*"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.*
📖 *Lukas 16:10*
Nelson Mandela menghabiskan 27 tahun di penjara karena perjuangannya melawan sistem apartheid di Afrika Selatan. Selama masa tahanan, ia beberapa kali ditawari kebebasan lebih cepat dengan satu syarat: ia harus berhenti memperjuangkan kesetaraan ras.
Secara manusia, itu kesempatan emas.
Ia bisa bebas, kembali kepada keluarga, dan menikmati hidup. Namun Mandela menolak, karena ia merasa telah berjanji kepada bangsanya untuk memperjuangkan keadilan.
Bertahun-tahun di balik jeruji tidak mengubah komitmennya. Ketika akhirnya ia dibebaskan dan menjadi presiden, dunia melihat seorang pemimpin yang tidak dipenuhi dendam, tetapi integritas dan rekonsiliasi. Janji yang ia jaga dalam penderitaan menjadi dasar kepercayaan jutaan orang.
Menepati janji sering kali diuji oleh waktu dan tekanan. Tidak sulit berkomitmen saat suasana mendukung, tetapi sangat sulit bertahan saat janji menuntut pengorbanan panjang.
Banyak orang gagal bukan karena tidak tahu yang benar, tetapi karena lelah menunggu. Padahal kesetiaan justru terlihat ketika:
• situasi berubah,
• keuntungan hilang,
• jalan terasa panjang,
• tidak ada kepastian kapan hasilnya terlihat.
Firman Tuhan mengajarkan bahwa kesetiaan dalam hal kecil mempersiapkan kita untuk hal besar. Janji yang dijaga membentuk karakter, dan karakter menentukan masa depan.
Menepati janji bukan hanya soal reputasi di hadapan manusia, tetapi tentang keselarasan hati di hadapan Tuhan. Ketika seseorang setia pada komitmen yang benar, ia sedang membangun fondasi yang tidak mudah digoncangkan oleh keadaan.
✝️ *Kesetiaan yang diuji waktu akan menghasilkan kehormatan yang tahan lama.*
✅ *JANJI YANG DIJAGA MELAHIRKAN KEPERCAYAAN*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar