*“Sebab jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan jikalau kamu memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?”*
📖 *Matius 5:46-47*
Kisah hidup Elisabeth Elliot adalah bukti bahwa kasih agape sanggup mengasihi orang yang merenggut nyawa orang yang paling kita cintai.
Tahun 1956, suami Elisabeth, Jim Elliot, bersama 4 misionaris lain dibunuh oleh suku Auca di pedalaman Ekuador. Suku itu terkenal ganas. Mereka tombak Jim dan teman-temannya sampai mati di tepi sungai.
Dunia bilang: “Pulang. Mereka tidak layak.” Tapi 2 tahun kemudian, Elisabeth justru kembali ke suku yang sama. Ia tinggal bersama mereka. Ia belajar bahasa mereka. Ia merawat anak-anak mereka.
Ia bahkan tinggal serumah dengan pria yang dulu melempar tombak ke dada Jim. Elisabeth menyuapi pria itu saat sakit, mengajarinya membaca, dan menceritakan tentang Yesus yang mengampuni.
Kenapa? Karena Elisabeth percaya: “Kasih Kristus tidak masuk akal. Dia mati bagi musuh-Nya. Masakan aku tidak bisa hidup bagi musuhku?”
Bertahun-tahun kemudian, suku Auca bertobat. Mereka yang dulu membunuh, sekarang jadi penginjil. Mereka memanggil Elisabeth “Bintang” — karena ia membawa terang ke dalam kegelapan mereka.
Bagi Elisabeth, kasih agape bukan balas dendam. Kasih agape adalah kasih yang menembus dinding permusuhan dengan pengampunan dan kehadiran.
Inilah kuasa kebangkitan itu — mengubah kuburan kebencian menjadi taman kehidupan, karena Kristus bangkit untuk mendamaikan kita dengan Allah saat kita masih seteru-Nya.
Sering kali kita cuma mau mengasihi yang “selevel” dengan kita. Tetapi Tuhan memanggil kita untuk masuk ke dunia musuh kita dan membawa kasih-Nya ke sana.
Setelah Paskah, kita diingatkan bahwa salib adalah tempat di mana Allah mengasihi pembunuh Anak-Nya sendiri.
✝️ *KASIH AGAPE MENGASIHI MUSUH SAMPAI BERTOBAT*
✅ *MEMBAWA PENGAMPUNAN KE TEMPAT YANG PALING GELAP*

Inilah kuasa kebangkitan itu — mengubah kuburan kebencian menjadi taman kehidupan, karena Kristus bangkit untuk mendamaikan kita dengan Allah saat kita masih seteru-Nya.
BalasHapusAmen
BalasHapus