*Dependence on God*
[Ketergantungan Kepada Allah]
*Mazmur 147:11,* _"TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya"._
Ada beberapa kata penting dari ayat ini: ada kata *rotseh* — "berkenan," "bersukacita," "senang," "menyukai" →menunjukkan kesukaan atau perkenanan Allah terhadap seseorang. Kemudian ada kata *yere'av* — "orang-orang yang takut akan Dia" → kata "takut" *(yare)* bukan terutama rasa takut seperti kepada ancaman, tetapi rasa hormat yang mendalam, kekaguman, dan sikap tunduk kepada Allah. Lalu ada kata *hameyachalim* — "orang-orang yang berharap," "menantikan dengan penuh keyakinan" → mengandung makna menunggu dengan sabar sambil tetap percaya. Serta ada kata *chasdo* — "kasih setia-Nya" → kata *hesed* adalah salah satu kata terindah dalam Perjanjian Lama: kasih yang setia, kasih perjanjian, kebaikan yang tidak meninggalkan umat-Nya. Intinya, Allah tidak menilai manusia berdasarkan kekuatan, prestasi, kekayaan, atau kemampuan mereka. Sebaliknya, Allah berkenan kepada orang yang: menghormati dan tunduk kepada-Nya, menyadari ketergantungan mereka kepada-Nya, serta tetap berharap pada kasih setia Allah, bukan pada kemampuan diri sendiri.
Prinsip ayat ini adalah: _Allah berkenan kepada orang yang hidup dalam hormat kepada-Nya dan mempercayakan hidupnya kepada kasih setia-Nya._ Untuk penerapannya: _pertama,_ penting *Mengutamakan ketaatan dari pada kemampuan.* Dimana (walau tidak salah) dunia sering menilai orang dari prestasi, gelar, atau kekuatan. Namun ayat ini mengingatkan bahwa yang menyenangkan hati Tuhan adalah hati yang taat dan hormat kepada-Nya. Sebagai refleksinya: _Apakah saya lebih berusaha terlihat berhasil di mata manusia atau berkenan di hadapan Tuhan?_ _Kedua,_ dengan *Tetap berharap kepada Tuhan saat keadaan sulit.* →kata "berharap" menunjukkan sikap percaya meskipun jawaban belum terlihat. Aplikasinya: saat menghadapi masalah ekonomi, kesehatan, pekerjaan, atau keluarga, tetap menaruh harapan pada kasih setia Tuhan. Dan tidak menyerah pada keputusasaan karena percaya bahwa Tuhan tetap bekerja.
Dan _ketiga,_ tetap *Hidup dengan kerendahan hati dan ketergantungan kepada Allah.* → Ayat ini mengajarkan bahwa Tuhan berkenan kepada orang yang sadar bahwa ia membutuhkan-Nya setiap hari. Aplikasinya: memulai hari dengan doa. Lalu mencari kehendak Tuhan sebelum mengambil keputusan penting. Dan bersyukur atas pertolongan-Nya, bukan mengandalkan kekuatan sendiri. Jadi Tuhan berkenan kepada orang yang *takut akan Dia* (menghormati dan taat kepada-Nya) serta *berharap pada kasih setia-Nya* (percaya dan bergantung pada anugerah-Nya). Dan orang yang seperti inilah yang menyenangkan hati Tuhan dan hidup dalam hubungan yang benar dengan-Nya. Harapannya bahwa apa yang Tuhan sudah kerjakan dalam hidup kita sangat terbukti; ketika berdoa, Tuhan menjawab doa-doa kita, atau saat dalam tekanan. Mengapa? Oleh sebab Dia selalu hadir untuk memberi kekuatan baru. Akan tetapi dalam realita, acap kali kita menyakiti hati Tuhan dengan tidak mengikuti kehendak-Nya. Untuk itu mari kita berusaha untuk menyenangkan hati Tuhan, yaitu dengan melakukan apa yang Tuhan kehendaki, sebab yang Dia kehendaki atas kita pasti baik adanya. Charles Spurgeon memandang bahwa ada yang berkaitan dengan Mazmur 147:11 →menggambarkan harapan pada kasih setia Tuhan meskipun keadaan belum dipahami. Spurgeon menyatakan, _"God is too good to be unkind and He is too wise to be mistaken. And when we cannot trace His hand, we must trust His heart"_ [Allah terlalu baik untuk berlaku tidak baik dan terlalu bijaksana untuk berbuat salah. Ketika kita tidak dapat melihat tangan-Nya bekerja, kita harus mempercayai hati-Nya].
*SEMANGAT PAGI & TETAP SEMANGAT*


Tidak ada komentar:
Posting Komentar