H.O.R.A.S

Selamat Datang buat anda yang mengunjungi blog ini, Segala informasi dalam blog ini merupakan bantuan dari buku-buku, majalah, dan lain-lain
Semoga blog ini bermanfaat bagi anda ^^.


Kamis, 16 Juli 2026

Reflecting The Love of Christ

 *Reflecting the Love of Christ*

[Mencerminkan Kasih Kristus]


*Yohanes 13:34,* _"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi"._


Dari ayat ini ada beberapa arti kata penting: ada kata *Ἐντολή (entolē) =* perintah, mandat→ bukan sekadar saran atau anjuran, melainkan sesuatu yang harus ditaati. Kemudian ada kata *καινή (kainē) =* baru dalam kualitas, sifat, atau cara → kata ini tidak berarti "baru" karena belum pernah ada sebelumnya (itu adalah neos), tetapi "baru" karena memiliki _kualitas atau standar yang berbeda._ Mengasihi sesama memang sudah diajarkan dalam Perjanjian Lama, namun Yesus memberikan standar yang baru. Lalu ada kata *ἀγαπάω (agapaō) =* mengasihi dengan kasih yang rela berkorban →Kasih yang memilih untuk berbuat baik, bukan hanya berdasarkan perasaan. Kasih yang mengutamakan kepentingan orang lain. Dan juga ada kata *καθώς (kathōs) =* sama seperti, sebagaimana →menunjukkan bahwa kasih Yesus menjadi ukuran kasih murid-murid-Nya. Jadi Perintah baru yang diberikan Yesus bukanlah sekadar agar para murid saling mengasihi, melainkan agar mereka mengasihi dengan standar kasih Yesus sendiri. Kasih itu ditandai oleh kerelaan berkorban, mengampuni, melayani, dan tetap mengasihi bahkan ketika tidak menerima balasan. 


Dengan demikian, kasih Kristen bukan terutama diukur dari perasaan, tetapi dari tindakan yang mencerminkan kasih Kristus. Sebagai penerapannya: _pertama,_ dengan *Mengasihi melalui tindakan nyata.* Menolong orang yang membutuhkan, melayani tanpa mengharapkan balasan, dan menunjukkan kepedulian melalui perbuatan, bukan hanya kata-kata. _Kedua,_ *Belajar mengampuni seperti Kristus mengampuni.* Pada saat disakiti atau dikecewakan, memilih melepaskan kepahitan dan memberi pengampunan, sebagaimana Yesus terlebih dahulu mengasihi manusia. Dan _ketiga,_ dengan *Menjadikan kasih sebagai identitas hidup.* Dalam keluarga, gereja, tempat kerja, maupun lingkungan sosial, membangun hubungan yang penuh kesabaran, kerendahan hati, dan perhatian sehingga orang lain dapat melihat karakter Kristus melalui kehidupan kita.


Intinya adalah bahwa Yesus memanggil setiap pengikut-Nya untuk menjadikan kasih-Nya sebagai standar, teladan, dan identitas. Kasih itu bukan sekadar emosi, tetapi keputusan untuk mengasihi orang lain melalui pengorbanan, pelayanan, dan pengampunan, sebagaimana Kristus telah lebih dahulu mengasihi kita. Secara realita, dimana hidup kekristenan identik dengan saling mengasihi dan saling mengampuni. Bahkan Tuhan Yesus sendiri menyatakan agar kita atau orang percaya bersikap, _"Kasihilah musuhmu" dan "Berdoalah buat dia, serta mohonlah berkat atasnya"._ Jadi berarti, bilamana kita disakiti, implikasinya untuk jangan membalas menyakiti atau juga menyimpan kepahitan, namun harus tetap mengasihi serta berusaha untuk mengampuni, bahkan bila perlu melupakan kesalahan mereka. Prinsipnya adalah bahwa kasih Kristen bukan sekadar perasaan, melainkan tindakan yang mencerminkan kasih Kristus. Dietrich Bonhoeffer memaknai bahwa salah satu kehendak Allah yang utama adalah mengasihi sesama seperti Kristus mengasihi. Bonhoeffer menyatakan, _"Being a Christian is less about cautiously avoiding sin than about courageously and actively doing God's will" [Menjadi orang Kristen bukan terutama tentang berhati-hati menghindari dosa, melainkan dengan berani dan aktif melakukan kehendak Allah].


*SEMANGAT PAGI & TETAP SEMANGAT*





2 komentar:

  1. Being a Christian is less about cautiously avoiding sin than about courageously and actively doing God's will.

    BalasHapus
  2. [Menjadi orang Kristen bukan terutama tentang berhati-hati menghindari dosa, melainkan dengan berani dan aktif melakukan kehendak Allah].

    BalasHapus