CINTA, JATUH CINTA, DAN PASANGAN HIDUP
Dalam
kehidupan kita sebagai orang muda, terdapat satu hal yang tidak terelakkan.
Jatuh cinta. Hal ini adalah hal yang bisa membuat kita merasa senang, sedih,
semangat, putus asa, kecewa, dan berbagai hal yang lain.
Dunia
kita yang tadinya tenang dan damai, tiba-tiba saja bergoncang dan tidak akan
pernah sama lagi karena kehadirannya. Tidak bertemu sesaat saja, rasanya sudah
seperti ribuan tahun menunggu. Bila teringat dirinya, rasanya terasa sesak.
Ribuan rasa terasa memenuhi rongga dada. Itulah cinta.
Sungguh
mengherankan bukan, satu kejadian ini saja bisa menjungkirbalikkan isi dunia
kita. Akan tetapi sesungguhnya hal ini sudah dicatat dalam waktu yang lampau
oleh Raja Salomo dalam kidung agung 8 : 6b “karena cinta kuat seperti maut”
Ya itulah
cinta, yang membuat seorang ibu rela menahan sakit karena harus melahirkan anak
yang telah dikandungnya selama 9 bulan dengan bersusah payah, yang membuat
seorang ayah bekerja mati-matian untuk menghidupi keluarganya dan yang membuat
seseorang rela melakukan banyak hal yang begitu luar biasa untuk seseorang yang
dikasihinya. Semua atas nama cinta.
Mencintai
berarti mengharapkan yang terbaik untuk orang yang dicintai, bisa mencintai
adalah suatu anugerah yang besar, karena tidak sedikit orang yang telah
kehilangan kemampuan untuk mencintai. Mencintai berarti membuka diri untuk
terluka. Terdapat resiko besar untuk terluka saat kita mencintai.
Saat kita
mencintai, hati kita begitu rentan karena kita memberi suatu akses pada orang
yang kita cintai untuk melukainya. Akan tetapi, jangan pernah menyerah untuk
mencintai. Saat hati kita masih bisa merasa (apapun rasa itu), berarti kita
masih hidup dan hidup yang penuh warna terlebih bernilai daripada hidup yang
hanya satu warna dan hampa.
Karena
begitu besarnya resiko yang harus ditempuh saat kita mencintai. Marilah kita
bijaksana. Memang cinta dapat timbul sewaktu-waktu tanpa dapat dicegah. Tetapi
membiarkan cinta tumbuh atau membunuhnya saat cinta itu masih dangkal, itu
adalah suatu keputusan. Semoga kita memilih orang yang tepat saat kita
membiarkan cinta itu tumbuh.
Pertanyaannya
adalah, siapakah orang yang tepat tersebut ? Alkitab setidaknya mencatat ada
satu hal mendasar yang dapat menjadi pedoman kita dalam memilih siapakah
kiranya orang yang tepat untuk kita biarkan menjadi ladang penyemaian cinta
kita.
Roma 12 :
2 janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh
pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah , apa
yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Dari sana
timbullah pertanyaan lain, apa yang baik ? apa yang berkenan kepada Allah ? apa
yang sempurna di mata Allah ? mari kita kupas satu persatu.
1.
Apa yang baik ? hal ini dapat kita lihat pada 2
korintus 6 : 14, janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan
orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran
dan kedurhakaan ? atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap ?
Disini artinya adalah hendaklah
kita berpasangan dengan orang yang seiman. Permasalahan iman adalah
permasalahan pribadi yang tidak dapat dipaksakan. Masalah iman adalah masalah
hak asasi manusia. Akan tetapi cinta yang mengarah pada kehidupan pernikahan adalah
suatu bentuk persatuan roh dan bukan semata persatuan daging.
Pernikahan dlandasi oleh cinta
namun tidak cukup hanya cinta, terutama sangat dibutuhkan peran pihak ketiga
yaitu Kristus. Sebuah kapal dengan dua nahkoda akan sulit sekali untuk
berlayar.
2. Apa yang
berkenan kepada Allah ? hal ini dapat dilihat pada kejadian 2 : 18 Tuhan Allah
berfirman “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan
penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”
Pertanyaan berikutnya adalah
seperti apakah penolong yang sepadan itu ? sepadan dalam Alkitab dianalogikan
sebagai kuk pada 2 ekor sapi yang digunakan untuk membajak lahan. Bila kuk
tersebut tidak sama berat, maka akan timbul berat sebelah yang akhirnya tidak
akan memungkinkan untuk 2 ekor sapi tersebut untuk maju secara bersamaan untuk
membajak lahan tersebut.
Bila dikembalikan pada konteks
pasangan hidup, pasangan hidup yang sepadan adalah pasangan hidup yang
memungkinkan untuk bersama-sama menjalani hidup dengan sebaik mungkin.
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana ukuran kesepadanan itu ?
Kesepadanan dapat dilihat dari :
a.
Kapasitas rohani (seberapa banyak pasangan dan
diri kita telah mengalami Tuhan dalam hidupnya)
b.
Wawasan/pola pikir yang akan sangat dipengaruhi
latar belakang, pendidikan, pengalaman, dan kehidupannya
c.
Memiliki misi dan visi yang diarahkan kepada Tuhan
d.
Memiliki kedewasaan psikologis untuk berkomitmen
Pasangan
yang sepadan adalah pasangan yang memiliki empat dimensi tersebut dengan kadar
yang kurang lebih sama (tidak terlalu jauh). Ingat prinsip kuk : bila salah
satu terlalu berat dan satu terlalu ringan, maka sapi tidak bisa berjalan
beriringan.
3.
Setelah berjalan beriringan, pertanyaannya apakah
kehendak Tuhan yang sempurna ? hal ini dapat dilihat dalam matius 11 : 29- 30 :
pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah padaKu, karena aku lemah lembut dan
rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang kupasang itu
enak dan bebanKu pun ringan
Pasangan
yang sempurna adalah yang telah memenuhi kehendak Tuhan yang baik dan yang
berkenan dan yang dapat membuat menjadi ringan saat menunaikan tujuan Allah
bagi kita (memikul kuk).
Lalu
selain hal tiga hal tersebut, apa ciri-ciri dia pasangan hidup yang tepat:
1.
Bersamanya kita mengalami damai sejahtera
2.
Kita semakin maju dalam pekerjaan, pelayanan dan
kehidupan sosial kita
3.
Kita semakin dekat dengan Tuhan
Permasalahannya
adalah apakah kita sudah menjadi orang yang dapat memenuhi 3 kehendak Allah
tersebut ? kalau belum, maka kejarlah itu dahulu .
Jadi,
selamat mencintai ! selamat jatuh cinta ! selamat memilih pasangan hidup yang
tepat !
Sumber :
Angela


Tidak ada komentar:
Posting Komentar