H.O.R.A.S

Selamat Datang buat anda yang mengunjungi blog ini, Segala informasi dalam blog ini merupakan bantuan dari buku-buku, majalah, dan lain-lain
Semoga blog ini bermanfaat bagi anda ^^.


Rabu, 29 April 2026

Renungan Dipakai Tuhan

 Santapan Harian

Dipakai Tuhan 

Hakim-hakim 11:1-11 


Tuhan dapat memakai siapa saja untuk menggenapi rencana-Nya, termasuk Yefta, yang lahir dari seorang wanita pelacur.


Yefta tentu saja tidak memilih lahir dari wanita pelacur. Jika ia dapat memilih, tentu saja ia akan memilih lahir dari perempuan yang terhormat agar ia terhindar dari perlakuan diskriminatif (2). Namun, dalam hal yang dapat dipilih, yakni tindakannya, Yefta pun bukan pribadi yang benar. Pasalnya, ia memilih untuk menjadi perampok (3).


Menariknya, Allah tidak melihat latar belakang keluarga, bahkan moralitas Yefta ketika Ia memakai Yefta. Buktinya, Allah justru memakainya untuk memimpin bangsa-Nya.


Yefta memang memiliki kualitas kepemimpinan. Setidaknya, ada dua kualitas yang menonjol. Pertama, ia adalah seorang pejuang yang gagah perkasa dalam peperangan (1). Kedua, ia memiliki kebesaran hati. Buktinya dia memaafkan orang-orang yang telah mengusirnya dan bersedia memimpin mereka (7-9).


Dari kisah ini kita belajar dua hal penting. Pertama, ketika Tuhan hendak memakai seseorang, Ia tidak melihat latar belakang keluarga dan rekam jejak moral orang itu. Kedua, jika Tuhan mau memakainya, Ia sendirilah yang akan menyelaraskan hati orang tersebut dengan kehendak-Nya.


Hal ini selaras dengan pola pemilihan Tuhan dalam Alkitab. Tuhan sering kali memilih mereka yang dianggap kecil dan lemah oleh dunia, termasuk Musa yang tidak cakap bicara; Daud yang dianggap paling lemah di antara saudara-saudaranya; serta para murid yang mayoritas adalah orang miskin dan tidak terpelajar. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa Tuhan memilih berdasarkan kehendak bebas dan anugerah-Nya sendiri, bukan berdasarkan kehendak atau kehebatan manusia.


Kita patut bersyukur untuk hal ini. Jika Tuhan memilih berdasarkan kemampuan manusia, tak seorang pun dari kita yang layak. Pasalnya, Tuhan itu sempurna, maka yang dipilih-Nya pun harus sempurna. Namun, syukur kepada Tuhan karena Dia memilih berdasarkan anugerah, bukan kelayakan seseorang. [YGM]













2 komentar:

  1. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa Tuhan memilih berdasarkan kehendak bebas dan anugerah-Nya sendiri, bukan berdasarkan kehendak atau kehebatan manusia.

    BalasHapus