Santapan Harian
Tuhan, Pelukis Hidupku
1 Samuel 31
Saul menjalani hidupnya dengan panggilan yang luar biasa. Ia dipilih langsung oleh TUHAN untuk memimpin umat-Nya dan diurapi untuk menjadi raja pertama Israel. Namun, ia harus mengakhiri hidupnya dengan kekalahan yang tragis.
Kisahnya berakhir di Gilboa. Ia kehilangan anak-anaknya di medan perang. Harapannya pupus bersama kematiannya sendiri dan kekalahan bangsanya. Bahkan, kehormatannya dihina oleh musuhnya (1-10).
Kematian Saul bukan karena pedang musuh, tetapi karena ia telah terlebih dahulu kalah oleh ketakutannya sendiri (4). Tragisnya, kejatuhan itu terjadi sejak ia berhenti mendengarkan suara TUHAN dan berjalan dengan kehendaknya sendiri.
Kematian Saul menutup kisah seorang raja yang bangkit dengan panggilan mulia, tetapi jatuh mengalami kehancuran. Kisahnya menjadi peringatan bagi kita. Hidup yang dimulai dengan panggilan ilahi pun bisa berakhir tragis bila hati kita tidak taat lagi. Saat seseorang kehilangan arah dari jalan Allah, sebenarnya orang itu sudah mati sebelum jasadnya terbaring.
Karena itu, panggilan Tuhan tidak menjamin keberhasilan bila tidak diiringi ketaatan. Tuhan menuntut hati yang mau tunduk, bukan sekadar jabatan atau kemampuan.
Dari kisah kelam ini jelas bahwa Allah tidak pernah berhenti bekerja. Dari kegagalan manusia, Ia menumbuhkan rencana baru. Penduduk Yabes-Gilead yang dengan berani mengambil dan menguburkan mayat Saul menunjukkan kasih dan kesetiaan yang langka (11-13). Mereka menghormati masa lalu dan tidak menutup mata pada kebaikan yang pernah ada. Tindakan mereka menjadi pengingat bahwa penghormatan dan penghargaan masih dapat tumbuh di tengah kehancuran.
Hidup kita pun bisa seperti itu. Kita mungkin pernah gagal, atau merasa akhir sudah datang. Namun, selama Tuhan masih berkarya dalam hidup kita, tidak ada kisah yang benar-benar berakhir.
Meski kita tidak bisa melihat bagaimana akhir hidup kita, tetaplah percaya bahwa selama Tuhan masih melukis kisah hidup kita, tidak ada kegagalan yang benar-benar menjadi akhir. [SLM]
Baca Gali Alkitab 4
1 Samuel 31
Kisah tentang kejatuhan akan selalu menjadi kisah yang tragis. Dari seorang raja yang naik takhta dengan panggilan ilahi dan turun takhta karena ketidaksetiaan sampai seorang hamba Tuhan yang mulai menjabat dengan panggilan pelayanan dan diberhentikan karena pelanggaran dosa, kisah hidup mereka bisa menjadi peringatan bagi kita.
Ketika kita membaca kisah kejatuhan Saul, ada beragam reaksi yang muncul. Ada yang menyayangkan, ada yang kecewa, dan ada juga yang sedih. Namun, adakah kita berefleksi supaya kita tidak melakukan hal yang sama?
Apa saja yang Anda baca?
1. Siapa yang melawan Israel? Apa yang terjadi di Gilboa? (1)
2. Siapa yang dikejar dan ditewaskan? (2)
3. Apa yang terjadi pada Saul? Apa permintaannya? Lalu, apa yang Saul dan pembawa senjatanya lakukan? (3-5)
4. Apa hasil pertempuran itu? (6-7)
5. Apa yang orang Filistin lakukan terhadap mayat Saul? (8-10)
6. Apa yang penduduk Yabes-Gilead lakukan bagi Saul? (11-13)
Apa pesan yang Allah sampaikan kepada Anda?
1. Apa penyebab terbesar di balik kejatuhan Saul?
2. Apa yang tidak boleh hilang dari hidup orang yang beriman kepada Allah? Dan apa akibatnya jika kita kehilangan hal itu?
3. Apa yang mesti kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari agar kita dapat memulai dan mengakhiri hidup kita dengan baik?
Apa respons Anda?
1. Bagaimana Anda akan berdoa malam ini dan setiap malam untuk seterusnya agar Anda tetap setia kepada Tuhan?
2. Apa yang akan Anda lakukan untuk menghadapi masalah besar dan situasi sulit dalam hidup Anda saat ini?
Pokok Doa:
Mohon penguatan dari Tuhan agar Anda tetap setia kepada-Nya sepanjang hidup Anda.
![]() |
| Semangat |
![]() |
| Mengupas Biji Kemiri dari Belakang Rumah |



Tidak ada komentar:
Posting Komentar