, jenis dan tingkat keahlian tenaga kerja, sistem pengorganisasiannya, jadwal pengerahan alat, tenaga kerja dan dana yang dilibatkan, serta estimasi keuntungan (Yuwono, 2004).
Sebelum melakukan pemanenan kayu, semua anggota yang terlibat dalam kegiatan pemanenan kayu harus diinformasikan tentang perencnaan pemanenan kayu yang dibuat, sehingga setiap individu terlibat mengetahui tanggung jawabnya, apa yang perlu dilakukan, prosedur-prosedur kerja, apayang harus dilakukan termasuk standar kerja yang diharapkan, hubungan antara organisasi antar tahap perencnaan, pembangunan jalan sarad, penebangan penyaradan, gali timbun jalan. Frekuensi pertemuan diperlukan (Harjadi, dkk, 2007).
Kegiatan – kegiatan pemanenan kayu menyebabkan keterbukaan lahan. besarnya keterbukaan lahan akibat kegiatan ini antara lain di pengaruhi oleh sistem pemanenan. Intensitas pemanenan, perencanaan petak tebang digunakan berpengaruh terhadap besarnya keterbukaan lahan dan gangguan yang berada pada tanah (Sarsito, 2001).
Pembuatan petak tebang merupakan salah satu usaha pengelolaan yang lestari, bahwa pemanfaatan jenis tanaman dan satwa harus diperhatikan kaidah – kaidah konservasi. Di dalam penentuan luas petak tebang, pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan teknis. Yang dimaksud dengan pendekatan teknis adalah menentukan luas petak tebang berdasarkan jangkauan terjauh (jarak sarad). Alat sarad sesuai keterbatasan atau kemampuan teknis alat – alat yang digunakan. Sistem peyaradan yang digunakan adalah sistem traktor dimana alat yang digunakan adalah traktor (Sujatmoko, 2002).
Desain petak menempatkan batas petak, luas dan bentuk petak. Unit pengelolaan di bagi ke dalam petak pemanenan dengan menggunakan sungai dan jalan sebagai batas petak. Di dalam unit pengelolaan hutan produksi areal HPH terdapat lima tingkat desain. Tingkat desain lapangan yang akan dibuat yaitu desain tingkat tegakan, desain tingkat jalan sarad, desain tingkat hurid, desain tingkat petak, desain tingkat pengelola. Petak digunakan untuk memonitor luas lahan dan kondisi vegetasi. Pada tebang rumpang ini tidak diperlukan inventarisasi pohon sebelum dan sesudah penebangan, tidak dilakukan penanaman perkayaan, tidak penunjukan pohon inti, tidak ada penanaman tanah kosong dan tidak ada petak ukur permanenan (PUP). Biaya pembinaan areal tegakan tebangan tebang rumpang amat kecil (Muhamadi, 2004).
Rencana pemetaan hutan meliputi kegiatan – kegiatan guna penyusun rencana kerja untuk jangka waktu tertentu. Adapun kegiatan – kegiatan penyusunan rencana kerja tersebut antara lain : Penentuan batas – batas hutan yang akan di tata, Pembagian hutan dalam petak – petak kerja, Pembagian wilayah hutan, Pengumpulan data lainnya untuk menyusun rencana kerja, Pengukuran dan perpetaan, Perisalahan hutan (Sarsito, 2001).
Sistem “petak ukur variabel” adalah penerapan pencuplikan “peluang imbang ukuran” (PPs). Pada sisitem ini tidak ditetapkan areal yang tetap. Dikaji untuk dilihat apakah mereka akan dipilih sebagai cuplikan. Bergantung kepada luas bidang dasar pohon serta jaraknya terhadap titik cuplikan, tidak ada batas atau areal tertentu tetapi pada setiap pohon yang terlihat dari titik cuplikan mempunyai peluang untuk dipi;ih tergantung kepada diameter setinggi dada (LBDS) (Siti, dkk, 2007).
Desain petak merupakan batas petak luas dan bentuk petak unit pengelolaan dibagi ke dalam kotak pemanenan dengan menggunakan sungai dan jalan sebagai batas petak. Petak digunakan untuk memonitor luas dan kondisi vegetasi. Areal kerja dibagi dalam kotak permenen dengan menggunakan jalan dan sungai sebagai batas petak atau luas 500 – 4000 ha, tergantung adanya batas alam setiap petak mempunyai nomor. Petak berfungsi bagi monitoring luas lahan dan monitoring kondisi vegetasi (Sujatmoko, 2002).


BAHAN DAN METODE

            Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu peta kontur dengan skala 1:10.000, buku data, penggaris, alat tulis, pena warna (hitam, biru, merah), dot grid, kalkulator dan pensil warna.
Dengan prosedur praktikum yakni Ditentukan petak tebang dengan cara menentukan lokasi TPn sebanyak – banyaknya, dimana syarat lokasi itu antara lain : lokasi datar, bebas banjir, dekat dengan jalan, dan aman dari gangguan masyarakat, Ditarik garis melingkar dengan menggunakan jangka dan radius 750 m (jarak sarad maksimum) = 15 cm, Ditentukan pusat lokasi TPn dan ditandai dengan membuat petak ukuran 1 cm x 1 cm, Direncanakan petak tebang yang akan direncanakan, Apabila ada dua atau lebih petak tebang yang overlap, maka dimasukkan ke dalam salah satu petak tebang yang dianggap lebih bagus.



DAFTAR PUSTAKA


Harjadi, Prakosa, D, dan Wuryanta. 2007. Analisis  Karakteristik  Kondisi  Fisik Lahan DAS dengan PJ dan SIG di DAS Benain - Noelmina. 2007. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 7 No.2 thn 2007. Solo.

Martono, D, Surlan, dan Sukmana. Aplikasi Data Penginderaan Jauh untuk Mendukung  Perencanaan Tata Ruang di Indonesia. 2006. Jurnal Inovasi. Vol.7/XVIII/Juni 2006. Jakarta.

Muhamadi, M. 2004. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh November. Jurnal Teknik Geodesi FTSP – ITS. Vol. XI No. 3 thn 2004. Surabaya.

Rahmad. 2002. Inventarisasi Sumber Daya Lahan Kabupaten Pelalawan dengan Menggunakan Citra Satelit. Jurnal Teknik Kimia. UNRI : Riau.
    
Sarsito, D. 2001. Studi Deformasi secara Geometrik: Pengukuran, Pengolahan Data dan Analisis. Jurnal Surveying dan Geodesi. Vol. XI, no.1, tahun 2001. Bandung.

Siti, Saido, A, dan  Dhianarto. 2007. Kajian Genangan Banjir Saluran Drainase dengan Bantuan  Sistem Informasi Geografi (Studi Kasus: Kali Jenes, Surakarta). Jurusan Teknik Sipil FT UNS. Surakarta.

Sujatmoko, B. 2002. Kalibrasi Model Matematis 2D Horizontal Feswms dalam Kasus Perubahan Pola Aliran Akibat adanya Krib di Belokan. Jurnal Teknik Sipil. Vol. 3, no. 1, tahun 2002. Riau. 
             
Yuwono. 2004. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh November. Jurnal Teknik Geodesi FTSP – ITS. Vol. XIV No. 3 thn 2004. Surabaya.

Silvikultur



IDENTIFIKASI INDEKS KUALITAS TEMPAT TUMBUH


PENDAHULUAN

Dalam pengelolaan hutan alam produksi, produktivitas hutan menjadi satu tuntutan yang harus dipenuhi. Produktivitas itu sendiri ditentukan oleh kualitas tempat tumbuh dan teknik silvikultur yang dikembangkan.  Tantangan utama dalam rehabilitasi hutan produksi bekas tebangan adalah menciptakan kondisi tempat tumbuh yang cocok bagi pertumbuhan jenis dipterocarpa.  Relevansinya dengan peningkatan produktivitas hutan alam produksi bekas tebangan, maka penerapan Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) yang kemudian beralih menjadi TPTI-Intensif atau SILIN (Silvikultur Intensif) merupakan salah satu alternatif yang patut dipertimbangkan dalam pengelolaan hutan alam produksi dengan cara penanaman jenis dipterocarpa secara jalur.  Dalam sistem ini, setelah dilakukan tebang pilih, dibuat jalur tanam selebar 3 m, dan 20 m untuk jalur antara yang dibuat secara berselang-seling.  Sepintas sistem ini diduga menimbulkan pengaruh yang cukup besar, terhadap kualitas tanah yang pada akhirnya akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman.
Faktor tempat tumbuh tegakan adalah totalitas dari perubahan tempat tegakan , mencakup bentuk lapangan , sifat-sifat tanah dan iklim yang memiliki tingkat keeratan hubungan yang cukup tinggi dengan dimensi tegakan . P0ubah ubah ini tidak perlu berupa faktor – faktor yang berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan tegakan.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tegakan
Fungsi pertumbuhan dan hasil tegakan merupakan alat yang sangat berguna dalam pengaturan hasil hutan dengan berlandasrkan kepada prinsip kelestarian hasil. Model fungsi ini sangat baik dalam penyusunan studi kelayakan pembangunan HTI maupun dalam penyususnan rencana karya pembangunan pengusahaan hutan. Pembentukan fungsi pertumbuhan dan hasil tegakan harus memperhatikan ketiga faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tegakan, yaitu : faktor genetik, keadaan tempat tum,buh dan tindakan silvikultur.
Kramer dan Koslowski (1960) menyatakan bahwa pertumbuhan pohon sangat ditentukan oleh interaksi antara tiga faktor, yaitu keturunan, lingkungan dan terknik silvikultur. Secara skematis digambarkannya interaksi dari ketiga faktor itu
      Kramer dan Koslowski (1960) mengelompokkan faktor-faktor lingkungan (luar) ke dalam tanah, iklim, api, pencemaran, dan faktor biotic. Faktor-faktor tanah, iklim, api, pencemaran termasuk faktor abiotik, sedangkan faktor pengatur tumbuh (hormaon), keseimbangan air dan genetic dimasukkannya ke dalam faktor dalam dari pohon
            Kualitas tanah merupakan gambaran utuh dari suatu kondisi spesifik tanah untuk melakukan fungsinya (Karlen et al. 1997).  Untuk itu maka kajian tentang perubahan kualitas tanah merupakan studi yang sangat penting dalam praktek Silin yang selama ini belum banyak dibahas.  Informasi tentang kualitas tanah, sebagai indikator yang bersifat sensitif, dapat digunakan untuk menjawab beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan dugaan menurunnya produktivitas hutan dan banyaknya carbon yang disimpan di dalam tanah hutan.  Lebih lanjut lagi, informasi kualitas tanah akan turut membantu dalam meneliti beberapa kunci penting ekosistem hutan, seperti produktivitas dan kelestarian sistem pengelolaan hutan, konservasi sumberdaya tanah dan air, serta kontribusi kawasan hutan terhadap siklus carbon global (O’Neill dan Arnacher 2004).  Dengan demikian kualitas tanah merupakan aspek penting dalam kaitannya dengan isu kelestarian dan lingkungan (Lal 1998)



Tapak, Persediaan Tanaman, dan Jarak Tanam
            Bahasa internasional (inggris) subbab diatas sering disebut sebagai 3 S yaitu site, stocking, dan spacing, merupakan dasar utama dalam pengelolaan hutan. Mengapa dikatakan begitu karena memang yang namanya hutan harus menempati lahan atau tapak dan beberapa persediaan (stock = tandon) dari tumbuhan atau tegakan yang ada dalam kaitannya dengan jarak tanam dari individu yang menyusun tegakan tersebut.
            Untuk mengetahui kapasitas suatu tapak menghasilkan produksi kayu rimbawan menggunakan suatu metoda yaitu pengukuran bonita. Bonita merupakan parameter untuk klasifikasi kesuburan suatu tapak dalam memproduksi hasil kayu dari satu jenis pohon tertentu. Dalam hal ini yang dinamakan grafik bonita ialah grafik yang menunjukkan hubungan antara umur suatu tegakan pohon dengan peninggi. Peninggi ditentukan atas dasar mengukur tinggi rata-rata dari 100 pohon tertinggi dari suatu areal hutan yang luasnya 1 Ha.

PENILAIAN LAHAN HUTAN DAN TEGAKAN

A.    Pengertian
Penilaian hutan merupakan alat yang penting dari manajemen untuk mencari pilihan financial terbaik pada kondisi yang ada. Secara umum dapat dikatakan bahwa ada 3 dasar untuk melakukan penilaian yaitu :
1.      Nilai biaya (cost value) yang dalam hal ini berdasarkan adanya biaya yang dikeluarkan, penggantian atau restorasi;
2.      Nilai pendapatan (income value) yaitu perkiraan dari nilai kiwari bersih dari semua pengeluaran atau penerimaan yang diharapkan;
3.      Nilai pasar , nilai pasar apabila ada dan dapat diaplikasikan merupakan pendekatan yang sangat bagus dan realistik dalam penilaian hutan.
Dalam penilaian lahan hutan dan tegakan karena berhubungan dengan waktu yang panjang maka konsep tingkat bunga merupakan hal tidak dapat ditinggalkan atau diabaikan.
B.     Nilai Harapan Lahan
Modal utama dari perusahaan hutan adalah lahan dan tegakan sehingga penilaian lahan dan tegakan merupakan langkah yang penting dalam rangka penilaian ekonomis perusahaan hutan. Untuk menilai lahan hutan dikenal adanya rumus Faustmann yang merupakan metode untuk mengukur nilai harapan lahan (Land Expectation Value) apabila kita menganggap investasi berupa penanaman dan pemeliharaan pada suatu tanah yang kosong.

Faktor-Faktor Untuk Menentukan Nilai Lahan Hutan
            Oleh karena nilai lahan hutan diperoleh dari hasil tanaman yang diperoleh dari hasil tanaman yang tumbuh diatas lahan tersebut maka penaksiran nilai ini memerlukan pengukuran hasil tanaman yang diperoleh dalam kurun  waktu tertentu. Masalah yang timbul ialah bagaimana menentukan nilai pendapatan yang diperoleh di masa datang atau kontribusi dari lahan tersebut. Empat faktor yang berpengaruh dalam hal ini adalah :
1.      Kesuburan Tanah (bonita)
2.      Intensitas manajemen yang dipraktekkan termasuk biaya yang dikeluarkan
3.      Nilai pasar dari produk yang dihasilkan
4.      Pentingnya kurun waktu dalam pelibatannya yang diukur dengan tingkat bunga.

            Teras individu adal ah teras yang dibuat pada setiap individu tanaman  terutama tanaman tahunan (Gambar 7). Jenis teras ini biasa diaplikasikan pada areal perkebunan atau tanaman buah-buahan. Selain untuk mengurangi erosi, pembuatan teras indi vidu ditujukan pula untuk meningkatkan ketersediaan a ir bagi tanaman tahuna n (Agus dan Widianto,  2004). Fungsi lain dari teras ini adalah untu k memfasilitasi pemeliharaan tanaman  tahunan, sehingga tid ak semua lahan terganggu dengan adanya aktivitas pemeliharan, seperti pemberian pupuk, penyiangan, dan  lain-lain. P ada bagian lain, lahan dibiarkan tertutup oleh rumput dan atau leguminosa penutup tanah (legum  cover crop). Jajaran teras individu tidak perlu searah kontur, tetapi menurut arah yang paling cocok untuk penanaman tanaman (misal nya arah timur barat untuk mendapatkan cahaya matahari yang maksimal). Dimensi teras ini bisa bervariasi tergantung jenis dan umur tanaman, namun ukurannya berkisar antara 50-100 cm untuk panjang dan lebar, serta 10-30 cm untuk kedalamannya.
Teras individ u tergolong efektif dalam mengendalikan erosi. Hasil  penelitian Haryati et al. (1992) menunjukkan pada tahun pertama setelah  pembuatan teras individu, erosi yang terjadi 8,5 t ha-1, da n menurun pada tahun  kedua menjadi 3,3 t ha-1.




DAFTAR PUSTAKA

Latifah, S. 2004. Tinjauan Konseptual Model Pertumbuhan Dan Hasil Tegakan Hutan. Universitas Sumatera Utara Press. Medan.

Pamoengkas, P. 2007. Pertumbuhan dan Kualitas Tanah Tanaman Jenis Shorea Umur 7 Tahun Dalam Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur di HPH PT. Sari Bumi Kusuma, Kalimantan Tengah. http://www.pt-sbk.com/index.php?option=com_content&view=article&id=70&Itemid =95 [Diakses tanggal 19 April 2010]

Kuncoro, I. 1995. Diktat Manajemen Hutan. Universitas Sumatera Utara Press. Medan.




Pemanenan hasil Hutan


PERENCANAAN JALAN SARAD

ABSTRACT
In general walke sarad made to facilitate hewer in instructing wood to be cut away so that will be more easy for tractor for the menyaradnya of. Target namely know length and wide [of] good sarad [of] especial dig or branch dig, knowing productivity walke sarad, knowing transported tree ratio, knowing single strightened damage ratio, ratio openness of areal whereas, and know ratio openness of permanent areal, with formula of RPT = amount of tree transported / amount of potential tree [of] x 100%, RKTT = strightened amount remain to be hit [by] sarad / strightened amount remain potentially [of] x 100%, RKAP = wide [of] long x [of] road;street of sarad especial / wide [of] check cut away x 100%, RKAS = wide [of] long x [of] road;street of sarad branch / wide [of] [of] check cut away x 100%, and productivity walke sarad ( PJS) = amount of tree transported / length walke sarad
 Keyword: Walke sarad, Hewing, tree transported, wide [of] sarad

ABSTRAK
Pada umumnya jalan sarad dibuat untuk memudahkan penebang dalam mengarahkan kayu yang akan ditebang sehingga akan lebih mudah bagi traktor untuk menyaradnya. Tujuan yakni mengetahui panjang dan luas sarad baik galian utama atau galian cabang, mengetahui produktivitas jalan sarad, mengetahui rasio pohon yang terangkut, mengetahui rasio kerusakan tegakan tunggal, rasio keterbukaan areal sementara, dan mengetahui rasio keterbukaan areal permanen, dengan rumus RPT = jumlah pohon terangkut/jumlah pohon potensial x 100%, RKTT = jumlah tegakan tinggal terkena sarad / jumlah tegakan tinggal potensial x 100%, RKAP = lebar x panjang jalan sarad utama / luas petak tebang x 100%, RKAS = lebar x panjang jalan sarad cabang / luas petak tebang x 100%, dan produktivitas jalan sarad (PJS) = jumlah pohon terangkut / panjang jalan sarad.
 
Kata kunci: Jalan sarad, Penebangan, pohon terangkut, luas sarad

PENDAHULUAN

Pada umumnya peta adalah sarana guna memperoleh gambaran data ilmiah yang terdapat di atas permukaan bumi dengan cara menggambarkan berbagai tanda - tanda dan keterangan - keterangan, sehinga mudah     dibaca dan dimengerti. Jika peta adalah hasil pengukuran dan   penyelidikan yang dilaksanakan baik langsung maupun tidak langsung    mengenai hal - hal yang bersangkutan dengan permukaan bumi     dan didasarkan pada landasan ilmiah. Peta dapat memberikan  gambaran mengenai kondisi atmosfir, mengenai kondisi permukaan tanah, mengenai keadaan lautan, mengenai bahan yang membentuk lapisan tanah dan       lain – lain (Rahmad, 2002).
Adapun peta - peta yang memberikan gambaran mengenai hal – hal      tersebut di atas, berturut - turut disebut peta meteorologi, peta permukaan tanah, peta hidrografi, peta geologi dan lain - lain yang kesemuanya adalah peta  dalam arti yang luas. Garis kontur adalah garis yang menghubungkan                titik yang mempunyai ketinggian yang sama. Beda kontur dalam        penggambaran tergantung dari skala yang telah ditentukan. Dari  bilangan skala tersebut selanjutnya dapat digamabar atau dibuat peta. Penggambaran garis kontur kontur hanya boleh dilakukan dengan      melakukan interpolasi antara dua buah titik detail saja. Pemulihan nilai     ketinggian garis kontur untuk penggambaran diambil bertahap untuk       disesuaikan dengan kelipatan beda kontur sesuai interval kontur,                    karena interval kontur merupakan jarak antara dua kontur yang berbeda  (Martono, dkk, 2006).
Selama ini pengelolaan hutan alam terutama pemanenan kayunya masih tidak dilakukan secara professional, sehingga keseluruhan sistem silvikultur yang diterapkan mengalami kegagalan. Hal ini antara lain dikarenakan dalam penerapan silvikultur belum mengintegrasikan sistem pemanenan kayu dengan sistem silvikultur. Selain itu, teknik perencanaan serta pelaksanaan pemanenan kayu yang baik dan benar masih belum dipergunakan dalam pemanenan kayu di hutan alam Indonesia. Inventarisasi tegakan dilakukan sebelum penebangan pada plot ukuran 100 m X 100 m (1 Ha) pada petak-petak penelitian teknik konvensional dan teknik RIL untuk melihat potensi tegakan sebelum kegiatan pemanenan kayu (Hanafiah dan Muhdi, 2007).
Untuk pemetaan diperlukan adanya kerangka dasar. Kerangka dasar   adalah sejumlah titik yang diketahui koordinatnya dalam sistem tertentu          yang mempunyai fungsi sebagai pengikat dan pengontrol ukuran baru.     Mengingat fungsinya, titik - titik kerangka dasar harus ditempatkan         menyebar merata di seluruh daerah yang akan dipetakan dengan                kerapatan tertentu. Mengingat pula pengukuran untuk pemetaan           memerlukan waktu yang cukup lama, maka titik - titik kerangka dasar             harus ditanam cukup kuat dan terbuat dari bahan yang tahan lama.                 Dalam pengukuran untuk pembuatan peta ada dua jenis kerangka                     dasar yaitu kerangka dasar horizontal (X,Y) dan kerangka dasar                    vertikal (Z). Pada praktiknya titik - titik kerangka dasar baik horizontal         maupun vertikal dijadikan satu titik (Muhamadi, 2004).
Kontur adalah garis hubung antara titik - titik yang mempunyai     ketinggian yang sama. Garis yang dimaksud disini adalah garis khayal             yang dibuat untuk menghubungkan titik - titik yang mempunyai              ketinggian yang sama. Walaupun garis tersebut mengubungkan antara                dua titik, namum bentuk dan polanya tidak merupakan garis                            patah - patah. Garis - garis tersebut dihaluskan (smoothing) untuk membuat kontur menjadi “luwes” atau tidak kaku. Hal ini diperbolehkan pada proses kartografi (Yuwono, 2004).
Dalam melakukan pengukuran suatu daerah ialah menentukan             unsur - unsur, titik - titik atau bangunan yang ada didaerah itu dalam             jumlah yang cukup sehingga didaerah itu dengan sisinya dapat                       dibuat suatu skala yang telah ditentukan terlebih dahulu. Peta                     berfungsi dalam menempatkan sesuatu atau fenomena – fenomena             geografis kedalam batas pandangan kita. Dimana peta tersebut                        dapat dikatakan sebagai gambaran unsur - unsur atau suatu                     representasi dari ketampakan abstrak yang dipilih dari permukaan bumi.          Hasil ini sangat berkaitan dengan permukaan bumi atau benda - benda angkasa (Harjadi, dkk, 2007).
Garis kontur adalah sebuah garis yang digambarkan pada denah yang menghubungkan semua titik yang ketinggiannya sama, di atas atau di bawah datum tertentu. Konsep garis kontur tersebut dapat dengan mudah dipahami        jika kita membayangkan sejumlah kolam. Dengan mempelajari cara        pembuatan kontur kita dapat mengetahui keadaaan wilayah hutan yang            ingin digambarkan atau dipetakan pada ketinggian yang sama sehingga dapat mengetahui tinggi rendahnya suatu wilayah (Sarsito, 2001).
Kontur dapat digambarkan sebagai proyeksi garis perpotongan             bidang mendatar dengan permukaan tanah dalam ukuran dan bentuk                 yang lebih kecil. Pada pembuatan peta kontur ini , juga diperlukan               interval kontur yaitu jarak tegak antara dua kontur yang berdekatan                    dan berbanding terbalik dengan skala. Makin besar skala,maka                    semakin kecil interval kontur. Untuk penggambaran di peta harus           dikonversi sesuai dengan skala petanya, dan memperhatikan titik detail sebagai titik ekstremnya (Siti, dkk, 2007).
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui cara menentukan kelas kemiringan lapangan pada peta, untuk menentukan luas areal hutan berdasarkan fungsi kawasan hutan, untuk menentukan persentase kemiringan lapangan, dan untuk menentukan fungsi kawasan lapangan. 


BAHAN DAN METODE
            Praktikum ini dilaksanakan pada 18 Maret 2010, di ruang 204, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.           Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu peta kontur          dengan skala 1:10.000, buku data, penggaris, alat tulis, pena warna               (hitam, biru, merah), jangka, kertas millimeter, dan pensil warna.
Dengan prosedur praktikum yakni dibuat delinasi areal kawasan lindung berdasarkan ketentuan berikut : daerah radius 100 m dari tepi sungai atau kawasan lindung, mata air 12 ha, minimal 100 m dari tepi danau atau pantai laut yang diukur dari pasang tertinggi kea rah darat minimal 100 m dari kanan kiri sungai besar dan 50 m kanan kiri anak sungai yang berada diluar pemukiman dan dimulai dari sungai ordo 3. Setelah itu, ditentukan areal kawasan fungsi hutan yang telah diketahui pada saat menentukan klasifikasi kemiringan lapangan dengan ketentuan nilai kelas dikalikan dengan curah hujan, kesuburan tanah, dan kemiringan lapangan. Kriteria  peubah untuk menentukan hutan produksi atau lindung yakni kemiringan lapangan bobot 20, intensitas curah hujan bobot 10, jenis tanah bobot 15. Jika ketiga peubah dari perhitungan maksimum 25 (≤ 125), termasuk hutan produksi, skor 125-175, termasuk hutan produksi terbatas, dan skor ≥ 175, termasuk hutan lindung. Setelah itu ditentukan luasan sungai dengan menentukan ordonya terlebih dahulu. Ordo yang telah diketahui datanya dimasukkan ke dalam tabel.



DAFTAR PUSTAKA

Harjadi, Prakosa, D, dan Wuryanta. 2007. Analisis  Karakteristik  Kondisi  Fisik Lahan DAS dengan PJ dan SIG di DAS Benain - Noelmina. 2007. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 7 No.2 thn 2007. Solo.
Martono, D, Surlan, dan Sukmana. Aplikasi Data Penginderaan Jauh untuk Mendukung  Perencanaan Tata Ruang di Indonesia. 2006. Jurnal Inovasi. Vol.7/XVIII/Juni 2006. Jakarta.
Muhamadi, M. 2004. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh November. Jurnal Teknik Geodesi FTSP – ITS. Vol. XI No. 3 thn 2004. Surabaya.
Rahmad. 2002. Inventarisasi Sumber Daya Lahan Kabupaten Pelalawan dengan Menggunakan Citra Satelit. Jurnal Teknik Kimia. UNRI : Riau.   
Sarsito, D. 2001. Studi Deformasi secara Geometrik: Pengukuran, Pengolahan Data dan Analisis. Jurnal Surveying dan Geodesi. Vol. XI, no.1, tahun 2001. Bandung.
Siti, Saido, A, dan  Dhianarto. 2007. Kajian Genangan Banjir Saluran Drainase dengan Bantuan  Sistem Informasi Geografi (Studi Kasus: Kali Jenes, Surakarta). Jurusan Teknik Sipil FT UNS. Surakarta.
Sujatmoko, B. 2002. Kalibrasi Model Matematis 2D Horizontal Feswms dalam Kasus Perubahan Pola Aliran Akibat adanya Krib di Belokan. Jurnal Teknik Sipil. Vol. 3, no. 1, tahun 2002. Riau.          
Yuwono. 2004. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh November. Jurnal Teknik Geodesi FTSP – ITS. Vol. XIV No. 3 thn 2004. Surabaya.

Hanafiah, D dan Muhdi. 2007. Dampak Pemanenan Kayu Berdampak Rendah Terhadap Kerusakan Tegakan Tinggal di Hutan Alam. Universitas Sumatera Utara Press. Medan.