Santapan Harian
Perbuatan Salah Dianggap Bawa Berkat
Hakim-hakim 17
Hakim-hakim 17-21 terdiri dari dua kisah besar yang sebenarnya terjadi pada awal zaman hakim-hakim karena menceritakan cucu Musa dan cucu Harun. Kelima pasal ini ditaruh di akhir Kitab Hakim-hakim untuk menekankan "pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel dan setiap orang melakukan apa yang benar menurut pandangannya sendiri" (6; bdk. 21:25).
Mikha mengakui bahwa ia mencuri uang ibunya sebesar 1.100 keping perak setelah ia mendengar ibunya mengutuki orang yang mencuri uang tersebut (1-2). Mikha mengembalikannya, tetapi ibunya bersikeras agar uang itu dikuduskan bagi TUHAN serta digunakan oleh Mikha untuk membuat patung pahatan dan patung tuangan. Patung-patung itu ditaruh di rumah Mikha (3-4). Di rumah sembahyang Mikha terdapat efod dan terafim, dan seorang anak laki-lakinya ditahbiskan menjadi imam (5).
Ketika ada seorang Lewi lewat, Mikha memintanya untuk menjadi bapa dan imam di rumahnya (7-11). Mikha pun menahbiskan orang Lewi itu dan mengatakan bahwa TUHAN akan berbuat baik kepadanya karena seorang Lewi telah menjadi imam baginya (12-13).
Ibu Mikha mau menguduskan uang itu bagi TUHAN, tetapi melakukan tindakan yang sangat dibenci TUHAN, yaitu membuat patung pahatan atau patung tuangan (Ul 27:15). Mikha mengangkat seorang Lewi menjadi imam, padahal orang itu bukan keturunan Harun (lihat Hak 18:30), tetapi ia tetap yakin bahwa TUHAN berkenan kepada perbuatannya.
Hal seperti ini terjadi karena umat Allah pada masa itu tidak mengetahui apa yang merupakan perintah dan larangan TUHAN. Ironisnya, hal seperti ini juga sering terjadi dalam kehidupan orang Kristen zaman sekarang. Kita mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi kita masih mau melakukan apa yang dibenci Allah, lalu secara sepihak berpikir bahwa Allah senang dengan hidup kita.
Karena itu, mari kita belajar mengenal firman Allah dengan benar agar kita tidak jatuh ke dalam kesalahan yang menakutkan seperti ini. Kenali Dia dan lakukan apa yang benar! [INT]
Baca Gali Alkitab 6
Hakim-hakim 15
Ketika kita membaca kisah tentang dua bangsa yang berseteru, kita kerap kali mencari pihak mana yang lebih benar dan pihak mana yang lebih kuat. Ketika kita membaca pasal ini, biasanya kita melihat antara Simson (seorang Israel) dan orang Filistin. Namun, yang menentukan segalanya, termasuk hasil akhir dari perseteruan, bukanlah orang Filistin, bukan pula Simson, melainkan Allah sendiri.
Apa saja yang Anda baca?
1. Siapa yang Simson ingin temui? Apa respons yang ia terima, dan mengapa? (1-2)
2. Apa yang Simson perbuat karena respons itu? (3-5)
3. Apa tindakan orang Filistin, dan apa balasan Simson? (6-8)
4. Apa strategi yang orang Filistin gunakan untuk menangkap Simson? Apa respons Simson? (9-13)
5. Apa yang terjadi saat Roh TUHAN menguasai Simson? (14-17)
6. Ketika Simson haus, apa yang ia lakukan dan apa yang TUHAN lakukan? (18-19)
7. Berapa lama Simson memerintah sebagai hakim? (20)
Apa pesan yang Allah sampaikan kepada Anda?
1. Apa yang menyebabkan pembalasan yang tidak ada hentinya?
2. Ketika Simson diikat dan diserahkan ke dalam tangan orang Filistin, apakah ia kalah? Mengapa, atau mengapa tidak?
3. Benarkah Simson berhasil mengalahkan orang Filistin karena ia sangat kuat dan tidak terkalahkan? Mengapa?
4. Pada akhirnya, siapa yang terkuat dalam kisah ini? Mengapa?
Apa respons Anda?
1. Bagaimana Anda akan berdoa kepada Tuhan agar Anda dapat menghadapi berbagai permasalahan dan konflik yang datang dalam hidup Anda?
2. Bagaimana Anda akan bersikap ketika Anda mengalami kemunduran atau keberhasilan besar?
Pokok Doa:
Bersyukur atas kuasa Tuhan yang luar biasa bagi setiap umat-Nya dalam situasi dan keadaan apa pun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar