Santapan Harian
Mukjizat di Tengah Keterbatasan
Yohanes 6:1-15
Secara narasi, kisah ini merupakan kelanjutan perjalanan Yesus dari Yerusalem. Yesus pergi ke seberang Danau Galilea (1). Di sana orang banyak mengikuti-Nya karena ingin melihat mukjizat-Nya (2).
Melihat orang banyak, Yesus bertanya kepada Filipus tentang kemungkinan untuk membelikan mereka makanan (3-6). Filipus menyatakan bahwa secara ekonomi tidak mungkin untuk melakukannya (7). Lalu, Andreas menunjukkan seorang anak yang memiliki lima roti dan dua ikan (8-9). Dan melalui kuasa Tuhan Yesus, semua orang kenyang, bahkan tersisa dua belas bakul (10-13).
Mukjizat Yesus terjadi dalam bentuk pelipatgandaan lima roti dan dua ikan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Yesus peduli terhadap kebutuhan holistik manusia, termasuk kebutuhan fisik yang mendasar. Ia tidak seperti para rabi saat itu yang berfokus pada dogma dan ajaran dan tidak peduli dengan kebutuhan dasar umat.
Yesus memperlihatkan bahwa keterbatasan manusia bukanlah penghalang bagi kuasa Tuhan. Dalam situasi yang tampaknya mustahil, Tuhan tetap mencukupi kebutuhan umat-Nya. Yesus mengucap syukur sebelum membagikan makanan; tindakan ini mengajarkan tentang sikap bersyukur atas apa yang ada, sekecil apa pun, dapat membawa kelimpahan. Berbagi dengan sesama menjadi kunci dalam menghadapi keterbatasan. Lima roti dan dua ikan jelas tidak cukup, tetapi di tangan Tuhan, lima roti dan dua ikan menjadi berkat bagi banyak orang.
Kepedulian Yesus hendaknya membuka keyakinan kita akan pemeliharaan Tuhan. Dalam hidup ini, kita punya banyak keterbatasan. Tak jarang kita seperti Filipus yang berfokus pada keterbatasan yang ada sehingga menjadi skeptis dan lupa bahwa Tuhan mampu melakukan mukjizat menurut kehendak-Nya.
Sikap yang paling penting adalah menyerahkan semua keterbatasan kita kepada Tuhan, dan percaya bahwa Tuhan pasti mencukupkan kebutuhan kita. Keterbatasan bukanlah akhir, melainkan kesempatan untuk mengalami kuasa dan pemeliharaan Tuhan. [YWA]
![]() |
| Anak Medan Bung ! |


Sikap yang paling penting adalah menyerahkan semua keterbatasan kita kepada Tuhan, dan percaya bahwa Tuhan pasti mencukupkan kebutuhan kita.
BalasHapusYesus memperlihatkan bahwa keterbatasan manusia bukanlah penghalang bagi kuasa Tuhan.
BalasHapus