Santapan Harian
Kapan Menikah?
1 Korintus 7:1-16
Ada yang berpendapat bahwa hidup seseorang belum lengkap jika ia belum menikah. Benarkah? Apakah semua orang harus menikah?
Rasul Paulus memberi perhatian terhadap pernikahan sehingga ia memberi nasihat kepada anggota jemaat yang tinggal bersama suami/istrinya (2-5, 10, 12-16), juga yang tidak menikah, yang menjadi janda, dan yang sudah bercerai (8-9, 11). Ia sendiri tidak menikah dan ia tidak memaksakan pilihan hidupnya kepada jemaat, sebab ia sadar betul bahwa setiap orang menerima karunia yang khas dari Allah (7).
Apa yang Paulus harapkan bukan supaya jemaat menikah atau tidak menikah. Harapannya adalah agar jemaat menghindari percabulan, memenuhi kewajibannya, menahan hawa nafsu, menguasai diri, dan hidup dalam damai sejahtera (2-3, 5, 9, 15).
Cara pandang Rasul Paulus patut ditiru. Pandangan umum bahwa semua orang harus menikah menjadi tekanan besar bagi orang-orang yang memang tidak ingin menikah atau belum menemukan pasangan yang tepat. Ditambah lagi, tekanan itu diperberat dengan anggapan keliru bahwa ada batasan umur untuk menikah.
Padahal, dalam janji pernikahan di gereja, kata-kata yang diucapkan oleh mempelai adalah: "Di hadapan Tuhan dan gereja Kristen di sini, saya mengakui bahwa ... adalah istri/ suami saya, karunia Tuhan." Jelas bahwa istri dan suami adalah karunia Tuhan, artinya pemberian yang seturut dengan kehendak sang Pemberi.
Dengan demikian, kita belajar menerima bahwa ada yang dikarunai istri atau suami sehingga mereka hidup dalam pernikahan. Namun, ada juga yang dikaruniai kondisi yang lain sehingga mereka tidak menikah. Sudah semestinya, kita memandang orang yang menikah maupun tidak menikah secara positif. Semuanya sama-sama penerima karunia Tuhan.
Mari kita bertobat dari kebiasaan mengusik orang dengan pertanyaan, "Kapan menikah?" karena hanya Tuhan, Sang Pemberi Karunia, yang berkuasa atas itu semua. Mari kita semua, yang menikah atau tidak, sama-sama hidup dalam penguasaan diri dan damai sejahtera! [KRS]


Mari kita bertobat dari kebiasaan mengusik orang dengan pertanyaan, "Kapan menikah?" karena hanya Tuhan, Sang Pemberi Karunia, yang berkuasa atas itu semua.
BalasHapusAmen
BalasHapus