Santapan Harian
Kebutaan Akut
2 Samuel 12:1-25
Ilmu saraf menunjukkan bahwa memori manusia untuk mengingat kejadian masa lalu bisa saja tidak akurat. Apalagi jika itu adalah cerita tentang perbuatan buruk pada masa lalu. Cerita itu bisa ditutup rapat dan dikubur, agar tak terdengar lagi.
Sepertinya Daud sudah tidak terusik dengan perbuatan kejinya yang menyebabkan Batsyeba mengandung. Lalu Daud membunuh Uria, abdi setianya, yang adalah suami Batsyeba. Apalagi di dalam Alkitab tidak tercatat ada orang yang mengutuki perbuatannya. Bahkan barangkali dia dianggap sebagai pahlawan dengan memperistri Batsyeba, karena orang bisa melihat Daud seperti penebus yang memelihara janda Uria (orang Het), seorang asing (bukan Israel).
Kebutaan Daud sungguh akut dan menyedihkan, sehingga untuk itulah Nabi Natan diutus (1). Ketika Daud diminta pendapat oleh Natan, yang sebenarnya merupakan refleksi diri, ia bereaksi sangat berlebihan, begitu marah, dan menunjukkan kesalehan palsu yang seolah mau meneriakkan keadilan bagi mereka yang tertindas (5). Ia tidak sadar bahwa dia sendirilah yang digambarkan sebagai orang kaya yang tamak itu. Kemarahan Daud bahkan barangkali adalah ketidaksadaran diri yang membenci perbuatan busuk yang pernah dilakukannya.
Tuntutan Daud untuk mengganti domba orang miskin itu dengan hanya empat kali lipat juga menyedihkan (6). Dia tidak menyimak cerita Nabi Natan ini dengan hati, bahwa orang miskin itu sangat mencintai dombanya, bahkan seperti anak perempuan sendiri, yang artinya, tak tergantikan.
Kebutaan Daud yang akut ini membuat Natan terpaksa mengonfrontasi Daud dengan keras, "Engkaulah orang itu!" (7)." Barulah Daud terpukul dan sadar akan perbuatan buruknya.
Terkadang kita sulit untuk berani terbuka atas perbuatan buruk kita. Kita menutupinya, melupakannya, atau bahkan memberikan makna yang lebih positif dari perbuatan itu. Tuhan mau kita dengan hancur hati berani mengakui perbuatan tersebut agar anugerah-Nya dapat dilimpahkan atas kita.
Belajarlah peka dan mengakui perbuatan buruk kita! [JHN]




Tuhan mau kita dengan hancur hati berani mengakui perbuatan tersebut agar anugerah-Nya dapat dilimpahkan atas kita.
BalasHapusAmen
BalasHapus