ORANG
YANG PALING BODOH
Roma
3:9-31, 28 Mei 2025
Segala
sesuatu didunia ini bersifat sementara. Tidak ada yang benar-benar kekal. Harta
benda, kekuasaan, bahkan kehidupan kita sendiri pada akhirnya akan berlalu
seperti debu yang tertiup angina. Oleh sebab itu, nasihat Rasul Paulus kepada
jemaat di Korintus sangatlah relevan bagi kehidupan kita. Ia menasihati mereka
yang memiliki istri untuk hidup seolah-olah tidak memiliki istri, mereka yang
menangis untuk hidup seolah-olah tidak menangis, mereka yang bergembira untuk
hidup seolah-olah tidak bergembira, dan mereka yang membeli sesuatu untuk hidup
seolah-olah mereka tidak memilikinya. Terdengar membingungkan, bukan ?
Namun, maksud Paulus bukanlah agar kita
mengabaikan tanggung jawab atau meninggalkan kewajiban kita, melainkan untuk
menyadari bahwa segala hal didunia ini bersifat fana. Apa yang kita miliki
sekarang tidak akan selamanya bersama kita. Segala sesuatu yang kita anggap
penting hari ini dapat lenyap dalam sekejap. Oleh karena itu, kita tidak boleh
terikat secara berlebihan pada hal-hal duniawi yang sifatnya sementara.
Dalam suratnya yang lain, Paulus
menegaskan kembali prinsip ini : “Sebab kami tidak memperhatikan yang
kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah
sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (2 Korintus 4:18).”
Sayangnya, banyak orang lebih mengutamakan perkara duniawi yang kelihatan
daripada hal-hal rohani yang bersifat kekal. Mereka terlalu sibuk mengejar
kesuksesan, harta dan kehormatan dunia, sehingga lupa bahwa semua itu tidak
akan bertahan selamanya.
Salah satu contoh kebodohan terbesar dalam
Alkitab adalah kisah orang kaya yang hanya menimbun harta bagi dirinya sendiri
(Lukas 12:16-21). Ia berkata kepada dirinya sendiri, “Jiwaku, ada padamu banyak
barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah,
minumlah, dan bersenang-senanglah (Lukas 12:19).” Fokus hidupnya hanya pada
kesenangan duniawi, tanpa menyadari bahwa maut bisa datang kapan saja. Kebodohannya
menjadi sempurna saat ia tidak mempersiapkan dirinya untuk kehidupan yang
kekal.
Apa yang kita miliki di dunia ini hanyalah
sementara. Tidak ada jaminan bahwa kekayaan, status social, atau kesuksesan
duniawi akan menyelamatkan kita. Yang benar-benar kekal adalah perkara rohani,
hubungan kita dengan Tuhan dan nilai-nilai yang kita jalani sesuai dengan
kehendakNya. (DH)
Questions
:
1.
Apakah Anda lebih mengutamakan hal-hal
duniawi dibandingkan dengan perkara rohani yang kekal ? Mengapa ?
2.
Bagaimana Anda dapat mengubah prioritas
hidup Anda agar lebih berfokus pada hal-hal yang bernilai kekal ?
Values
:
Harta
duniawi bersifat sementara, tetapi harta surgawi kekal selamanya.
“Pendeknya orang-orang yang mempergunakan
barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia
seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu (1 Korintus 7:31)”
Orang bijak menyiapkan dirinya untuk kehidupan kekal,
bukan hanya untuk kesuksesan duniawi.


“Pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu (1 Korintus 7:31)”
BalasHapusOrang bijak menyiapkan dirinya untuk kehidupan kekal, bukan hanya untuk kesuksesan duniawi.
BalasHapus