*Testing Character*
[Menguji Karakter]
*1 Tesalonika 2:4,* _"Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita"._
Beberapa arti kata penting: ada kata *δεδοκιμάσμεθα (dedokimasmetha)* — _"telah dianggap layak" atau "telah diuji dan terbukti"_→kata kerja ini berasal dari *δοκιμάζω (dokimazō).*→artinya bukan sekadar _"dianggap layak,"_ melainkan: diuji, diperiksa, dibuktikan asli, terbukti memenuhi standar. Gambarannya seperti logam emas yang diuji dengan api hingga terbukti murni. Jadi Paulus menyatakan bahwa Allah lebih dahulu menguji dirinya dan rekan-rekannya sebelum mempercayakan pelayanan Injil kepada mereka. Kemudian ada kata *πιστευθῆναι (pisteuthēnai)* — _"dipercayakan,"_ berasal dari kata *πιστεύω (pisteuō),* di sini bukan berarti _"percaya kepada Allah," melainkan: dipercayai, diberi amanat, diberi tanggung jawab. Dan Injil dipandang sebagai sebuah titipan yang sangat berharga, bukan milik pribadi Paulus. Selanjutnya ada kata *εὐαγγέλιον (euangelion),* artinya: kabar baik, yaitu kabar keselamatan melalui Yesus Kristus. Juga ada kata *ἀρέσκοντες (areskontes),* artinya: berusaha menyenangkan, mencari persetujuan, mencari popularitas.→ Paulus menolak motivasi mencari pujian manusia. Dan ada kata *δοκιμάζοντι (dokimazonti)*— masih berasal dari *dokimazō*→di sini bentuknya aktif, artinya: Allah terus menguji, Allah terus memeriksa, Allah menilai hati.→Jadi Allah bukan hanya pernah menguji Paulus dahulu, namun koniniu memeriksa motivasi pelayannya. Serta ada kata *καρδίας (kardias)*— *"Kardia"* dalam Alkitab berarti pusat kehidupan batin: pikiran, kehendak, motivasi, keinginan, niat.→ bukan sekadar emosi. Jadi secara keseluruhan pengertiannya, _"Karena Allah telah lebih dahulu menguji kami dan membuktikan bahwa kami layak menerima tanggung jawab memberitakan Injil, maka kami terus berbicara sebagai orang yang bertanggung jawab kepada Allah, bukan untuk mencari pujian manusia, sebab Allah terus memeriksa motivasi terdalam hati kami"._
Ada hubungan yang jelas: Allah menguji, Allah mempercayakan Injil, Paulus memberitakan Injil, Allah tetap menguji motivasi Paulus.→ artinya, pelayanan bukan terutama soal kemampuan berbicara, melainkan *soal karakter dan kesetiaan yang telah diuji.* Untuk maka teologisnya, ayat ini menunjukkan bahwa: pelayanan adalah kepercayaan, bukan hak; keberhasilan pelayanan diukur oleh kesetiaan kepada Allah, bukan popularitas di mata manusia; Allah menilai hati dan motivasi, bukan hanya hasil yang terlihat. Sebagai penerapannya: _,pertama,_ tetap *Jagalah hati lebih daripada reputasi.*→ Orang mungkin hanya melihat tindakan kita, namun Allah melihat motivasi di balik tindakan itu. Lalu pertanyaan yang perlu diajukan adalah: _"Mengapa saya melakukan ini? Untuk memuliakan Allah atau untuk mendapat pengakuan?"_ _Kedua,_ tetap *Anggap setiap pelayanan sebagai amanat, bukan milik pribadi.*→apa pun bentuk pelayanan—mengajar, memimpin, melayani, atau bersaksi—adalah sebagai titipan dari Allah. Kesadaran ini menumbuhkan kerendahan hati dan rasa tanggung jawab, karena kita mengelola sesuatu yang dipercayakan kepada kita, bukan sesuatu yang kita miliki. Dan _ketiga,_ dengan *Tetap setia pada kebenaran meskipun tidak selalu menyenangkan orang.*→ Paulus tidak menyesuaikan isi Injil demi mendapatkan penerimaan manusia. Demikian juga, orang percaya dipanggil untuk menyampaikan kebenaran dengan kasih, tanpa mengubah atau mengurangi pesannya hanya demi memperoleh pujian, penerimaan, atau popularitas.
Ringkasnya, inti pesan 1 Tesalonika 2:4 adalah bahwa Allah terlebih dahulu menguji karakter seseorang sebelum mempercayakan tanggung jawab rohani kepadanya. Sebab Injil sebagai amanat dari Allah, pemberitaannya harus dilakukan untuk menyenangkan Allah, bukan untuk mencari persetujuan manusia. Allah tidak hanya memperhatikan apa yang dilakukan seseorang, tetapi juga motivasi terdalam di dalam hatinya. Hal lainnya bahawa Alkitab menyatakan, _"Orang yang dapat dipercaya akan mendapat banyak berkat"._ Walau tipe berkatnya bisa saja tidak semata berupa hal-hal yang bersifat materi atau uang. Namun akan dapat mencakup hal-hal yang tidak bisa dinilai dengan uang sebab terlalu berharga adanya. Jelas hal tersebutlah yang akan Tuhan sediakan buat orang yang dapat dipercaya, dan tidak semata oleh sesamanya, namun dipercaya oleh Tuhan! Maka oleh sebab itu penting sekali kita membangun kualitas hidup, sehingga dapat dipercaya adanya. Jelas Allah menilai hati dan motivasi, sehingga karakter lebih penting daripada pengakuan atau keberhasilan yang tampak. John Stott memaknai bahwa pelayanan dilakukan dengan integritas, bukan demi popularitas atau kepentingan diri. Stott menyatakan, _"The authority by which the Christian leader leads is not power but love, not force but example, not coercion but reasoned persuasion"_ [Wibawa yang dipakai seorang pemimpin Kristen untuk memimpin bukanlah kekuasaan, melainkan kasih; bukan paksaan, melainkan teladan; bukan pemaksaan kehendak, melainkan ajakan yang bijaksana].
*SEMANGAT PAGI & TETAP SEMANGAT*


Tidak ada komentar:
Posting Komentar