*“Janganlah padamkan Roh.”*
📖 *1 Tesalonika 5:19*
Seorang pria bernama Eko (nama samaran) pernah mengalami masa rohani yang sangat berapi-api. Ia rajin berdoa, antusias membaca firman, dan selalu rindu hadir dalam persekutuan. Namun seiring waktu, kesibukan datang bertubi-tubi. Tanggung jawab bertambah, jadwal makin padat, dan waktu untuk Tuhan mulai dipangkas “sementara”.
Awalnya hanya satu hari tanpa doa. Lalu dua hari. Lalu seminggu. Api itu tidak padam seketika—ia meredup perlahan. Hingga suatu hari, Eko berkata jujur, “Aku tidak jauh dari Tuhan, tapi aku juga tidak dekat.”
Kalimat itu menyadarkannya. Ia menyadari bahwa api rohani tidak mati karena satu dosa besar, melainkan karena ketiadaan perhatian kecil yang konsisten. Ia pun memutuskan kembali pada kebiasaan sederhana: waktu doa singkat tapi setia, membaca firman setiap hari, dan menjaga hati tetap peka. Api itu kembali menyala.
Firman Tuhan hari ini sangat singkat, tetapi tegas: “Janganlah padamkan Roh.”
Artinya, ada tanggung jawab manusia untuk memelihara apa yang Tuhan nyalakan. Roh Kudus memberi api, tetapi kita dipanggil untuk menjaga agar api itu tetap menyala.
Api rohani jarang padam karena badai besar. Ia sering padam karena:
▪️doa yang diabaikan,
▪️firman yang ditunda,
▪️ketaatan yang dikompromikan,
▪️kesibukan yang dibiarkan menguasai hati.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa kebangunan rohani bukan peristiwa sekali jadi. Ia adalah proses harian. Menjaga api berarti:
▪️memilih Tuhan di tengah kesibukan,
▪️memprioritaskan hubungan, bukan hanya aktivitas,
▪️peka ketika Roh Kudus menegur atau mengarahkan.
Api yang menyala membuat hidup hangat dan terang. Api yang padam membuat iman dingin dan arah menjadi kabur. Tuhan rindu kita hidup dengan api yang terpelihara—bukan menyala sesaat, lalu redup karena lalai.
✝️ *Api rohani yang dijaga dengan setia akan terus memberi terang dan kekuatan dalam setiap musim kehidupan.*
✅ *JAGA API SUPAYA TETAP MENYALA*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar