H.O.R.A.S

Selamat Datang buat anda yang mengunjungi blog ini, Segala informasi dalam blog ini merupakan bantuan dari buku-buku, majalah, dan lain-lain
Semoga blog ini bermanfaat bagi anda ^^.


Rabu, 19 Juni 2013

Persona Laskar Pelangi


DEIKSIS PERSONA DALAM NOVEL LASKAR PELANGI
 KARYA ANDREA HIRATA

Oleh :
DEWI SIMANJUNTAK

BAB I
PENGERTIAN BAHASA

1.1  Latar Belakang dan Masalah
           Kridalaksana (dalam Chaer,1994 :33) mengemukakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerjasama berkomunikasi,dan mengindetifikasikan diri. Bahasa merupakan hasil dari aktivitas manusia karena melalui bahasa akan terungkap sesuatu hal yang ingin disampaikan pembicara dan penulis kepada pembaca dan penyapa. Hal tersebut tentu saja berupa informasi-informasi baik berupa lisan maupun tulisan.
           Komunikasi akan berjalan lancar apabila sasaran bahasa yang digunakan tepat, artinya bahasa itu dipergunakan sesuai dengan situasi dan kondisi penutur dan sifat pertuturan itu dilaksanakan. Hal ini sangat bergantung pada faktor-faktor penentu dalam tindak bahasa atau tindak komunikasi, yaitu lawan bicara, tujuan pembicara, masalah yang dibicarakan, situasi. Penggunaan bahasa seperti inilah yang dikaji dalam pragmatik (Purwo, 1984:22).
           Levinson (dalam Asrul 1996 : 23) mengatakan “Pragmatics is the study of deictic (at least in part), implicature, presupposition, speech act, and aspect of discourse structure”= pragmatik  adalah penelitian di bidang deiksis, implikatur, pranggapan, pertuturan (tindak ujaran ), dan struktur wacana.
           Pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan penutur (penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (pembaca). Pragmatik mengkaji lima hal yaitu deiksis, pranggapan, tindak ujaran, implikatur, dan struktur wacana. Deiksis sebagai salah satu kajian pragmatik yang merupakan gejala semantik yang terdapat pada kata-kata atau konstruksi yang dapat ditafsirkan acuannya dengan memperhitungkan situasi pembicaraan yang jelas. Istilah  deiksis berasal dari bahasa Yunani Kuno yaitu deiktikos yang bermakna “hal penunjukkan secara langsung, berpindah atau berganti-ganti” tergantung pada siapa yang menjadi pembicara, tempat dituturkanya kata-kata itu. Kata-kata seperti saya, dia, kamu, merupakan kata-kata yang bersifat deiktis, rujukan kata tersebut barulah dapat diketahui siapa, dimana, dan pada waktu kapan kata-kata itu diucapkan. Dan peristiwa deiksis dapat terjadi pada bahasa lisan maupun tulisan dan dapat pula berupa deiksis persona, deiksis tempat, deiksis waktu, deiksis sosial, deiksis wacana.
           Deiksis persona adalah pemberian bentuk kepada peran peserta dalam kegiatan berbahasa. Dalam kategori deiksis persona yang menjadi kriteria adalah peran/peserta dalam peristiwa berbahasa itu, peran dalam kegiatan berbahasa itu dibedakan menjadi tiga macam, yaitu persona pronominal pertama, persona kedua, persona ketiga (Haliday dan Hasan, 1984: 44).
Kata-kata deiksis persona pada setiap bahasa jumlahnya terbatas. Walaupun demikian, sistem deiksis justru termasuk sangat sulit dipelajari orang yang bukan penutur asli bahasa yang bersangkutan (Purwo,1980:12), Oleh karena itulah deiksis sebagai salah satu bidang kajian pragmatik menjadi topik dalam penelitian ini, tetapi dibatasi yang dibahas hanya terbatas pada deiksis persona.
           Penelitian tentang deiksis dilakukan Purwo (1984) dalam penelitianya membagi deiksis tiga bagian, yaitu deiksis persona, ruang, dan waktu. Deiksis persona dibagi tiga yaitu deiksis pronominal persona pertama, kedua, dan ketiga, khusus tentang persona pernah dilakukan oleh Sitepu (1998) yang terdapat didalam cerpen. Penelitian tentang deiksis dalam novel belum pernah dilakukan untuk itulah peneliti tertarik meneliti bagaimana deiksis persona yang terdapat pada sebuah novel. Penelitian ini berjudul “Deiksis Persona dalam Novel Laskar Pelangi” Karya Andrea Hirata.
           Novel Laskar Pelangi setebal 534 halaman ini merupakan sebuah novel yang mengalami cetak ulang sebanyak enam belas kali semenjak terbit pada September 2005 sampai dengan Januari 2008.Walaupun pengarang sastrawan pemula, tetapi karya-karyanya sudah menjadi Best seller. Laskar pelangi merupakan buku pertama dari novel tetralogi karya Andrea Hirata .Buku berikutnya adalah Sang Pemimpi, Endensor ,dan Maryamah Karpov, novel Laskar Pelangi  sudah diadaptasikan menjadi sebuah film. Film Laskar Pelangi diproduksi oleh Miles Production dan Mizan Cinema yang digarap oleh Riri Riza. Film Laskar Pelangi disambut masyarakat dengan positif dan diterima dengan baik di tengah-tengah masyarakat. Film ini bertahan lama di bioskop-bioskop Indonesia karena menarik minat penonton.
           Novel Laskar Pelangi merupakan  karya dari seorang pengarang Indonesia yang pernah menuntut ilmu di Sorbonne, Prancis. Novel ini bercerita tentang kehidupan sepuluh anak dari keluarga miskin yang bersekolah (SD dan SMP) di Sekolah Muhammadiyah di Pulau  Belitong yang penuh dengan keterbatasan.
Hartono (2007) mengatakan bahwa novel Laskar pelangi penuh dengan  taburan wawasan yang luas bak samudra dari pengarangnya yang paham betul tentang ilmu eksakta, seni, budaya. Novel ini merupakan perjalanan hidup dari pengarang, mengenai masa kecil yang dihabiskannya di tanah kelahirannya yaitu Pulau Belitong yang terkenal dengan timahnya. Namun, dengan kepandaian bercerita, Andrea mampu menampilkan segala kekurangan dan keterbatasan hidup bukan hanya sebagai ironi dan tragedi, melainkan juga bisa  berbentuk ria dan suka cita, angan dan kebahagian (Wikipedia Indonesia :2008).
           Peneliti tertarik mengkaji novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata karena adanya bentuk deiksis persona yang rujukannya kurang jelas dapat dikemukakan sebagai contoh pada petikan di bawah ini
 “Perubahan ekstrem suhu adalah konsekuensi samudra. Karena itu kemarau di kampung kami menjadi sangat tidak menyenangkan. Kepekatan oksigen menyebabkan tubuh cepat lelah dan mudah mengantuk. Namun, ada suku di mana-mana. Anda tentu paham maksud saya, bulan ini amat  semarak karena banyak perayaan berkenan dengan hari besar negeri ini. Agustus, semuanya serba menggairahkan”
Pada contoh diatas terlihat bahwa deiksis persona pronominal  pertama jamak kami rujukannya kurang jelas karena persona pronominal kami biasanya mengacu kepada orang pertama jamak atau mengacu kepada orang pertama tunggal jadi bentuk persona pronominal kami seakan-akan menyembunyikan beberapa orang yang terlibat dalam pembicaraan tersebut dan tidak ingin mengacu dirinya secara langsung. Begitu juga dengan deksis persona pronominal kedua tunggal anda  rujukannya kurang jelas karena bentuk persona pronominal anda dalam suatu pembicaran ikut berperan serta dalam suatu tuturan sementara dalam kalimat tersebut tidak ada terdapat jadi hubunganya tidak pribadi sehingga bentuk anda tidak diarahkan pada satu orang secara khusus. Pada contoh diatas  hal-hal seperti banyak ditemukan dalam novel Laskar Pelangi ini jugalah alasan penulis untuk meneliti deiksis persona dalam novel Laskar Pelangi.
Bukan pertama kali deiksis persona diteliti baik dalam skiripsi maupun dalam makalah. Antara lainya Wahyudi Marli (1990)dengan judul Deiksis Persona Dalam Bahasa Jawa, ia menyimpulkan bahwa bahasa Jawa mengenal deiksis persona yang dibagi dalam bentuk-bentuk kata ganti persona dan perilaku pada tingkat tertentu
Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya karena ini fokus pada deiksis yang terdapat di dalam novel Laskar Pelangi. karena bahasa dalam sebuah novel juga ada keunikan dilihat dari bentuk-bentuk  deiksis personanya. Hal ini juga yang menjadi latar belakang  peneliti tertarik untuk meneliti deiksis Persona dalam Novel Laskar Pelangi. Peneliti ingin mengungkapkan bentuk-bentuk deiksis persona yang terdapat dalam Laskar Pelangi.

1.2 Masalah
           Berdasarkan uraian di atas,dapatlah dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bentuk deiksis persona apa sajakah yang mengalami ketidakjelasan rujukan dalam novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata?
2 .Deiksis persona apa yang paling dominan muncul  mengalami ketidakjelasan rujukan dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata?

1.2  Batasan Masalah
           Suatu penelitian haruslah mempunyai batasan masalah. Dengan pembatasan masalah yang ada, penelitian yang dikaji dapat terarah dan tidak terjadi kesimpangsiuran masalah yang hendak  diteliti sehingga tujuan yang dimaksudkan peneliti dapat tercapai. Penelitian mengenai deiksis ini dibatasi deiksis persona  yang memfokuskan pada ketidakjelasan rujukan dalam novel Laskar Pelangi.




1.3  Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1     Tujuan Penelitian
Pada hakikatnya sebuah penelitian mempunyai tujuan tertentu yang memberi arah pelaksanaan penelitian tersebut. Hal ini dianggap penting agar tujuan  yang diinginkan dapat tercapai.
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.Mendeskripsikan  bentuk deiksis persona dalam novel Laskar Pelangi.
2.Menjelaskan bentuk deiksis persona yang paling dominan terdapat dalam novel Laskar Pelangi


1.3.2     Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut:
1.Menambah pengetahuan masyarakat bahasa tentang bentuk deiksis persona dalam novel Laskar Pelangi
2.Menjadi Perbandingan kepada peneliti-peneliti lainya yang akan menganalisis hal yang sama dalam bidang linguistik,khususnya yang ingin meneliti tentang Deiksis persona.

BAB II
KONSEP, LANDASAN  TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep
           Konsep adalah ide-ide penggambaran hal-hal atau benda-benda ataupun gejala sosial yang dinyatakan dalam istilah atau kata (Malo,dkk. 1985:46) sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007:588), konsep adalah gambaran mental dari objek, proses, atau apa pun  yang ada di luar bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain.
           Untuk memahami hal-hal yang ada dalam penelitian ini perlu dipaparkan beberapa konsep, yaitu konsep deiksis,deisis persona,dan novel Laskar Pelangi

           2.1.1 Deiksis
           Istilah deiksis dipinjam dari istilah Yunani Kuno, yaitu deiktikos yang bermakna “hal penunjukkan secara langsung” dalam istilah Inggris deictic dipergunakan sebagai istilah untuk pembuktian langsung sebagai lawan dari istilah elentic, yang merupakan istilah untuk pembuktian tidak langsung  (Purwo, 1984:2).
           Lyons (dalam  Purwo 1977:636) mengatakan bahwa deiksis adalah lokasi dan identifikasi orang, objek, peristiwa, proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi ruang dan waktunya, pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara.

           2.1.2 Deiksis Persona
           Deiksis persona adalah referen yang ditujukan oleh kata ganti persona yang berganti- ganti tergantung dari peranan yang dibawakan oleh peserta tindak ujaran. Orang yang sedang berbicara mendapat peranan yang disebut persona pertama, apabila dia tidak berbicara lagi , dan kemudian menjadi pendengar maka ia  disebut persona kedua, orang yang tidak hadir dalam pembicaraan tetapi menjadi bahan pembicaraan disebut persona ketiga (Purwo,1984:22).

           2.1.3 Novel Laskar Pelangi
           Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat pelaku. Novel Laskar Pelangi merupakan perjalanan hidup dari pengarang mengenai masa kecil yang dihabiskannya di tanah kelahirannya yaitu Pulau Belitong yang terkenal dengan timahnya. Budaya Melayu Belitong dengan kemiskinan masyarakat daerah pertambangan menjadi warna yang pekat melatarbelakangi kisah yang dituturkannya. Namun, kepandaian bercerita Andrea mampu menampilkan segala kekurangan dan keterbatasan hidup bukan hanya sebagai ironi dan tragedi, melainkan juga bisa berbentuk  duka dan sukacita, angan dan kebahagian (Wikipedia Indonesia ; 2008).

2.2 Landasan Teori
2.2.1 Deiksis
           Istilah deiksis dipinjam dari istilah Yunani kuno, yaitu deiktikos yang bermakna  “hal penunjukan secara langsung”.Dalam logika istilah Inggris  dectic dipergunakan sebagai istilah untuk pembuktian langsung sebagai lawan dari istilah elenctic, yang merupakan istilah untuk pembuktian tidak langsung (Purwo,1984:2)
           Sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila referennya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung pada siapa  yang menjadi si pembicara dan tergantung pada saat dan tempat dituturkanya kata itu (Purwo,1984:1) seperti kata saya, aku,sini,sekarang.
           Menurut Chaer dan Agustina  (1984 : 75) deiksis adalah hubungan antara kata yang digunakan di dalam tindak tutur dengan referen kata itu yang tideak tetap atau berubah dan berpindah. Kata-kata yang referennya deiksis antara lain, kata-kata berkenaan dengan persona (seperti  aku, saya, kamu)
           Menurut Siregar  (1996:32) deiksis lazim juga diartikan sebagai salah satu segi makna dari kata atau kalimat yang memiliki referen tidak tetap (seperti saya, sini, sekarang), maka kata atau kalimat itu mempunyai makna deiksis. Berbeda halnya dengan kata-kata seperti: buku, gedung, dan pisau. Di mana pun dan oleh siapa pun kata- kata itu diucapkan, referen yang diacu tetaplah sama. Akan  tetapi, referen dari kata saya, sini, sekarang baru dapat diketahui jika diketahui tempat, oleh siapa, dan pada waktu kapan kata-kata itu diucapkan.

           Contoh-contoh berikut (dikutip dari purwo 1984) akan memperjelas apa yang dimaksud dengan deiksis

           Andaikan Anda seorang wanita muda yang berjalan seorang diri,  lalu mendengar bunyi siulan, dan Anda merasa seolah-olah ingin menyatakan reaksi Anda kepada si pembunyi siulan itu bahwa Anda  merasa sebal atau marah terhadap apa yang dilakukan si penyiul itu. Apa yang hendak Anda lakukan? Situasi seperti ini sebenarnya ada dua ketidakpastian. Pertama,Anda tidak tahu siapa yang  menyuarakan siulan itu. Kedua,anda barangkali bukanlah orang yang dituju oleh orang yang membuat siulan itu. Jika Anda memalingkan wajah Anda dan mencemberuti si penyiul itu, berarti Anda mengakui bahwa siulan itu memeng dialamatkan kepada anda. Perbuatan yang Anda lakukan itu dapat  dianggap perbuatan “ge-er”, terlalu cepat merasa “dibegitukan”.Arti semantis dari siulan itu sendiri jelas. Yang tidak jelas identitas si pengirim berita dan penerima berita; dengan kata lain aspek deiksis pesonanya tidak jelas.
           Contoh berikut, aspek deiksis personanya jelas .Anda ingin bertemu seseorang di tempat bekerja.Ketika sampai dikantornya,Anda melihat sepotong kertas tertempel pada pintunya yang bertuliskan “kembali dua jam lagi “. Beritanya jelas, identitas si pengirim berita  juga jelas, dan yang ditujupun jelas.
Deiksis Persona adalah pemberian bentuk  kepada peran  peserta dalam kegiatan berbahasa. Dalam katogori deiksis persona yang menjadi kriteria  adalah peran/peserta dalam peritiwa berbahasa itu. Peran dalam kegiatan berbahasa itui dibedakan menjadi tiga macam yaitu, persona pertama, persona kedua, persona ketiga ( Halliday dan Hasan, 1984:44). Dalam sisitem ini, persona pertama kategorisasi rujukan pembicara kepada  dirinya sendiri ,persona  kedua ialah kategorisasi rujukan pembicara kepada pendengar, dan persona ketiga  adalah kategorisasi rujukan kepada orang atau benda yang bukan pembicara dan lawan pembicara.
Penggunaan sistem deiksis persona dalam tindak komunikasi tidak hanya harus menguasai kaidah bahasanya tetapi juga harus memperhatikan latar budaya bahasa tersebut.tanpa memperhatikan dua hal ini dapat dimungkinkan tindak komunikasi tidak akan berhasil. Sebagai contoh  seorang mahasiswa Australia  menggunakan bentuk kamu  untuk memanggil seorang dosen di Indonesia.Bentuk tersebut dirasa kurang tepat bentuk ganti persona tersebut umumnya digunakan oleh pembicara yang mempunyai hubungan akrab dengan lawan bicara atau dari orang yang lebih tua ke yang muda. Sementara itu ada bentuk lain yang sama-sama untuk merujuk pada orang kedua tetapi khusus untuk memanggil seorang dosen yaitu Bapak atau Ibu sehingga apabila bentuk kamu yang dipilih komunikasi akan terganggu bahkan mungkin akan terputus
Dalam kaitanya dengan kompetensi pragmatik, bagaimana menggunakan deiksis  persona secara tepat perlu diperhatikan.Dengan ungkapan lain, dalam setiap tuturan pemakai bahasa dituntut untuk menggunakan deiksis persona secara tepat. Karena faktor deiksis persona ini termasuk salah satu faktor penentu di dalam tindak komunikatif.

2.2.3 Bentuk-bentuk deiksis persona
           Sehubungan dengan ketepatan pemilihan bentuk deiksis persona, maka harus diperhatikan fungsi bentuk-bentuk kata ganti persona dalam bahasa Indonesia. Ada tiga macam kata ganti persona, yaitu:
1.Kata Ganti Persona
           Kata ganti persona adalah kategorisasi rujukan pembicara kepada dirinya sendiri. Dengan kata lain kata ganti persona pertama merujuk pada orang yang sedang berbicara. Kata ganti persona pertama dibagai menjadi dua, yaitu kata ganti persona pertama tunggal dan kata ganti persona jamak
           Kata ganti persona pertama tunggal mempunyai tiga macam bentuk, yaitu aku, saya, daku (Purwo, 1984:17). Kata ganti persona pertama aku merupakan kata ganti yang sebenarnya (asli), sedangkan bentuk saya merupakan kata ganti persona pinjaman dari  sahaya (Slametmuljono, 1957:54). Bentuk aku mempunyai dua varaiasi bentuk, yaitu -ku dan ku-, sedangkan bentuk saya tidak mempunyai variasi bentuk. Berdasarkan distribusinaya sintaksisnaya bentuk -ku merupakan bentuk lekat kanan, sedangkan bentuk ku- merupakan bentuk lekat kiri.
           Selain bentuk kata ganti persona, digunakan pula nama orang untuk merujuk persona pertama tunggal (Samsuri,1987:238). Anak-anak biasa memakai dia untuk merujuk, pada dirinya sendiri misalnya seorang anak bernama Agus suatu ketika dia ingin makan dan dia mengucapkan “Agus  mau makan” yang berarti ‘aku mau makan’ (bagi diri agus). Akan tetapi apabila kalimat itu diucapkan oleh seorang ayah atau seorang ibu dengan nada bertanya “Agus mau makan?” maka nama Agus tidak lagi merujuk pada pembicaraan tetapi merujuk.pada pembicaraan tetapi merujuk pada personanya kedua tunggal (mitra diri).
           Dalam hal pemakainya, bentuk persona pertama  aku membentuk dan bentuk saya ada perbedaan. Bentuk saya adalah bentuk yang formal dan umumnya dipakai dalam tulisan atau ujaran yang resmi. Untuk tulisan formal pada buku non-fiksi, pidato, sambutan bentuk saya banyak digunaka bahkan pemakaian bentuk saya sudah menunjukkan rasa hormat dan sopan. Namun, demikian tidak menutup kemungkinan bentuk saya dipakai dalam situasi non-formal. Sebaliknya dengan aku lebih banyak dipakai dalam situasi yang tidak formal serta lebih menunjuk keakraban antara pembicara dan lawan bicara. Dengan kata lain bentuk saya tak bermarkah, sedangkan bentuk aku bermarkah keintiman (purwo, 1983:23).
           Bentuk dan fungsi persona pertama tunggal berbeda dengan bentuk dan fungsi kata ganti persona jamak. Bentuk kata ganti persona jamak meliputi kami dan kita. Dalam bahasa Inggris, baik untuk merujuk betuk kami dan kita hanya menggunakan satu bentuk, yaitu we. Bentuk we yang berarti kami akan meliputi (I, she, he, dan they) tanpa you sebagai lawan bicara sedangkan bentuk we yang berarti kita meliputi (I, she, he, they, dan you) (Haliday dan Hasan, 1984:50)
           Bentuk persona jamak kami merupakan bentuk yang bersifat ekslusif artinya bentuk persona tersebut merujuk pada pembicara atau penulis dan orang lain dipihaknya, akan tetapi tidak mencakup orang lain di pihak lawan bicara selain, bentuk kami juga sering digunakan dalam pengertian tunggal untuk mengacu kepada pembicara dalam situasi yang formal. Dengan demikan, kedudukan kami dalam hal ini menggantikan persona pertama tunggal , yaitu saya (Purwo, 1988:174). Hal ini berhubungan dengan sikap pemakai bahasa yang sopan mengemukakan dirinya dan karenanya menghindari bentuk saya. Sebaliknya dengan bentuk kita ,bentuk ini bersifat inklusif bentuk pronominal tersebut merujuk pada pembicara atu penulis, pendengar dan pembaca dan mungkin pihak lain (Leech, 1979:84). Oleh karena itu, bentuk kita biasanya digunakan oleh pembicara sebagai usaha untuk megakraban atau mengeratkan hubungan dengan lawan bicara.
           Dalam situasi yang berbeda bentuk kami memiliki rujukan dan makna yang berbeda. Sebagai contohbentuk kami yang digunakan oleh seorang presiden atau seorang raja saat berbicara dengan rakyatnya, bukanlah untuk merujuk pembicara tunggal guna mencapai kesopanan tetapi tersebut mewakili dirinya (raja dan presiden) dengan segenap pembantunya dan kekuasaan. Bentuk persona pertama selain merujuk pada pembicara. Kemungkinan juga merujuk pada lawan bicara (persona kedua). Hal ini  disebabkan oleh adanya perbedaan konteks pertuturan.       
           Contoh :
           Wah bajuku baru ! Pantas gayanya lain.
           Bentuk kata ganti persona pertama –ku  pada kalimat diatas merujuk pada lawan bicara bukan untuk merujuk pembicara. Penggunaan bentuk deiksis semacam ini biasanya digunakan oleh seorang pembicara yang sudah dewasa kepada anak kecil atau untuk menyinggung lawan bicara karena lawan bicaranya memakai baju baru.

2. Kata Ganti Persona Kedua

           Kata ganti persona kedua adalah kategorisai rujukan pembicara kepada lawan bicara. Dengan kata lain bentuk kata ganti persona kedua baik tunggal maupun jamak merujuk pada lawan bicara.
           Bentuk pronominal persona kedua tunggal adalah kamu dan engkau. Kedua bentuk kata ganti persona kedua tunggal tersebut masing-masing mempunyai bentuk variasi  -mu dan kau-. Bentuk persona ini biasanya digunakan oleh:
a.       Orang tua terhadap orang muda yang telah dikenal dengan baik dan lama
b.      Orang yang mempunyai status sosial lebih tinggi untuk menyapa lawan bicaranya yang satusnya lebih rendah.
c.       Orang yang mempunyai hubungan akrab, tanpa memandang umur atau status sosial
( Purwo 1984 : 23).
           Contoh :
1        “Kau tak usah ragu tentang hal itu. Baik;ah aku akan mengganti pertanyaan ini kalau kau mau”
2        “……….Maukah kau membikin aku segelas teh”
Sebutan ketaklaziman untuk pronomina persona kedua dalam bahasa  Indonesia banyak ragamnya,seperti anda, saudara, leksim kekerabatan seperti bapak, ibu, kakak. Bentuk bapak/ pak, ibu/ bu yang merupakan bentuk sapaan kekeluargaan menandakan dua pengertian. Pertama, orang yang memakai hubungan akrab dengan lawan bicaranya. Kedua, dipergunakan untuk memanggil orang yang lebih tua atau orang yang belum dikenal. Dengan kata lain pengertian kedua menandakan hubungan antara pembicara dengan lawan bicara kurang akrab, sedangkan bentuk saudara , anda  biasanya digunakan untuk menghormati dan adanya jarak yang nyata antara pembicara dan lawan bicara. Khusus untuk bentuk ketakziman anda  biasanya dimaksudkan untuk menetralkan hubungan. Meskipun kata itu telah lama dipakai kata ganti tersebut. Pada saat ini kata ganti tersebut dipakai :
1.      Dalam huhbungan yang tak pribadi sehingag bentuk anda tidak diarahkan pada satu orang khusus
2.      Dalam hubungan bersemuka tetapi pembicara tidak ingin terlalu formal ataupun akrab.
Contoh: 
a.       “Ibu mau kemana?”
b.      “Bu Mus dan Tun ke mana, Bu ?”
c.       “Saudara harus ikut sekarang…”
d.      “Saudara …Saudara. Bung tono, bukan ?”
           Khusus untuk leksim kekerabatan seperti ibu, bapak, dan kakak  disamping merujuk pada lawan bicara ( persona kedua) dapat juga  merujuk pada pembicara  (persona pertama) dan orang yang tidak terlibat langsung dalam tindak komunikasi (persona ketiga).
           Contoh :
a.       “Ibu masih kangen..engkau anak nakal tak bisa dikangeni.”
b.      “Memang mungkin ibu akan sulit mendapatkan sawah ibu kembali.”
c.       Bapak tidak akan pulang dari sorga. Mari kita pulang manis, mari kita pulang manis.”
d.      Nanti kalau ibu sudah ketemu bapak akan datang menjemput Ikal dan Lintang.
Pada konteks kalimat (a) dan (b), bentuk ibu tidak lagi digunakan untuk merujuk pada lawan bicara seperti biasanya orang menggunakan tetapi digunakan untuk merujuk pembicara. Demikian juga pada kalimat (c), bentuk bapak pada kedua kalimat tersebut bukan untuk merujuk pada lawan bicara tetapi untuk merujuk pada orang ketiga yang tidak hadir pada saat tuturan tersebut diucapkan.
           Leksem kekerabatan yang merujuk pada pembicar dan orang ketiga baisanya digunakan apabila antara pembicara dan lawan bicara memiliki hubungan kekeluargaan atau hubungan kerabat yang akrab. Misalnya, orang tua biasanya akan menggunakan bentuk yang disesuaikan dengan kedudukannya dalam kelurga (bapak atau ibu) apabila sedang berbicara dengan anaknya atau orang lain yang masih memiliki hubungan kelurga.
           Bentuk persona kedua di samping mempunyai bentuk tunggal seperti tersebut di atas juga mempunyai bentuk jamaknya, yaitu kalian,  dan bentuk persona kedua tunggal yang ditambah dengan kata sekalian, seperti anda sekalian, kamu sekalian. Meskipun bentuk kalian tidak terikat pada tata krama sosial, yang status sosialnya lebih rendah umumnya tidak memakai bentuk itu terhadap yang lebih tua atau orang yang berstatus sosial lebih tinggi.

3. Kata Ganti Persona Ketiga
           Bentuk  kata ganti persona ketiga merupakan kategorisasi rujukan pembicara kepada orang yang berada di luar tindak komunikasi. Dengan kata lain bentuk kata ganti persona ketiga merujuk orang yang tidak berada baik pihak pembicara maupun lawan bicara.
           Bentuk kata ganti persona ketiga dalam bahasa Indonesia ada dua, yaitu bentuk tunggal dan bentuk jamak. Bentuk tunggal pronominal persona ketiga mempunyai dua bentuk, yaitu ia dan dia yang mempunyai variasi  -nya. Meskipun bentuk ia dan dia dalam banyak hal berfungsi sama, namun ada perbedaan tertentu yang dimiliki oleh kedua jenis kata ganti persona tersebut.perbedaan tersebut adalah karena membawa cirri penegas atau penekanan.
           Dalam hal pemakaiannya ,bentuk dia dan ia berbeda denagn bentuk beliau. Bentuk dia dan ia umumnya digunakan oleh pembicara tanpa ada maksud untuk menghormati orang yang dirujuk, sedangkan bentuk beliau digunakan oleh pembicara untuk merujuk kepada oirang lain yang patut untuk dihormati walaupun lebih muda dari pembicaraan
           Contoh:
a.       Dia, kan yang memegang sawah ibu?”
b.      “lho, apa dia belum tahu dia itu anak siapa ?”
c.       Ia bersembunyi di gang pintu keluar kereta.
d.      ,,Ibu yang menggadaikan sawah itu kepadanya
           Bentuk persona ketiga jamak adala mereka. Di samping arti jamak, bentuk mereka berbeda dengan kata  ganti persona ketiga tunggal dalam acuannya.  Pada umumnya bentuk pronominal persona ketiga hanya untuk merujuk insane. Akan tetapi pada karya sastra, bentuk mereka kadang-kadang dipakai untuk merujuk binatang atau benda yang dianggap bernyawa. Bentuk pronomina persona ketiga jamak ini tidak mempunyai variasi bentuk yang dipergunakan. Penggunaan bentuk persona ini digunakan untuk hubungan yang netral, artinya tidak digunakan untuk lebih menghormati atau pun sebaliknya.
           Contoh:
a.       “Mau mereka? Bisa tidur lho”
b.      “Sejak dua hari terakhir itu mereka berdatangan.”
Kata ganti persona ketiga selain merujuk pada orang ketiga juga kemungkinannya merujuk pada persona pertama dan persona kedua. Adanya kemungkinan rujukan lain merupakan akibat perbedaan konteks penuturan.
            Contoh:
a.       Seperti penulis sebutkan diatas…
b.      Namanya siapa? Tinggalnya dimana ?
Pada kalimat (a) bentuk penulis tidak merujuk pada persona ketiga, tetapi merujuk pada si pembicara,sedangkan pada kalimat (b) bentuk -nya merujuk pada lawan bicara (persona ketiga ) bukan pada persona ketiga.

2.2.2 Konteks
 Konteks berhubungan dengan intraksi linguistik dalaam ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak,   yakni penutur dan lawan tutur dengan satu pokok tuturan, di dalam tuturan, tempat, dan situasi tertentu  (Chaer dan Leoni, 2004: 48). Suatu konteks harus memenuhi delapan komponen  yaitu S-P-E-A-K-I-N-G Hymes (dalam Chaer dan Leoni, 2004:48) komponen tersebut itu adalah:
1.      S (setting and scene) setting berkaitan dengan tempat dan waktu tuturan berlangsung,sedangkan scene adalah situasi tempat dan waktu
2.      P (participant) pihak –pihak yang terlibat dalam tuturan
3.      E (ends) meujuk pada maksud dan tujuan pertuturan
4.      A (Act sequence) mengacu pada bentuk ujuran dan isi ujaran
5.      K ( keys) menbacu pada nada, cara, dan semangat dimana suatu pesan disampaikan dengan senang hati.
6.      I (instumentalis) mengacu pada jalur bahas yang digunakan
7.      N (norm af interaction and interpretatioan ) mengacu pada tingkah laku yang khas dan sikap yang berkaitan dengan peristiwa tutur
8.      G (genre) mengacu pada jenis penyampaian

2.2.3 Tinjauan Pustaka

           Penelitian mengenai deiksis bukanlah yang baru, tetapi sudah yang peneliti sebelumnya yang berkaitan dengan masalah tersebut. Namun, yang meneliti khusus tentang dieksis persona di  dalam novel laskar pelangi belum pernah diteliti. Penelitian yang relevan dengan ini adalah:
1.      Krisna (2000) dengan skripsinya yang berjudul Deiksis dalam Bahasa Batak Toba, dia menyimpulkan bahwa bahasa batak Batak Toba mengenal deiksis persona, deiksis ruang, dan deiksis waktu. Dalam membicarakan deiksis persona membagi tiga bagian yaitu kata ganti persona pertama tunggal seperti ahu, iba; pertama jamak seperti hamu; kata ganti persona tunggal seperti ibana,ketiga jamak seperti nasida
2.      Sitepu (1999) dengan skripsinya yang berjudul Deiksis Persona Dalam Cerpen Bromocorah. Ia hanya meneliti deiksis persona pada cerpen, maka deiksis yang didapatinya hanya terbatas apa yang terdapat pada cerpen tersebut. Deiksis persona yang dibahasnya hanya terbatas pada persona yang sering muncul seperti kata dia (persona ketiga tunggal), dan mereka  (persona ketiga jamak)
3.      Marli wahyudi (1999) dengan judul Deiksis Persona Dalam Bahasa Jawa, ia menyimpulkan bakwa bahasa Jawa mengenal deksis persona yang dibagi  dalam bentuk-bentuk kata ganti persona dan perilaku pada tingkat tutur Ngoko, tingkat tutur Madya, tingkat tutur Krama yang dikenal dengan istilah unduk usuk (Chaer dan Agustin, 1995: 520).


4.      Supinah (2006) dengan judul skripsinya Deiksis Waktu Dalam Bahasa Jawa, ia menyimpulkan bahwa deiksis waktu dalam bahasa Jawa dirangkaikan dengan kata iki,iku dan dalam bahasa Jawa iki menunjuk (secara luat tuturan ) pada waktu sekarang, sedangkan yang dirangkaikan dengan kata iku menunjukkan waktu yang lampau.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1   Populasi dan Sampel
3.1.1 Populasi
           Menurut Malo,dkk (1985: 149) populasi adalah sekumpulan unsur atau elemen yang menjadi objek penelitian, elemen populasi ini biasanya merupakan satuan analisis. Populasi dapat berupa kumpulan semua kata di Indonesia, semua wanita di daerah pedesaan, semua perusahaan jumlah buruhnya kurang dari lima ribu atau apa saja, pada dasarnya populasi adalah himpunan semua hal yang  ingin diketahui.  Populasi penelitian ini adalah semua deiksis persona yang terdapat di dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.

3.2.2 Sampel
           Setelah populasi dirumuskan dengan jelas, barulah kita dapat menetapkan apakah mungkin untuk meneliti seluruh elemen populasi ataukah mengambil sebagian saja dari populasi yang sering disebut sampel ( Malo,1985:151) sampel adalah bagian dari populasi yang menjadi data sebenarnya dalam suatu penelitian. Oleh karena itu, jumlah deiksis persona dalam novel Laskar Pelangi sangat banyak jadi sampel yang diambil hanyalah deiksis persona yang mengalami ketidakjelasan rujukan.

3.2 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
           Metode adalah cara kerja yang teratur dengan baik-baik untuk mencapai maksud. Dapat juga dikatakan bahwa metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna menghasilkan tujuan yang sempurna.
           Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data tulisan. Adapun yang menjadi sumber data penelitian ini adalah novel Laskar Pelangi karya Andra Hirata. Dalam tahap pengumpulan data, metode yang diguanakan yaitu metode simak (Sudaryanto, 1993:133). Metode simak adalah suatu metode yang dilakukan dengan cara menyimak penggunaan bahasa, dalam hal ini, penggunaan bahasa yang disimak adalah penggunaan bahasa dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Selanjutnya, untuk melengkapi penggunaan metode tersebut, digunakan teknik catat sebagai teknik lanjutan (Sudaryanto,1993:135). Dalam hal ini, peneliti membaca, mempelajari dan memeriksa data-data yang diperlukan, lalu mencatat data-data yang diperoleh.
Sesuai data buku yang menjadi objek kajian yaitu :
            Judul                            : Laskar Pelangi
            No ISBN                     : 979-3062-79-7
            Penulis                         : Andrea Hirata
            Penerbit                       : PT. Bintang Pustaka
            Tanggal terbit              : Maret 2008
            Jumlah Halaman          : 534
            Jenis buku                    :Soft Cover

3.2 Metode dan Teknik Analisis Data
           Metode yang digunakan dalam pengkajian  data adalah metode agih dan metode padan (Sudaryanto, 1993:13-15) metode padan digunakan untuk menyeleksi serangkaian bentuk deiksis persona yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi dengan menggunakan teknik dasar teknik pilah unsure penentu dengan daya pilah pembeda referen, yaitu melihat referen yang ditunjuk oleh data. Metode agih diterapkan dengan menggunakan teknik ganti. Dalam hal ini data akan digantikan dengan unsur yang menjadi pokok perhatian dan menggganti unsur itu dengan data yang lain.
           Contoh:
           1.“Kasihan Ayahku………..”(hal 3)
2.“Maka aku tak sampai hati memandang wajahnya”  kata Mahar (hal 3)
Bentuk ku-( kal 1) merupakan bentuk deiksis kata ganti persona pertama tunggal yang merupakan variasi dari  bentuk deiksis persona pertama tunggal aku yang referenya mengacu pada orang yang sedang berbicara, pada kalimat (2) deiksis persona aku referennya berganti  mengacu pada  Mahar. Jadi kalau deiksis persona aku pada kalimat di atas referennya selalu berganti-ganti bergantung pada siapa yang pembicara contoh diatas rujukanya jelas. Pada contoh berikut deiksis personanya mengalami ketidakjelasan rujukan dapat dikemukakan pada petikan berikut

“Aku lebih takut padanya daripada buaya mana pun. Pria ini tak mau dikenal orang tapi sepanjang pesisir Belitong Timur, siapa tak kenal dia? (hlm.89).”
           Deiksis persona aku pada kalimat diatas mengalami ketidakjelasan rujukan karena  bentuk aku biasanya tampak dalam kefleksibelanya selalu merujuk kepada pembicara. Sementara dalam kutipan contoh di atas bahwa bentuk aku tidak merujuk kepada pembicara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar