*"Ai Sanga Dope Huallang?"*
*(Masih Sempatkah Saya Makan Buahnya?)*
Menjual bibit buah-buahan sebenarnya bukan semata-mata untuk mencari keuntungan. Ini adalah misi saya untuk mengajak semua orang—terutama para perantau—agar mau menanam pohon buah di tanah atau kampung halamannya masing-masing. Buah apa pun itu. Potensi tanaman buah ini keuntungannya sangat besar dan bisa sangat membantu menggerakkan perekonomian di kampung halaman.
Tanaman Enau atau *Bagot* adalah salah satu yang paling saya anjurkan untuk ditanam. Menurut saya, tanaman ini sangat menguntungkan dan hanya membutuhkan perawatan minimal.
Namun, saat menawarkan bibit-bibit ini kepada pembeli, kalimat yang paling sering saya dengar adalah: *"Ai sanga dope huallang hasil ni i?"* (Masih sempatkah saya makan buahnya?). Mendengar pertanyaan seperti itu, jujur saja, semangat saya sering kali menyusut. Apa maksudnya? Apakah dia merasa akan segera meninggal sehingga tidak perlu memikirkannya lagi? Bahkan, ada yang usianya masih tergolong muda, sekitar 50 tahun, melontarkan pertanyaan yang sama kepada saya.
Terkadang agak malas rasanya untuk menjawab. Namun, tetap saya jelaskan bahwa Aren dan Durian biasanya mulai panen di umur 5 sampai 6 tahun. Sedangkan Alpukat dan Mangga sekitar 3 sampai 5 tahun. Jadi secara hitungan logis, tentu masih sangat sempat untuk menikmati hasilnya. Begitulah jawaban saya. Walaupun di dalam hati saya bergumam, umur itu Tuhan yang menentukan, bukan saya. Seperti tertulis dalam **Mazmur 90:10**, *"Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun."*
Dari diskusi dan pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya pun merenung. *Bah*, cukup egois juga pemikiran sebagian saudara sebangsaku ini, Bangsa Batak. Pola pikirnya seakan menjadi: *kalau tidak bisa dinikmati sendiri, ya untuk apa dikerjakan.* Padahal, hidupnya sudah sangat diberkati oleh Tuhan. Bukankah kita sering sekali mendengar ungkapan, "Diberkati untuk menjadi berkat" (*blessed to be a blessing*)? Sesuai firman Tuhan dalam **Kejadian 12:2-3**, *"Aku akan memberkati engkau... dan engkau akan menjadi berkat."* Jangan-jangan, prinsip itu *holan hata nama i* (hanya sebatas di bibir saja)?
Saya jadi teringat pada kisah Ishak. Dalam **Kejadian 27:2**, berkatalah Ishak: *"Lihat, aku sudah tua, aku tidak tahu bila hari kematianku..."* Lalu, seperti yang kita tahu, terjadilah peristiwa di mana hak kesulungan jatuh ke tangan Yakub. Saat itu Ishak merasa usianya sudah di penghujung dan merasa sudah saatnya memberi berkat kepada anaknya, Esau. Namun fakta menariknya, setelah memberikan berkat tersebut, Ishak ternyata masih hidup sekitar 60 tahun lagi!
Mahatma Gandhi pernah berkata, *"Hiduplah seolah engkau mati besok. Belajarlah seolah engkau hidup selamanya."* Firman Tuhan bahkan menyampaikannya dengan lebih tajam dalam **Roma 14:8**: *"Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan."*
Mari kita terus berbuat yang terbaik dan menjadi berkat. Hasil dari apa yang kita tanam tidak harus selalu kita nikmati sendiri, tetapi mari bersama-sama mewariskan berkat bagi sesama.
*Salam Petani.*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar