Santapan Harian
Kebenaran atau Reputasi
Yohanes 12:9-11
Sebagian besar dari kita mungkin pernah diperhadapkan pada pilihan menjaga reputasi atau kebenaran. Tidak jarang terjadi situasi di mana ada orang yang bersedia mengakui kebenaran meski muncul risiko terhadap reputasinya. Sebaliknya, ada pula orang yang menolak kebenaran demi mempertahankan reputasinya. Namun, tampaknya orang yang hanya mengejar reputasi tanpa kebenaran, cepat atau lambat akan kehilangan keduanya.
Bacaan kita mengisahkan imam-imam kepala melakukan tindakan ekstrem untuk menolak kuasa Yesus dan berusaha menghilangkan bukti kuasa-Nya. Lazarus, yang dibangkitkan dari kematian, menjadi bukti nyata bahwa Yesus berkuasa atas hidup dan mati (10). Berbeda dari orang-orang Yahudi yang datang ingin mendengar Yesus dan melihat Lazarus juga , para imam kepala justru ingin menghapus atau menutupi kebenaran soal kuasa Yesus.
Imam-imam kepala ingin menyingkirkan Yesus karena takut kehilangan kekuasaan dan reputasi. Mereka berharap dapat membunuh Lazarus juga demi menghapus bukti hidup sehingga kuasa Yesus bisa disangkal. Namun, itu sia-sia! Masih ada saksi-saksi yang melihat langsung peristiwa itu. Banyak orang Yahudi meninggalkan imam-imam kepala dan percaya kepada Yesus (11).
Agustinus dari Hippo, teolog dan filsuf ternama, mengatakan "kebenaran itu seperti singa, tidak perlu dipertahankan, cukup dilepaskan dan dia akan membela dirinya sendiri". Maksudnya, meskipun manusia berusaha menghalangi atau menghapus bukti kebenaran Tuhan, kebenaran itu akan tetap berkuasa dan tidak bisa dihancurkan.
Sebagai manusia, siapa yang tidak ingin memiliki reputasi yang baik di mata orang lain? Tetapi, sebagai orang Kristen yang memiliki hidup baru melalui karya kesengsaraan dan kebangkitan Kristus kita diingatkan antara kebenaran dan reputasi. Selalu yang utama adalah kebenaran.
Tetaplah kita senantiasa mempertahankan kebenaran, meskipun hal itu menyakitkan atau berisiko, bahkan barangkali mengancam nyawa. Jangan korbankan kebenaran demi reputasi! [EMR]
![]() |
| Mauliate Tuhan |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar