*🌷SEGALA PERKARA DAPAT KUTANGGUNGDIDALAM KRISTUS 🌷*
_*(FILIPI 4:10-19)*_
*🌷 SHALOM,*
Selamat Hari Minggu
_*TRINITATIS*_ XVI, dan selamat beribadah
Pernahkah anda merasa jalannya kehidupan ini diatur oleh berapa banyak tabungan anda, atau oleh kenyamanan lingkungan di sekitar anda?
Mengapa begitu mudahnya kita cemas pabila badai keuangan datang, namun begitu cepat lupa diri saat kelimpahan melanda?
Mengapa kepuasan hidup menjadi barang langka yang terus kita kejar, namun selalu lolos dari genggaman kita?
Nah saat ini rasul Paulus menantang definisi anda akan kebahagiaan melalui sebuah kesaksian radikal dari dalam penjara. Di tengah keterbatasan fisik dan ancaman hukuman mati, rasul Paulus justru menegaskan dengan lantang bahwa ia memiliki segala kelimpahan.
Karenanya, mari kita coba menyelidiki rahasia ilahi ini, kiranya kita tidak menjadi budak dari situasi, melainkan menjadi pemenang di dalam Kristus.
Tetapi sebelumnya, untuk menyelami kedalaman teks Firman Tuhan ini, marilah terlebih dahulu kita masuk ke dalam ruang gelap realitas di abad pertama gereja mula-mula. Ketika rasul Paulus menulis surat ini, ia bukan sedang bersantai di sebuah rumah peristirahatan, melainkan dia sedang menjadi tahanan rumah di kota Roma. Ia dirantai 24 jam sehari dijaga ketat oleh tentara Romawi, sambal menantikan vonis hukuman mati dari Kaisar Nero.
Secara fisik, rasul Paulus sedang dibatasi ruang geraknya di masyarakat, dan hidupnya benar-benar tergantung kepada bantuan orang lain terutama untuk kebutuhan dasarnya seperti makanan dan pakaian. Kala itu, penjara Romawi tidak menyediakan fasilitas bagi tahanan,karena itu jika tidak ada sahabat yang datang membawa makanan ke rumah tahanan, maka seorang tahanan bisa mati kelaparan di dalam sel.
Sementara itu di sisi lain, jemaat Filipi yang menjadi alamat surat Filipi ini, juga sedang berada dalam kondisi yang tidak kalah tragis. Kota Filipi adalah koloni Romawi yang sangat patriotik, di mana menyembah Kaisar adalah kewajiban sipil dan bukti loyalitas. Jadi ketika orang-orang Filipi bertobat dan memproklamirkan bahwa "Yesus Kristus adalah Tuhan" (bukannya Kaisar Roma), mereka akan langsung menghadapi konsekuensi sosial dan ekonomi yang sangat berat. Mereka akan ditindas, dikucilkan dari pasar, kehilangan hak-hak istimewa, dan menjadi sangat miskin.
Rasul Paulus sendiri mencatat dalam 2 Korintus 8:2 bahwa jemaat-jemaat di provinsi Makedonia (termasuk Filipi) sedang dicobai dengan berat dalam penderitaan dan kemiskinan yang sangat dalam. Jadi bagaimana rasul Paulus dapat mengatakan dan menyaksikan bahwa dia tetap hidup berkelimpahan dan meminta jemaat Filipi juga dapat hidup berbahagia didalam penindsaan seperti itu ?
*1.BERSUKACITA BERBAGI MESKI DALAM KEKURANGAN*
Untuk menopang hidupnya didalam penjara, melalui Epafroditus jemaat Filipi mensuplai segala keperluannya di rumah tahanan. Bukan itu saja tetapi Rpafroditus juga diutus untuk tinggal bersama rasul Paulus dan melayaninya, mendampingi, merawat, dan membantu rasul Paulus dalam pelayanan Injil di Roma hingga ia sendiri sempat jatuh sakit dan hampir mati. Rasul Paulus sangat menghargai komitmen itu dan menyebut pelayanan Epafroditus sebagai wujud perpanjangan tangan jemaat Filipi.
Karena itu persembahan yang akhirnya dikirimkan oleh jemaat Filipi kepada rasul Paulus melalui Epafroditus bukanlah sisa-sisa dari kelimpahan mereka. Uang yang mereka kumpulkan adalah hasil dari pengorbanan yang luatbiasa di tengah krisis pangan dan tekanan ekonomi yang mereka derita. Itulah sebabnya Filipi 4:10-19 bukanlah surat ucapan terima kasih biasa orang-orang yang sama-sama susah saja tetapi Ini adalah sebuah dialog teologis yang lahir dari perjumpaan dua pihak yang sama-sama sedang menderita namun disatukan oleh rantai kasih Injil. Coba perhatikan, kesaksian Rasul Paulus ini,
_“Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu (Filipi 4:10)”_
Kata "bertumbuh atau mekar" di ayat 10 menggunakan istilah teologis yang menggambarkan pohon yang kembali bertunas setelah musim dingin yang panjang. Rasul Paulus tidak sedang memanipulasi emosi mereka agar diberi sumbangan lagi, melainkan ia benar-benar bersyukur atas kasih yang dinyatakan kembali di tengah penderitaan bersama.
Kondisi ini mirip dengan sebuah peristiwa dimana seorang utusan Injil yang sedang ditawan di wilayah konflik bersenjata, tetapi menerima paket bantuan makanan dari sebuah jemaat kecil di pelosok desa yang wilayahnya sendiri sedang dilanda bencana kelaparan dan kekeringan hebat. Secara logika, jemaat tersebut seharusnya menyimpan uang persediaan mereka untuk membeli gandum bagi keluarga dan anak-anak mereka sendiri. Tetapi karena cinta mereka pada pekerjaan Tuhan Allah, mereka sanggup memilih menahan lapar demi memastikan sang utusan Injil tetap hidup di garis depan.
Nah, bukankah kebaikan jemaat Filipi seharusnyalah menghancurkan ilusi kita yang sering berpikir, "Nanti saja, saya baru akan mendukung pelayanan jika keadaan keuangan saya sudah mapan." Kebaikan jemaat Filipi ini hendak mengajar kita bahwa untuk memberi dan bersukacita, tidaklah harus menunggu sampai semua masalah diri kita sendiri selesai.
Bukankah kita mendapatkan pelajaran iman bahwa jika hari ini kita merasa sedang menderita karena tekanan keuangan atau tekanan di tempat kerja, maka kita dapat memamdang dan meladani iman dan kebaikan jemaat Filipi dan rasul Paulus? Ternyata penderitaan dan kesusahan tidaklah menjadi alasan anda dan saya untuk berhenti mengasihi Tuhan dan sesama. Sebaliknya, di dalam penderitaanlah kemurnian iman kita diuji dan memancar dengan terang benderang.
*2.SUKACITA YANG MELAMPAUI SITUASI SULIT*
Berikutnya, rasul Paulus lanjut menegaskan bahwa sukacitanya tidak bergantung pada kekurangan atau kelimpahan materi yang ia alami. Di dalam ayat 11, ia menulis dengan tegas bahwa ia telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.
Kata "mencukupkan diri" yang dipakai rasul Paulus disini adalah “autarkes”, yaitu sebuah istilah yang populer di kalangan filsuf Stoa pada zaman itu, untuk menggambarkan kemandirian total. Namun, jika kaum Stoa mengandalkan kekuatan tekad diri sendiri, rasul Paulus mendefinisikannya ulang secara radikal sebagai kepuasan yang bersumber total dari persekutuan dengan Tuhan Allah.
Padahal belajar mencukupkan diri, bukanlah sebuah proses instan yang terjadi dalam satu malam, melainkan terbentuk dari sebuah disiplin rohani yang panjang. Rasul Paulus menggunakan kata "telah belajar," ini mengindikasikan adanya proses latihan, kegagalan, dan ketekunan di masa lalu. Ia telah melewati berbagai badai pelayanan sepwrti kapal karam, cambukan, dan penolakan sebelum akhirnya mencapai titik kedewasaan ini. Kepuasan ilahi ini adalah hasil dari sekolah kehidupan bersama Kristus, di mana kurikulum utamanya adalah melepaskan ketergantungan pada hal-hal duniawi.
_“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan (Filipi 4:11-12)”_
Dalam ayat 12 ini, rasul Paulus menjabarkan spektrum pengalaman hidupnya yang sangat kontras dengan sangat detail. Ia tahu apa itu hidup kekurangan, dan ia juga tahu apa itu hidup dalam kelimpahan yang meluap-luap. Ia tidak asing dengan perut yang kelaparan, dan ia juga tidak canggung ketika harus makan kenyang dalam kenyamanan.
Rasul Paulus tidak membanggakan kemiskinan sebagai hal yang kudus, juga tidak mengutuk kekayaan sebagai hal yang berdosa. Baginya, kedua kondisi tersebut adalah ruang kelas yang sah di mana Tuhan Allah juga menyatakan kedaulatanNya atas hidup manusia. Rahasia besar Paulus terletak pada frasa "dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku."
Kata "rahasia" di sini merujuk pada upacara dalam keagamaan kuno (mueo), di mana seseorang baru dapoat dibawa masuk ke dalam pengetahuan yang tersembunyi. Rasul Paulus telah dibawa masuk oleh Roh Kudus ke dalam satu rahasia kepuasan sejati yang tidak difahami oleh dunia. Rahasia itu bukanlah sebuah formula sukses atau mantra positive thinking, melainkan sebuah penyerahan diri total kepada kedaulatan Kristus.
Coba bayangkan anda memiliki sebuah ponsel terbaru, yang baterainya hanya dapat bertahan jika dia terus-menerus dicolokkan ke stopkontak. Bukankah banyak orang Kristen hidup seperti ponsel ini, sukacita mereka harus selalu "dicolokkan" pada pujian orang, kenyamanan fasilitas, atau saldo bank yang aman. Begitu colokan itu dicabut oleh krisis atau PHK, mereka langsung kelabakan dan kehilangan semangat hidup. Tetapi rasul Paulus, sebaliknya, memiliki "baterai internal" yang dayanya disuplai langsung oleh Roh Kudus, sehingga ia tetap berfungsi optimal di tempat terpencil seperti di penjara sekalipun.
Karenanya coba jujur kita periksa kesehatan rohani kita masing-masing pada hari Minggu ini. Apakah sukacita anda selama ini ditentukan oleh keberhasilan bisnis dan kesehatan fisik and belaka, atau oleh kehadiran Kristus dalam hidup anda? Seberapa kerap ketika tekanan hidup datang, respons pertama kita adalah mengeluh dan menyalahkan keadaan? Maukah kita belajar untuk mengalihkan pandangan dari apa yang tidak anda miliki, dan mulai bersyukur justru atas kasih karunia Kristus yang sudah ada padamu ?
*3.ROH KUDUS SUMBER KEKUATAN YANG AJAIB*
Nah sekarang coba perhatikan bagaimana puncak dari rahasia kepuasan rasul Paulus, meledak dalam pernyataan monumental di ayat yang ke-13 ini,
_"Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku."_
Ayat 13 ini sering kali disalahgunakan oleh para penganut teologi kemakmuran untuk meraih ambisi pribadi, seperti memenangkan pertandingan atau menjadi kaya. Padahal, dalam konteks aslinya, ayat ini berbicara tentang kapasitas untuk bertahan dan tetap setia di tengah penderitaan fisik dan keterbatasan ekonomi. Kekuatan yang dimaksud disini bukanlah kekuatan otot atau tekad baja manusia, melainkan dunamis yaitu “Kuasa Ilahi” yang menyusup ke dalam kelemahan manusia. Tuhan Yesus adalah dinamo kekuatan luarbiasa yang tidak pernah berhenti menyalurkan daya ke dalam jiwa rasul Paulus.
Dengan kuasa kekuatan inilah, rasul Paulus mampu membalikkan keadaan. Penjara bukan lagi menjadi tempat meratap, melainkan telah menjadi mimbar khutbah menyampaikan Firman Tuhan. Kekuatan dari Kristus inilahnyang memampukan rasul Paulus untuk tidak menjadi sakit hati kepada orang-orang yang memenjarakannya. Dia tidak sekadar "bertahan" secara pasif dengan gigi mengeretak, tetapi dia menang atas deritanya bahkan dipenuhi dengan hati yang bersyukur. Perhatikan lagi kesaksiannya,
_"Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku (FilipI 4:13-14)”_
Meskipun rasul Paulus menegaskan ketergantungannya yang mutlak hanya kepada kekuatan Allah, ia tidak meremehkan kebaikan jemaat Filipi. Pada ayat 14, ia mengakui juga bahwa keputusan dan tindakan mereka mengambil bagian dalam kesusahannya adalah sebuah perbuatan yang sangat baik. Kata "mengambil bagian" berasal dari kata “synkoinoneo”, yang berarti berbagi beban bersama dengan intim didalam penderitaan. Rasul Paulus menghargai hati jemaat Filipi yang tidak menjauhinya ketika ia sedang dipenjarakan, melainkan mereka justru mendekat dan menyatakan solidaritas yang nyata.
Jemaat Filipi adalah sahabat sejati yang hadir di masa-masa yang paling gelap dalam pelayanan rasul Paulus. Melalui tindakan kongkrit jemaat Filipi, kekuatan Kristus diwujudkan dengan nyata dalam bentuk relasi kasih yang saling menopang. Rasul Paulus melihat dimana saat itu Tuhan Allah justru memakai tangan-tangan jemaat yang sedang menderita itu untuk menyalurkan kekuatan fisik kepadanya. Disinalh kita dapat membuktikan bahwa kekuatan supranatural, sering kali bekerja melalui saluran persekutuan tubuh Kristus, yang saling peduli satu dengan lainnya.
Perharikanlah, di lautan luas, kapal-kapal besar bukan tenggelam karena air yang mengelilingi mereka, melainkan karena air yang berhasil masuk ke dalam lambung kapal. Demikian pula, rasul Paulus bisa berada di dalam penjara yang kotor dan dingin tanpa membiarkan kepahitan penjara itu masuk dan merusak jiwanya. Penjara mengurung fisiknya, tetapi Tuhan Yesus Kristus menjaga hatinya tetap merdeka, melalui kuasaNya. Dunia luar selalu akan bergejolak dengan banyak masalah dan ketidakpastian tetapi oleh Kuasa Roh Kudus lambung iman kita harus tetap terjaga dari keputusasaan.
Ketika menghadapi tantangan berat, mari kita mengingat ayat 13 ini dalam konteks yang benar. Tuhan tidak berjanji untuk selalu mengubah keadaan kita secara instan, tetapi Dia berjanji untuk memberikan kekuatan ekstra di dalam jiwa kita untuk dapat menanggungnya. Berhentilah mengandalkan hiburan dan jaminan dari dunia sebagai perlindungan utama tetapi datanglah berlutut dan berdoa kuasa Roh Kudus bekerja.
*4.DIBERKATI DENGAN LIMPAH SAAT INJIL KRISTUS DIBERITAKAN*
Rasul Paulus membawa jemaat Filipi bernostalgia pada masa-masa awal pekabaran Injil di wilayah Makedonia. Ia mengingatkan mereka bahwa pada waktu itu, tidak ada satu jemaat pun yang membuka pintu bantuan "memberi dan menerima" dengan dia, kecuali jemaat Filipi. Jemaat Filipi adalah gereja pelopor dalam mendukung misi rasul Paulus secara finansial sejak awal pelayanan mereka.
Mereka memahami bahwa pekabaran Injil membutuhkan kemitraan yang baik dan pengorbanan materi yang konsisten, jadi bukan hanya sekadar dukungan moral atau doa-doa yang kosong. Bahkan ketika rasul Paulus berada di Tesalonika, sebuah kota besar yang strategis, jemaat Filipi mengirimkan bantuan kepadanya tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali. Komitmen jemaat Filipi ini sangat luar biasa mengingat mereka sudah memberi melampaui batas kemampuan mereka di tengah kemiskinan mereka.
_"Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi, pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaat pun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu. Karena di Tesalonika pun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu (Filipi 4:15-17)"_
Dalam ayat 17, rasul Paulus memperjelas motivasi terdalamnya mengenai pemberian dari jemaat Filipi dengan menegaskan bahwa ia tidak memanfaatkan persembahan jemaat Filipi itu demi keuntungan pribadinya. Tetapi fokus rasul Paulus adalah mencari buah pelayanan yang terus mengalir dan memperbanyak simpanan rohani jemaat Filipi di sorga, di hadapan Allah.
Setiap sen yang mereka berikan untuk mendukung pemberitaan Injil, dinilai oleh Paulus sebagai investasi rohani yang mendatangkan keuntungan kekal bagi jemaat itu sendiri. Rasul Paulus menggunakan terminologi kultus bait Allah kuno untuk menggambarkan persembahan kiriman Epafroditus tersebut sebagai "suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah." Istilah ini langsung merujuk pada korban bakaran di Perjanjian Lama yang asapnya naik ke atas dan menyenangkan hati Tuhan. Ketika jemaat Filipi memberi kepada hamba-Nya yang berkekurangan, tindakan horizontal itu langsung dinilai sebagai ibadah vertikal yang sangat suci.
Sebagai puncaknya, rasul Paulus mengucapkan sebuah janji iman yang sangat otoritatif pada ayat 19.
_"Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus."_
Perhatikan bahwa rasul Paulus tidak berkata "Allah akan memenuhi segala keinginanmu," melainkan segala keperluanmu. Jaminan ini diberikan justru kepada jemaat yang sedang miskin, untuk meyakinkan mereka bahwa kerelaan mereka melepaskan apa yang sedikit ada pada mereka, akan dibalas dengan pemenuhan dari gudang kekayaan Allah yang tidak terbatas dan tidak akan pernah bangkrut oleh krisis ekonomi apa pun.
Ketika seorang anak kecil memberikan satu-satunya roti bekal atau bekalnya kepada ayahnya yang sebetulnya pemilik dari took roti yang besar di kota, sang ayah tentu tidak memerlukan roti untuk dimakan. Tetapi sang ayah sangat tersentuh oleh kasih anaknya, dan sebagai gantinya, maka sang ayah akan memastikan seluruh kebutuhan anak itu tercukupi dengan fasilitas terbaik yang ia miliki. Demikian pula, persembahan kita tidak membuat Allah menjadi lebih kaya, tetapi ketaatan kita membuka pintu bagi kelimpahan berkat-berkatNya yang ajaib. Itulah yang jelas kita nikmati pada ayat berikut ini,
_“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (Filipi 4:19)”_
Karena itu marilah kita meneladani tindakan iman ini, agar melemparkan jauh-jauh ketakutan akan kekurangan materi ketika anda dipanggil untuk memberi dan melayani Tuhan dengan radikal. Tuhan Allah kita bukanlah debitur yang berutang kepada manusia. Dia adalah Kreditur Agung yang selalu membayar kembali dengan kelimpahan kasihNya. Ketika anda menghadapi kebutuhan hidup yang mendesak di masa kini, klaimlah janji Filipi 4:19 ini dengan iman yang aktif. Hiduplah dengan tangan terbuka, karena Allah yang kita sembah memiliki gudang kekayaan yang tidak akan pernah habis.
Begitulah kita telah melihat bahwa rahasia untuk menanggung segala perkara bukanlah tentang seberapa keras kita berusaha, melainkan tentang seberapa dalam kita melekat kepada Tuhan Yesus Kristus. Ternyata, sukacita sejati tidak akan kita temukan dalam ketidak-adaan masalah, melainkan dalam kehadiran Allah di tengah masalah kita. Apakah Tuhan Yesus sungguh menjadi sandaran dalam setiap permasalahan kita! Kehidupan Rasul Paulus di penjara Roma dan pengorbanan jemaat Filipi di tengah kemiskinan ekstrem telah memberikan teladan abadi tentang bagaimana materi harus tunduk di bawah kedaulatan Injil Kristus. Kemiskinan dan kesusahan tidak boleh merenggut sukacita orang percaya mereka, dan rantai penjara tidak bisa membungkam pujian mereka.
Karena itu marilah kita hidup dalam iman yang teguh dengan fokus pandang manusia baru yang telah diubahkan Kristus. Ketika melalui badai hidup pandanglah Tuhan Yesus dan mengakui dengan iman : "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku." Jangan biarkan dunia merebut damai sejahtera di hati anda. Jangan bingung! Waspadailah apakah anda sedang menjadi mitra pemberitaan Injil Kristus ataukah hanya mitra organisasi gereja, politik gereja bahkan organisasi dunia ini. Karena itu, hiduplah selalu dalam kepuasan di hadiratNya dan jadilah sahabat pemberitaan Injil yang sejati lalu jangan lupa, saksikanlah bagaimana Tuhan Allah yang telah memenuhi segala keperluan anda tepat pada waktu-Nya, untuk memuliakan hanya Dia. _*Amin🙏*_
*🌷Salam dan doa,*
_ev.r.l.toruan, se.ma.mth/ev.m.br.p1000, depok_


Saksikanlah bagaimana Tuhan Allah yang telah memenuhi segala keperluan anda tepat pada waktu-Nya, untuk memuliakan hanya Dia.
BalasHapusAmen
BalasHapus