Santapan Harian
Raja di Atas Salib
Yohanes 19:16-27
Seorang raja identik dengan mahkota emas dan istana serta singgasana megah. Makin megah simbol-simbol itu, makin besar pula penghormatan dan kekuasaan yang ia nikmati. Secara duniawi, di situlah orang menempatkan kemuliaan.
Namun, Yesus, orang Nazaret, yang dijuluki Raja orang Yahudi, memilih jalan yang berbeda (19). Mahkota-Nya terbuat dari duri (lih. Yoh 19:2). Ia tidak dibawa ke istana, tetapi ke tempat yang disebut Tempat Tengkorak (17), di luar kota, di mana penjahat-penjahat dihukum salib menurut hukum kekaisaran Romawi. Ia tidak ditinggikan di singgasana, melainkan di atas kayu salib bersama dua orang penjahat (18).
Penyaliban adalah hukuman yang paling hina dan kejam di bawah kekuasaan Romawi bagi pemberontak, penjahat politik, dan pengacau. Yesus direndahkan menjadi salah satu dari mereka. Tak hanya itu, prajurit-prajurit mengundi pakaian-Nya (23-24) karena menurut undang-undang tentara Romawi, algojo memang berhak mengambil milik tahanan. Artinya, Yesus tak hanya dihukum, tetapi dibuat seolah tak berwenang atas apa pun.
Salib adalah simbol kebodohan (1Kor.1:23), bukan kemenangan. Raja macam apakah yang dipaku di atas kayu salib? Inilah paradoks salib. Dalam perendahan dan penghinaan paling besar, Yesus justru menunjukkan kemuliaan sejati. Dalam pengosongan diri, Yesus justru menyatakan pengampunan, pendamaian, dan pemulihan Allah. Salib mengungkapkan bahwa kemuliaan Allah tidak dibuktikan lewat kemegahan dunia melainkan melalui kasih yang mengorbankan diri, ketaatan kepada kehendak Bapa, dan kerendahan hati yang mengalahkan keangkuhan dunia.
Kristus memperlihatkan bahwa Kerajaan Allah dibangun di atas dasar pengorbanan, bukan pencitraan. Sebagai pengikut Kristus, bukan pada tempatnya jika kita menghalalkan segala cara demi mengejar kekuasaan atau kebesaran. Sebaliknya, kita dipanggil untuk rela menyerahkan hidup bagi sesama dalam penyerahan diri bagi misi Allah. [JMH]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar