H.O.R.A.S

Selamat Datang buat anda yang mengunjungi blog ini, Segala informasi dalam blog ini merupakan bantuan dari buku-buku, majalah, dan lain-lain
Semoga blog ini bermanfaat bagi anda ^^.


Rabu, 11 Februari 2026

Renungan Ditempa Kesulitan

 Ditempa Kesulitan


Dalam beberapa bulan terakhir, hampir setiap pagi aku sudah tiba di kantor pukul 06.30 dan baru kembali ke rumah paling cepat pukul 24.00. Hari-hari panjang itu kujalani untuk satu tujuan: mempersiapkan banyak hal penting yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan kami. Bukan sekadar pekerjaan, tapi tanggung jawab-kepada usaha yang sedang dibangun, kepada orang-orang yang bergantung padanya, dan kepada masa depan yang sedang diperjuangkan.


Pagi ini tubuh terasa sangat lelah. Namun kelelahan itu belum sempat reda ketika sore harinya partnerku mengabarkan kondisi di tempat tujuan: suhu sekitar 2 derajat Celsius. Musim dingin. Aku diminta membawa pakaian yang cukup agar bisa bertahan di suhu ekstrem itu.

 

Di situlah aku tersadar- aku lupa bahwa di sana sekarang bukan seperti di Indonesia.


 Terburu-buru aku mencari pakaian musim dingin, namun sayangnya toko-toko sudah berganti etalase. Produk non-musim dingin mendominasi. Lagi-lagi, ini pengingat kecil bahwa dunia tidak selalu menunggu kesiapan kita.


Dalam perjalanan menuju bandara, aku menyetir sendiri dari rumah ke area parkir inap. Lagu-lagu Batak mengalun di dalam mobil- tentang kampung halaman, tentang rindu orang tua, tentang cinta dan kehilangan. Ada rasa hangat yang muncul, bercampur dengan perenungan. Betapa nyamannya hidup di Indonesia. Alam ramah. Cuaca bersahabat. Tantangan seolah tidak memaksa. 


Sangat berbeda dengan negara empat musim yang malam ini akan kudatangi-di sana, orang harus benar-benar mempersiapkan sandang dan pangan dengan matang. Dingin, gelap, atau salju bukan alasan untuk berhenti bekerja. Alam tidak memberi toleransi.


Aku teringat lagu lama yang menyebut negeri ini sebagai kolam susu. Mungkin benar. Tapi di sanalah pertanyaan itu muncul: jangan-jangan karena terlalu dimanjakan, kita menjadi kurang terlatih menghadapi tekanan? 


Jangan-jangan daya juang kita melemah bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena kita jarang dipaksa untuk bertahan?


Padahal dunia hari ini tidak lagi mengenal batas negara yang nyaman. Globalisme menghadirkan persaingan yang nyata, keras, dan tanpa kompromi. Kita bersaing bukan hanya dengan sesama anak bangsa, tetapi dengan manusia-manusia terbaik dari berbagai belahan dunia-yang ditempa cuaca ekstrem, disiplin tinggi, dan budaya kerja yang tidak mengenal alasan.


Di tengah arus global ini, Indonesia tidak boleh hanya mengandalkan kekayaan alam atau keramahan budaya. Kita harus membangun daya saing. Daya saing lahir dari perjuangan. Dari jam-jam panjang yang sunyi. 

Dari keputusan-keputusan sulit. Dari kesiapan menghadapi ketidaknyamanan. Dari kemauan belajar, beradaptasi, dan bekerja lebih keras dari yang diminta.


Kesulitan bukan kutukan. Ia adalah alat tempa. Seperti besi yang menjadi baja karena panas dan tekanan, manusia dan bangsa pun menjadi kuat karena tantangan. Jika kita ingin berdiri sejajar di panggung dunia, kita harus berani keluar dari zona nyaman, berani menerima dingin, berani menyiapkan diri lebih matang, dan berani bekerja dengan standar global—tanpa kehilangan jati diri.


Malam ini aku terbang meninggalkan tanah yang hangat, membawa rindu, lelah, dan harapan. Bukan untuk mengeluh, tetapi untuk belajar. 


Karena hanya bangsa yang mau ditempa yang akan bertahan. Dan hanya mereka yang mau berjuang yang akan menang.


Soetta 09.02.2026 (ditulis sambil menunggu boarding)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar