H.O.R.A.S

Selamat Datang buat anda yang mengunjungi blog ini, Segala informasi dalam blog ini merupakan bantuan dari buku-buku, majalah, dan lain-lain
Semoga blog ini bermanfaat bagi anda ^^.


Jumat, 12 Juni 2026

Artikel Saham dan Aren

 SAHAM DAN AREN


Sebagai pekerja di perusahaan dengan tanggung jawab yang segunung, kadang rasanya ingin hidup bebas lepas, persis seperti lirik lagu Panbers (Benny Panjaitan): "Oh, ku mau bebas... Bebas di alam ini, bebas mencintai kasihku…"


Menjadi seorang profesional memang menuntut totalitas berkarier. Kita dituntut untuk selalu mengutamakan kepentingan perusahaan di atas kepentingan pribadi. Nilai-nilai seperti Disiplin, Integritas, dan Excellence (Keunggulan) selalu saya tanamkan, baik kepada bawahan maupun pada diri sendiri. Namun tak bisa dimungkiri, hidup kadang terasa terkekang. Rasanya tidak sebebas kawan-kawan lain yang hidupnya begitu dinamis: Sarapan di Medan, makan siang di Singapura, malamnya nginap di Bali.


Sementara awak? Terus-terusan ke BALI… alias BALIAN (tempat kerja), atau mentok-mentoknya ke BALIGE.


Suatu hari, seorang teman memperkenalkanku pada dunia saham. Katanya, main saham bisa menghasilkan passive income, yang ujung-ujungnya bikin kita bisa healing tiap hari. Dia lalu mencekokiku dengan info para dewa saham; mulai dari Warren Buffett, Lo Kheng Hong, sampai Indra Kenz yang ikonik dengan jargon "Murah banget!"-nya itu.

"Bah, mantap ini!" pikirku. "Si ulaon do on!"


Singkat cerita, mendaftarlah saya di salah satu sekuritas dan mulai terjun ke bursa saham. Saya belajar trading dengan segala macam istilah yang awalnya terasa seperti bahasa alien buatku. Analisa Fundamental, Teknikal, ARA, ARB, Bullish, Bearish, dan segudang jargon aneh lainnya. Namun, praktiknya tak semudah teori. Dalam perjalanannya, saya lebih akrab dengan yang namanya kalah alias Cut Loss. Duh, Gusti!


Meski begitu, saya pantang menyerah. Saya terus berusaha meningkatkan "ilmu kanuragan" di dunia persahaman ini. Dari sekian banyak pelajaran mahal yang menguras modal, saya sampai pada satu kesimpulan: Jika fundamental suatu saham itu bagus, sedalam apa pun dia turun, pada akhirnya pasti akan naik lagi. Mulai saat itulah saya beralih membeli saham-saham berfundamental kokoh. Pergerakannya memang lambat, tapi jauh lebih tenang dan aman daripada bolak-balik cut loss yang bikin dompet makin kere.


Berangkat dari filosofi saham itu, saya tiba-tiba berpikir: Apa produk pertanian yang "fundamentalnya" paling bagus?

Jawabannya: Tanaman Aren.


Layaknya saham blue chip, Aren adalah aset dengan fundamental yang luar biasa. Biaya perawatannya sangat rendah dan tidak membutuhkan infrastruktur rumit seperti halnya perkebunan sawit. Memang, umur panennya cukup lama (layaknya value investing), tapi dari mulai akar, batang, hingga daunnya bisa dimanfaatkan! Air niranya bisa langsung diminum (tuak), diolah menjadi gula aren yang bernilai tinggi, belum lagi buahnya yang menjadi kolang-kaling.

Untuk tanaman yang satu ini, ayo kita kembangkan. Kebetulan, bibitnya ada pada saya. Mari kita bertanam aren sama-sama. Siapa tahu, dari hasil panen Aren ini kelak, impian itu bukan lagi sekadar khayalan: Sarapan di Medan, makan siang di Singapura, dan nginap di Bali.


Mungkinkah? Silakan dicoba!






2 komentar: