Cara kita memperlakukan orang lain menunjukkan apakah kita memandang mereka serupa dan segambar dengan Allah atau tidak. C.S.
Lewis menulis tentang ini dalam bukunya, The Weight of Glory: “Sesungguhnya tidak ada orang biasa,” katanya. “Tidak pernah kita bercakap-cakap dengan manusia fana semata-mata.” Lewis membayangkan tentang kekekalan, ketika kita akan menikmati hadirat Allah atau sebaliknya, terbuang dari-Nya untuk selamanya.
Karena itu, ia mengingatkan, “Yang kita ajak bersenda gurau, bekerja sama, nikahi, rendahkan, dan manfaatkan adalah makhluk yang abadi—dampaknya adalah kengerian abadi atau kemuliaan kekal.”

Kita sedang dibentuk untuk tujuan yang mulia, menjadi terang di dunia yang gelap, menjadi garam di tengah kebusukan zaman.
BalasHapusKita hidup di zaman dimana Kerajaan Allah masih terus dikerjakan, sudah hadir, namun belum digenapi sepenuhnya. Dan setiap kita yang percaya dipanggil untuk menjadi bagian aktif didalamnya.
BalasHapus